Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
mendatangi rumah Gus Wahyudi


__ADS_3

Berselang delapan bulan kemudian, mereka sudah menempati rumah tersebut. Dan ini adalah malam ke sepuluh mereka tinggal di sana.


Rumah yang sudah di renovasi sedikit bagian dapur, kamar, serta bagian depan. Dimana keseluruhan warna catnya pun di ubah.


Di dalam ruang tengah. Tepatnya di dekat pagar pembatas void rumah. Habib rutin membaca surat Al Baqarah bahkan sampai selesai dari ayat pertama. Sebagai caranya me-rukiyah rumah yang baru ia tinggali itu.


Dan efek dari rukiyah mandiri itulah membuat suasana rumah menjadi lebih nyaman dan aman. Setelah selesai Beliau kembali masuk kedalam kamarnya.


Nampak suara Merr tengah memurojaah hafalannya sembari menyusui Yahya. Bilal sendiri yang mendapati adanya ayat yang salah langsung berseru membenarkan, seraya menutup pintu kamar mereka. Merr mengulangi, lalu menyambungnya dengan ayat selanjutnya setelah selesai ia menoleh kearah sang anak. Dimana Yahya sudah tertidur pulas.


"Alhamdulilah, hafalan-mu semakin banyak." Bilal memujinya sembari mengusap kepala sang istri yang masih pada posisi rebahan.


"Alhamdulillah... berkat A'a yang gencar sekali meminta aku menghafal Al-Qur'an."


"Tapi A'a salut. Kamu termasuk cepat, Yank."


"Nggak juga–" Merr beranjak. "Kadang aku masih kesulitan."


"Sebenarnya nggak sulit. Kendala utama itu rasa malasnya, Yank..."


"Iya A'a bener banget." Merr mendengus.


"Kalahkan rasa malas dengan istighfar. Mencapai sesuatu itu harus sabar. Kamu pasti bisa."


Merr mengangguk semangat. "Iya A'..." jawabnya menoleh ke arah sang anak lantas kembali pada Bilal, "Oh, besok ada tabligh Akbar di Cengkareng? Dengar-dengar ada Ustadz Irsyad juga?"


"Iya," jawab Bilal sembari memandangi wajah sang istri. "Kamu mau ikut?"


"Bolehkah?"

__ADS_1


"Boleh sayang." Bilal membelainya lembut setelah itu mengecup keningnya. "Ayo tidur, sudah malam."


"Iya–"


***


Tabligh Akbar di gelar...


Habib kali ini menjadi pembicara, bersamaan dengan Ustadz Irsyad di sebelahnya. Mereka mengisi tausiyah secara bergantian.


Rampung dengan acara tabligh Akbar. Habib menjabat tangan Ustadz Irsyad yang sontak di dekati tangannya untuk di kecup.


"Barakallah..." gumam Ustadz Irsyad. Belum lagi setelahnya sang Habib memeluknya.


"Mampir kerumah saya, Kyai."


"Janji?"


"Ya, dengan Ustadz Akhri. Mau ke rumah Gus Wahyudi."


"Oh– baiklah kalau begitu. Salam untuk Beliau, Pak Kyai."


"Walaikumsalam warahmatullah. inshaAllah nanti saya sampaikan," jawabnya sebelum berpencar masing-masing.


–––


Saat mengatur janji, mereka memilih untuk bertemu sejenak di salah satu masjid terdekat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan secara beriringan menuju kediaman Gus Wahyudi.


Sesampainya di sana. Ustadz Akhri duduk dengan sopan, bersebelahan pula Ustadz Irsyad yang tengah mengobrol ringan dengan Gus Wahyudi.

__ADS_1


"MashaAllah– ada angin apa ini tiba-tiba di datangi pria-pria Soleh." Mereka terkekeh menanggapi ucapan Gus Wahyudi.


"Begini, niatan saya kesini pertama untuk bersilaturahmi. Kedua?" Ustadz Irsyad terdiam sejenak sembari tersenyum. "Ingin meminta izin, perkenalan antara Ananda Hapsoh dengan pria di sisi saya. Sebab, jika di perkenankan, Ustadz Akhri ini ingin mengenal lebih dekat dengannya."


"Afwan– saat saya mendengar niatan Antum yang akan bersilaturahmi kemari bersama Ustadz Akhri via telpon satu bulan yang lalu. Saya sempat merasa senang. Dan saat itu pula lah saya memberikan kabar ini pada anak saya, namun maaf saya sempat tak langsung memberikan kabar kapan antum boleh datang. Sebab, dia sempat termenung tak menjawab. Tapi, entah mengapa semalam dia bilang bersedia untuk bertemu Ustadz Akhri. Namun katanya agak terkejut, karena Antum langsung mengatakan akan bersilaturahmi esok harinya."


"MashaAllah, Kebetulan ini juga karena saya ada disini. Jadi Beliau ada yang menemani," jawab Ustadz Irsyad membuat bibir Akhri tersenyum tipis mendengarnya.


"Tabarakallah..." Mereka masih berbincang-bincang. Membahas hal-hal kesana kemari. Hingga Gus Wahyudi pun memanggil putrinya keluar.


Wanita itu lantas duduk dengan sopan sembari menundukkan kepalanya. Akhri melirik sedikit lalu menunduk lagi.


Dia benar-benar guru madrasah di tempat Alma dan Husein bersekolah. –batin Akhri yang sudah pernah bertemu wanita itu beberapa sebelumnya.


"Ustadz, ini anak saya. Dia memang penghafal tiga puluh juz. Penghafal hadits juga. Hanya saja, Hapsoh memiliki keistimewaan. Apakah antum sudah mendengarnya?"


Akhri mengangguk. "Saya sudah mendengarnya. Dan saya akan menerima keistimewaannya itu, kalau saja saya berjodoh dengannya," jawab Akhri teguh. Dengan malu-malu Hapsoh menaikkan bola matanya, melirik kearah Ustadz Akhri yang rupanya sedang menatap kearahnya juga. Pria itu tersenyum, membuat Hapsoh buru-buru menunduk. Tingkah wanita itu justru mengundang tawa tanpa suara dari Akhri.


"Allah..." Gus Wahyudi merasa bersyukur. Beliau lantas menoleh kearah Putrinya. "Bagaimana, Nak. Kamu sudah tahu sebelumnya, maksud tujuan Beliau kesini untuk menjadikanmu istri. Dan kamu juga tahu bahwa Beliau ini berstatus duda dengan tiga anak. Apakah, kamu bersedia?" tanyanya.


Hapsoh tertegun di tempatnya. Memberanikan diri matapan lekat-lekat kearah Ustadz Akhri. Wajah yang bisa dibilang mirip dengan anak sulungnya itu membuatnya mengingat sosok anak laki-laki yang gemar menyendiri sembari memurojaah hafalannya di dalam kelas.


"Sa–saya? Wanita yang tak memiliki rahim. Apakah Anta benar-benar serius ingin memperistri saya?"


Akhri tersenyum. "Saya serius, untuk meminang Anti. Menerima segala kekurangan dan berusaha memuliakan Anti semampu saya. Sebelumnya, apakah Anti sendiri tak keberatan dengan tiga anak saya? Karena mereka termasuk anak yang aktif."


Hapsoh masih terdiam, menggigit ujung bibirnya. Sementara kedua tangannya saling meremas merasakan gugup. Seolah tengah berpikir keras. Karena pernikahan adalah sebuah perjalanan hidup yang amat panjang bahkan sampai akhir hayat. Mungkinkah, ia bisa menjalani pernikahan itu dengan segala kekurangan yang ia miliki. Tidakkah Ustadz Akhri mengecewakannya. Seperti calon suami sebelumnya?


Ustadzah Hapsoh jangan menikah ya, soalnya Alma senang di ajar ustadzah... takut Ustadzah jadi pindah juga setelah menikah seperti Ustadzah Eva. Kan aku udah sayang banget sama Ustadzah. - celetuk Alma tempo hari, membuat Hapsoh tertawa.

__ADS_1


__ADS_2