Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
penyakit yang di derita Kania


__ADS_3

Di rumah sakit, seorang dokter wanita memeriksa bagian dada yang mengalami peradangan. Lalu mengamati hal abnormal yang ada pada bagian tersebut.


"Maaf ya saya sentuh sedikit–"


"Aaaa!"


"Sakit?" Tanya dokter tersebut, padahal hanya menyentuh sedikit tanpa menekan. Nia pun mengangguk. "Baiklah, boleh di tutup lagi ya."


Sang dokter wanita paruh baya itu keluar dari tirai yang menutupi ranjang pemeriksaan. Setelah itu kembali duduk, Nia dan Akhri pun keluar setelah selesai memasang kembali kancing baju di bagian dada Nia.


Di sana sang dokter seperti tengah mencatat sesuatu. Lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Nia dan Akhri.


"Maaf, tadi saat saya melakukan anamnesis. Bapak menjawab sakitnya ibu Nia ini sudah lebih dari empat bulan? Pertanyaan saya, kenapa baru sekarang mengatur jadwal bertemu dengan saya. Sementara di catatan rekam medis, seharusnya bapak dan ibu datang pada tiga bulan yang lalu."


"Maaf Dok, semua karena istri saya takut untuk melakukan pemeriksaan," jawab Akhri.


"Seharusnya, bapak lebih tegas. Karena melihat dari gejala dan juga benjolan yang ada. Semuanya merujuk pada kanker payud*ra."


"Astagfirullah al'azim–" gumam Akhri. Nia yang mendengar itu langsung tercengang.


"Ka– Kanker?" tanya Nia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ini hanya dugaan, namun sepertinya memang seperti itu, Bu. Kalau di lihat dari bentuk yang sudah menyerupai lesung pipi di bagian put*ngnya, juga cairan Nan*hnya itu sudah bukan lagi stadium awal."


"Ya Allah..." Air matanya menitik. Bersamaan dengan usapan lembut di bahunya. Akhri mencoba untuk menenangkan sang istri.


"Setelah ini, metode apa yang harus istri saya jalani, Dok?"


"Ibu Nia arus melakukan pemeriksaan lanjutan lebih dulu. Berhubung kondisinya sudah seperti itu pemeriksaan yang dijalankan bisa berupa Biopsi."


"Biopsi itu seperti apa?" Tanya Akhri.


"Merupakan metode pemeriksaan dengan mengambil sampel jaringan pada payud*ra. Sampel jaringan yang diambil dari biopsi payud*ra digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan pada sel-sel payud*ra yang menyebabkan terbentuknya benjolan. Sel atau jaringan tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium untuk menentukan apakah terdapat tanda kanker payud*ra atau tidak. Dari pemeriksaan itulah kami bisa langsung menentukan apakah Bu Nia membutuhkan prosedur bedah atau jenis perawatan lainnya."


"Apakah bedah yang di maksud, dengan cara pengangkatan payud*ra saya?" Tanya Nia langsung.


"Jika memang terdapat sel kanker dan sudah menyebar, maka itu lah yang akan kami lakukan."


Nia pun menggeleng cepat. "Tapi saya tidak mau kehilangan payud*ra saya. Itu aset seorang wanita, Dok!"


"Nia– jangan seperti itu, dengarkan dulu dokternya bicara."


"Tapi Nia nggak mau, Bang!" Isak tangisnya pecah.


"Ibu, tenang dulu ya. Saya memahami perasaan ibu. Sekarang kita berdoa saja, semoga benjolan itu buka termasuk sel yang ganas."

__ADS_1


"Semoga saja, Dok. Tolong lakukan saja apapun. Yang penting istri saya bisa sembuh."


"Bang–" Nia menggeleng. Akhri pun merengkuh tubuh istrinya.


"Jangan takut, Abang akan tetap mencintai kamu. Seperti apapun kondisi kamu nanti."


"Hiks!!!" Nia memukul pelan dada suaminya sembari menangis tersedu-sedu. Ia sangat tidak mampu menerimanya jika sampai payudar*nya di hilangkan.


***


Setelah pemeriksaan di lakukan, dan berselang kurang lebihnya satu pekan. Hasil tesnya keluar.


Sang dokter pun sudah mengambil beberapa foto USG juga. Untuk melihat bentuk dari benjolan tersebut.


"Mohon maaf, saya harus menyampaikan ini." Sang dokter terdiam sejenak, lalu mengeluarkan surat hasil testnya. "Begini, Andai saja pemeriksaan di lakukan sedini mungkin. Pastilah harapan untuk sembuh semakin terbuka lebar."


"Jelaskan Dok... apa benar, saya?"


Dokter tersebut mengangguk pelan. "Sudah masuk stadium empat. Dan sel kanker tersebut merupakan yang ganas. Sangat cepat penyebarannya."


"Innalilah–" gumam Akhri, matanya mulai berkaca-kaca. Sementara Nia sendiri nampak lemas.


"Sekarang hanya ada dua pilihan. Mau melakukan Kemoterapi, atau operasi pengangkatan payud*ra. Tapi kami menyarankan untuk melakukan pengangkatan salah satunya, sebelum merambah ke sebelahnya lagi."


"Ngak!! Saya nggak mau, Dokter!" Tolak Nia seraya menangis.


"Nggak mau Bang! Abang nggak akan pernah paham merana-nya aku yang seorang wanita hidup hanya dengan satu payud*ra."


"Abang akan tetap menerima kamu. Jadi menurut saja, asal kamu sembuh." Salah satu sudut matanya menitikkan air mata. Bagaimanapun juga beliau tidak ingin istri mengidap penyakit mematikan tersebut. "Percaya sama Abang, ya? Demi biar kamu bisa sembuh."


"Nggak, aku bilang nggak ya enggak!"


"Kita harus ikhtiar sayang, kamu harus ikhlas..."


Nia menggeleng cepat, lalu menatap kearah dokter di hadapannya. "Lebih baik dokter suntik mati saja, saya–"


"Astagfirullah, Nia! Nggak boleh bilang seperti itu. Sama saja kamu bunuh diri!"


"Tolong Dok, saya nggak mau payud*ra saya di angkat." Isaknya sembari memegangi tangan dokter tersebut.


"Dik, istighfar. Jangan putus asa... ayo kita coba untuk ikhtiar. Demi anak-anak, demi Abang juga. Kamu harus sembuh."


"Ikhtiar yang ku mau bukan seperti itu Bang. Aku mau yang lain! alternatif mungkin? Kita lakukan ikhtiar itu saja, Bang. Nggak mau kemo apalagi operasi!"


Akhri menghela nafas, kembali menoleh kearah sang dokter. "Maafkan istri saya, Dok."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pak. Saya memahami. Namun, kondisi ibu Nia itu sudah semakin parah. Bu Nia harus menjalani antara dua itu. Bahkan keduanya."


Nia menggeleng, "enggak dokter! Saya tidak akan melakukan keduanya itu." Wanita tersebut langsung beranjak dan berjalan pelan mendekati pintu.


"Nia?" Akhri sedikit merasa bingung. Ia pun menelungkupkan kedua tangannya di depan dada berpamitan sejenak lalu menyusul sang istri.


––


Di luar, Akhri berlari kecil. Mengejar Nia lantas meraih tangannya. Namun segera di tepis kasar.


"Dik?"


"Aku sedang tidak ingin bicara, Bang."


"Kenapa? Abang itu paham perasaan kamu."


"Abang nggak akan pernah paham!"


"Abang paham, Nia. Abang tahu kamu sedih dan khawatir. Tapi Abang mau kamu sembuh."


Nia tak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya. Deraian air mata masih terus mengalir, membasahi pipi. Tangan Akhri pula sigap menghapusnya.


"Abang sayang sama kamu! Abang benar-benar mau kamu sembuh." Akhri masih mengusap pipi istrinya.


"Mungkin sekarang Abang bisa bicara seperti ini. Tapi nanti, saat rambut aku mulai habis karena Kemoterapi? Di tambah aku yang hanya hidup dengan satu payud*ra. Apa Abang masih bisa bicara demikian?"


Akhri mengangguk. "Abang akan tetap mencintai kamu. Tidak akan berubah."


"Abang tidak perlu bicara manis seperti ini hanya untuk membujukku!" Sergah Nia langsung.


"Apa yang Abang katakan itu sungguhan. Abang sudah salah sama kamu selama ini, dan inilah cara Abang menebus kesalahan Abang yang selalu menyakiti kamu. Abang akan setia, seperti apapun kondisi kamu nantinya." Akhri meraih tangan istrinya, air matanya turut menetes. "Ayo, kita ikhtiar. Abang akan mendampingi kamu, sampai kamu sembuh. Abang janji."


Nia tak menjawab lagi, ia hanya melepaskan tangannya sendiri lalu melenggang pergi. Meninggalkan Akhri yang tengah menatapnya sendu.


Abang sungguh-sungguh, Nia. Abang akan membuktikannya, kalau Abang sedang berusaha untuk mencintai kamu seutuhnya. (Akhri)


Akhri menyusul, lalu kembali meraih tangan Nia serta menautkannya erat.


Sudah cukup aku menyakiti, Merr. Tidak lagi aku melakukan hal yang sama. Kamu cinta ku satu-satunya sekarang. (Akhri)


Nia menoleh kesamping. Memandangi pria yang hanya menatap lurus kedepan sembari terus melangkahkan kakinya.


Ia sendiri kesulitan ketika ia ingin melepaskan genggaman tangan suaminya yang kuat.


Bagaimana aku bisa mendapatkan cinta mu, Bang. Kalau aku seperti ini? Hidup dengan kecacatan yang ku miliki sekarang. Aku tidak akan bisa memuaskan mu... (Nia)

__ADS_1


Air mata Kania kembali membasahi pipi. Ia belum ingin memutuskan sekarang. Karena yang sedang ia bangun adalah kekuatan hatinya untuk menerima kenyataan yang ia derita saat ini.


__ADS_2