
Baru saja tiba di rumah. Bilal tak langsung membahas lagi pembicaraan mereka tadi di mobil. Ia memberikan jeda untuk Ummi berpikir.
Walau, belum tahu janda mana yang di maksud. Namun sepertinya Ummi tengah berpikir keras. Ya... sebagai pria yang masih bujangan menikah dengan janda mungkin akan sulit di terima oleh sang ibu. Mungkin, memilih gadis itu lebih baik karena sama-sama masih belajar. Tapi menurut Bilal, justru tidak pengaruh. Mau janda ataupun gadis perawan, intinya satu; Dia solehah dan mau untuk di didik.
Malam harinya, Ummi memanggil Bilal ke kamar. Ummi yang tak mengenakan hijab tengah duduk menyandar di ranjang. Wanita berkulit putih, dengan mata yang sayu itu memandangi lekat.
"Kamu yakin mau menikah dengan wanita yang statusnya sudah janda?" tanya Isti pelan-pelan. Sementara Bilal hanya mengangguk. "Alasannya apa? Jangan hanya kasian, pernikahan itu tidak di langsungkan karena kasihan. Kamu tidak tahu nantinya, setelah menikah pandanganmu akan berbeda."
"Bilal sudah memikirkan ini lebih dari satu tahun Ummi," jawab Bilal dengan lugas, memegangi erat salah satu dari tangan ibunya. "Dan saat ini, aku sudah yakin. Bukan hanya sekedar kasihan, tapi Bilal juga sadar akan jiwa ini yang terus terusik. Akibat merasakan kekaguman yang lebih terhadapnya."
Kening Isti berkerut. "Apa Dia, wanita Chinese itu? Si penulis?"
Bilal terdiam menatap kedua mata ibunya. Sebab Ummi bisa menebaknya, padahal ia tidak pernah menunjukkan langsung di hadapan siapapun.
"benar?" tanya Ummi lagi. yang lantas membuat Bilal akhirnya mengangguk pelan.
"MashaAllah..." bibir Isti tersenyum lantas memeluk tubuh sang anak. "Anak Ummi sudah dewasa."
"Ummi setuju?" tanya Bilal sedikit terkejut.
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Walaupun Dia punya riwayat, yang?"
"Nggak masalah, yang penting hatinya baik," potong Isti.
Bilal yang masih di peluk oleh ibunya tersenyum tipis. Dengan bibir bergumam lirih mengucap hamdalah. Namun seketika ia terdiam, karena ia sendiri belum tahu apakah wanita itu mau dengannya atau tidak.
"Mi, kira-kira Dia mau nggak, ya sama Bilal?"
Isti melepaskan pelukannya. "Kamu pesimis?"
"Sedikit, soalnya Dia sudah menjanda lama, 'kan? Dan Dia belum menikah. Apa mungkin aku yang seperti ini bisa di terima…?"
"Ikhtiar dulu aja, hasil biar Allah yang menentukan. Bukankah segalanya itu sudah tercatat rapih di Lauhulmahfuz? Jika itu memang milikmu, Allah pasti gerakan hatinya untuk mu juga."
Bilal melebarkan senyumnya, lalu mengangkat tangan sang ibu hingga menempel ke bibirnya.
__ADS_1
"Minta doa restunya, Ummi. Kalau jodoh, Dia akan ku bawa ke sini. Tinggal bersama kita."
Isti menepuk-nepuk pundaknya. "Iya... tapi jangan memaksa, kalau Dia lebih betah di rumahnya, bagaimana?"
Bilal mengangguk. "Intinya doakan dulu, Bilal bisa menjemput jodohnya Bilal."
"Aamiin, Ummi selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
***
Hari berganti hari, hingga satu pekan pun terlewatkan.
Maryam duduk berhadapan dengan Ummi Suci, berbicara banyak hal. Setelah itu sang pemilik yayasan berdeham sembari meletakkan gelasnya.
"Merr, kamu itu sudah lama sendiri kenapa nggak menikah-nikah, atau jangan-jangan sudah ada calon?"
Maryam tersenyum tipis. "Aku belum ada calon. Tapi belum ingin juga untuk menikah."
"Kenapa?"
"Ummi pasti paham alasannya. Saya itu tidak mungkin layak untuk di jadikan istri oleh siapapun. Bukankah tujuan seorang laki-laki menikahi wanitanya yaitu demi mendapatkan keturunan?"
"Banyak yang berkata seperti itu, Mi. Mau menerima apapun kondisiku. Tapi, itu pasti hanya di awal. Bagi Merr, cinta itu seperti pakaian, kapan saja bisa memudar. Dan sepudar apapun cinta, jika ada anak pasti masih ada kekuatan untuk mempertahankan rumah tangga. Namun jika tidak? Justru aku yang kembali terjebak dalam pernikahan yang tak sehat. Maryam takut, walaupun hati ini masih merasakan ingin terisi."
"Emmm, kamu mungkin benar. Dan itu biasanya bagi laki-laki yang awam. Berbeda jika laki-laki itu paham agama."
"Saya rasa bukan masalah paham agamanya, namun lebih ke-pribadi Dia. Karena sekuat apapun imannya, bisa saja Dia goyah." Maryam memandang kosong, mengingat sesuatu di masa lalunya.
Pria itu pernah berjanji membahagiakannya namun nyatanya? Dia malah terjerembab ke lumpur yang lebih dalam lagi. Ia juga masih ingat sulitnya keluar dari sana, namun sudahlah Dia sudah bahagia dengan status kesendiriannya.
Aku sudah tidak bisa lagi, percaya akan janji mahluk.
"Merr..." Bu Suci meraih tangannya. "Cobalah sedikit membuka hati, jangan jera hanya karena pernah gagal. Tak semua laki-laki gemar membuat cidera pasangannya. Bukalah sedikit jendela matamu. Karena diluar, tidak sedikit sepasang suami-istri yang tetap bahagia walaupun tak memiliki keturunan?"
Maryam hanya terdiam, menghargai ucapan wanita paruh baya di hadapannya.
"Begini, sejujurnya Ummi dapat amanah dari Bu Anisa. Dia ingin, meminang mu untuk anak sulungnya."
__ADS_1
Deg! Maryam semakin terpekur.
"Kamu bersedia nggak? Jika Habib Bilal, ingin menjadikan kamu sebagai istri beliau."
"Allah..." gumamnya. Maryam pun menggeleng, "Mi, beliau bujangan. Tidak mungkin mau dengan saya yang janda. Lebih-lebih beliau masih muda. Saya itu sudah masuk usia tiga puluh lima tahun."
"Tapi Habib Bilal tak keberatan. Bahkan beliau sendiri lah yang minta izin pada Ummi-nya untuk meminang kamu."
Maryam menggeleng sembari terkekeh. Karena itu tidak mungkin.
Pasti Beliau hanya ingin coba-coba saja. Aku bukan wanita percobaan hanya karena aku janda.
"Bagaimana?"
"Maaf, Mi. Maryam belum ada keinginan untuk menikah lagi," jawabnya langsung, dan segera mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
***
Maryam hanya duduk, menatap layar komputer yang menyala. Dengan lembaran kosong tanpa satu katapun yang tertulis.
Otaknya tiba-tiba saja buntu, mungkin karena ucapan Bu kepala panti. membuatnya menjeda pekerjaannya.
Aku hanya butuh minum teh hangat sejenak sembari mendengarkan musik sesuai tema yang akan ku tulis.
Maryam beranjak, namun seketika layarnya menyala. Karena ada satu DM yang masuk.
Mungkin dari salah satu sobat pembaca ku. Nanti saja lah...
Maryam kembali melanjutkan langkahnya, lalu berjalan keluar dari kamar.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Bilal yang tengah duduk di kursinya, setelah selesai acara menatap layar tersebut.
Memandangi kata Assalamualaikum... yang baru saja ia kirim ke akunnya Maryam.
Sepertinya kalau aku DM Dia malah justru akan tidak sopan. Apa sebaliknya aku ngomong ke pak ustadz Irsyad, ya? Biar beliau yang jadi perantara.
Kedua jarinya mengetuk-ketuk ujung atas ponselnya. Merasa bingung sendiri. Bilal menggeleng, kemudian sebelum akhirnya keluar dari aplikasi sosial medianya dan beralih ke menu kontak menghubungi Ustadz Irsyad.
__ADS_1
Lebih cepat, lebih baik... Begitu pikir Bilal kemudian sembari menanti panggilan teleponnya tersambung.