
Malam berjalan dengan indah. Mereka berdua menikmati hidangan khas timur tengah di salah satu restoran yang cukup memiliki nama dikalangan para pecinta kuliner. Dan makanan yang terasa lezat ini seolah menjawab rasa penasaran Maryam yang sebelumnya berpikir kenapa restoran ini sangat ramai di kunjungi. Terlebih mereka-mereka yang berdarah Arab.
"Enak, 'kan?" tanya Bilal. Merr lantas mengangguk setuju.
"Enak banget," jawabnya setelah menyuapkan sesendok nasi kebuli ke dalam mulutnya. Bilal tersenyum saat melihat istrinya makan lebih banyak dari biasanya. "A'a, beneran mau kosongin jadwal sampai dua Minggu?"
Bilal mengangguk, "iya, aku mau meluangkan waktu lebih banyak. Setidaknya, dalam setahun aku harus ambil dua kali cuti untuk keluarga."
"Senangnya," Merr tersenyum lebar. "Aku jadi bisa ngaji sama A'a lebih sering lagi."
"Boleh, sudah hafal juz tiga puluh, kan?"
"Iya, kemarin juga sempat di muroja'ah sama Ummi," jawab Merr bangga.
"Benarkah?"
"Iya, bahkan aku sudah hafal surah al muzzammil loh... boleh nanti di cek." Maryam menantang sang suami.
"MashaAllah, baiklah berati sudah masuk juz dua sembilan. A'a tinggal ngecek hafalan mu di situ, ya?"
Maryam tertawa. "Belum semuanya... tapi ngomong-ngomong kamu suka keterlaluan kalau ngecek hafalan ku. Lebih enak di muroja'ah Ummi."
"Loh suka keterlaluan gimana?"
"Ya kaya sengaja di salah-salahin, biar aku ngulang terus-terusan."
"Justru biar tambah hafal. Lagian tadi udah sok' banget tuh minta di cek hafalannya."
Maryam tertawa lagi, "ya tapi belum seluruhnya, masih sedikit A'."
"Iya deh, nanti aku kasih peraturan kalau kamu bacaannya banyak salah. Plus PR, ya?" Bilal tersenyum jail.
"Kan?"
__ADS_1
"Apanya, 'kan?"
"Harus ada peraturan gitu, males jadinya."
"Loh, biar kamu semangat." Bilal terkekeh saat melihat mata Maryam mendelik kepadanya.
"Semangatnya akan buyar kalau kamu bertingkah."
"Enggak, untuk kali ini. Janji, inshaAllah aku nggak akan aneh-aneh. Lagi nggak punya ide juga buat isengin kamu soalnya." Bilal tergelak saat mendapatkan pukulan di lengannya dari sang istri. "Bercanda, kok."
Merr menghela nafas, menahan kesal yang bercampur gemas pada suaminya.
"Nanti malam kita akan sambung hafalannya, ya."
"Iya!" Merr langsung mengiyakan dengan senang hati, karena menghafal Al-Qur'an dengan metode-metode yang di berikan sang suami benar-benar membuatnya tak kesulitan.
"Oh, iya. Sebulan ini sudah bisa Khatam lebih dari satu kali, belum?"
Merr menggeleng. "Udah coba tapi belum bisa. Tapi, aku berusaha kok mengkhatamkan Al-Qur'an setiap satu bulan sekali dengan metode satu juz per-hari, atau dua lembar setiap habis sholat seperti yang A'a kasih tahu ke aku."
"Tetep nggak mudah, A'. Kadang aku-nya capek atau mungkin nggak sempat baca karena lagi di luar."
"Ya udah nggak papa, yang penting setiap harinya ada ayat yang kamu baca. Dan A'a tetap salut kamu bisa Khatam Al Qur'an setiap bulan. Walaupun A'a nggak mengawasi kamu secara langsung."
"Aku senantiasa di awasi Allah SWT, kok..." jawab Merr. Bilal sendiri langsung tersenyum saat mendengar itu. "Itu lah yang membuat keikhlasan serta khusuknya aku beribadah. Sebab, berusaha menghadirkan Allah di setiap ibadahku."
"MashaAllah... nggak bisa berkata-kata lagi. Semakin pintar kamu sekarang."
"Iya lah, A'a yang ngajarin aku ibadah dengan hati. Karena hati, membawa kita pada kenikmatan beribadah. Lebih-lebih hanya Allah yang tahu... bukan orang lain."
"Iya benar, sayang..." Bilal menarik pipi yang tertutup cadar milik sang istri gemas, sebelum melanjutkan makannya.
***
__ADS_1
Waktu terus bergerak, sebagaimana semestinya. Menjalani kehidupan rutinitas sehari-hari tanpa beban, walaupun terkadang kekhawatiran masih ada seiring bergantinya bulan dan tahun.
Setiap kali libur saat tidak ada keponakannya Bilal pasti akan mengajak anak-anak tetangga untuk bermain bola di pelataran masjid dekat rumah.
Hal itu juga lah yang justru membuat Maryam merasa egois, namun dengan keegoisannya itu justru akan menjaganya agar tak kembali tergelincir pada lubang penyesalan ketika harus berbagi suami.
Baginya sudah cukup kisah kelam itu ia rasakan pada pernikahan pertamanya. Dan ia tak ingin cerita menyakitkan itu kembali terulang. Walaupun setiap kali habis melakukan hubungan suami-isteri, Maryam selalu mengucapkan permintaan maafnya pada Bilal karena bibit yang di tanamnya tak pernah tumbuh di rahimnya.
Suatu malam, Bilal mengecup keningnya setelah selesai dari kegiatan mereka karena besok A'a akan kembali pergi dalam perjalanan syi'ar-nya.
"A'a, aku minta maaf."
"Lagi?" tanya Bilal, Maryam pun mengangguk. "jangan terus minta maaf. Aku bahagia, walaupun kita hanya berdua, sayang..."
Maryam hanya diam saja, –aku percaya itu untuk saat ini, tapi sampai kapan?
Bilal kembali mencium keningnya, membuat Maryam terhenyak. A'a sempat tertawa sejenak lalu berjalan lebih dulu menuju kamar mandi. Maryam menatap pintu kamar mandi yang kembali tertutup saat Bilal sudah masuk, Ia pun memeluk bantalnya.
Kapan doa kami akan terjawab? –ucapan yang kerap muncul dalam benaknya, tatkala kerisauan sedang datang menyelimuti. Merr berusaha keras untuk membuang jauh-jauh. Ia percaya. Pasti akan terkabul walaupun entah kapan.
–––
Esok harinya, A'a kembali melakukan perjalanan keluar kota. Namun dari gerak-geriknya seperti tak bersemangat. Entahlah, tiba-tiba A'a seperti menunda-nunda keberangkatannya, tak seperti biasa.
"A'a udah siang loh, Kang Beben udah nunggu di bawah, dari tadi."
"Yank, kok aku males jalan, ya. Rasanya kaya pengen di rumah aja." Bilal memeluk lingkar pinggang Maryam yang berdiri di hadapannya.
"Kok, gitu?" Maryam mengerutkan keningnya, melihat tingkah manja suaminya yang tengah menempelkan telinga di perutnya.
"Nggak tau, mendadak betah meluk kamu kaya gini," jawabnya, hal yang membuat Maryam terkejut saat Bilal mencium perut sang istri.
"Ya Allah..." Maryam terkekeh mengusap rambut di kepala suaminya. –kalau lagi manja begini kok kamu gemesin, sih. Jadi berat melepasmu kerja.
__ADS_1
Maryam membiarkan suaminya memeluk pinggangnya hingga beberapa saat, sembari mengusap-usap kepalanya, mengacak-acak rambut yang tadinya sudah sempat tertutup peci kupluk namun di lepaskan oleh Maryam.
Tak lama setelah puas Beliau pun beranjak. Berpamitan kepada istrinya untuk melakukan perjalanan ke Solo, Jogja, dan terakhir Magelang selama lima hari. Di daerah Magelang lah nantinya Ia akan di pertemukan dengan KH. Irsyad Fadhillah, dan juga Ustadz Akhri dalam acara tabligh Akbar pada salah satu masjid agung di sana. Pertemuan yang setelah sekian tahun terjadi lagi, ada pada satu panggung untuk mereka berdua.