
Hari masih panjang. Siang ini Bilal membawa Merr kesuatu tempat. Mumpung libur tidak ada jadwal dakwah katanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sementara senandung indah keluar dari bibir sang suami. Melantunkan lirik sholawat yang menurutnya sangatlah merdu. Suara Bilal memang khas, halus, dan nikmat di dengar. Sesekali tangannya mengusap-usap lutut Maryam ketika tengah berhenti di perempatan lampu merah.
Sementara wanita itu hanya menikmati, suara indah yang bisa ia dengar setiap saat. Yang seolah di peruntukan hanya untuknya. Bukankah itu suatu keberuntungan? Ya...ya... mungkin saat ini banyak orang yang patah hati, ketika idolanya sudah memiliki istri.
Merr terkadang geli sendiri, kenapa bisa ia mematahkan hati para wanita itu. Pasti mereka tidak ikhlas deh... pujaannya harus menikahi seorang janda seperti dirinya. Namun mau bagaimana lagi, kalau sudah jodoh. Hehehe...
Merr menoleh saat tangan Bilal iseng menarik pipinya sebelum kembali menginjak pedal gas.
Perjalanan memakan waktu kurang-lebihnya sekitar empat puluh menit. Mereka sudah sampai di salah satu panti, yang isinya anak-anak penyandang disabilitas.
"Ayo turun..." ajaknya sembari mengusap tangan di pangkuan Maryam. Ia lantas mengangguk seraya melepaskan sabuk pengaman.
Bilal segera keluar, dan langsung di sambut seorang pegawai di sana. Mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya di minta Bilal untuk mengeluarkan beberapa bahan makanan di bagasi. Sebenarnya Maryam tidak tahu kalau akan mampir kesini, ia sempat berpikir; beras dan telur juga mie instan sebanyak ini untuk apa, mungkinkah perintah Ummi Isti? Tapi sekarang pertanyaan itu terjawab, rupanya untuk panti ini.
Ada tiga pemuda, yang mendekati. Mereka semua memiliki garis wajah yang sama, ya... down syndrome. Rata-rata dari penderitanya memiliki wajah yang hampir sama.
Ketiganya langsung bersalaman dengan Bilal dan memeluknya. Ada salah satu yang suka berbicara dengan nada yang keras, lumayan tidak jelas bahkan saat memeluk Bilal sampai lompat-lompat. Tapi herannya seperti paham, Bilal manggut-manggut mendengarkan cerita yang entah apa. Bahkan sesekali tertawa sembari menepuk-nepuk pundaknya.
Tak berselang lama mereka di ajak masuk oleh seorang kepala panti. Seorang laki-laki yang berpenampilan agamis, mengajak mereka ke ruangannya.
"Saya kaget, tau-tau ada habib datang sama istri." Pria yang usianya mungkin sudah menginjak lima puluh tahunan itu terkekeh.
"Tadi habis belanja, lalu sekalian mampir. Mumpung libur."
"Ramadhan ini pasti sibuk sekali ya, Bib?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, makanya saya ambil satu haru dalam seminggu khusus libur saya. Itupun kadang di datangi tamu... makannya saya kabur duluan sama istri setelah Sholat Dzuhur tadi." Bilal tertawa. Tangan kanannya mengusap punggung tangan Maryam di sebelahnya.
"MashaAllah, pengantin baru nggak langsung libur. Pasti nggak enak ya, teteh di tinggal A'a terus," ledek bapak itu.
"Nggak masalah, Pak," jawab Maryam sembari tersenyum.
"Tenang nanti habis lebaran saya libur panjang, terus ajak Dia jalan-jalan..." sambung Bilal sambil tertawa.
"Bagus itu Bib. Nanti pulang langsung kasih kabar bahagia ke Ummi, nih."
"Aamiin ya Allah..." Bilal mengangkat ke-dua tangannya tinggi-tinggi lalu mengusap wajahnya. Setelah itu tertawa lagi. Ya... baginya itu seperti Doa, jadi diaminkan saja. Walaupun ia sendiri sudah tahu masalah kesuburan yang di derita istrinya.
Bilal sigap menggenggam tangan Maryam, ia khawatir ucapan tadi menyinggung Maryam. Namun sepertinya tidak, wanita di sebelahnya masih santai turut tertawa lirih.
Beberapa menit berselang, Bilal menengok beberapa anak-anak yang sedang bermain. Ada yang lari-lari ada pula yang menangis.
Ia berteriak-teriak, sembari melempari perawat laki-laki dengan apapun yang ada di sekitarnya. Katanya, anak itu akan di mandikan. Karena sejak pagi tadi tidak mau mandi, dan sekarang malah justru mengamuk dengan cara melemparkan apapun yang ada di sekitar.
Yang menjadi miris, anak itu tak berbusana. Namun malah berada di luar ruangan sembari menangis dan berteriak.
Bilal menyerahkan tasnya pada sang istri lalu mendekati anak itu. Ia meminta handuk yang berada di tangan si perawat sebelumnya.
"Assalamualaikum, Daud... solehnya A'a." Bilal tetap mendekati walau anak itu menggenggam batu yang cukup besar di tangannya, mengangkat tinggi-tinggi. "Sini batunya A'a pinjem."
Anak itu berteriak lebih keras ke arah Bilal yang semakin mendekati dan kini meraih tangan yang menggenggam batu itu. Beliau menatap matanya, sembari bergumam entah apa. Sepertinya sedang berdoa sesuatu.
"Pinjem sini sebentar, ya..." tuturnya lembut. Sementara anak tersebut masih diam menatap tajam kearahnya dengan tangan masih menggenggam erat batunya. Bilal pun menutupi tubuh anak itu dengan handuk lalu memeluknya. Membisikan sesuatu, serta kembali memegangi tangan Daud yang masih menggenggam batunya.
__ADS_1
Maryam memandangi dengan perasaan kagum, kesabaran Bilal berbuah manis. Anak itu tenang, lalu merenggangkan genggamannya hingga batu itu sudah berpindah tangan. Bilal langsung membuangnya cukup jauh.
"Mandi sama A'a, ya?" kata beliau setelahnya. Anak itu masih terdiam, dengan dada naik turun karena nafasnya. Menghunuskan pandangan ke arah perawatan laki-laki di belakang Bilal. "Daud, A'a tadi bilang apa? istighfar yuk. Astagfirullah al'azim... astagfirullah al'azim..."
Cukup lama membujuk, namun lama kelamaan anak itu mengangguk. Bilal pun menuntunnya, mereka berdua berjalan ke kamar mandi. Segera beliau menggulung celana dan lengan bajunya, mulai memandikan anak itu dengan telaten, tak lupa pula membantunya memakai baju hingga terakhir menyisir rambutnya.
Maryam benar-benar di buat kagum oleh suaminya sendiri. Ia tidak menyangka, seorang Bilal bisa melakukan itu. Pantas saja, mereka menyayangi Bilal. Ada yang memanggil A'a tapi tak sedikit pula yang memanggil Abi Bilal. Sungguh, Merr tak bisa melepaskan pandangan kagumnya pada laki-laki yang sekarang sedang mengajar ngaji anak-anak di sana.
Hal yang membuatnya lebih kagum lagi Bilal bisa mengajarkan beberapa anak tunanetra mengaji, menggunakan Al Qur'an dengan huruf Braille.
MashaAllah, A'a. –Maryam tak henti-hentinya bergumam.
Kekagumannya tak hanya sampai di situ. Sekarang dua anak menghampiri Bilal dengan gerakan tangan. Rupanya mereka adalah anak didik khususnya. Yang meminta Bilal memuroja'ah hafalan mereka. Ya, mereka adalah penyandang tunarungu.
Nampak Bilal membaca potongan ayat dengan gerakan tangan yang sama setelah itu di sambung oleh mereka berdua dengan isyarat tangan juga. Senyumnya melebar, saat mengamati mereka membaca dengan gerakan tangan cepat.
"MashaAllah..." Bilal terkekeh, ia mengusap kepala anak tersebut. Mereka berbicara sejenak dan hanya di mengerti oleh Bilal yang sesekali tertawa menanggapi.
Maryam menyentuh dadanya, di mana debaran jantungnya terasa amat kencang saat Bilal menoleh sejenak lalu tersenyum padanya, Maryam pun membalas senyum itu.
Entah mengapa, mendadak ada kekhawatiran di hatiku. Melihat kamu yang terlalu sempurna ini Suamiku. Aku takut, hidupmu tak panjang seperti Abi.
Maryam menggeleng, ia berharap suaminya senantiasa di beri kesehatan. Dan bisa hidup lebih lama di sisinya. Mata Maryam masih tertuju pada suaminya yang kembali fokus melihat hafalan Dua anak tadi.
Jaga Dia, sehatkan Dia ya Allah... aku mencintainya. Sangat mencintai A' Bilal.
Mata Maryam mengembun, menatap dengan kekaguman serta rasa cinta yang semakin tertanam lebih dalam dihatinya.
__ADS_1