
Di tempat lain...
"Mohon maaf pak, saat kami menyuntikkan obat kemoterapi ke pembuluh darah Bu Kania. Tubuhnya merespon penolakan. Pasien sempat kejang sesaat, sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Untuk saat ini ibu Kania di nyatakan koma," kata seorang dokter pria pada Akhri yang seketika merasa lemas saat mengetahui kondisi istrinya.
"Ko– koma?"
"Iya pak, kita lihat dalam waktu 2 X 24 jam. Jika pasien mampu siuman maka ia telah melewati masa kritisnya. Namun jika tidak?" Dokter itu terdiam sejenak, "saya harap keluarga pasien mampu menerimanya jika akhirnya pasien berpulang."
Tidak berapa lama setelah dokter menyampaikan kesimpulannya. Ibunda Kania seketika jatuh pingsan. Sigap, Hamid pun memapahnya, membawa sang ibu untuk duduk di kursi panjang. Beliau sendiri merasakan dadanya remuk redam, saat mendengar kondisi sang adik.
Belum siap untuknya kehilangan Kania, namun jika itu sudah menjadi takdirnya. Bagaimanapun dirinya menolak, takdir akan tetap terjadi. Dan siapa yang bisa menolak kematian? Hamid beristighfar sembari menangis.
Akhri mengucapkan terima kasih, lantas sedikit menyeret langkahnya lemas ketika dokter kembali masuk ke ruangan isolasi.
"Antum yang sabar... kita doa sama-sama. Nia pasti bisa melewati masa kritisnya," Hamid berusaha menghibur. Bukan hanya untuk Akhri yang hanya merespon dengan anggukan kepala. Menunduk sembari menutup matanya. Namun berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri juga, serta sang ibu yang setengah sadar menangis sembari merancau memanggil nama Kania.
Akhri menghela nafas, berusaha menguatkan hati. ia pun memilih untuk sholat Sunnah sembari memanjatkan doa. Di susul Hamid dan ibunya.
Ummi Salma yang berada di rumah bersama anak-anak Akhri pun sudah di beri kabar. Sehingga acara doa bersama para santri selepas magrib pun di gelar di masjid Abdul Aziz. Demi mendoakan kondisi Kania yang sedang koma.
Perasaan sedih seolah menjalar di hati Husein. Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu hanya berdiam diri di kamar. Ia memeluk mushaf-nya, selepas menghafalkan beberapa ayat.
"Ummi–" Isaknya. Sebelum ini ia sudah mendengar para santri mengadakan doa bersama untuk Ummi-nya. Membuatnya takut untuk mendengar kabar selanjutnya, sementara hati kecilnya sudah menerka-nerka. Hal buruk akan terjadi.
__ADS_1
–––
Kembali ke rumah sakit...
Akhri duduk sembari melantunkan ayat suci Al-Quran di sisi sang istri. Tampak alat perekam serta pompa jantung yang terpasang. Sebelumnya, dokter menuturkan dua kemungkinan yang akan terjadi. Yaitu mengharapkan keajaiban Kania bisa membaik, atau sebaliknya tubuhnya menyerah, dan dokter pun akan melepaskan alat medis tersebut.
Sudah lewat tiga jam sejak Kania dinyatakan koma, tubuh yang semakin kurus itu masih belum memberikan tanda-tanda dirinya akan siuman. Sesekali Akhri menjeda bacaannya hanya untuk mencium tangan Kania sembari menangis.
Sebab, sekelebat memori dirinya bersama Nia yang tiba-tiba terlintas. Selama menjalani rumah tangga, seperti tidak ada perbuatan menyenangkan yang ia berikan pada wanita yang sudah mengorbankan tubuhnya untuk mengandung serta menyusui anaknya.
"Nia, Abang minta maaf, ya... Abang belum bisa membahagiakan Kamu." Akhri mengusap wajah yang tenang itu. Tak sanggup, ia kembali menangis. "Abang minta maaf, Nia. Abang minta maaf..."
Bahu Akhri berguncang hebat, seolah berat untuk menerima kondisi sang istri. Padahal setelah Kemoterapi ke delapan ini, dirinya berjanji akan membawa sang istri ke tanah suci. Namun keadaan malah justru sebaliknya. Kondisi Kania semakin memburuk.
Akhri mencium pipi Nia lembut, lalu berbisik agar sang istri kuat dan kembali membuka matanya demi Beliau dan anak-anak.
–––
Hari berganti, Akhri masih terus membacakan ayat suci Al-Qur'an. Semalaman Beliau terjaga, membacakan ayat demi ayat untuk sang istri. Pagi ini selepas sholat subuh, beliau menyambung dzikirnya lantas melanjutkan membaca mushafnya.
Namun sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Tanda emergency terdengar, seiring garis yang nampak mulai mendatar dari alat monitor jantung.
"Ya Allah..." Akhri panik, dua orang perawat segera masuk. Memeriksa kondisi pasien. Bersamaan pula dengan seorang dokter. Mereka bekerjasama untuk melakukan tindakan yang di perlukan.
__ADS_1
Sang dokter pun mendekati Akhri yang berdiri dengan penuh rasa khawatir sekaligus berharap istrinya akan baik-baik saja.
"Pak, kami sudah berusaha. Namun kondisi pasien semakin menurun. Sebaiknya bapak dekati istri bapak. Temani dia dalam perjalanan pulangnya."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." Akhri mematung sejenak memandang tubuh sang istri yang nampak tersengal sesak. Dadanya naik turun tak beraturan. Seiring dengan langkah pelan kakinya, Akhri menitikkan air mata. Bibirnya beristighfar lantas menyeka air mata itu sebelum mendekati tubuh sang istri. Akhri menghela nafas, tangannya gemetar menyentuh kepala yang sudah pelontos tanpa rambut sehelai pun. Tertutup kain hijab yang di pasang asal yang penting menutupi kepala dan lehernya.
"Ni–Nia... kamu dengar Abang? Abang sayang sama kamu. Abang cinta sama kamu, sama halnya dengan anak-anak. Tapi, kamu itu milik Allah SWT. Abang ikhlas kamu pulang lebih dulu. Maafkan Abang, ya... maafkan Abang sayang." Akhri berusaha menahan tangisnya mengecup kening dan pipi istrinya. "Nia ikutin Abang, ya..."
Akhri berusaha mentalqin, walaupun mata sang istri masih terpejam. Tepat di bacaan yang ketiga, Nia menghembuskan nafas terakhirnya seiring tanda mendatar pada monitor perekam jantungnya.
Seorang perawat yang masih di sisi Kania menyentuh nadinya di bagian lengan serta leher.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya sementara perawat yang lain mengecek jam tangannya.
"Pukul enam lewat sepuluh menit..." jawabnya.
"Pukul enam lewat sepuluh menit, pasien Kania di nyatakan meninggal dunia."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." Akhri bergumam seolah tak percaya dengan apa yang di dengar, tubuhnya oleng berusaha beranjak menjauh sedikit dari ranjang tersebut. Setelah menyandarkan keningnya ke tembok beralaskan lengan tangannya. Akhri menangis tanpa suara melepaskan kepergian sang istri.
"Kami turut berdukacita, pak." tutur dokter tersebut. Akhri sendiri menoleh menjabat tangan sang dokter lalu mengucapkan terima kasih.
Di luar tangis ibu kandung Kania pecah, sebelum akhirnya benar-benar tak sadarkan diri dalam pelukan anak sulungnya. Sementara itu di rumah, Ummi Salma melemas. Ia memeluk anak bungsu Akhri dalam gendongannya. Air matanya mengalir membasahi pipi, matanya menatap ke arah anak perempuan Akhri yang sedang bermain di dekatnya. Sementara si sulung yang mengintip di balik pintu kamar neneknya turut menangis menduga sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada Ummi-nya di rumah sakit.
__ADS_1