
beberapa pekan kemudian...
Merr berjalan masuk ke dalam kamar dengan keranjang berisi pakaian yang baru saja selesai ia setrika. Dengan kening sedikit berpeluh, tangannya bekerja menata pakaian tersebut kedalam lemari.
Beberapa yang lain di gantung menggunakan hanger dan beberapa lainnya lagi ia tinggalkan di atas ranjang. Berupa baju-baju yang hendak di bawa suaminya untuk perjalanan ke luar pulau Jawa.
Sedikit Pandangannya teralihkan oleh paper bag di sana. Bergambar tokoh animasi tikus yang terkenal. Membuatnya tersenyum. Niatnya besok Merr hendak mengunjungi Debby.
Di samping ingin menyerahkan hadiah untuk Alzah yang baru saja memenangkan lomba hafalan surat pendek. Ia juga sudah merindukan anak laki-laki yang amat manis senyumnya seperti Rumi. Lagi, ia mengingat story Debby berupa sebuah Vidio singkat Ustadz Irsyad yang tengah berjalan dengan Alzah selepas pulang dari masjid pagi tadi.
Sepertinya hari ini Ustadz Irsyad juga sedang di Jakarta dan menginap di rumah Beliau yang di tempati oleh Rumi dan juga Debby.
Sama A'a aja kali ya kerumah Ruminya...
"Sayang udah selesai? Keluar, yuk..." ajak Bilal selepas istrinya membatin.
"Ayo!" Merr menoleh cepat. "A'a mau ajak aku kemana?"
"Kemana aja lah, yang penting jalan-jalan sebelum besok ke Pangkal Pinang."
Merr tersenyum. "Kalau kerumahnya Rumi dan Debby saja, bagaimana? Sepertinya Ustadz Irsyad juga lagi di Jakarta, A'..."
"Iya, kah?"
"Iya, tadi aku lihat status Debby, ada Ustadz Irsyad lagi sama Alzah."
"Barakallah... boleh deh. Sudah lama tidak bertemu Beliau." Bilal mengusap kepala sang istri.
"Kalau begitu aku siap-siap dulu, ya. Kebetulan kemarin aku beli baju untuk Alzah. Anak itu habis menang lomba hafalan surat pendek antar Paud se-Bekasi loh..."
"MashaAllah... benarkah?" Bilal berbinar.
"Iya... tadinya mau di antar besoknya."
"Ya udah kalau begitu sekarang aja, sekalian silaturahmi mumpung A'a di rumah," ujarnya, Merr pun mengangguk.
––
Di saat yang bersamaan Ustadz Irsyad sedang jalan-jalan menggunakan sepeda motor milik Rumi. Mengunjungi salah satu tempat paling wajib baginya untuk Beliau datangi di hari pertamanya jika sedang di Jakarta.
__ADS_1
Yaitu sebuah gundukan tanah yang di penuhi rumput Jepang serta nisan bertuliskan nama seorang wanita bermata indah yang menjadi tumpuan hatinya dulu.
Sekarang, sudah terlewati hampir delapan tahun dirinya menduda. Bahkan menikmati hari-hari sendirian, di temani rasa rindu yang terkadang membuat dia tak mengerti. Menimbulkan satu rasa yang membawanya pada bayangan tak nyata masalalu Irsyad bersama Rahma.
Dokter bilang itu dimensia. Namun tidak parah, dan Ustadz Irsyad justru menikmati itu. Setidaknya bisa menyembuhkan sedikit kerinduannya. Walaupun terkadang tak jarang membuat kedua matanya menggenang saking meresapinya.
Ya, Kasih dan perhatian mungkin masih bisa ia rasakan dari keempat anak serta cucu-cucunya. Namun, bukan berarti bisa menghapuskan jejak kerinduan yang tak bisa ia jelaskan. bukankah, cinta yang benar-benar mengenyangkan hati adalah seorang pendamping hidup?
Masalah hasrat dan hawa nafsu sudah bisa Beliau kontrol seiring waktu yang membuatnya terbiasa. Sehingga tidak lagi ada keinginan untuk mencari pengganti Rahma. Ya, semua Beliau lakukan, demi seorang wanita yang akan lebih cantik dari seluruh bidadari di surga, yaitu istrinya. Berharap pertemuan itu akan terjadi, bukan di mana-mana melainkan surganya Allah SWT.
–––
Selesai nyekar, Ustadz Irsyad kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang. Namun belum sampai rumah Beliau melihat salah seorang pria berusia tiga puluh tahunan tengah membersihkan pelataran rumahnya memanggil Beliau hingga akhirnya Ustadz Irsyad sendiri menghentikan laju motornya.
"Ya Allah... rindu sekali sama Pak Kyai, saya," ucapnya sembari mencium punggung tangan Ustadz Irsyad dengan Takzim.
"MashaAllah, tabarakallah. Apa kabar Ji?" Sapa Beliau pada laki-laki bernama Aji. Dulunya Dia pernah menjadi santri Beliau juga saat masih menetap di Jakarta.
"Baik Alhamdulillah, Pak Kyai. Masuk dulu, yuk ke rumah saya."
"Takut ngerepotin..." Ustadz Irsyad mematikan mesin motornya.
"MashaAllah. Yo wes... sebentar deh," terkekeh sembari turun dari motornya dan berjalan masuk mendekati rumah yang bisa di bilang sedikit berantakan.
"Tapi maaf ya pak kyai. Istri lagi di Bandung nih udah ada tiga harian, jadi rumahnya berantakan."
"Ora Popo, santai wae..." Ustadz Irsyad tersenyum, menghargai tuan rumah yang dengan senangnya mempersilahkan tamu agung bagi dia untuk masuk.
"Silahkan duduk Pak Kyai," katanya mempersilahkan. Ustadz Irsyad mengangguk lalu duduk.
"Sehat semua to, Ji?"
"Alhamdulillah, sehat semua. Pak Kyai juga sehat, 'kan?"
"Alhamdulillah sehat. Tambah gemuk tambah beruban." Keduanya terkekeh sejenak. "Eh... kamu sendiri nggak dagang?"
"Sudah lama saya nggak jualan, Kyai."
"Loh kenapa?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi? semenjak pasar kebakaran dagangan saya jadi habis. Dan saya jadi kehilangan mata pencaharian."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un... kapan pasar kebakaran?"
"Dua bulan yang lalu, Kyai."
"Innalilah... nggak ada yang bisa di selamatkan?"
Aji tersenyum kecut sembari menggeleng. "Habis, Kyai."
"Ya Allah, sabar ya. Ini ujian buat kamu."
"Sabar sih selalu, tapi namanya juga hati kadang ada ngeluhnya."
"Wajar, Ji. Saya paham itu."
"Nah, yang bikin saya miris itu? Ramadhan kan tinggal menghitung hari?" Ustadz Irsyad mengangguk. "Saya pada saat itu baru belanja baju buat persiapan lebaran. Baru masuk gudang loh, belum di sortir. Besoknya malah kebakaran."
"Innalilah..."
"Istri saya sampai sakit hampir seminggu, Kyai. Kios dua masalahnya yang terbakar. Api nyebar keseluruh bangunan lantai dua dan tiga, nggak ada kios yang selamat. Kalaupun ada, malah di jarah warga terdekat yang pura-pura ikut bantu menyelamatkan barang para pedagang."
"Ya Allah. Intinya saya turut prihatin, Ji."
Aji menghela nafas. "Iya Pak Kyai terimakasih. Sebenarnya, kemarin-kemarin pikiran saya benar-benar lagi oleng. Pengen cari tempat curhat, bingung. Makanya saya senang sekali waktu melihat Pak Kyai lewat. Ya Allah... berasa jodoh sekali."
Ustaz Irsyad tersenyum. Mengusap bahu Aji yang sedang menggenggam tangan kanan beliau. Terlihat aura frustasi pada wajah pria yang memiliki warna kulit sawo matang tersebut.
"Jujur saya itu terheran-heran, Kyai."
"Apa yang membuatmu terheran?"
"Malam sebelum kebakaran itu, saya habis sholat tahajjud. Siangnya kan hari Kamis? saya puasa juga tuh. Setiap pagi saya juga masih rutin Dhuha. Eh... Jam lima pagi di hari jumat saya ingat betul! habis subuh, saya nyalain HP sambil siap-siap mau ke pasar. Lah... tau-tau banyak pesan masuk ngasih kabar bahwa pasar kebakaran. Dan rupanya api membesar itu udah dari jam tiga, udah nggak ada waktu saya, buat nyelametin barang dagangan. Akhirnya habis sudah di lahap si jago merah."
Ustadz Irsyad kembali mengusap bahunya sembari tersenyum tipis, mendengarkan.
"Saya itu mau tanya Kyai... ini ujian atau hukuman. Kalau hukuman salah saya apa? Katanya orang yang dekat dengan Allah itu akan di sayang. Namun kenapa dengan saya yang seperti ini, malah mendapatkan ujian yang? ya Allah..." Aji memijat keningnya sendiri. "Sepertinya saya ini sudah putus asa Pak Kyai, mikir hutang dagangan yang nggak tau bisa kebayar atau nggak. Di tambah masalah jadi merembet ke hubungan saya dengan istri. Tapi mau bagaimana lagi, saya bisa apa? Ampe mau pecah ini kepala mikirnya."
"Istighfar Ji..."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim... semua kesusahan ini bikin saya akhirnya futur iman," jelasnya.