
Langit masih bersinar cerah. Semilir angin nampak sejuk menghempas apapun yang ada di sekitarnya. Mempermainkan rambut cepak Bilal, juga kerudung besar se-bawah lutut milik Ummi Isti.
Tangan Bilal masih memegangi erat ibunya. Meniti jalan setapak yang di penuhi dengan rumput juga banyaknya pohon Kamboja. Di sisi kanan-kirinya terdapat beberapa blok makam yang rapi dan tertata.
Sampailah mereka ke salah satunya. Nisan yang berbentuk seperti buku yang terbuka. Bertuliskan nama Habib Utsman.
Bilal membersihkan sedikit makam Abinya. Rumput-rumput liar yang sudah panjang beliau cabut satu persatu. Lalu setelah itu duduk dan mulai menengadahkan kedua tangannya, memimpin doa.
***
Flashback off...
Seorang anak laki-laki terdiam dengan pikiran bingung. Pasalnya, semua orang menangis. Beberapa di antaranya juga memeluk Ummi Isti yang sedang mengandung anak ketiga sembari mengusap bahunya.
Pandangannya bergeser, ke arah pria yang sudah pucat dan kaku namun tetap tak memudarkan aura tampannya dengan jenggot yang tak terlalu tebal di dagunya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, membuat Abi nampak lebih tampan terlihat.
saat itu yang ada di pikiran bocah berusia masih kurang dari empat tahun adalah; kenapa Abi tidur di sana. Lalu kain putih itu untuk apa?
Bilal kecil mengamati penuh kebingungan. Saat tubuh Abinya mulai di bungkus rapat menggunakan kain putih oleh beberapa pria dewasa.
Abi kok di bungkus? Apa Abi kedinginan?
Bertanya-tanya dalam pikirannya yang polos. Karena biasanya Ummi akan menyelimuti tubuh Abi saat sakit.
Ya ... beliau mengira Abinya masih sakit, sebab hampir satu bulan ini beliau di rawat karena penyakit livernya.
Bilal masih mengamati orang-orang. Pandangannya menyapu kesana kemari. Mencari sosok sang adik yang tak nampak sedari semalam. Sebab Farah saat ini sedang di titipkan di rumah Uwa Huda.
Pertanyaan itu muncul lagi saat tubuh kaku Pria yang senantiasa mengajarkan kebaikan. Kini sudah di masukan kedalam liang lahat.
Masih tergambar jelas di ingatan. Abi selalu membawanya ke masjid, di hampir setiap kali menjalani sholat fardhu. Mungkin beliau paham, karena masih ada bayi kecil yang harus di rawat Ummi membuat Abi sering membawanya keluar.
Ya, hitung-hitung membantu Ummi menjauhkan Bilal dari adiknya. Karena sudah pasti Bilal kecil itu masih sering jail ke adiknya dulu.
Tangan kecil Bilal menarik gamis ibunya, membuat Isti yang sedang memandang kosong itu menoleh pelan. Tangannya mengusap lembut perut yang sedikit membesar karena usia kandungannya pada saat itu sudah memasuki lima bulan.
"Abi, Mi– Abi kok di masukin ke dalam."
Isti menitikkan air mata, tidak bisa menjawab. Selain hanya memeluk tubuhnya sembari mencium kepala yang tertutup peci putih.
Hari-hari berganti, Bilal masih dengan polosnya menanyakan Abi Utsman. Mengatakan kapan Abinya akan pulang? Kapan Abinya keluar dari tempat tidurnya yang baru?
Membuat Isti mengalihkan itu dengan hal-hal yang lain. Bilal tentunya akan mudah teralihkan namun tetap saja, Dia akan kembali bertanya hal yang sama secara berulang.
__ADS_1
Hingga satu bulan setelahnya...
Bilal terjaga, ia mencari Ummi yang tidak ada di kamar mereka. Bibir mungilnya menguap, tangannya mengusap lembut matanya yang masih belum jelas.
"Miiii–" seru anak itu. Sebelum akhirnya turun dari ranjangnya berjalan sedikit hingga ke pintu. Kakinya berjinjit meranggai handle pintu.
Cklaaak...
Pintu terbuka, bersama dengan anak itu yang juga keluar.
Ruang sholat tidak jauh dari kamarnya, Bilal mendengar suara sesenggukan seorang wanita di sana. Membuatnya langsung menghampiri.
Berdiri dengan tangan sedikit memeluk pinggiran pintu. Bilal melihat ibunya yang terbalut kain mukenah sedang menangis. Kedua tangannya menyilang di dada, tubuhnya sedikit berayun maju mundur. Menenangkan dirinya yang sedang dalam posisi terendah saat ini, bergumam istighfar tiada henti.
Mungkin saat itu Bilal belum paham, namun rintihan tangis ibunya mampu membuat Dia juga turut menitikkan air mata. Bilal kecil menyeka air matanya pelan, lalu berjalan masuk mendekati Ummi, menubruk tubuh ibunya dari belakang.
Ummi segera menoleh, karena kepala Bilal menyandar di bahunya.
"A'a sayang, kok bangun?" Ummi meredam tangisnya sembari mengusap kepala Bilal.
"Ummi, jangan nangis. Bilal nakal, ya ... Ummi?"
"Enggak, Bilal nggak nakal. Bilal kan anak Soleh." Isti menggandeng anaknya membawanya ke pangkuan.
Air matanya masih membanjiri, namun bibirnya tersenyum. Ummi mengangguk lemah.
"Kalau Ummi kangen, telfon Abi. Suruh Abi pulang. Bilang sama Abi, kalau Bilal pengen ke masjid lagi sama Abi."
Isti terkekeh sesak. "Abi tuh sudah betah di sana. Di Padang yang amat luas, katanya tempatnya bagus."
"Memang Abi sekarang nggak mau lagi tinggal sama kita, ya ... Ummi?"
"Enggak lah, kan tempat Abi di sana lebih bagus. Jadi setelah ini bukan Abi yang pulang kekita, tapi kita yang akan menyusul Abi."
Bilal tidak mengerti, namun ia malah terlihat antusias.
"ayo kita susul Abi, Ummi. besok, ya..."
Isti tersenyum, sembari mengusap air matanya.
"Nggak sekarang, tapi nanti. Suatu saat nanti."
"Suatu saat nanti itu kapan, Ummi?" Bilal bertanya lagi, sehingga membuat isti tak lagi menjawabnya selain memberikan kecupan gemas.
__ADS_1
Sebenarnya Bilal tidak paham, Abinya itu di mana? yang ia tahu, dulu kalau beliau pergi jauh pun, akan tetap pulang. Dan tak hanya membawa raga, namun oleh-oleh juga.
"Ummi, berarti nanti kalau kita nyusul Abi kita wajib bawa oleh-oleh kaya Abi kalau pulang selalu bawa jajan untuk Bilal."
"Jelas dong... tapi oleh-olehnya bukan makanan. Melainkan ini..." Isti memegangi kedua pergelangan tangan Bilal, menghadapkan telapak tangan kecil itu ke atas. Kepala Bilal menoleh kebelakang sejenak, lalu menatap fokus ketangannya sendiri. "A'a harus jadi anak yang Soleh, dan berdoa. Itu ... Abi suka sekali kalau di kasih doa sama Bilal."
Senyumnya merekah, bahkan sampai giginya kelihatan. "Abi suka Bilal berdoa?"
"Iya, berdoa untuk Abi. Abi senang..."
"Doanya gimana?"
"Begini... Robbi firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro."
"Bilal hafal, kan Abi sering ngajarin itu."
"Nah, pinter anak Ummi. Setiap habis sholat baca itu, ya."
Bilal mengangguk-angguk penuh semangat.
"Satu lagi... ingat pesan Abi, nggak? Jangan malas untuk menghafal Al-Qur'an. Walaupun sudah tidak ada Abi, Bilal tetap harus setor hafalannya ke Ummi, ya."
"Iya Ummi."
Isti mencium pipi anaknya dengan gemas. Hatinya mungkin saat itu bergemuruh sesak. Namun suara hatinya tetap bergumam satu janji pada mendiang suaminya, untuk meneruskan perjuangan beliau. yang mengutamakan pendidikan agama anak-anaknya. Sebagaimana yang beliau harapkan sebelum kondisinya semakin buruk dan koma.
"Sekarang tidur lagi, yuk."
"Tapi Bilal mau di bikinin susu, ya ... Ummi."
"Iya, Ummi bikinin." Isti melepaskan mukenanya, melipat, setelah itu menggandeng anak sulungnya keluar, sembari mengusap perutnya yang berdenyut karena gerakan bayi dalam kandungannya.
Flashback off.
***
Bilal mengusap wajahnya, lalu merentangkan satu tangannya di bahu sang ibu.
Mata Isti menyipit, beliau tersenyum. Belum lagi saat tangan anaknya mengusap sudut matanya yang basah.
"berlebihan, ya? masih aja Ummi suka nangis." ucap Isti seraya terkekeh, sementara tangan Bilal mengusap lembut bahu ibunya sembari tersenyum.
Aku ingin punya istri yang sifatnya seperti Ummi. Wanita Solehah, yang mencintai dan bahkan setia sama Abi. Walaupun, Abi sudah tidak hidup lagi di dunia.
__ADS_1
Bilal mencium kepala ibunya. Setelah itu beranjak sembari menggandeng tangan Ummi.