
Nia sudah semakin khawatir, pasalnya Akhri sama sekali belum menegurnya selama beberapa hari di rumah mertuanya. Walaupun tetap berusaha berinteraksi dengan Husein.
Kerisauan lantas mulai menghinggapi hati wanita itu. Statusnya terancam... Kania khawatir, setelah ini dirinyalah yang akan di cerai Akhri.
Benar saja, malam itu Akhri mendatangi Hamid. Seorang pria yang sedang menyantai di teras rumah bersama sang istri selepas isya, langsung melempar senyum kala melihat mobil Akhri berhenti di depan pagar.
"MashaAllah... ponakan dateng nih." Hamid berbinar, berpikir Akhri datang bernama Nia dan juga Hussein. Beliau pun berdiri, menyambut laki-laki yang sudah mulai masuk kedalam pagar rumah yang tak di tutup sebagai.
"Assalamualaikum!" Seru Akhri seraya tersenyum.
"Walaikumsalam warahmatullah, adik ipar Ane..." Memeluk tubuh Akhri. Setelah itu melepaskannya. "Nia sama Husein mana?"
"Nggak ikut, Bang."
"Loh, kok bisa? Sini dah, masuk dulu." Mempersilahkan Akhri masuk, seraya melangkah lebih dulu. "Ada apa, nih? Tumben dateng nggak sama Kania?" Tanya Hamid yang sudah duduk di sofa bersamaan dengan Akhri juga.
"Nggak papa, Bang. Cuma ada yang mau saya sampaikan."
Kening Hamid berkerut, perasaannya tidak enak. Seolah firasatnya mengatakan kedatangan Akhri ini bukanlah hanya sekedar berkunjung biasa.
"Bang, saya cuma mau menyampaikan sesuatu. Mungkin Abang tahu, saya baru saja bercerai dengan istri pertama saya," tuturnya membuat Hamid manggut-manggut. "Dan, saya mohon maaf. Mungkin ini terlalu dini ... tapi, saya rasa? Keputusan ini sudah bulat, bahwasanya saya mau mengembalikan Nia saja."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Bentar, dah. Ini? Ini maksudnya gimana? Ane nggak ngerti, Tadz. Nia bikin salah apa, sama Antum, sampai Antum mau mengembalikan Dia?"
Akhri terdiam sejenak, saat melihat bayangan istri Hamid yang hendak keluar membawakan minum dan camilan. Setelah semua di letakkan di atas meja, Akhri mengucapkan terimakasih pada istri kakak iparnya itu.
"Nah, di minum dulu dah. Hati Ane mendadak rontok nih dengarnya." Hamid kembali memecah keheningan dengan mempersilahkan Akhri untuk meminum teh hangatnya. Begitu pula beliau yang langsung meraih cangkir itu, mengucap bismillah lalu menyeruput sekali. "Jelasin, Tadz. Maksudnya gimana? Adik Ane bikin masalah apa?"
Ragu-ragu Akhri mulai bercerita semuanya. Walaupun masih ada sedikit tabir, demi menutupi sebagian besar kesalahan Nia. Seperti salah satunya penyebab utama pertikaian mereka sebelum ini, yaitu tentang pesan chat Nia bernada kasar yang di tujukan untuk Maryam.
"Saya sebagai laki-laki terkadang bingung. Mau bagaimana menyikapinya, siapa yang mau, bang? Hidup dalam situasi seperti ini. Harusnya Kania lebih paham posisi saya. Bukan nambah masalah."
"Astagfirullah al'azim. Gini, dah? Ane faham, sangat faham seperti apa watak adik Ane. Cuman jujur aja, saya nggak bisa menerima Tadz. Ini bukan berarti Ane bela Kania. Ane tetap menganggap Dia salah." Hati-hati Hamid berbicara, agar tidak di salah artikan oleh Akhri. "Masalahnya, Hussein masih kecil, Tadz. Ane kasian, masa iya Abi-Umminya cerai? Kalau Nia belum ada anak, Ane kaga apa-apa karena emang Nia yang salah."
"Bang, masalahnya. Berkali-kali Akhri mencoba untuk memaklumi."
"Iya Ane paham, Tadz. Tapi Ane mohon dengan sangat. Kasih lah kesempatan adik Ane. Sekali lagi ya? Mohon maaf nih, Jangan terburu-buru lah, Tadz. Ntar, Ane dah yang ngasih tau Dia."
Akhri terdiam sejenak, berpikir cukup lama. Sekilas terbesit wajah Hussein. Membuatnya berpikir, jika apa yang di katakan Hamid ada benarnya. Sebaiknya Dia bisa lebih sabar lagi.
***
Hari berikutnya, Nia mendatangi rumah kakaknya. Setelah di panggil untuk kerumah.
"Sekarang Gua mau liat hafalan Lu, Nia." Pintanya. Niat pun tergugu. Sedikit ragu, pasalnya? Sudah banyak hafalannya yang hilang.
__ADS_1
"Tumben, Bang?"
"Kan Gua jarang muroja'ah, Lu. Sekarang coba, lu baca surat Al waqiah. Sepuluh ayat terakhir."
"Emmm?"
"Kenapa? Pan Lu hafal, 'kan?"
"Iya tapi?"
"Ya udah, dua puluh ayat awalnya," suruh beliau sembari membenahi peci. Kania mulai membaca. Ayat satu sampai lima lancar. Ayat berikutnya mulai lupa. Membuatnya lantas terdiam cukup lama.
"Lanjut, Napa diem?"
"Nggak, Bang. Agak lupa..."
Hamid menghela nafas, beliau memancing dengan membacakan sedikit. Setelah itu di sambung Nia. Namun kembali baru beberapa Dia sudah lupa lagi.
"Lanjut!"
"Bang, lupa."
"Lu, gimana ceritanya bisa lupa? Pan Lu hafal, Nia! Itu surat gampang loh, nggak terlalu panjang juga. Apalagi gua cuma minta dua puluh ayat, per-ayatnya juga pendek-pendek banget." Bang Hamid memang terkesan kakak yang tegas. Apalagi soal agama dan hafalan. Sehingga membuat Nia merasa takut.
"Iya, mungkin Akhir-akhir ini banyak pikiran. Jadi Nia lupa."
"Iya Bang." Kembali Nia membaca, dan kembali tersendat.
"Astagfirullah al'azim," gumamannya. "Udah Al Mulk, coba kalau gitu."
Baru se-ayat. Nia kembali terdiam. Bang Hamid lantas menatapnya tajam.
"Hafalan Lu hilang, ya?" Tebak Hamid, membuat Nia tercekat. "Jawab coba?"
Wanita itu menunduk, lalu mengangguk.
"Lu tau, kagak? Penyebab utama hilangnya hafalan, Lu.... Dosa!" Hunusnya. "Sekarang, Gua tanya? Lu berbuat dosa apa sampai hafalannya bisa ilang semua?"
Nia masih menunduk, matanya mulai mengembun.
"Jawab, jangan diam aja!"
"Nia nggak ngerasa punya salah apa-apa, Bang?"
Hamid menghela nafas. "Lu jangan bohongin Abang deh. Ketauan udah, dari ini semua. Punya salah apa Lu sama laki, Lu?"
__ADS_1
"Sa– salah, apa? Nia nggak buat salah apa-apa?" Nia mulai menangis.
"Jangan ngeles terus, Abang nggak suka sama sikap Lu yang belum bisa berubah, Nia! Lu nggak kasian sama almarhum Abi? Bisa kena laknat, Nia! Astagfirullah al'azim..."
"Tapi Nia nggak salah. Bang Akhri yang nggak adil sama, Nia."
"Nggak adil dimananya, Gua tanya?"
"Semuanya. Suami Nia cuma sayang sama istri pertamanya. Nggak sama Nia."
"Tau dari mana, Lu? Yang ada Lu yang udah zholim." Tuding Hamid. "Kemarin Akhri kesini, mau ngembaliin Lu."
Deg! Kania tersentak.
"Beliau udah ngomong semuanya, sekaligus kasih unjuk foto chatting Lu sama bini tuanya. Nggak nyangka Gua, Nia. Lu bisa ngomong sejahat itu. Malu Gua sama Ustadz Akhri, adik Gua begini banget tabiatnya..."
"Nia terpaksa, Bang. Nia cemburu kalau Bang Akhri terus ngasih perhatian ke Cece."
"Wajar Nia, Dia kan juga bininya laki, Lu! Lu juga udah tahu sebelum adanya Elu dalam kehidupan Ustadz Akhri. Udah ada Dia duluan. Seharusnya Lu paham! Jangan semaunya sendiri..."
"Tapi Nia cape, Bang. Nia kaya cuma cinta sendirian. Abang di rumah Nia, tapi Abang sibuk chatting sama Cece."
"Itu karena Waktunya Dia buat sama Cece, Lu ambil. Sekarang Lu mau ngelak kayamana juga, Gua udah tahu Nia. Pantes Ustadz Akhri sampai cerai sama Bini pertamanya. Rupanya-rupanya ada campur tangan Lu juga, disini?"
Nia sudah tidak bisa mengelak lagi, selain menangis sesenggukan ketika dimarahi Abang kandungannya.
"Lu tahu, nggak? Kalau Lu durhaka sama laki, Lu? Yang nanggung bukan cuma Lu! Tapi Almarhum Abi, sama Gua. Ntar nih..." Hamid sampai menggebrak-gebrak meja. "yang di hisab, terus di mintai pertanggung jawaban itu Abi sama Gua Nia! Lu mau Abi sama Abang Lu kena laknat?! Astagfirullah al'azim Nia... Nia..."
Kania masih menangis tersedu-sedu. Namun entahlah, apakah ia meresapi nasehat keras kakaknya itu. Atau hanya menangis saja.
"Lu itu kudu inget Nia. Rasulullah Saw aja udah negasin, kenapa perempuan paling banyak menghuni neraka! Ada dua penyebabnya?"
Nia terus saja menunduk, tanpa menjawab apapun.
"satu itu... lisan!" Hamid menunjuk bibir Nia. "yang kedua? Kufur terhadap suaminya! paham kaga?"
Nia mengangguk-angguk.
"Gua udah bilang sebelumnya, tanggung jawab laki-laki itu berat, Nia. Itu kenapa Arsy-nya Allah sampai bergetar ketika ijab qobul di lantangkan. Dan wajibnya seorang istri itu taat sama suaminya. Jangan kufur!! Bahkan Rasulullah Saw aja pernah ngasih tahu, ibaratnya… andai saja kaki seorang suami sampai berdarah dan bernanah? Sementara sang istri menjilati sampai bersih, itu belum cukup untuk membayar besarnya tanggung jawab suami di hadapan Allah SWT. Denger kaga, Lu?!"
"I–iya, Bang."
"Udah lah, balik sana kerumah laki Lu. Minta ampun! Bersimpuh kalau bisa. Jangan main-main Lu sama suami!"
Kania mengangguk sekali, meredakan tangisnya sejenak sebelum pulang.
__ADS_1
Bersambung...