
Waktu yang menjadi sedikit lebih sempit semenjak adanya Umar di rumah itu tak membuat mereka merasa terbebani. Contoh saja A'a yang jika sedang di rumah akan menghabiskan waktu Maghrib sampai isya di masjid. Namun kali ini, Beliau pulang dengan cepat.
Cklaaak...
Merr menoleh saat suara pintu yang di buka terdengar.
"Sini Sayang, gantian sama A'a. Kamu belum sholat 'kan?" Bilal mengusap kening Maryam. Menyematkan beberapa helai rambut yang keluar dari ikat rambutnya ke telinga.
"Sore tadi saat mandi, aku keluar darah haid, A'. Jadi sekarang aku lagi libur..." Maryam menjawab dengan senyum yang nampak lelah. Rambutnya yang biasa tersisir rapih kini terlihat sedikit berantakan. "A' popoknya–"
Bilal bergeser sedikit, mengambil satu popok sekali pakai. "Tinggal dikit, nih..."
"Iya A'... sehari ini entah berapa kali Umar buang air."
"Ya udah, setelah ini aku langsung ke minimarket." Maryam mengangguk, sementara tangannya bekerja mengganti popok bayi yang entah sudah berapa kali ia ganti. Bilal menatapnya sejenak, melihat wajah letih sang istri setelah dua malam ini kurang tidur. "Kamu lelah sekali, pasti?"
"Jujur iya, tapi aku senang A'..." Merr menggendong Umar lantas menempelkan pipi kemerahan itu di bibirnya. Aroma khas bayi membuatnya betah melakukan itu berkali-kali.
Bilal yang mendengar itu hanya tersenyum, ia senang melihat Maryam bisa merasakan peran seorang ibu yang utuh. Namun, sedih juga karena mengingat Farah yang tak kunjung siuman.
"Ya Allah..." desahnya yang mendadak merasakan lara di dada.
"Kenapa, A?"
"Aku jadi ingat Farah," jawabnya. Merr kembali meletakkan bayi mungil itu di atas kasur khusus lalu menutupnya dengan kelambu yang sudah tersedia. Menyatu dengan kasur bayinya.
"Merr yakin, Farah pasti akan segera sadar. Dia anaknya 'kan kuat," ucapnya sembari menyentuh tangan sang suami, menenangkan. Bilal manggut-manggut mengaminkan, lantas beranjak dari ranjang hanya untuk menyambar jaket di balik pintu. Setelah itu kembali mendekati Maryam, mencium keningnya yang sedikit berpeluh.
"Yang... aku keluar dulu, ya. Kamu mau titip di beliin apa, nggak?"
"Iya... aku mau puding buah, sama Snack soes kering rasa coklat."
"Itu aja?"
"Iya itu aja, aku pengen ngemil yang seger... pudingnya beli agak banyak ya, A'..."
"Iya, Sayang..." Bilal menjawab sembari memasang jaketnya.
"Oh iya... nanti habis ini, A'a kerumah sakit lagi, nggak?"
"inshaAllah– liat nanti. Soalnya Ummi suruh A'a nggak ke sana lagi, kasian kamu katanya."
"Aku sih nggak papa," jawab Merr. Wanita itu menengok ke arah kelambu melihat gerakan kecil Umar. Bibir tipisnya lantas tersenyum. "Lucu banget, kalau lagi kaget begitu."
Bilal mencondongkan tubuhnya, membentuk posisi ruku'. Mengintip Umar.
"MashaAllah, matanya kalau di lihat-lihat kaya Aiman," tuturnya lirih, sembari terkekeh kemudian.
"Kan, Anaknya."
__ADS_1
"Iya sih... ya udah A'a jalan dulu, ya. Keburu isya."
"Iya."
***
Hari-hari terus berlalu. Kabar bahagia di dapatkan. Tubuh Farah seolah memberi respon positif, wanita itu pula lantas membuka matanya. Nampak binar bahagia di pancarkan oleh Aiman, ia mengucap syukur tiada henti. Mengecup kening sang istri berkali-kali.
Bibir yang tertutup masker oksigen bergerak-gerak, seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun Aiman berbisik padanya, untuk tidak mengatakan apapun sekarang. Ia ingin Farah benar-benar pulih dulu.
Setelah kekhawatirannya selama beberapa hari ini, kini dia sudah mulai bisa sedikit bernafas lega. Sang istri masih di sisinya.
Merr dan Bilal yang mendengar kabar itu pun sangat bahagia juga bersyukur. Doa serta harapan mereka terjawab. Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Ya, harapan selanjutnya adalah? wanita itu bisa pulih seperti sediakala lalu berkumpul dengan mereka lagi.
–––
Sudah lebih dari tiga Minggu di rumah sakit, Farah kini di pindahkan ke bangsal rawat. Semangatnya untuk sembuh dan bisa berjumpa dengan anaknya membawa efek positif bagi kondisinya. Di luar perkiraan dokter yang menangani, ia jadi pulih lebih cepat.
sore ini Farah melakukan panggilan video dengan Maryam. Bibir pucatnya tersenyum memandangi bibir mungil sang anak tengah menghisap susu dari dotnya.
"Miminya lama kalau jam-jam segini, apalagi tadi baru di pijat dan mandi. Kayanya bobonya nanti bakal lama. Nah... biasanya saat masuk waktu tengah malam tuh sering kebangun, kadang malah sampai subuh, dia nggak tidur lagi," tutur Maryam sembari tertawa gemas.
"MashaAllah–" gumam Farah lemah. Fokusnya teralihkan dengan suara serak Maryam. "Teteh suaranya serak, pasti Teteh kecapean, ya?"
"Nggak juga, hanya kurang tidur. Jadi agak batuk. Tapi aku pakai masker kok, Far."
"Aiiihhh... siapa yang kamu bilang ngerepotin? Sama sekali enggak, Far. Anaknya anteng kok. Nggak rewel."
Farah menitikkan air mata, ia benar-benar merasa bersyukur. Saat kondisinya seperti ini masih ada kakak ipar yang dengan tulus merawat anaknya.
"Aku nggak bisa membayangkan, kalau aku nggak selamat? Anakku akan menjadi anak piatu."
"Farah, jangan ngomong gitu."
"Hanya mengandai-andai kok, Teh."
"Jangan mengandai-andai hal seperti itu, nggak baik!"
"Iya, Teh..."
"Sekarang itu saatnya bersyukur. Kamu masih di beri kesempatan untuk melihat Umar."
Farah mengusap air matanya lalu mengangguk. "Sekali lagi terima kasih ya, Teh..."
Maryam tersenyum. "Sama-sama. Emmm... aku tutup dulu, ya. Sebaiknya kamu istirahat."
"Iya, Teh. Teteh juga, kalau Umar tidur? Teteh harus tidur juga."
"Iya." Merr menjawab dengan lembut. Ia pun mengucap salam sebelum memutuskan sambungan teleponnya, setelah itu menoleh ke arah Bilal yang sedang tidur dengan posisi tengkurap di sebelah Umar. Pria itu ketiduran, karena lelah sepertinya.
__ADS_1
Tak lama ia mendengar suara adzan ashar, Merr pun langsung membangunkan suaminya. Menggoyangkan punggung itu dengan hati-hati, sampai Bilal terjaga.
"Heeemmm?" gumamnya serak.
"Ashar, A'..."
Bilal terdiam sejenak, setelah itu beranjak duduk. Mengusap kedua matanya yang pedih selepas berdoa.
"Emang aku tadi tidur, ya?" tanyanya seperti orang linglung.
"Iya, tadi A'a tidur."
"Kok aku nggak kerasa? Kayanya baru tutup mata doang."
Maryam tertawa, "udah hampir setengah jam kayaknya."
"Gitu, ya?" Bilal menutup mulutnya, menguap lalu beristighfar. "Berat banget rasanya."
"Ya udah mandi sana, nanti aku buatkan susu sereal?"
"Jangan itu, kopi aja." Bilal memegangi tangan Maryam, sembari tersenyum manis.
"Ya udah, ku kasih kopi karena hari ini kamu nggak minum kopi."
"Yeees...! Dua bungkus white coffee kasih es batu," request-nya lagi.
"Kebiasaan, kan! inget lambung kamu loh..." jawab Merr dengan bibir sedikit mengkerucut sebal.
"Kan sama kamu barengan. Ya... ya... boleh ya." Bilal memeluk sang istri.
"Alasannya barengan. Tapi kamu paling banyak nanti minumnya," jawab Merr membuat Bilal tertawa.
"Nggak sayang, aku minum sisa kamu aja deh... ya? pakai es, kopinya dua sachet."
"Emang A'a, ya. Semakin di larang, semakin ngeyel."
"Nggak papa ngeyel soal makanan atau minuman. Yang penting kan aku nggak ngeyel soal larangan kamu ngelirik akhwat lain..." ledeknya.
Maryam mendengus dengan tatapan tajamnya.
"bercanda sayang..." Bilal menoel dagunya sembari terkekeh, "ya... sekali saja! A'a kangen pengen minum itu, Yaaaang..." Bilal mencium bahu sang istri.
"Ya udah, janji ya. Minumnya nggak banyak-banyak."
"inshaAllah, nggak janji," jawabnya lirih.
"Kan?" Maryam melotot, membuat Bilal tertawa lagi. Namun akibat tawa Bilal membuat Umar sedikit kaget hingga menimbulkan rengekan kecil setelah itu tidur lagi. "A'a sih..."
"Iya, maaf–" bisiknya, sebelum mendaratkan kecupan di pipi. Beliau pun lantas beranjak lalu masuk ke dalam kamar mandi, untuk bebersih dan bersiap menjalankan sholat ashar.
__ADS_1