
Baru saja keluar dari kamar mandi. Akhri sudah mendapati Nia berdiri di depan pintu. Wanita itu menatapnya dengan berderai air mata. Ia meminta maaf untuk yang kesekian kali, dan memohon suaminya untuk pulang kerumah.
Bahkan tanpa sungkan, Nia sampai menurunkan tubuhnya bersimpuh di dekat kaki Akhri.
"Bang, Nia minta maaf. Nia ingin Abang pulang, anak-anak sudah nanyain Abang terus. Nia mohon ampun sama Abang. Tolong maafkan kesalahan Nia." Tangisnya terdengar menyayat hati. Sampai-sampai membuat Akhri yang tadinya sudah keukeuh akan membawa Nia kerumah kakaknya menjadi runtuh.
Pria itu masih belum menjawab, namun ia mendengarkan setiap ungkapan maaf yang sepertinya tulus dari istrinya.
"Sikap Nia emang keras, emang terkadang Nia juga kurang ajar. Tapi jujur, Nia nggak bisa hidup tanpa Abang. Tolong Bang. Nia janji akan memperbaiki diri lagi." Isak tangisnya membuat Akhri tidak tega. Memang, pria itu bukan tipe pria yang alot. Akhri tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Walau sebesar apapun kesalahan sang istri. Jika sudah seperti ini, hatinya akan cepat mencair. Akhri turut berjongkok.
"Kamu bilang, Abang sering nyakitin kamu, kan? Abang nggak bisa bikin kamu bahagia. Kamu juga bilang, kalau Abang senantiasa membuatmu menangis."
Nia menggeleng, ia tak menjawab. Hanya meraih tangan suaminya, untuk di cium.
"Bang– aku mohon pulang, ya... ayo pulang sama Nia lagi. Kasian anak-anak..." Rengeknya, menatap mata sang suami. "Bang? Abang boleh nggak kasian sama Nia, tapi tolong Abang kasian sama anak-anak. Aku mohon... pulang Bang."
Ya Allah, Nia. Bagaimanapun juga Abang nggak bisa tega sama kamu. Kamu yang udah kasih Abang anak, dan berusaha menyenangkan Abang.
"Abang jawab! Abang mau pulang ke rumah, kan?" Nia masih menatap sang suami, memohon dengan sendu matanya itu. Sementara tangannya menggenggam erat tangan Akhri. Pria itu pula masih membalas tatapannya tanpa menjawab. Padahal tadi tekatnya sudah kuat akan menceraikan Nia.
"Abiiiii...! Abiiiii...!" Pintu kamar terbuka, mereka berdua berlarian masuk. Sementara si bungsu dengan neneknya di luar.
"Ya Allah... Anak-anak Abi." Akhri menitikkan air mata. Sudah lebih dari dua Minggu ia tak melihat anak-anaknya. Jelas rindu itu amatlah terasa di dadanya. Mereka berdua langsung menghambur ke pelukan Abinya melepas rindu. Satu persatu dari mereka mendapatkan dua cium di pipi kanan dan kirinya.
"Abi kok nggak pulang-pulang?" Tanya Hussein pada sang ayah yang memilih tak menjawab. Hatinya mendadak merasa bersalah. Kenapa hanya karena masa lalu, ia jadi menghancurkan cinta anak-anaknya pada beliau.
Aku bukanlah ayah yang baik untuk kalian. Aku tidak hanya gagal menjadi suami, namun aku juga gagal menjadi ayah.
Akhri memeluk erat tubuh mereka, dengan tangisan penuh penyesalan.
***
Malam harinya, selepas teraweh. Anak-anak sedang bermain di ruang tengah. Sementara Nia memilih untuk diam, mendampingi si bungsu.
__ADS_1
Akhri yang baru pulang dari masjid segera di sambut riang oleh kedua anaknya. Bahkan si bungsu pun turut berlari dengan tertatih-tatih menghampiri Abinya di depan pintu.
Nampak pria itu langsung menunjukkan bungkusan plastik di tangannya. Sepertinya sebelum pulang beliau mampir dulu ke minimarket.
"Abi beli apa... jajan, ya?" Tanya Hussein, memegangi plastik yang masih menggantung di tangan Abinya.
"Masuk dulu aja, nanti kita buka, ya." Ajak Akhri setalah menggendong si bungsu lalu menggiring kedua anak yang lain mendekati Nia.
Beliau duduk di sebelah sang istri yang tertunduk, matanya masih terlihat sembab. Sepertinya Dia habis nangis lagi tadi.
"Buka, yuk apa isinya?" ujar Akhri menumpahkan semua isinya di hadapan mereka.
"Waaaahhh, jajan....! yeeaaay!!" Semua bersorak mengambil makanan ringan kesukaan mereka. Akhri sendiri mengambil satu batang coklat dengan merek cukup terkenal, setelah itu membukanya. Mematahkan bagian ujungnya lalu beliau arahkan pada Nia. Wanita itu melirik, nampak senyum manis suaminya terarah.
"Maaf ya... terima maaf Abang dan makan ini."
Nia sepertinya ingin nangis lagi, matanya kembali mengembun. Namun bibirnya tersenyum, ia pun menggigit ujungnya.
"Abang di maafin?" Tanyanya lagi. Nia pun mengangguk.
"Abang maafin kamu. Tapi Abang mau kamu janji satu hal. Ini terakhir kalinya kamu bikin Abang marah sampai seperti ini. Dan Abang mohon dengan sangat, ayolah jaga lisan kamu. Perbaiki diri lagi, Abang pun akan sama melakukan itu."
Nia mengangguk pelan. "Nia akan berusaha."
"Dan lagi... bisa nggak, kamu DM Dia atau minta nomor teleponnya ke Arshila. Mintalah maaf pada Merr."
"Minta maaf, pada Cece?"
"Iya, kali saja setelah kamu minta maaf. Kehidupan kita akan lebih baik."
Nia terdiam, sepertinya akan sulit untuk meminta Maaf padanya.
"Dik, kamu keberatan?"
__ADS_1
"Apa harus, aku minta maaf? Nia kan nggak salah apa-apa sama Dia, Bang?"
"Jangan selalu menganggap diri kita itu nggak punya salah terhadap orang lain. Mau bagaimanapun juga, kita pasti punya salah terhadapnya."
Nia menunduk. Sebenarnya masih ada rasa kesal ketika sang suami menyebutkan nama Merr lagi di depannya. Kenapa harus menyebutkan nama?
"Dik, jangan gini terus. Aku mau kamu jangan selalu merasa cemburu dengan Merr. Dia juga kan sudah menikah sekarang."
Iya sih Dia udah nikah, tapi tetep aja Abang masih kaya belum ikhlas. –Mata Nia tertuju pada suaminya. Ia pun menghela nafas.
"Iya nanti aku bakal DM aja."
"Beneran, ya?"
"Iya, Bang. Tapi Abang janji, kita bakal pulang."
"Iya, kita pulang. Sekarang siap-siap. Kita pulang."
Binar matanya terpancar seketika. Nia mengembangkan senyumnya. "Beneran kita pulang sekarang?"
"Iya Dik. Abang mau beresin baju dulu."
"Biar Nia aja..." Wanita itu bergegas bangkit, dan berjalan menuju tangga setelah mendapat balasan iya menggunakan anggukan kepala suaminya.
Alasan terbesarku bertahan dengan mu adalah anak-anak. Mereka nggak boleh menjadi korban keegoisanku.
"Mbiii...! Biii...!" si bungsu memanggil.
Akhri lantas menggigit ujung wafer rolls rasa coklat yang di sodorkan si bungsu di dekat bibirnya. lantas menciumi anaknya seraya tersenyum.
––
Setelah selesai beberes. Mereka benar-benar pulang. Ummi Salma memeluk Akhri, dengan bisikan kata maaf sekali lagi. Namu pria itu sepertinya sudah baik-baik saja. Ia mencium pipi ibunya kemudian sebelum masuk kedalam mobil milik beliau.
__ADS_1
Ya... beginilah kehidupan dalam berumahtangga. Kata siapa orang salih terjamin kebahagiaan pernikahannya karena ilmu yang mereka miliki. Sejatinya mereka pun sama memiliki sifat fitrahnya manusia. Yang masih berkemungkinan di kuasai ego. Serta tak akan pernah terlepas dari khilafnya.