Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
cemburu


__ADS_3

Sebelum Maghrib berkumandang Maryam dan Bilal berpamitan. Mereka memang tidak lama, namun walaupun singkat sepertinya si bungsu benar-benar nyaman bermain dengan Maryam.


Saat ini tangan Merr saja tengah digenggam erat olehnya. Dia bahkan merengek minta untuk ikut. Tidak seperti biasanya yang mudah takut dengan orang asing.


Ya, mungkin karena semenjak Nia sakit, wanita itu agak sering memakai pakaian serba hitam dengan penutup wajahnya. Demi menyembunyikan wajah pucatnya di depan umum. Jadilah anak laki-laki yang usianya lebih dari dua tahun itu mengira jika Merr adalah ibunya.


Di samping itu, kurangnya waktu Nia padanya, sebab harus menjalani perawatan entah itu di rumah ataupun di rumah sakit membuat anak itu merasakan kurangnya kasih sayang seorang ibu.


Si bungsu yang bernama Daud itu masih menahan Maryam dalam genggaman tangannya. Tidak ingin ikut Mbak pengasuh, membuat Akhri sendiri segera menghampiri lalu mengambil alih. Menggendong si bungsu yang masih menangis, kedua tangannya terangkat mengarah pada wanita yang tengah membalas tatapan polos itu dengan perasaan tidak tega.


"Jangan sayang, Tantenya harus pulang," kata Akhri menenangkan.


"Ummiii... Ummiiii..." rengeknya, Akhri pun tersenyum tipis. "Tante itu bukan Ummi. Daud sama Mba Ning, ya. Atau sama nenek? Main sama nenek, sama Abang Husein...?" sambung Akhri sembari mencium pipi anaknya lalu menoleh kebelakang mencari sosok Ummi Salma yang sedang berada di dalam.


Sementara tatapan Maryam masih tertuju pada anak bungsu yang berada dalam gendongan Akhri.


Ya Allah... rasanya aku masih mau menemani anak itu, dan juga dua anak Nia yang lain. Tapi itu tidak mungkin, aku bukan siapa-siapa mereka. Di tambah sekarang sudah ada A'a.


Habib Bilal menoleh kearah Maryam, menangkap pandangan mata berkaca di netra sang istri. Beliau lantas melebarkan senyumnya lalu melangkah lebih mendekat, meraih tangan kanan anak tersebut, dan kemudian mencium.


"Barakallah..." gumam Akhri saat Bilal menempelkan bibirnya di telapak tangan si bungsu.


"Sehat-sehat ya, Nak. Kapan-kapan Tantenya main lagi, kesini..." Bilal mengusap lembut kepala anak tersebut.


"MashaAllah... terima kasih sekali lagi, Bib. Habib sudah bersedia datang ke rumah saya."


"Sama-sama Ustadz. Saya malah justru tidak enak, karena baru bisa datang."


"Tidak masalah..." tatapan Akhri bergeser kepada Maryam sebentar. Wanita itu pun menunduk seketika.


"Kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum," ucapnya membuat Akhri kembali menoleh kearah Bilal.


"Walaikumsalam warahmatullah..." jawabnya. Bersamaan dengan langkah Bilal yang berbalik haluan, setelah itu berjalan semakin mendekati sang istri sebelum menggandengnya keluar dari rumah Ustadz Akhri.


Seiring langkah kaki keduanya. Ustadz Akhri tak melepaskan pandangan dari mereka yang nampak serasi. Habib dengan Koko gamis berwarna hitam, senada dengan Merr yang menggunakan gamis syar'i berwarna hitam pula, lengkap dengan hijab panjang serta niqab-nya. Benar-benar sangat cocok... bibir Ustadz Akhri tersenyum tipis.


Aku mungkin adalah masa lalu mu, Merr. Sementara Beliau adalah masa sekarang dan masa depanmu. Abang senantiasa berdoa kamu bisa berjodoh dengan Beliau sampai tua, bahkan sampai ke surganya Allah SWT.

__ADS_1


Ku harap bersamanya kamu selalu bahagia, aku tetap akan menanti kabar gembira dari kalian.


Akhri mencium pipi sang anak sebelum menyerahkan Daud pada seorang pengasuh yang kembali berusaha mengajak Daud agar mau ikut bersamanya.


***


Dalam perjalanan pulang mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah Masjid yang cukup besar dan indah, untuk melangsungkan sholat Maghrib.


Selesai beribadah, Maryam dan Bilal duduk di serambi masjid. Menikmati angin sejuk yang menerpa mereka, sembari menunggu sang istri memasang kaos kakinya.


"Merr?"


"Iya, A'...?"


"Aku mau tanya... misalkan kamu adalah sebuah ladang yang pernah di pakai seorang petani, lantas di gantikan dengan petani yang baru. Lalu kamu tahu, petani lama mu itu sudah tak memiliki ladangnya lagi. Apakah terbesit pikiran untuk?" Habib Bilal menghentikan ucapannya. Ia merasa apa yang akan diucapkan salah, jadi lebih baik di urungkan. "Astagfirullah al'azim, lupakan Merr..."


Mata peri Maryam memandangi wajah Habib Bilal yang kini menunduk.


"A'a tanya seperti itu, apa sedang berpikir sesuatu?" Tanya Maryam membuat Bilal tercenung. Seperti menangkap ada yang salah pada dirinya di mata sang suami saat ini. "Adakah kesalahan yang Merr lakukan saat di rumah Beliau?"


"Nggak mungkin aku nggak memikirkan. A'a kasih tahu aku, dimana letak salah ku. Karena Merr nggak menyadarinya."


Bilal terkekeh, mulai salah tingkah. "Hanya sepele, aku nggak mau menjadi besar."


"Maaf... tapi bagi Merr, setiap masalah kita nggak ada yang sepele. Merr akan berusaha merubah diri kalau A'a mau kasih tahu kesalahanku seperti biasa."


"A'a cemburu," jawabnya langsung.


"Cemburu?" Tanya Maryam hati-hati, Bilal pula mengangguk.


"Saat kamu bermain dengan anak Beliau. Juga pada saat kamu banyak berbicara dengannya. Walaupun lebih banyak menyangkut almarhumah...." Bilal terdiam, mengingat tatapan Akhri pada istrinya yang nampak lain, namun ia tak mau menyebutkan itu.


"Astagfirullah al'azim... maafkan aku A'. Tadi Merr terlalu larut mendengar cerita di detik-detik terakhir almarhumah."


Bilal tersenyum tipis, "lain kali jaga pandanganmu. Tadi itu kurang baik bagi A'a, dan membuat ku tidak nyaman. Maaf, A'a sudah berusaha berpikir positif tapi tetap saja terpancing hasutan di dada."


"Ya Allah, aku minta maaf A'. Aku nggak sadar tentang itu." Merr merasa bersalah namun Bilal hanya membalas dengan senyuman manisnya. "A'a jangan hanya tersenyum seperti itu."

__ADS_1


"terus aku harus gimana?" Bilal terkekeh.


"Marah aja, nggak papa. Tegur aku..."


"Mau menegur bagaimana? Aku nggak bisa marah sama wanita. Apalagi hanya alasan cemburu. Itu malu-maluin."


"Nggak malu-maluin kok. Malah bagus untukku. A'a harus sekali-kali memarahiku. Asal nggak berlebihan."


Bilal mengusap kepala istrinya. "Cukup pertahankan sikapku ini dengan perangai baikmu. Jangan sampai A'a hilang kontrol sehingga A'a berubah menjadi orang lain. Paham, ya?"


"Iya..." Maryam tersenyum. Sebaiknya aku menghindari murkanya A' Bilal, itu lebih baik. Soalnya Kata orang, marahnya laki-laki tipe sepertinya itu justru mengerikan. Bisa jadi tidak ada ampun bagiku. –Gumam Maryam dalam hati.


"oh, iya... menanggapi yang tadi. Pak Tani jangan memikirkan ladang yang gersang ini akan merindukan Petani terdahulu. Justru aku khawatir kalau petani yang sekarang jadi melirik ladang subur lainnya."


"Maksudnya?"


"Ini pertanyaan ku untuk mu. Kalau misal ada ladang yang lebih subur dan belum terjamah petani lain atau mungkin penggembala lain? Apakah Pak Tani masih mau merawat lahan gersang ini?"


Bilal menatap sepasang mata indah Maryam dengan serius. "Siapa yang kamu maksud lahan gersang?"


"Aku, buktinya tidak tumbuh apapun. Berarti aku lahan gersang."


"Tapi kamu punya oasis, Merr. Bukankah yang paling di butuhkan adalah air yang menyejukkan...?" jawab Bilal.


"Masalahnya, emang manusia hanya perlu air, ya? Kan Pak Tani juga butuh makan dari hasil panennya."


"Emang ada seorang ayah yang makan anaknya sendiri?" telak, walaupun jawabnya ngawur namun mampu membuat Maryam tertawa. "Bener, nggak? Disini kan lahan hati bukan lahan yang sesungguhnya."


"Iya juga sih..."


Bilal menarik ujung bibirnya tersenyum sinis. "Kamu nggak akan menang kalau adu pintar sama aku, Merr."


"Iya deh, kalau udah gini aku nggak bisa jawab lagi, kamu paling pintar pokoknya."


"Hahaha..." Bilal mengusap kepala sang istri. "Cari makan, yuk. Aku lapar..."


"Ayo!" Bersemangat, Merr pun beranjak setelah selesai memasang sepatunya. Mereka berjalan pelam bersisian, sembari bercengkrama bersama menikmati hembusan angin semilir yang menerpa tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2