Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
marahnya Bilal


__ADS_3

Di sisi lain...


Sebelum pulang Merr memilih untuk sholat ashar lebih dulu di masjid rumah sakit sembari mengisi daya ponselnya di sana. Setelah sholat ia menekan tombol power hingga ponsel itu kembali menyala.


"Ya Allah, pesan chat dari A'a banyak sekali..." Merr tak sempat membaca semuanya terlebih saat mendapati satu pesan yang memberi kesan marahnya Bilal.


A'a nggak pernah melarang kamu untuk pergi, namun A'a lebih menghargai seorang istri yang menyempatkan diri memberi kabar apabila ingin pulang telat. A'a hanya khawatir padamu...


Ia bergegas menelfon sang suami sembari melangkah cepat menuju parkiran. "Nggak di angkat," gumamnya sembari membuka pintu mobil.


Tergesa-gesa ia untuk masuk dan menyalakan mesin mobil. A'a memang jarang menunjukkan marahnya. Namun bukan berarti A'a tidak pernah marah. Selama ini entah sudah berapa kali A'a menunjukkan rasa kecewanya pada Merr apabila wanita itu melakukan kesalahan. Namun, tak lama akan baik lagi. Berharap, akan sama walaupun A'a tengah marah saat ini.


Merr menerjang jalanan kota yang tengah ramai kendaraan. Fokus menatap jalan dengan semburat kemerahan mentari sore yang masih menyilaukan pandangan. Perjalanan yang di tempuh hingga sampai ke kawasan tempat tinggalnya memakan waktu hingga lebih dari satu jam. Kini mobil yang di bawa Maryam sudah mulai memasuki gang. Dan berhenti di depan rumah yang cukup luas. Terlihat Bilal yang masih menggunakan Koko gamis tengah duduk di teras rumah sembari memegangi tasbih digital ditangannya. Matanya memandang lurus kearah mobil sang istri.


"Ya Allah mendadak takut..." Merr menggigit ujung bibirnya sembari menarik rem tangan sebelum mesin di matikan. Ia pun keluar lalu menghampiri sang suami dengan langkahnya yang pelan. "Assalamualaikum, A'..."


Merr meraih tangan sang suami yang hanya membalas salam itu dengan gumaman lirih. Lalu melanjutkan dzikirnya. Membiarkan Merr mengecup punggung tangannya, sementara mata Beliau tak meliriknya sama sekali.


"A'a," panggilnya pelan sembari duduk di sebelah pria yang masih tak membalas tatapannya. "Maaf ya, Merr nggak bilang-bilang kalau mau telat pulang."


"subhanallah wabihamdihi..." gumam A'a lirih sembari menekan tombol di tasbih digitalnya. Seolah tak ingin mendengarkan.


"A'a?"


"subhanallah wabihamdihi..."


"Ya udah deh ku jelaskan nanti aja," Maryam murung.


"subhanallah wabihamdihi..." Bilal menekankan suaranya lebih keras membuat Maryam yang hendak beranjak seketika tidak jadi. "subhanallah wabihamdihi..."


"A'a aku minta maaf... aku tahu A'a marah sama aku, 'kan?" Tanya Maryam namun Bilal tetap tak merespon selain berdzikir tanpa memandangnya.


"subhanallah wabihamdihi... subhanallah wabihamdihi... subhanallah wabihamdihi..."


"Maafkan aku. Sejujurnya, aku tadi nggak niat pulang telat. Pukul satu tadi aku sudah keluar dari area taman hiburan. Tapi, setelah mendengar istri ustadz Akhri habis operasi keduanya aku jadi berkeinginan untuk turut menjenguknya."


Bilal menoleh, namun hanya menoleh saja sementara bibirnya terus bergumam dzikir. Tentu saja bukan tatapan hangat melainkan tatapan sedikit kesal. Maryam spontan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya aku tahu A'a marah karena aku menjenguk istri Beliau tanpa izin dulu. Aku udah berusaha telfon tapi nggak di angkat."


"Astaghfirullah wa atubu ilaih... Astaghfirullah wa atubu ilaih... Astaghfirullah wa atubu ilaih..." Masih menatap tajam istrinya tanpa memberi respon selain mengganti dzikirnya.


"A'a, aku minta maaf. Tadi tuh aku asik ngobrol sama Kania dan Arshila. Dan nggak ngeh kalau ponselku mati," Merr masih berusaha menjelaskan sementara sang suami malah justru menghembuskan nafasnya kencang sembari geleng-geleng kepala.


"Astaghfirullah wa atubu ilaih..." Beliau kembali memalingkan wajahnya.


"A'a?"


"Astaghfirullah wa atubu ilaih..." Potongnya dengan intonasi suara yang di pertegas.


Merr terdiam menunggu suaminya hingga beberapa menit bahkan hampir setengah jam. Namun Dzikir Bilal masih terdengar dan belum mau berhenti.


"A'a sudah makan, belum?"


"Astaghfirullah wa atubu ilaih..."


"Sudah minum kopi?"


"Astaghfirullah wa atubu ilaih..." Terus-terusan Bilal hanya menjawab dengan itu tanpa menoleh.


–––


Malam harinya, Merr mendekati sang suami dengan ragu-ragu. Seolah tidak ingin di ajak bicara, Bilal terus saja bersholawat di dekat Maryam setiap kali wanita itu mencoba mengajaknya bicara. Pria itu pun beranjak dan pindah yang tadinya di ranjang kini duduk di kursi meja kerja sembari menyalakan layar komputernya.


Merr menghela nafas, rasanya amat sedih ketika hati tengah merasakan kerinduan setelah satu pekan di tinggal kerja malah justru mendapatkan sikap dinginnya saat ini. Ia lantas mendekati lagi lalu meraih tangan suaminya.


"Aku sedih–" ucapnya bernada sedih. Namun Bilal tetap tak mau menoleh. "A'a aku sedih karena kangen. Tapi A'a malah marah."


"Bohong, kalau kangen mah pasti nunggu A'a pulang," jawabnya ketus. Tangan satunya bergerak-gerak menggeser mouse.


"Aku minta maaf A'... aku cuma pengen nengok Kania."


Bilal menoleh, "nggak bisakah menunggu A'a, padahal kamu tahu aku pulang hari ini?"


"Aku cuma mikirnya Arshila akan menjenguk Dia dan minta di turunin di stasiun MRT. Jadi dari pada aku turunin di sana kenapa nggak ku antar sekalian. Aku pikir cuman sebentar, tapi Nia ngajak aku bicara panjang lebar, jadi?"

__ADS_1


"Ada Ustadz Akhri juga?" Tanyanya memotong pembicaraan. Merr pun mengangguk. "Oh..." Kembali beliau menoleh kearah layar komputer.


"Tapi aku ketemunya pas pulang, itupun nggak lama."


"A'a nggak liat, sih?" jawabnya langsung.


Merr pun menggigit bibir bagian bawahnya. "Tapi aku nggak bohong. Maaf kalau sudah bikin A'a kesal."


"wajar kan... aku kesal karena kamu lebih memilih sendirian kesana. A'a nggak su'udzon sama kamu ataupun Ustadz Akhri. Tapi setan itu halus, mendiami aliran darah kita. Bisa aja kan ada sesuatu yang mendesis di hati kalian?"


Antara takut namun sedikit senang. Mungkinkah itu tanda A'a cemburu?


"A'a cemburu?"


"Aku bukan suami Dayyuts, Merr," jawabnya masih sedikit kesal. Merr pun mengulum senyumnya senang.


"A'a beneran cemburu sama Beliau?" Kembali wanita itu bertanya. Bilal menoleh.


"Kamu nggak ngeh, apa? A'a tambah kesel saat tahu kamu kesana sendirian?" jawab Bilal. Merr pun tersenyum.


"Aku pikir A'a nggak pernah cemburu sama aku. Karena sepertinya lebih banyak aku yang memperlihatkan kecemburuanku sama jama'ah kamu."


"Astagfirullah..." Bilal geleng-geleng kepala. "Udah lah makin panjang nanti urusannya."


"Maaf A'..." ucapnya lagi, membuat Bilal menoleh sembari menghela nafas. "Nggak akan aku ulangi lagi, inshaAllah..."


Bilal meraih pinggang istrinya menariknya lebih dekat. "Untung lagi kangen," tuturnya sembari menyentuh pipinya sendiri.


"Hehehe..." Maryam mencium pipi suaminya. Setelah itu Bilal beranjak.


"Udah yuk, kita kangen-kangenan aja."


"Marahnya udahan?"


"Masih, lah."


"Masih marah tapi minta kangen-kangenan?"

__ADS_1


"Obatnya itu, mau gimana dong?" jawab Bilal membuat Maryam tertawa sembari mengikuti langkah suaminya yang membawa dia ke atas ranjang demi menyelesaikan masalah mereka.


__ADS_2