
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Bu Karimah.
Maryam Keluar dengan binar mata yang sedikit berbeda. Ini sudah lama sekali, semenjak perceraiannya dengan Akhri. Merr tak pernah berkunjung ke rumah ibunda Arshila.
Seorang wanita paruh baya yang tengah memotong tangkai kering di depan rumah menyipitkan matanya. Membenahi kacamata yang melekat di netra sepuhnya.
"Maryam?" Sapa-nya bahagia. Maryam pun mendekati dan mengucap salam. Segera di peluk tubuh wanita itu dengan rasa rindu teramat. "Ya Allah... lama sekali tidak kesini. Alhamdulillah, ibu pikir kamu selamanya nggak akan datang ke sini."
Maryam tersenyum. "Alhamdulillah, akhirnya Merr bisa kesini..." matanya terarah pada kubah masjid yang ia kenal. Juga gerbang besar pondok pesantren Abdul Aziz yang mendominasi warna putih dan hijau.
Sudah bertahun-tahun berlalu, rupanya nampak banyak perubahan. Pondok sudah banyak yang di renovasi.
"Masuk yuk," ajak beliau membuat Maryam kembali menoleh kearah Bu Karimah lalu mengangguk.
–––
Bu Karimah meletakkan minuman juga kue kering di hadapannya. Lalu duduk bersebelahan dengan Maryam.
"Apa kabar?"
"Baik, Bu. Alhamdulillah..."
"Syukurlah, ibu turut senang karena kamu baik-baik saja. Bahkan semakin sukses."
"Terimakasih, Bu. Ini Maryam bawa sedikit bingkisan, untuk ibu."
"MashaAllah, repot-repot. Ibu kan selalu bilang kamu mau ke sini lagi aja sudah senang."
"Nggak papa, cuma bingkisan kecil kok. Di terima, Bu." Maryam menyodorkan bungkusan berisi mukenah yang amat cantik.
"Terimakasih banyak, Merr," ucap Bu Karimah dengan mata berbinar saking senangnya. Maryam pun mengangguk. Mereka mulai berbicara basa-basi, mengingat hal A sampai Z. Membahas yang penting atau bahkan tidak penting sekalipun sampai akhirnya Bu Karimah bertanya dengan hati-hati. "Kapan kamu menikah lagi? Sudah saatnya kamu punya pendamping."
Pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat bosan ia dengar. Kenapa si, seolah semuanya meminta Dia untuk segera menikah lagi. Padahal hidup sendiri tak membuatnya merasa kurang apa-apa.
"Ibu pengen loh, dengar kamu bahagia."
"Saya kan sudah bahagia, Bu."
__ADS_1
"Ya, maunya ibu tuh yang lebih bahagia lagi." Mereka tertawa, hingga Maryam pun mulai membuka perihal ajakan Habib Bilal. Nampak sekali binar bahagia yang di pancarkan wanita paruh baya itu. Antusias mendengarkan cerita dari wanita Chinese di depan.
"Tapi, Merr ragu. Masa iya harus sama laki-laki yang jauh lebih muda dari ku. Apa nggak malu-maluin? Lagi pula, fans Dia di sosial media banyak. Akunnya saja sudah centang biru. Takutnya followers Dia langsung hengkang."
"Ya ampun... kamu ada-ada saja. Kalau benar sampai ibunya memintamu untuk menjadi istri anaknya bahkan sampai dua kali seperti ini dengan jeda yang tak sebentar, apa masih kamu anggap main-main? Lagi pula yang menjalani kalian, masalah fans kan hanya fans. Nggak berhak mengatur hidup idolanya."
"Tapi tetep aja, Merr ngerasa nggak pantas, Bu."
"Lalu pantasnya dengan siapa?"
"Nggak dengan siapa-siapa. Karena Merr sadar kekurangan ku itu dimana."
"Astagfirullah al'azim. Memang kamu mau melajang seumur hidup? Kamu pikir gampang?"
"Kalaupun itu bisa membuat ku tidak merasa bersalah dengan pasanganku, kenapa tidak?"
"Ayolah berpikir lebih lugas. Jangan mentok di situ-situ aja... kamu nggak akan menemukan yang baik kalau terus saja berpikir tentang kekurangan. Memang sih, laki-laki akan semakin mencintai kita apabila sudah ada anak. Tapi tidak sedikit mereka yang memilih berdua. Yang penting kenyamanan dalam berumahtangga itu."
"Merr takut gagal lagi," lirihnya sembari tertunduk.
"Mantan suamimu, jika tidak di desak olehmu. Pasti Dia juga masih menerima mu sampai saat ini. Ya, ibu tahu... ada himpitan dari Ummi-nya juga. Namun jika kamu menolak pasti Dia masih menerimamu, itu pasti."
Bu Karimah menyentuh tangan Maryam. "begini loh, ibu dan calon mu kan sudah tahu kekuranganmu. Lalu masih bersedia memintamu jadi menantu dan istrinya apa itu tidak cukup membuatmu yakin?"
Maryam menghela nafas panjang.
"Terimalah, ibu yakin sekali. Ini akan menjadi pernikahan terakhir-mu."
Maryam mengangkat kepalanya. "Yakinkah, aku bisa bahagia setelah ini?"
"Bukan Dia yang membuatmu bahagia, namun ini–" Bu Karimah menunjuk dadanya. "Buang prasangka buruk mu dan mulailah berdamai dengan kekuranganmu. Karena yang tidak menerima itu bukan calon pasanganmu. Namun dirimu sendiri."
"Aku?"
"Iya, rasa takutmu itu yang membuatmu tidak bahagia. Alih-alih memberikan pelayanan kamu malah justru sibuk mengkhawatirkan kondisimu. Padahal adanya anak pun tak melulu bisa membuat rumah tangga itu harmonis. Coba catat kata-kata ibu, tak sedikit pasangan yang sempurna dengan anak-anak mereka malah justru tidak langgeng kehidupannya... mereka tak menjadikan ilmu dan iman sebagai pedomannya. Jadilah ego sebagai penguasa."
Maryam terpekur, karena apa yang di bilang Bu Karimah memang benar.
__ADS_1
"Bahagia lah dengan pikiran yang positif, bersyukur, dan kuatkan iman. inshaAllah, kebahagiaan itu benar-benar kau raih," sambung beliau kemudian, membuat Maryam menitikkan air mata lalu memeluk Bu Karimah mengucapkan terimakasih berkali-kali.
***
Setelah mendapatkan masukan-masukan positif dari semua orang bahkan Koh Yohan dan juga Ce Brigitta pula turut setuju.
Maryam menatap layar ponselnya dengan ekspresi wajah penuh kekaguman. Tulisan Bilal di DM semakin membuatnya yakin untuk menjatuhkan pilihan.
kali ini Beliau menuliskan sepenggal cerita tentang Sofiah istri Rasulullah Saw. Awal pertemuan mereka, tentang Sofiah yang membenci Rosul karena telah membunuh ayah, kakak, dan juga suaminya dalam berperang.
Beliau datang dengan wajah prihatin dan rasa bersalah yang tinggi. Ke salah satu tenda tawanan umat Islam. Menjelaskan dengan pelan, lalu minta maaf, menjelaskan lagi lalu meminta maaf. Begitu terus berulang kali. Hingga Sofiah yang tadinya menjadikan Nabi Muhammad Saw adalah manusia paling ia benci di muka bumi ini, menjadi pria paling ia cintai di muka bumi ini.
Bilal: [Sampai malaikat Jibril turun menyampaikan Wahyu, bahwa Allah menginginkan Nabi untuk menikahi Sofiah... ya pesona Nabi Muhammad luar biasa. Beliau bisa meluluhkan hati siapapun yang membencinya menjadi mampu untuk mencintainya.]
"MashaAllah..." Maryam bergumam.
Bilal: [apa hikmah yang bisa di ambil? Yaitu tentang sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk untuk kita. Karena sejatinya Allah SWT lebih paham, mana yang baik untuk kita. Bisa jadi apa yang kita sangka baik rupanya buruk untuk kita, namun sebaliknya yang kita sangka buruk adalah baik. Barakallahu Fik, Ukhti. Afwan pasti pusing bacanya, ya? Karena terlalu panjang.]
Maryam terkekeh. Lalu mulai mengetik sesuatu.
[Sepertinya lebih enak jika nantinya di ceritakan langsung oleh Habib. Emmm... mengenai ajakan Habib, kenapa memilih sebelum ramadhan untuk menikah?]
Tak menunggu lama setelah pesan itu di kirim, tulisan mengetik sudah terlihat.
Bilal: [Saya akan kasih jawabannya nanti, untuk sekarang apa maksud dari kata yang di atas.]
Maryam tersenyum. Ia pun mengetik sesuatu, lalu menjedanya sebelum benar-benar di kirim.
Sementara yang di sebrang masih menunggu balasan dengan perasaan harap-harap cemas. Tak lama satu pesan kembali masuk, Bilal mengucap bismillah sebelum membukanya.
Maryam: [kapan Habib akan benar-benar datang, saya akan menerimanya dengan tangan terbuka...]
"Allahu Akbar..." Bilal meletakkan ponselnya seketika di atas meja, lalu menyandar lemas, mengusap wajahnya. Bibirnya tersenyum, matanya basah. Ia pun bergegas beranjak dan keluar.
"Umiiii–" buru-buru Bilal menuruni anak tangga, lalu menghampiri sang ibu yang sedang duduk di ruang tengah yang sedang menonton acara TV. Nampak bingung sang ibu yang tiba-tiba di peluk oleh anaknya, menunggu kejelasan sang anak.
Hingga bulir bening menetes, Isti mengucap syukur lalu mencium pipi anaknya.
__ADS_1
Seolah semesta tengah bertasbih. Bahagia yang tercipta di ruangan itu. Membuat tangis haru turut menjadi penghias kebahagiaan mereka.
Ya, kita memang selalu berencana banyak hal, namun kembali Allah SWT lah yang mengatur segalanya. Tidak ada kejadian di alam ini yang terjadi tanpa izinnya. Kita hanya berikhtiar, bersabar tanpa tergesa-gesa menanti jawaban dari-Nya.