Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
memulai hidup yang baru.


__ADS_3

Suasana siang yang agak sedikit mendung. Maryam baru saja selesai membereskan rumahnya. Wanita itu menyeka pelan peluh di kening. Rasanya jadi gerah, padahal hanya memakai kerudung yang tidak terlalu besar.


Wanita itu meletakkan alat pel di sudut dapur setelah itu melepaskan sejenak hijabnya, dan duduk di meja makan. Tangannya meranggai pelan ponsel di atas meja, lalu membuka sebuah pesan chat yang masuk.


Bibirnya nampak tersungging, kala mendapati kabar dari Arshila yang bilang akan berkunjung. Pesan sudah di kirim satu jam yang lalu, dan baru sempat ia baca. Hingga tak berselang lama, suara klakson mobil terdengar di luar.


"Alhamdulillah," gumamnya sembari memakai lagi bergo tali yang hanya sebatas bawah dadanya. Merr bergegas berjalan keluar menghampiri sahabatnya itu.


––


"Assalamualaikum," seru Arshila sembari menutup pintu mobilnya juga Daffa yang bergegas lari menghampiri Maryam.


"Walaikumsalam warahmatullah. Hallo–" Maryam berjongkok, memeluk tubuh sedikit berisi Daffa, juga mencium pipinya. "Tante, kangen sekali loh, sama kamu."


"Daffa juga..." Di cium pula pipi Maryam oleh anak itu, membuat Merr tersenyum senang.


"Huuuft... akhirnya bisa juga main ke sini," kata Arshila saat sudah memeluk tubuh langsing Maryam.


"Alhamdulillah, yuk masuk," ajaknya Kemudian.


Di dalam Maryam langsung menyuguhkan minuman dingin, juga kue brownies yang kebetulan baru ia beli kemarin sore.


"Ngerepotin ya, aku jadinya..." terkekeh.


"Enggak kok Shila. Ini emang udah ada, jadi nggak repot," jawab Maryam sembari duduk. Ia lantas memegangi tangan Arshila.


Merasakan rindu setelah beberapa bulan tidak berjumpa. Maklum saja, semenjak menikah dengan Dayat, gadis itu ikut suaminya tinggal di Serang Banten. Jadi agak jauh dari rumahnya, dan hari ini saat sedang di Jakarta Shila benar-benar menyempatkan diri untuk mengunjungi Maryam.


"Kamu gimana kabarnya, Merr? Kayanya nggak baik-baik aja... kamu tambah kurus."


Maryam tertawa kecil. "Sok tahu, aku itu emang kurus."


"Nggak 'ah... dulu waktu belum ada Dia kamu tuh agak gemukan."


"Dia siapa?"


"Si wanita itu lah pokoknya. Males aku nyebutin namanya."


"Arshila, nggak boleh loh membenci orang sampai kaya gitu."


"Bukan benci, tapi emang nggak suka. Tahu nggak sih, anaknya itu kaya jutek. Males jadinya."


"Astagfirullah al'azim, nggak boleh gitu..."


Arshila menghela nafas sembari istighfar. "Aku udah benar-benar jadi emak-emak. Jadi begini, nggak bisa mengontrol ucapan. Astagfirullah..."


Maryam tersenyum. "Di minum Shil..."


"Iya Merr..." Arshila menuruti, ia mengambil cangkirnya. Sementara Maryam menoleh kearah Daffa yang sedang asyik memainkan ponsel Ummi-nya. Tangannya mengusap pelan kepala anak itu. "Oh iya Merr... kamu tahu? Uwa Nyai berkali-kali menanyakan alamat kamu ke aku dan juga Ummi, loh..."

__ADS_1


"Menanyakan alamat, ku?"


"Iya Merr... tapi nggak kami kasih. Ya... itu atas permintaan Bang Akhri juga. Beliau ingin kamu fokus menyembuhkan luka hati. Dan hidup dengan tenang. Jadi Abang menutup semuanya, nggak boleh ada yang menggangu kamu katanya."


Maryam terdiam, hanya sebatas mendengar nama itu membuatnya menjadi teringat lagi sosok pria yang pernah memenuhi hati dan pikirannya.


"Kamu harus tahu? Sempat ada perkara besar antara Bang Akhri dengan Nia."


"Perkara besar, apa?"


"Entahlah, nggak ada yang tahu masalah apa di antara mereka. Intinya Bang Akhri bahkan sampai hendak menceraikan Nia."


"Innalilah..."


"Dan lagi, Beliau sepertinya terpukul sekali. Saat bercerai dari kamu, Merr... sampai-sampai? Saat ini Beliau masih sering mengurung diri. Selalu menolak panggilan dakwah dan sebagainya. Bahkan pondok jadi agak kurang terurus."


Maryam termenung. Pikirannya menangkap wajah Akhri saat terakhir kali mereka bersitatap sebelum benar-benar menjatuhkan ikrar talak di depan hakim.


"Uwa Nyai mungkin mau minta maaf sih sama kamu, atau mungkin mau ngomongin hal ini..." sambung Arshila membuat pandangan Maryam kembali fokus padanya. "Bahkan kata Ummi ku, beliau sempat mencetuskan kata: Andai saja tidak ada pernikahan kedua mungkin tidak akan seperti ini. Uwa Nyai menyesal..."


"Apa yang perlu di sesali? Ummi Salma tidak sepenuhnya bersalah. Semua keputusan ada padaku... tetap aku yang sudah memaksa Bang Akhri, sampai akhirnya seperti ini."


Arshila memegangi tangan sahabatnya. "Merr, maaf ya. Aku kayaknya bikin kamu jadi mikir lagi."


"Nggak papa, jujur saja aku sempat khawatir dengan Abang. Emmm... tunggu sebentar, ya." Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, mengambil buku catatan juga penanya. Dan kembali duduk di kursinya menghadap Arshila. Sebuah guratan tangan mulai mengisi lembaran kosong di dalam bukunya.


Arshila tak bisa membaca jelas, apa yang di tulis Maryam. Sebab ia sibuk dengan Daffa yang mulai meletakkan ponselnya, lalu berlarian keluar, hingga ia harus menyusulnya dengan segera.


Semoga Abang bisa meresapi setiap bait kata yang ku tulis untuknya. Dan Dia bisa memperbaiki hidupnya.


***


Di depan masjid, Arshila menghentikan langkah Akhri.


"Ambil ini, Bang," katanya sembari menyodorkan surat.


"Ini apa?"


"Dari Maryam. Abang bisa baca sendiri..."


Seolah semangatnya kembali, Akhri sedikit tersenyum. "Kamu ketemu, Dia? Bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah Dia sudah baik-baik saja. Bahkan baru saja menyelesaikan pekerjaannya, novelnya akan naik cetak."


"MashaAllah... Abang senang mendengarnya. Semoga Dia bisa sukses."


"Iya, Aamiin." Senyum Arshila meredup saat melihat Kania keluar dari pintu samping masjid. Sama halnya dengan Akhri, pria itu langsung memasukkan surat Maryam kedalam saku Koko gamisnya. "Aku pulang duluan ya Bang..."


"Ya, Sil. Terimakasih, ya..."

__ADS_1


🥀🥀🥀


Akhri mencari tempat menyendiri, yaitu ruangan baca di rumah Ummi-nya. Beliau menatap sejenak sepucuk surat yang sudah ada di tangan.


Rasa rindu kembali bergemuruh, sehingga secepatnya Beliau mengeluarkan surat itu dari dalam amplop.


Untuk Ustadz Akhri...


Assalamualaikum, Ustadz. Apa kabar?


Maaf, saya mengirim surat ini. Tanpa bermaksud macam-macam. Hanya saja, mendengar satu kabar yang tidak baik, membuat Merr harus bilang sama Abang.


Benarkah, Abang saat ini tidak lagi mau berdakwah? Kenapa?


Akhri hanya membaca di dalam hatinya, tanpa bibir itu turut bergumam. Sementara netranya menatap sendu, menampung sedikit air di sudut matanya.


Jujur saja, Merr lebih senang kalau Abang bisa menjalani hidup dengan baik. Seperti diriku. Yang sudah mulai mampu menata hidupku dengan baik...


Pria itu menghela nafas, setelah itu menutup matanya. Terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali membaca dengan lunglai.


Abang sering bilang sama Merr dulu; kalau kita telah melakukan kesalahan... lalu kita menyesal? maka jangan jadikan penyesalan itu malah justru menumbuhkan kesalahan yang lain.


Maaf... Aku pula tahu, Abang sedang ada masalah sama Nia juga, 'kan? Kenapa Bang...


Aku kenal Abang, sebagai suami paling sabar untuk menghadapi perangai ku selama ini. Aku juga ingat, Abang bilang padaku; kalau istri itu terbuat dari tulang rusuk yang paling bengkok. Itu sebabnya Abang berusaha memahaminya.


"Bengkok mu tidak seperti Dia, Dik..." gumam Akhri, sebelum kembali membacanya.


Abang jangan terus condong kebelakang, ya... Hidup Abang harus kembali berjalan normal. Abang harus mencintai Nia seutuhnya demi Hussein. Seperti pesan Abang kepadaku, kalau Merr harus bahagia. Itu pun berlaku bagi Abang... yang juga harus bahagia dengan anak dan istri Abang.


Akhri sudah tidak sanggup membaca lanjutnya. Beliau lantas melipat lagi suratnya dan memasukkannya ke dalam amplop.


Nafasnya berhembus cepat, menghalau sesak. berselang beberapa menit ia mendengar suara ketukan pintu.


Nia masuk dengan air mata bercucuran. "Bang, ayo bicara dari hati ke hati. Nia sakit di diemin terus. Nia mohon ampun, Bang..."


Akhri masih terdiam, membiarkan wanita itu semakin mendekati lalu berjongkok di bawah kakinya.


"Maafkan Nia, Bang. Sudah cukup Abang memberikan Nia hukuman. Sekarang Nia pasrah kalau Abang memang mau menceraikanku..." Wanita itu sesenggukan. "Kalau Abang mau balik lagi sama Cece juga nggak papa... Abang masih boleh bertemu Hussein."


Akhri menyentuh pundaknya, lalu mencium kepala Nia. "Bangun sini..."


Nia menuruti, bersamaan dengan beliau yang juga turut beranjak. Akhri memeluk tubuh Nia.


"Maafkan Abang juga, sudah sampai seperti ini. Abang seharusnya tidak melakukan ini sama kamu... Abang hanya sedang merasakan sakit."


Kania semakin terisak-isak di dalam pelukan suaminya.


"Abang tidak akan menceraikanmu. Tidak pula demi siapapun... Abang akan berusaha memperbaiki hubungan kita. Kita mulai semuanya lagi. Kamu mau bantu Abang bangkit lagi, 'kan?"

__ADS_1


Kania mengangguk-angguk. Tangisnya membuat Dia tidak bisa menjawab lagi. Akhri pun mencium pucuk kepalanya, cukup lama. Sembari memejamkan mata.


Merr benar... Aku sudah kehilangan Dia karena kesalahanku. Meratapi kesalahan yang kemarin lantas membuat kesalahan yang sama di hari ini, itu sama saja aku terjun ke lubang yang sama. Kini saatnya aku memperbaiki yang masih ada. Nia pasti punya alasan kenapa bisa sampai seperti itu. Ku harap aku bisa menyerahkan seluruh hatiku untuk Nia, yang sudah menjadi satu-satunya istriku sekarang.


__ADS_2