
Setelah hampir empat bulan berlalu. Bilal mengajak jalan-jalan sore istrinya kesebuah taman kota.
Tempat yang nyaman dengan hiruk-pikuknya. Berbagai macam jajanan ada di sana. Berada di pinggiran taman tersebut. Sementara para perkumpulan anak muda mulai berdatangan. Bermain dengan hobi mereka secara bersamaan.
Duduk di kursi yang terbuat dari beton di sore hari, sembari jajan gulali. Memang sangat nikmat. Tapi, bukan Maryam yang makan, melainkan calon bapak muda ini.
Pria itu memang suka sekali dengan yang manis-manis. Seperti saat ini. Padahal mereka baru saja tiba, Bilal sudah tertarik dengan jajanan yang terbuat dari gula pasir itu. Gulali sebesar itu bahkan sudah hampir habis saja di lahapnya.
"Lagi nggak?" Tanya Bilal mengarahkan gulali itu ke arah istrinya.
"Nggak A'... udah eneg. Habisin aja."
"Okay–" Bilal menyobeknya cukup besar lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Kamu jadi suka ngemil sekarang, A'..." Merr bertanya sembari menyentuh perut suaminya. Bibirnya melebarkan senyum, seolah tengah mengejek.
"Nggak ngerti deh– jadi kaya berlebihan, gini."
"Aku yang hamil, kamu yang doyan makan."
"Hahaha..." Bilal menutup rapat plastik gulalinya. Setelah itu meraih botol air mineral di sisi kanan. Mengucap bismilah sebelum meminum seteguk setelahnya mengucap hamdalah. Lalu ke basmalah lagi sampai tiga kali. "A'a kemarin timbang berat badan. Naik, masa?"
"Jelas lah naik. Kamu makanya banyak sekarang."
"Iya, tapi kan bukan nasi."
"Walaupun bukan nasi tetep aja, ngemil banyak justru kalorinya lebih tinggi. Apalagi sukanya yang manis-manis."
"Biarin lah, yang penting sehat. Kalaupun gemuk yang penting udah laku ini– iya, nggak?" Bilal menggoda, sehingga membuat Maryam terkekeh.
"Eh..." Maryam nampak terkejut, hingga reflek menyentuh perutnya sendiri.
"Kenapa? Sakit?"
"Enggak, aku merasakan adanya denyutan di perut."
__ADS_1
"MashaAllah, seperti apa?"
"kaya denyutan sekali... gitu lah pokoknya." Merr melebarkan senyum.
"Tabarakallah... padahal belum genap empat bulan. Mungkinkah itu pergerakan janin?" Bilal tak mau kalah turut menyentuhnya.
"Bisa jadi..."
"Jadi nggak sabar buat USG. Kangen pengen lihat anakku–"
"Hehehe, nanti setelah acara tasyakuran empat bulanan A'."
"Iya, sebentar lagi sih."
"Emmm– A'a jadi kosongin jadwal 'kan?"
"Jadi Yank. Cuman, paginya aku tetap menghadiri salah satu undangan. Nggak papa, ya. lagipula acaranya kan sore pukul dua. Sama malam habis isya."
"Iya, A'. Nggak papa... emang acaranya apa saja."
"Wah–"
"Kamu sendiri ikuti saran ku 'kan? Banyak-banyakin tilawah."
"Iya A'.... aku mah nurut."
"Alhamdulillah–" Bilal tersenyum. Keduanya lantas menyambung perbincangan santai mereka hingga beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Beberapa hari berlalu lagi, hingga berganti Minggu. Bilal menghadiri salah satu kajian plus seminar di salah satu hotel di Jakarta.
Ruangan yang besar dan elegan, dengan dekorasi lebih dominan merah dan emas. Bilal sudah memulai kajiannya.
Panjang lebar Bilal membahas tentang hati yang tenang. Sebab adanya iman di jiwa.
__ADS_1
Setelah kajiannya selesai, beliau lantas membuka sesi tanya jawab yang di tulis di kertas oleh para jama'ah. Setelah itu Bilal akan membaca satu persatu lalu menjelaskan sesuai dengan ilmu yang ia milik.
Satu pertanyaan datang dari seseorang, yang ia tulis mengenai sulitnya hidup.
(Assalamualaikum, Bib. Saya mau tanya... kenapa kehidupan jaman sekarang lebih sulit dirasa. Bahkan, orang-orang yang mengalami depresi karena masalah mereka yang pelik. Lebih banyak. Padahal jaman sekarang apa-apa seperti lebih mudah dari pada jaman dahulu.)
"MashaAllah, tabarakallah. Baik, saya akan jawab langsung." Bilal berdeham sejenak, lalu kembali malanjutkan ucapannya. "Kata para ulama begini; hati itu sebenarnya sama seperti raga. Butuh rehat. Namun, rehatnya jiwa itu tidak seperti tubuh yang butuh tidur. Kira-kira rehatnya bagaimana, teman-teman?"
Semua yang di hadapannya terdiam. Beberapa menjawab dengan asal yang justru mengundang tawa kecil. Atau mungkin menjawab dengan perhitungan hingga jawaban mereka hampir mendekati.
"Jadi, hati itu hanya butuh ibadah serta pendekatan dengan Sang Maha Pencipta. Lantas apa hubungan ibadah dengan hati. Nah, Rasulullah Saw pernah memerintahkan Bilal bin Rabah Radhiallahu untuk mengistirahatkan para sahabat yang lain dengan shalat. Maksudnya, Rasulullah Saw meminta Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan."
"Sementara shalat yang mampu menjadi cara istirahatnya hati itu adalah Khusyuk! Tahu nggak kenapa demikian? karena sholat dengan khusyuk itu akan menenangkan hati. Bisa dijadikan obat bagi jiwa yang kelelahan. Namun, kenapa akhir-akhir ini semakin sulit kita khusyuk dalam beribadah? Jawabnya ada pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tabrani yang memiliki derajat hasan. Jadi Rasulullah Saw pula pernah bersabda; bawa ilmu pertama yang akan di angkat dari muka bumi ini yaitu ilmu khusyuk. Jadi Islam itu memiliki banyak sekali cabang-cabang ilmu. Entah itu tentang ibadah, Muamalah, syariah dan lain-lain. Namun, dari sekian banyak syari'at ilmu2 penting itu yang pertama kali di angkat dari manusia adalah ilmu khusyuk itu. Makannya sekarang itu lumayan banyak di antara kita yang mudah depresi, mudah down karena itu tadi– mulai jarangnya orang-orang beribadah dengan khusyuk."
"Jadi bisa di simpulkan ya, rehatnya jiwa dan hati itu ketika memiliki ilmu kekhusyuk-an. Saat ini, kayanya hampir semua orang memiliki masalah yang sama. Pikiran liar kemana-mana Padahal kita baru saja bertakbir. Jadi coba perbaiki sholat dengan cara mempelajari lagi ilmu khusyuk itu. Agar hati jadi lebih merasakan ketenangan. Sehingga masalah itu akan layaknya debu bagimu, saking ringannya. Allahu'alam–"
Bilal kembali mengambil kertas pertanyaan selanjutnya. Sejenak ia termenung, lalu terkekeh kemudian.
"Pertanyaan yang cukup sulit saya jawab, nih. Dari seorang ukhti atau Ikhwan–" ucap Bilal membuat mereka yang ada di sana tertawa. "Bismilah–"
(Assalamualaikum, Afwan Bib. Saya bertanya di luar tema. Ini mengenai Habib sendiri, sebagain besar ulama akan mencari istri kedua bahkan sampai empat. Apakah Habib pernah memiliki pikiran untuk menikah lagi? Sukron, Bib.)
Mendengar Habib Bilal membaca tulisan tersebut, para jama'ah pun merespon dengan candaan halus.
"Punya istri lebih dari satu, siapa yang nggak mau?" gumam Bilal, bergurau. Yang justru kembali mengundang tawa. "sebelum saya menjawab, jujur saja pertanyaan ini banyak masuk ke DM saya. Tapi bukan berarti saya sok laku ya, karena nyatanya memang begitu." Bilal terkekeh, tentu saja mereka yang hadir pun kembali tertawa. "Bercanda saya. Khawatir yang di rumah ngunci kamar... tujuh hari, tujuh malam jadinya." Bilal menunduk sembari tertawa lagi.
"Udah, ya... bisa di lanjutkan?"
"Bisa Bib–" jawab mereka walaupun masih di selingi tawa.
"MashaAllah... sebelumnya saya ingin menjelaskan. Memang benar, poligami termasuk syari'at yang di perbolehkan. Banyak yang berpendapat, kalau Rasulullah Saw saja memiliki banyak istri. Tapi merujuk dari itu semua bukankah sebelumnya Rasulullah Saw termasuk penganut monogami? Beliau menikahi Khadijah, dan menjadikannya istri satu-satunya Beliau selama dua puluh lima tahun. Sementara poligami yang Beliau jalani hanya delapan tahun. Namun kenapa bukan masa terlama yang di teladani?" Bilal menunjuk salah satu dari mereka. "Muka-muka kecewa– ada keinginan poligami ya, mas? Tenang boleh kok."
"Hahaha..." Mereka tertawa.
"Kalau saya sendiri, sebagai laki-laki. Ketika di tanya ada keinginan memiliki istri lebih dari satu, nggak? Jawabanku sudah pasti ada. Namun, kembali pada tanggung jawab setelahnya. Karena prinsip saya, ketika satu amanah saja belum bisa ku bahagia dan ku penuhi hak-haknya untuk apa menambah yang baru. Saya sendiri tak mencela pelaku poligami, karena saya nggak tahu kedepannya seperti apa. paling penting saat-saat ini, saya hanya berpikir. lebih baik memiliki satu bidadari namun bisa ku didik dengan baik. dari pada punya lebih dari satu namun mengundang banyaknya masalah hingga menyeret saya ke neraka. jelas, ya–" Bilal membuang kertas pertanyaan itu sebelum beralih ke pertanyaan selanjutnya.
__ADS_1