
Sudah lebih dari satu Minggu bahkan mungkin dua Minggu jika di hitung dari sebelum persidangan itu di langsungkan. Akhri tak pulang kerumahnya. Beliau lebih memilih tidur di rumah Ummi Salma, mengurung diri, bahkan tidak mau makan.
Hari-harinya di penuhi dengan sholat, dzikir, mandi, tidur. Begitu terus-menerus.
Di hari berikutnya, Nia mendatangi rumah ibu mertua dengan rasa takut sekaligus sedih.
Sebab suaminya yang tak kunjung pulang kerumahnya. Semenjak pertikaiannya tempo hari yang meminta suaminya segera menuruti keinginan Maryam dan tak mengulur waktu. Rupanya membuat Akhri benar-benar murka. Pasalnya Nia sampai menuding dirinya telah memperalat Nia hanya untuk memberikan Akhri anak, sebab Maryam yang mandul.
Kemarahan Akhri membuncah ketika dengan sadar Nia mengancam Akhri jika saja dirinya lebih memilih Maryam, maka dengan keras Dia melarang Akhri bertemu Hussein untuk selamanya.
Hingga membuat pintu lemari kayu itu menjadi sasaran kepalan tangannya yang menghantam keras ke sana. Lantas meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
–––
"Ummi, tolong Nia. Bujuk Abang pulang ke rumah."
"Ummi sudah berusaha, tapi mau bagaimana lagi? Jangankan untuk menjawab, menoleh saja tidak. Memang sebenarnya masalah apa, sih? Kenapa Akhri sampai se-marah itu denganmu?"
"Hanya sepele kok Ummi. Nia cuma minta Abang untuk lebih mempertahankan Nia demi Hussein. Itu aja..."
"Yakin hanya itu? Soalnya Ummi nggak pernah liat Akhri semarah itu? Atau mungkin, sebaiknya kamu kasih waktu suami kamu untuk menyendiri. Kamu harus memahami, perceraiannya dengan Maryam itu bisa di bilang pukulan berat untuknya."
Nia mendengus pelan, sebenarnya Dia kesal karena suaminya harus meratapi Maryam sampai seperti itu. Padahal wanita itu bisa apa? Pikirnya dalam hati, yang merasa jauh lebih baik darinya.
"Coba saja kamu ke kamarnya. Ketuk pintunya, kali saja Dia mau keluar."
Nia menggeleng, ia masih ingat marahnya Akhri saat itu. Benar-benar membuatnya ciut sekarang ini.
"Kenapa nggak mau?"
"aku takut Ummi."
"Takut kenapa? Ngapain takut, itu kan suami kamu. Sana temui Dia, tenangkan Dia."
__ADS_1
"Iya deh." Nia beranjak pelan, sembari menyerahkan Hussein pada ibu mertuanya. Karena Ummi Salma sudah menjulurkan kedua tangannya pada anak itu. Perlahan Nia melangkah masuk, menuju tangga. Berpikir sejenak, sebelum naik. Setelah itu melanjutkan langkahnya.
Sampai di pintu kamar Akhri, Nia lantas mengetuk pelan.
"Assalamualaikum, Bang? Ini Nia. Abang tolong buka pintunya, ya. Nia mau minta maaf," tuturnya.
Akhri yang tengah merebahkan tubuhnya dalam posisi miring, lantas membuka matanya. Ia masih sangat geram dengan istrinya itu.
"Bang, maafkan Nia. Nia sadar kok, Nia yang sudah kelewat. Maafkan Nia, Bang."
Akhri menghela nafas, merubah posisinya sedikit menjadi terlentang. Lalu menutupi matanya dengan lengan.
"Bang Akhri, Nia mohon. Jangan marah terus seperti ini, jangan pula mendiami Nia. Nia memang bukan istri Solehah, tapi Nia janji akan berubah. Nia akan nurut sama Abang. Nia nggak bakal rewel lagi seperti biasa. Asal Abang jangan marah terus sama Nia."
Akhri, tak menjawab. Selain bulir air yang mengalir pelan membasahi sisi samping di kedua matanya.
Dadanya masih sesak memikirkan Maryam, Dia masih belum ingin bertemu Nia untuk saat-saat ini.
"Bang?" Terdengar isak tangis di luar. Suara Nia mulai lirih dan serak. "Maaf, Bang. Maafkan Kania..."
Hingga tak berselang beberapa lama, suara Nia tak terdengar. Hanya langkah kakinya yang samar-samar semakin menjauh.
Nia memutuskan untuk pergi lebih dulu, namun ia tidak menyerah. Bahkan berniat untuk menginap di rumah ibu mertuanya sampai Akhri benar-benar mau berbicara lagi dengannya.
***
Hari berganti, Akhri pergi lebih awal tanpa sepengetahuan orang rumah. Saat Nia sedang menyiapkan makanan untuk Hussein, di rumah Ummi Salma.
Dengan mengendarai sepeda motornya. Beliau membawa laju motornya itu hingga sampai ke salah satu rumah yang terdapat papan bertuliskan di jual.
Ya... rumah yang dulu di huni beliau dan Maryam memang akhirnya di jual. Karena untuk apa mempertahankan itu, yang justru akan mengingatkannya dengan Maryam.
Motor Akhri semakin menepi, lalu mematikan mesinnya. Beliau berdiri cukup lama, di depan pagar sebelum akhirnya merogoh saku celana trainingnya mengambil kunci. Membuka gembok lalu masuk.
__ADS_1
Langkahnya lemah, berhenti di setiap sudut ruangan yang sudah tak ada apa-apanya. Semua kosong, karena perabotan pula sudah di bereskan. Tiga hari setelah Maryam keluar dari rumah itu.
Tatapan matanya yang pasi itu menyoroti. Seolah banyak kenangan manisnya. Beliau pun menaiki anak tangga, berjalan sampai ke depan kamar yang terbuka.
Tubuhnya limbung, Akhri bertopang satu tangannya di kerangka pintu kamarnya dulu dengan Maryam. Lalu mencondongkan tubuh itu hingga matanya menempel dengan lengan yang sedikit tertekuk.
Merr... kenapa sangat berat untuk Abang. Apa kamu di sana sudah tidak merasakan lara lagi. Sementara Abang sesakit ini disini?
Tubuhnya berguncang hebat. Isaknya kembali pecah. Semua pertahanannya kandas. Disinilah muara akhir dari perjalanan beliau bersama Maryam?
Kesan yang buruk telah ia tancapkan di dada Maryam cukup dalam. Membuatnya seolah menjadi pria paling jahat, yang hanya bisa menyiksa batinnya.
Bagaimana cara Abang menebus kesalahan ku, Dik? Bagaimana caranya?
Akhri masih sesenggukan, air matanya bercucuran. Dia tidak menyangka akan se-merana ini ketika benar-benar sudah berpisah.
Ya Allah, ampuni aku yang belum ikhlas melepaskannya.
Nafas Akhri tersengal, sesak. Sementara satu tangannya yang lain mengeluh dadanya berusaha menarik nafas dalam-dalam. Menenangkan dirinya sendiri.
Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin.... Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin... Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin.*
*[Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya,]
Akhri terus berdzikir meminta ampun pada Allah.
Memang berat rasanya melepaskan wanita yang amat ia cintai. Bahkan lebih dari apapun sebelum ini.
Tak peduli apapun kekurangannya...
Cintanya tetap membara untuk Maryam, tak sama persis pada Nia. Walaupun istri keduanya itu sudah memberikan anak. Tidak akan mampu meluruhkan perasaan cintanya pada Maryam.
Akhri menyesali, sangat menyesali semuanya. Andai saja Dia tidak menuruti Maryam, ia tidak akan pernah merasakan se-hancur ini. Sekarang sesal untuk apa?
__ADS_1
Semuanya sudah sia-sia. Dirinya dan Maryam sudah menjadi laki-laki dan perempuan tanpa ikatan. Sudah menjadi asing, jangankan untuk memeluknya melepas rindu. Pun untuk menatap saja sudah haram.
"Aaaaaarhhh, ya Rabb..." Akhri terduduk lemas dalam posisi jongkok. Merasa semuanya terlalu gelap. Merasa tidak ada lagi pendar cahaya dalam hidupnya. Tangannya mengepal kuat, menyeka air matanya dengan kasar. Sementara bibirnya masih bergumam dengan Dzikirnya.