Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
wisata religi bersama Ummi Isti 2


__ADS_3

"Pak, mohon maaf. Jangan ganggu saya. Saya sudah bersuami."


"Siapa yang ganggu kamu, saya kan sedang bicara. Kamu-nya yang nggak sopan main pergi gitu aja–"


"Saya hanya risih dengan kata-kata pak Raffi." Merr menimpali, ia berusaha melepaskan hijabnya pelan dari tangan pria yang masih mencengkeram kuat ujung hijab tersebut. Sebab sepinya area tempat mereka berdiri menjadi kesempatan bagi pria yang tengah tersenyum genit pada Maryam.


"Risih bagaimana? Saya sudah berusaha berbicara dengan lemah lembut. Seharusnya kamu menghargai saya."


"Bapak sendiri yang justru wajib menghargai seorang wanita! Lebih-lebih dia yang sudah bersuami." Seru seorang wanita bercadar, yang seketika membuat Maryam menghela nafas lega.


Ummi?


ia bersyukur ketika Ummi Isti datang di waktu yang tepat.


"Ibu ini siapa? Saya sedang bicara dengannya..."


Isti tak menjawab ia hanya mendekati lalu menyentuh hijab Maryam dan melepaskannya.


"Bicara tidak dengan cara memegangi hijab menantu saya seperti ini. Terlebih ini masih kawasan masjid, seharusnya Anda malu melakukan hal seperti ini di rumah Allah."


Mendengar itu Pak Raffi terhenyak. Wanita bercadar itu menyebut Maryam adalah menantunya. Berarti Dia adalah ibunda dari Habib Bilal.


Setelahnya Beliau berdeham lalu melenggang pergi tanpa berucap salam, tentunya dengan ekspresi sedikit malu.


"Astagfirullah al'azim, benar-benar nggak punya etika. Semoga Allah SWT merahmati Beliau dan mengampuni kesalahannya." Isti geleng-geleng kepala, ia mengusap-usap kerudung Maryam.


"Ummi, terima kasih..." Sorot matanya nampak berseri, ia menggenggam tangan ibu mertuanya lalu mencium punggung tangan yang mulai nampak keriput itu. "Merr sempat khawatir, Ummi akan salah faham saat melihatku tadi. Terlebih kami hanya berdua. Tapi Demi Allah, Mi. Merr tidak bermaksud?"


Isti terkekeh. "Ummi lihat, kok. Dia yang menarik hijab mu. Tapi baguslah kamu menjelaskan, karena memang setan itu tinggal di aliran darah manusia. Jika Ummi hanya melihat sekilas tanpa penjelasan dan tak langsung mendekati kalian, pasti akan menjadi prasangka yang lain."


Merr tersenyum, sorot matanya berterima kasih.


"Lain kali, kamu harus lebih tegas lagi. Jika bertemu pria seperti itu."


"Aku sudah berusaha tegas, Mi. Cuman karena nggak enak sama Beliau, jadi ketegasan ku terbatas."


"Memang Beliau siapa? Kamu kenal?"


Merr mengangguk pelan. "Banyak buku-buku saya yang terbit di kantor Beliau. Termasuk buku pertama saya yang di filmkan. Laki-laki itu pula pernah berkali-kali mempersunting Merr, cuman Merr tidak mau. Sebab, Dia itu sudah beristri lebih dari satu. Dan ketidaktegasan ku membuat saya semakin penasaran, makanya kalau bertemu dengan Beliau dulu tidak berani sendirian. Aku pikir Beliau sudah lebih sopan kalau saya sudah bersuami, rupanya masih saja sama."


Ya, Pak Raffi memang terkesan genit dengan siapapun. Termasuk dengan Maryam, dirinya sudah tertarik dengan wanita itu sejak awal bertemu. Dan sangat ingin menjadikan Maryam istrinya...


Ummi Isti menggut-manggut, mengerti.

__ADS_1


"Intinya sekarang hati-hati, ya. Karena kejahatan seperti itu bisa terjadi dimana saja. Tanpa memandang tempat, entah itu tempat kotor atau bahkan masjid sekalipun."


"Iya, Ummi."


"Kita pulang sekarang?" Tanya Isti, melihat wanita itu masih sedikit takut. Ia pun berinisiatif mengajak menantunya pulang. Dan tak berpikir lama, Maryam segera mengangguk.


***


Sorenya selepas ashar. Bilal menelfon, ia menanyakan kabar sang kekasih juga orang rumah.


"Hafiz tidak pulang Minggu ini A'... karena ada kegiatan katanya."


"Jadi kalian pergi hanya berdua?"


"Iya..." jawab Maryam.


"Tapi tidak ada masalah, kan?"


Sebenarnya ada sedikit, tapi aku tidak mau A'a khawatir. (Maryam)


"Nggak ada, Sayyid," jawabnya lembut.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku titipkan kamu sama Ummi pada sebaik-baiknya Dzat yang maha Pemelihara. Kalau ada apa-apa katakan saja, ya."


"Iya, aku pindah lokasi agak lebih jauh. Nanti malam aku sibuk bisa sampai jam satu, makanya aku sempatkan nelfon kamu. Soalnya sampai di lokasi ada jamuan makan malam lebih dulu sebelum ke daerah tanah lapang tempat sholawat di adakan."


"Hemmmz... ada sesi tanda tangan dong?" Maryam yang sedang duduk bersila di atas ranjang bertopang dagu.


"Ada," yang di sebrang tersenyum.


"Khusus Ikhwan, atau akhwat juga ada?"


"Iya, semuanya ada. Tapi banyak akhwat kayanya." ledek Bilal.


"Wah, sesi foto bersama juga?"


"Iya..."


"Asik dong, nanti pasti lupa sama yang di rumah."


"Bisa jadi–"


"Ya udah, ku tutup ya..."

__ADS_1


"Eeeh... kok di tutup, sih?" Bilal terkekeh.


"Lagian takut aku ganggu kamu persiapan untuk bertemu akhwat-akhwat cantik."


"Ya ampun, haha... kamu yang ngasih umpan tapi ke pancing sendiri." Bilal tertawa, sementara Maryam bersungut. "Pengen godain yang lagi ngambek, tapi malu sama yang di sebelah."


~ Santai Bib, anggap saja saya batu kali... ~


"Tuh, nyaut kan Dia." Bilal tertawa, sama halnya dengan Maryam. Suara tawa suaminya membuat Maryam senang, halus dan seperti berirama. Membuat rindunya semakin bertambah.


"Masih lama..." gumam Maryam.


"Apanya?"


"Kamu pulangnya."


"Emmm, masih sekitar lima hari. Soalnya jauh-jauh lokasinya."


"Iya aku paham."


"Sabar, ya... setelah ini aku libur lama. Sengaja kosongin jadwal dua Minggu. Demi kamu..." jawab Bilal, Merr sendiri tersipu. "Duh, yang di sebelah senyum-senyum, nih. Bikin gimana gitu?"


~kan sudah di bilang anggap saya batu kali, Bib. Santai aja~ suara kang Beben di sebrang membuat Maryam tertawa.


"Nganggap batu kali gimana? Orang punya kuping–" balasnya sementara Kang Beben hanya tertawa lepas. "Ya udah, Merr. Nanti malam selepas isya kalau nggak sibuk banget aku telfon lagi."


"Iya, A'..."


"Jaga diri kamu, dan aku titip Ummi juga, ya."


"Iya, sayang..."


"MashaAllah... duh, gara-gara ada kuping jadi nggak bisa leluasa."


~hahahaha...~ kang Beben tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah, assalamualaikum..."


"Walaikumsalam warahmatullah, hati-hati ya A'..."


"Iya..." Bilal menutup sambungan teleponnya. Merr pun mencium layar ponsel miliknya sehabis telfonan.


"Kangen... kangen... kangen! Nggak puas kalau cuma telfon, yang ada tambah kangen," gumam Maryam. Ia pun merebahkan kepalanya, dan memilih membaca ulang pesan chatnya dengan sang suami. Sesekali bibirnya kembali tersenyum saat membaca bagian yang menurutnya lucu namun romantis.

__ADS_1


__ADS_2