Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
keikhlasan Akhri


__ADS_3

Semenjak di vonis Kanker. Hidup Nia tak lagi sama. Penuh dengan kesedihan yang terkadang membawanya pada suasana hati yang tidak baik. Kerap jengkel secara tiba-tiba, atau bahkan lebih cemburuan yang terkadang menguras kesabaran.


Akhri mencoba memahami, namun terkadang dirinya lepas kontrol juga. Sehingga mendiami Nia untuk sesaat menjadi pilihan.


Namun, bukan hal baik yang menjadi ujungnya. Malah justru, anak-anak lah yang menjadi imbas. Seperti saat ini, Nia bicara sembari menangis kepada si bungsu jika anak itu sebentar lagi akan tinggal bersama Nini sebab usia Ummi-nya yang sudah tidak lama lagi.


Hal itu jelas membuat Akhri menyayangkan sikap Nia. Kenapa harus berkata sesuatu yang membuat anak-anak mereka sedih. Untunglah si bungsu belum begitu paham, ia hanya merengek meminta tetap tinggal di sini bersama Ummi dan Abinya.


Sore harinya...


Akhri membuka pintu kamarnya dengan Nia. Hal itu membuat Nia yang sudah berada di dekat pintu sedikit terkejut. Karena niat hati ia ingin mengunci pintu kamar mereka sebelum membersihkan lukanya.


"Abang ngapain masuk?"


"Ya Abang mau kekamar, mau nemenin kamu."


"Nggak perlu. Abang mending keluar dulu deh, aku mau membersihkan luka ku."


"Kebetulan, sini biar Abang bantu bersihkan."


"Nggak usah! Aku bisa sendiri."


"Dik, jangan gitu dong. Abang minta maaf deh, jangan ngambek terus ya."


Nia memalingkan wajahnya, seraya berjalan menjauh dan duduk di meja riasnya. Akhri sendiri langsung mengunci pintu kamar lalu mendekati istrinya. Setelah itu meraih cairan pembersih luka dan juga kasa.


"Sini biar Abang aja yang bersihkan. Kalau kamu sendiri pasti kesusahan."


"Nia bilang nggak usah! Lagian Abang nanti jijik liatnya." Nia merebut kasa di tangan suaminya. "Sini bang cairan pembersih lukanya."


"Nggak akan Abang kasih." Akhri menjauhkan.


"Abang kok gitu sih, aku butuh itu Bang!" Hentaknya, namun seketika memalingkan wajah saat mendapati tatapan Akhri kepadanya.


"Dik, Abang mau kamu lebih lemah lembut lagi. Coba jangan seapa-apanya marah seperti ini."


"Ck!" Nia beranjak meninggalkan Akhri dan pindah duduk di atas ranjangnya. Pria itu menghela nafas, ia meraih kotak obat di atas meja lalu membawanya ke dekat Nia.


"Sini Abang bersihkan dulu." Akhri menyentuh kancing baju di bagian dada Nia namun di tahan oleh si pemiliknya. "Dik–"


"Nggak mau, Nia tuh malu kalau Abang liat luka Nia," rengeknya.


"Ngapain malu, kan Abang udah pernah liat lukanya seperti apa." Akhri berniat membukanya lagi namun niat tetap menahannya.

__ADS_1


"Tapi hari ini lebih menjijikan. Nia sendiri aja jijik liatnya."


"Nggak akan Abang jijik, Dik. Makanya sini Abang liat dulu."


"Nggak mau! Udah Abang keluar aja sana," Nia mendorong pelan tangan suaminya. Yang seketika itu malah justru mendapatkan pelukan hangat dari Akhri.


"Jangan seperti ini, Dik. Abang benar-benar tulus mau ngerawat kamu."


"Abang bohong!! Abang kan sudah berkali-kali mau menceraikan Nia. Sekarang Abang harusnya membiarkan Nia seperti ini biar cepat berpulang."


"Astagfirullah al'azim, Nia."


"Udah Abang lepasin Nia aja, keluar sana." Rengeknya, namun tak diindahkan oleh sang suami. Beliau malah justru mengecup kepalanya cukup lama, mencoba meredam emosi Nia saat ini.


Kalau Abang boleh jujur? Abang itu sudah tidak bisa sabar dengan sikap mu yang seperti ini. Tapi Abang tidak ingin, melukaimu lagi. Abang akan berusaha sabar, merawatmu sampai sembuh. Berharap Abang bisa menunjukkan bukti cintanya Abang sama kamu saat ini.


Akhri melepaskan kecupannya lalu menunduk, mengangkat dagu sang istri. Tatapan gugup Nia pun terarah kepadanya. Bersamaan dengan senyum tulus Akhri.


Bang Akhri tersenyum amat indah kepada ku? Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Senyum yang selalu beliau arahkan kepada mantan istri pertamanya dulu sekarang terarah untukku. (Nia)


Wanita itu melepaskan tangan suaminya lalu memalingkan wajah.


"Dik, Mau kan kalau Abang yang mengobati?"


Ya Allah... semakin parah saja. Kasian kamu, Dik.


"Jijik kan? Abang pasti berubah pikiran. Udah mending nggak usah, nanti malah Abang nggak doyan makan." Nia melepaskan tangan sang suami yang masih memegangi pakainya, namun Akhri malah justru mengecup bagian atas dadanya yang mengalami pembengkakan itu. Sontak hal itu membuat Nia terkejut, namun terharu juga. Ia menggigit ujung bibirnya sendiri merasa tidak nyaman karena khawatir Akhri pasti mencium aroma tidak sedap dari lukanya.


Jantungnya seolah semakin berdebar kencang. Hatinya kembali berdenyut. Nia menitikkan air mata.


"Abang nggak jijik, kok," kata Beliau kemudian. Nia sendiri tidak mampu lagi menjawab ia membiarkan Akhri menyibak pakaiannya hingga ke bahu. Setelah itu meraih kasa dan botol berisi cairan pembersih luka.


"Pelan-pelan, Bang," gumamannya.


"Iya, Abang pelan-pelan." Akhri mulai menyentuh luka itu dengan kain kasanya pelan, dengan sesekali melirik ke arah Nia. "Sakit, nggak?"


"Sedikit... tapi nggak papa," jawabnya. Akhri pun tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, tatapan Nia tertuju pada sang suami yang hanya terlihat bagian rambutnya. Karena kepala beliau sedikit tertunduk.


Seulas senyum di terbitkan, Nia senang suaminya kini bersikap manis. Namun sedih juga, karena penyakitnya itu membuat tubuhnya mungkin akan semakin tidak indah di lihat.


Setelah selesai membersihkan luka, Akhri menata lagi. "Mau ganti baju, nggak?"


"Nanti aja. Lagian ganti baju juga nanti kotor lagi kena nan*h."

__ADS_1


"Nggak papa, kan nanti kalau basah tinggal ganti lagi. Kamu harus selalu ganti pakaian supaya nggak menimbulkan bakteri, ya?"


"Iya, Bang."


"Abang ambil dulu bajunya." Akhri beranjak menuju lemari pakaian. Beliau meraih salah satu pakaian Nia setelah itu membantu melepaskan baju yang masih di pakai istrinya, sebelum mengganti dengan yang baru.


Tak hanya itu Beliau juga mengambil sisir sebelum melepaskan ikat rambut di kepala Nia. Rambut panjangnya terurai, namun agak sedikit kusut karena semenjak sakit Nia jarang membersihkan rambut dan menyisirnya.


"Susah ya, Bang?" Tanya Nia, karena ia merasakan sekali kakunya pria itu menyisir rambutnya.


"Enggak, kok. Ini Abang bisa." Akhri mencium pucuk kepala Nia dengan penuh kelembutan membuat yang di perlakukan seperti itu tersenyum.


"Bang? Abang pasti baik sama Nia karena Nia sakit, ya?"


"Kok gitu tanyanya? Jelas enggak, Dik." Akhri masih fokus menyisir.


"Kalau enggak, kenapa baru sekarang Abang perhatian seperti ini? Kan curang aku cuma merasakan kasih sayang Abang sebentar."


"Nia... jangan bicara seperti itu. Abang nggak suka dengernya. Kamu pasti sembuh, Abang yakin. Asal kamu mau nurut sama Abang. Kita jalani apa yang dokter sarankan untuk kamu. Jangan menunda lebih lama lagi."


"Aku takut menjadi semakin jelek di depan Abang," jawabnya.


"Cinta itu nggak memandang fisik. Apalagi kalau cintanya karena Allah... Abang yakin nggak akan pernah berkurang, bahkan bertambah," tuturnya sembari fokus mengikat ulang rambut Nia yang sudah ia sisir rapi.


Nia hanya diam saja, hatinya sedang merasakan sensasi yang ia sendiri menepisnya. Menganggap tidak ada gunanya lagi untuk merasa tersanjung. Karena ia pikir suaminya pasti berbohong. ucapannya itu hanya pemanis saja.


"Besok potong rambut, ya?" Ucap Akhri mengalihkan. Nia pun menggeleng memberi tanda penolakan. "Kenapa?"


"Nggak mau, aku nggak mau potong rambut. Lagi pula kalau kemo, nanti rambutku juga akan habis. Aku cuma mau mempertahankan rambut panjang ku walaupun hanya sesaat.


Akhri terdiam, Beliau kembali turun dari ranjang hanya untuk berjongkok menghadap Nia.


"Kamu mau, kemoterapi?"


"Abang sudah berminggu-minggu membujukku. Dan aku bosan mendengarnya."


"MashaAllah..." Akhri berbinar.


"Abang kelihatan senang aku mau di kemo? Pengen cepat-cepat lihat aku botak?"


Akhri terkekeh pelan. "Enggak lah, Abang senang. Karena semakin cepat kamu di obati maka semakin besar pula peluang kamu untuk sembuh, Dik."


Nia menarik separuh bibirnya, tersenyum samar. Namun setelahnya Akhri beranjak hanya untuk memeluk istrinya. Sembari berbisik bahwa ia ingin Nia sembuh dan mendampingi dirinya hingga menua bersama, hal itu pula membuat semangatnya untuk sembuh muncul. Iya demi cinta Akhri yang ingin lebih lama ia rasakan, juga anak-anak. Dia harus bisa sembuh.

__ADS_1


__ADS_2