Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
keinginan sederhana Maryam


__ADS_3

Setelah pekerjaan tiga harinya di Ponorogo selesai. Kembali Bilal mendatangi satu acara yang mempertemukan Beliau dengan Ustadz Akhri di dua bulan berikutnya.


Bilal menyapa dengan penuh rasa persaudaraan. Tanpa berpikir siapa Beliau sebelumnya. Membuang jauh-jauh prasangka buruk yang memang kadang-kadang meracuni pikiran dan hatinya.


Tangan itu menjabat hangat, tubuhnya pula memeluk erat Ustadz Akhri.


"Barakallah... sehat, Bib?"


"Alhamdulillah... MashaAllah, tabarakallah sehat Ustadz. Antum bagaimana?"


"Sehat Alhamdulillah..."


"Alhamdulillah, sepertinya nampak lebih berseri-seri?"


"Ah, masa sih?" Akhri tertawa.


"Benar loh, auranya... subhanallah."


"Hahaha... MashaAllah, hanya merasa senang ketika bisa ketemu Antum lagi setelah beberapa bulan nggak ketemu."


"MashaAllah, terharu jadinya. Anak-anak bagaimana, kabarnya?"


"Baik juga Alhamdulillah."


"Syukur kalau begitu."


"Iya, emm... anak antum sendiri bagaimana? Sudah bisa apa?"


"Banyak hal, mulai rusuh juga. Hahaha..."


"Alhamdulillah, aktif ya?"


"Iya, Tadz. Alhamdulillah."


"Emmm, Bib. Saya mau minta doanya."


"Doa, untuk apa nih."

__ADS_1


Akhri tersenyum. "inshaAllah, Ahad depan saya akan melangsungkan pernikahan di masjid Abdul Aziz."


"Allahu Akbar... seriusan?"


"Iya, Alhamdulillah. Dengan putri sulung dari Gus Wahyudi."


"MashaAllah... selamat kalau begitu. Saya doakan semoga lancar segalanya sampai ke hari H."


"Aamiin, terima kasih doanya Bib."


"Sama-sama..."


"Dan satu lagi, jika tak keberatan. Antum bisa menghadiri acara pernikahan saya, sekalian saya undang di sini saja."


"Oh... inshaAllah, saya usahakan untuk hadir. Mudah-mudahan tidak bentrok dengan jadwal lainnya."


"Aamiin... syukron khatsiron Bib atas waktunya."


"Afwan, Ustadz." Bilal melirik jam tangannya sejenak, "kalau begitu saya permisi pulang. Sudah semakin sore juga. Intinya saya turut bahagia dengan kabar ini."


***


Kembali malam menyapa.


Merr baru saja selesai menyusui Yahya, anak itu masih tidur di kamar yang sama namun di ranjang yang berbeda. Ia pun menutup mushaf-nya. Karena Bilal selalu menyarankan, ketika menyusui sang anak sebisa mungkin sembari membawa Al Qur'an ataupun hanya bersholawat. Agar sang anak terbiasa mendengarkan Kalimat-kalimat Allah.


"A'a sedang apa, sih? Dari tadi asik banget pegang ponsel?" Merr mendekati lalu duduk di sisi suaminya.


"Ini, aku lagi bikin kuis berhadiah di story, Yank. Rupanya yang merespon banyak."


"Oh..." Merr melirik. Lalu memandang suaminya. "A'..."


"Hemmm?" Bilal menjawab tanpa menoleh.


"A'a kenapa sih, hampir nggak pernah posting foto kita?"


"Untuk apa posting foto begitu, Yank?"

__ADS_1


"Ya... wanita kan senang kalau fotonya di posting sama pasangannya."


Bilal menurunkan ponselnya, memandangi wajah Merr yang sedang menunduk sembari mengusap-usap kain sprei dengan jari telunjuknya.


"Apa A'a harus senang membiarkan foto istriku menjadi konsumsi publik?"


"Ya nggak gitu, seenggaknya ya foto kita. Sebagai cara kamu menunjukkan kasih sayang kamu ke aku."


"Ya Allah... emang selama ini aku kurang menunjukkannya ke kamu?"


"Maaf, aku nggak bermaksud kufur. Kadang sebagai normalnya wanita, aku ingin sekali posting foto kebersamaan kita yang mungkin terlihat romantis. Apalagi kalau kamu yang posting, kan aku sebagai wanita pastinya akan ada rasa kebahagiaan tersendiri."


Bilal mengusap kepala Maryam, membelai lembut rambut panjangnya.


"A'a sesekali juga posting, kan?"


"Nggak banyak, tuh... bahkan sangat jarang, saking jarangnya sampai kaya nggak ada karena tertimbun foto lainnya. Habis itu A'a juga larang aku posting di akun-ku sendiri."


"Yank, A'a itu kan selalu bilang. Jaman sekarang orang banyak memposting konten kebersamaan dengan pasangan. Hal baiknya, mungkin akan membuat orang belajar lantas mengikuti dengan pasangan halal mereka sendiri. Tapi hal buruknya? Kita nggak pernah tahu Yank, niat orang di luaran sana seperti apa. Bisa jadi ada orang ikut senang, bisa jadi ada orang yang membencinya karena rasa iri. Iya kalau hanya dengan batin saja, kalau sampai melakukan hal ekstrim seperti sihir? Nauzubillah..."


"Iya sih," gumamnya memahami.


"Lagi pula, kamu tahu di akun A'a ada seorang Akhi yang kamu sendiri kenal. Haruskah kita pamerkan foto kemesraan kita? Untungnya apa, Yank?"


Benar juga, A'a dan Beliau kan saling Follow. –Merr membatin.


"Sekarang, mending nggak usah punya pikiran untuk ikut-ikutan pasangan lain. Jangan pula ngerasa aku nggak pernah posting foto atau video kebersamaan kita hanya karena aku nggak sayang. Jangan gitu, Yank... kalau nggak sayang nggak mungkin aku nikahin kamu. Iya nggak?"


"Iya, A'..."


"Cukuplah kemesraan hanya kita yang merasakan. Hanya kita yang tahu, sejauh mana cara kita beradu kasih. Orang lain nggak perlu tahu, kalau A'a cinta sama kamu, begitu pula sebaliknya. Karena ada banyak hati yang kadang nggak bisa menahan rasa irinya, yang berujung pada rasa kufur terhadap pasangan mereka sendiri."


"Astagfirullah al'azim, maaf ya A'..."


Bilal tersenyum. Ia mengecup kening sang istri. "Iya, A'a paham kok. Kadang kamu ada keinginan seperti itu, karena memang wanita itu tabiatnya ingin orang lain tahu kalau dia itu di perlakukan seperti ratu oleh pasangannya. Namun untuk istri A'a, jangan ya. Cukup hanya kita yang merasakan, orang lain tidak perlu tahu," jelasnya dengan nada lembut. Merr pun mengangguk sembari tersenyum, sebelum akhirnya memejamkan mata saat sang suami mendekati wajahnya, menyatukan bibir mereka.


percakapan itu lantas berakhir dengan hubungan keduanya di atas ranjang. untunglah Yahya tidur dengan nyenyak sehingga Abi dan Ummi-nya bisa menyelesaikan urusan mereka tanpa gangguan. hehehe...

__ADS_1


__ADS_2