Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
obrolan di atas sajadah


__ADS_3

Acara pengajian telah terlaksana, tamu yang hadir tidak hanya dari ibu-ibu yang biasa mengikuti kajian majelis saja. Namun para tetangga dekat serta teman-teman dekat Ummi pula di undang.


Acara di awali dengan bersholawat bersama, setelah itu di susul membaca surat-surat dalam Al Qur'an.


Ibu-ibu yang hadir di atur dalam beberapa bagian. Jadi setiap satu surat yang rada panjang akan di bagi ke beberapa orang. Dan mereka yang membaca hanya mendapatkan beberapa ayat saja.


Sholawat serta surat-surat tasyakuran empat bulanan yang dibacakan itu bertujuan agar bayi dalam kandungan sang ibu mendapatkan manfaat, kebaikan serta keberkahan.


Waktu terus bergulir. Merr bersyukur, acara berjalan dengan lancar. Bingkisan yang di bagikan juga cukup bahkan lebih. Beberapa ada yang di bagi lagi ke tetangga dekat yang tidak bisa datang.


Setelah semuanya selesai, Merr masuk kedalam kamar. Ia melihat sang suami sedang membaca dzikir petang, selepas ashar ini. Beliau memang seperti itu. Setelah sholat di masjid maka akan beralih ke rumah. Melanjutkan dzikirnya di rumah.


Beralaskan karpet putih berbulu yang polos di ujung kamar mereka. Beliau duduk dengan tenang, sendirian sedari tadi.


Merr mendekati lalu duduk di sebelah Habib dengan manja.


Beliau memberikan ruang sembari mengusap perut sang istri. Setelah itu kembali berzikir. Maryam merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami.


"Capek?" tanya Beliau. Menjeda sejenak.


"Lumayan. Padahal aku seharian ini nggak ngapa-ngapain. Nggak boleh sama Ummi."


"Kenapa?"


"Ummi khawatir, aku kecapean. Nanti ngeflek kaya kemarin katanya," jawabnya. Bilal tersenyum tipis, bibirnya masih terus berdzikir. Namun ia tetap mendengarkan serta menanggapi pertanyaan Maryam sesekali.


"Hari ini aku seneng, karena ada Koko ku datang." Merr senyum-senyum, sembari mencium tangan Bilal yang tengah mengusap pipinya lembut, di mana ia sendiri mendengar doa suaminya yang baru sampai pada bacaan Sayyidul Istighfar.


Saat-saat seperti ini paling nyaman baginya, manakala sang suami sedang berdzikir petang atau pagi di rumah. Ia akan bermanja-manja di atas pangkuan pria tersebut. Biasanya Walaupun tidak bicara Bilal tetap akan memberikan perhatian dengan gerakan satu tangannya entah mengusap kepala atau pipi sementara bibirnya bergumam, membaca doa-doa panjang dzikirnya.


Merr memutar tubuhnya, menyusup lebih dalam lagi. Lalu usel-usel diperut sang suami.

__ADS_1


"Astagfirullah, geli sayang–" Bilal tertawa lalu mencium kepala Maryam.


"Anakmu pengen manja sama Abinya."


"MashaAllah... nanti ya, dikit lagi." Bilal menyambung, setelah Maryam mengangguk.


Wanita itu diam saja, sembari memejamkan matanya. Menghirup aroma tubuh sang suami yang bikin betah. Seraya mendengarkan dzikir yang masih terdengar pelan dan halus dari bibir suaminya. Benar-benar amat menyejukkan hati.


Ya, cinta yang semakin bertumbuh, serta kekaguman pada pria itu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan rasa sayangnya. Padahal sebelumnya ia paham, jika sang suami sedang mengistirahatkan hatinya dengan ibadah maka ia tidak akan menggangu. Namun, semenjak dirinya hamil. Seolah keinginan untuk terus nempel kerap kali muncul. Memancing diri untuk egois. Kadang-kadang ngambek tanpa alasan, terlebih saat sang suami ingin berangkat kerja.


Bilal berusaha memahami, walaupun kadang jengkel juga. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin bawaan ibu hamil, begitu pikirnya.


Setelah beberapa saat kemudian...


"A’udzu bikalimaatillahit-taammaati min syarri maa kholaq." Bilal sudah sampai pada penutup doanya. Membaca sebanyak tiga kali, Merr pun tersenyum senang. Itu tanda suaminya telah selesai berdzikir. Terlebih saat Habib meraih wajahnya lalu mencium istrinya.


"Suka banget ganggu aku lagi dzikir, sekarang!" Bilal protes.


"Ya, tapinya A'a jadi nggak fokus."


"Besok! inshaAllah nggak lagi, deh... habisnya suka kangen. Kamu 'kan pergi-pergian terus, jadi kalau kamu di rumah pengenya nempel."


"MashaAllah." Bilal mendaratkan kecupan lagi di bibir sang istri. Bermain cukup lama, sampai Maryam mendorongnya untuk mengambil nafas. Setelah itu tertawa. Maryam menyentuh wajah suaminya.


"A'... mau tanya."


"Apa?" Masih dalam posisi sedikit membungkuk. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang masih merebahkan kepalanya di atas pangkuan.


"Proses janin dalam kandungan itu seperti apa?"


"Seperti apa? Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya seperti apa dari proses awal pembuahan sampai di tiupkannya ruh."


"Oh–" Bilal mengusap menoleh sejenak untuk mengambil air di atas meja yang berada dekat di sisinya. Meminum itu sejenak sebelum menjawab. "Merujuk dari beberapa ayat-ayat dalam Al Qur'an, dan hadist. 'Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya empat puluh hari berupa nutfah, Kemudian menjadi segumpal darah, (empat puluh hari kemudian), lantas menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari berikutnya). Kemudian lagi diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya menuliskan empat hal; ketentuan rejekinya, ketentuan ajalnya, ketentuan amalnya, dan ketentuan celaka atau bahagianya'..." ucap Bilal.


Maryam yang mendengar itu manggut-manggut. Walaupun pernah mendengar dalam ayat Al Qur'an ia tetap penasaran. Dan biasanya ia akan memberikan pertanyaan berulang pada suaminya. Sebab penjelasan Bilal biasanya lebih di pahami.


"Nah... berdasarkan hadis tadi dapat disimpulkan bahwa proses terjadinya bayi terdiri dari fase-fase: yaitu 40 hari pertama berupa nutfah atau cairan kental. Kamu paham lah, nggak perlu A'a jelasin," tuturnya sembari mencubit hidung sang istri yang tengah tertawa.


"40 hari kedua berkembang menjadi ‘alaqah atau segumpal darah. 40 hari ketiga berkembang menjadi mudhghah atau segumpal daging. Apabila seluruh waktu dalam fase tersebut dihitung berdasarkan bulan, maka akan sama dengan 4 bulan atau 120 hari. Pada bulan ke-4 inilah, Allah SWT mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin yang terdapat dalam rahim ibu. Makanya kita melakukan tasyakuran, berharap Allah memberikan jiwa yang baik ahlaknya."


"Seperti A'a–"


"Aku?"


"Iya aku mau anakku mewariskan iman Abinya."


"MashaAllah– aku juga masih buruk, Yank. Aku malah berharap dia lebih baik imannya daripada Abinya. Lebih Sholeh atau solehah agar bisa menjadi penjemput kita di surga."


"Aamiin ya rabbal alamin."


"Yank, aku boleh minta sesuatu–"


"Apa?"


"Kita nggak pernah tahu anak seperti apa yang lahir, nantinya. Cuman, karena kamu adalah madrasah pertamanya, tolong didik dia dengan kelembutan. Jangan keras, ya... karena A'a bakal marah besar kalau sampai dengar barang sekali aja, kamu membentaknya. ketika dia masih berusia di bawah delapan tahun."


"inshaAllah, mudah-mudahan aku bisa bersabar."


"Cukup nanti A'a yang memberikan ketegasan kalau anak itu sudah pantas mendapatkan ketegasan. Tapi A'a akan bantu kamu juga kok, kita rawat dan didik sama-sama. Semoga Allah SWT melancarkan semuanya." Bilal mengusap perut Maryam, sementara Maryam mengaminkan.


Langit di luar semakin menguning. Mentari mulai kembali ketempatnya. Maryam dan Bilal masih berbincang hangat di atas alas sujud. Sembari menanti waktu Magrib tiba.

__ADS_1


__ADS_2