Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kembali terjerat masa lalu


__ADS_3

Kania menunggu di luar, sudah hampir tiga puluh menit setelah suaminya bilang hendak mengambil botol air minum di dalam mobil. Beliau belum juga kembali, padahal sebentar lagi acara sholawatan selesai, di ganti dengan sambutan pembuka oleh sang moderator acara.


Yang sudah pasti suaminya harus sudah bersiap untuk naik panggung membacakan beberapa ayat Allah.


Nampak dari kejauhan, Akhri berjalan sedikit lunglai. Tangannya memeluk botol minum dengan pandangan kosong seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Bang, kok lama?" Tanya Kania, saat sang suami sudah dekat. Akhri langsung memberikan botol itu pada istrinya. "Abang kenapa?"


Sepertinya Nia sadar, mata sang suami yang merah itu tengah bersedih. Membuat ia bertanya, dengan tatapan bingung. Sementara bibir Akhri hanya tersenyum tipis, tak menjawab. Beliau memilih melangkah masuk lebih dulu.


"Abang kenapa, sih?" gumamnya sebelum akhirnya menyusulnya dengan segera.


Sementara di dalam, Akhri memegangi mushaf-nya. Matanya tertuju pada Al Qur'an tersebut. Namun pikirannya jauh ke masa lalu.


Bang, Merr tuh berharap banget. Nantinya nih, karya Merr akan naik cetak dan best seller.


Akhri mengingat wajah berbinar penuh semangat sang istri. Saat tengah menyantap makan paginya.


Doakan Merr, bang... biasanya doa suami yang soleh suka ke kabul dengan cepat.


Ada perasaan bergemuruh, kala mengingat dirinya yang langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Ya Allah... kabulkanlah harapan istri Solehah ku. Tapi jangan buat Dia lupa sama jatah suaminya karena pasti akan lebih sering lagi ngelembur pekerjaannya.

__ADS_1


Pada saat itu beliau langsung tertawa saat Maryam mencubit pinggangnya dengan gemas.


Hari ini Akhri melihat apa yang menjadi keinginan sang mantan istri benar-benar menjadi kenyataan. Karyanya tidak hanya best seller, namun sampai di angkat ke layar lebar. Bukankah satu prestasi yang bagus... dan itu pantas Maryam dapatkan. Karena kegigihannya selama ini bertahan meniti karir dari nol, walaupun di awal tak mendapatkan apa-apa, hanya mengandalkan kesenangan ketika tulisannya bisa di baca orang. Dan orang lain suka dengan memberikannya komentar yang positif sebagai penyemangat.


Sejujurnya ada perasaan ingin menonton film yang di adaptasi dari novelnya. Demi mengapresiasi, menunjukkan rasa bangga pada wanita hebatnya dulu. Namun melihat dari trailernya saja Dia sudah tidak sanggup. Ada penyesalan yang tak pernah hilang dari benaknya. Melihat tangis sang pemeran utama di cuplikan film tersebut membuatnya berpikir, betapa tersiksanya Maryam saat itu. Menangis sendirian menahan lara di dadanya.


Namun kenapa Dia selalu memberikan senyum yang indah, juga ucapan; nggak papa... Merr ngerti, Bang.


Apakah Merr tidak hanya pandai menulis karya, namun ia juga bisa berlakon di depannya? Sehingga ia terkecoh, sikap baik-baik saja-nya Merr, hanya untuk menutupi semua luka yang membiru di dadanya.


Allah...


Setitik air mata terjatuh di atas mushaf-nya. Tidak seharusnya Dia selalu menuruti Nia. Yang mudah merajuk dengan alasan anak. Kenapa dulu Dia menjadi seorang yang bodoh dan tidak tegas.


Padahal itu haknya sebagai imam dengan dua ma'mum. Harus bisa memiliki ketegasan kepada keduanya.


"Lima menit lagi Ustadz naik, ya," kata sang panitia acara. Akhri pun mengangguk. Beliau menghela nafas, meredam kesedihannya. Padahal tadi baik-baik saja.


Namun mendadak hatinya menjadi lesu lagi saat tak sengaja bertemu Maryam setelah bertahun-tahun tak melihat wajah cantiknya itu.


Hatinya kembali berdenyut, dadanya kembali sesak, juga perasaan rindu yang kembali merejam-rejam urat nadi. Seolah semuanya menuntut untuk di tunjukkan, setelah di sembunyikan cukup lama di ruangan kehampaan.


Namun, mau seperti apapun merasakan kerinduan. Tetap saja, ia tidak bisa memeluk asa yang sejatinya hanya fatamorgana.

__ADS_1


Dia tidak mungkin kembali pada Maryam... mustahil, kan? Memintanya rujuk sementara dirinya masih bersama yang lain. Sebab tidak mungkin juga memutuskan hubungan dengan Kania yang sudah memberikannya tiga anak.


Semuanya mendadak rumit, hanya dalam kurun waktu beberapa menit saja bertemu dengan masa lalu. Sudah mampu mengobrak-abrik pertahanannya.


Ya, masa lalu yang memiliki binar indah dan senyum bulan sabitnya benar-benar membuat Akhri ingin berteriak jika dirinya tak bisa lagi menahan ini. Menyembunyikan cinta yang sejatinya masih membara.


"Silahkan Ustadz..." Sang panitia meminta Ustadz Akhri untuk segera naik ke panggung.


perlahan beliau jalan lalu menghempaskan bokongnya di bantal duduk, setelah sampai di panggung. Matanya melirik ke lantai atas sejenak.


Di antara banyaknya jama'ah wanita, ada salah satu yang pernah menjadi spesial untuk mendengarkan dirinya membaca ayat-ayat Allah. Akhri menunduk, ia mulai membuka mushaf-nya lantas membaca dengan hati sedikit pedih.


***


Selang beberapa waktu, selepas Ustadz Irsyad yang menjadi pengisi utama di tabligh Akbar tersebut turun, mereka sempatkan mengobrol lebih dulu sebelum akhirnya Ustadz Irsyad berpamitan, melangkah bersama dengan habib Bilal.


Akhri menghela nafas, menunggu sang istri yang sedang ke toilet. Beliau pun memutuskan untuk keluar lebih dulu, sembari mencari angin.


Di luar tak sedikit orang-orang meminta foto bersama beliau. Akhri pun hanya menerima beberapa selebihnya beliau langsung menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, meminta maaf untuk segera pergi.


Maklum saja, hatinya sedang tak bersemangat untuk melayani semua jama'ah pria yang memintanya untuk berfoto seperti biasa.


Kaki Akhri masih berjalan, hingga sampai di parkiran masjid. Beliau melihat Maryam tengah berbicara dengan ustadz Irsyad dan juga Bilal. Fokusnya lebih ke saat wanita itu tengah menuliskan sesuatu di buku. Setelah itu menyerahkannya pada Habib Bilal.

__ADS_1


Senyumnya masih indah...


Akhri tersenyum kecut. Beliau pun merogoh saku di kokonya, ketika sebuah dering ponsel berbunyi. Kania mencarinya, membuat Akhri segera menerima panggilan telepon itu. Lalu memalingkan wajahnya dengan lunglai setelah sempat kembali memandang ke arah mereka berempat.


__ADS_2