
Suasana semakin sore, area pantai pun sepertinya nampak semakin rame. Terlihat dari mulai banyaknya pengunjung pantai yang berdatangan. Bilal menoleh kearah arloji di tangannya.
"Yang, udah mau masuk Ashar, nih. Kita keluar dulu cari masjid yuk," ajaknya.
"Ayo A'..." Merr bangun dari posisi duduknya. Di bantu oleh Bilal yang turut memegangi tangan. Beliau pun membenahi tripod dan juga kameranya kedalam tas berukuran sedang. Setelah itu menggantungnya lagi di bahu. Tangan Beliau yang satu bergegas meraih tangan Merr, menautkannya.
–––
Sampai di masjid, Bilal mengeluarkan tas yang lain, yang berisi pakaian ganti untuknya sholat.
Beliau pula lantas menyerahkan mukenah milik Maryam.
"Sayang, punya kamu nih..." Tuturnya, Merr pun meraihnya sembari memegangi tas Bilal sejenak. Karena Beliau sedang menutup kembali pintu bagian belakang mobilnya. "Yuk..."
Mereka berjalan bersama dari parkiran itu sampai ke depan masjid setelah itu berpisah menuju area whudu masing-masing.
Setelah Bilal mengganti busana santainya dengan Koko gamis yang bersih dan bagus, Beliau segera memasuki area utama masjid. Tak lupa pula membaca doanya.
Sejenak mengambil posisi untuk melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid dua reka'at.
selesai salam beliau sudah di dekati salah satu pengurus masjid yang sedang duduk dengan posisi di antara dua sujud.
Bilal menoleh, pria itu langsung meraih tangan Bilal dan mencium punggung tangannya.
"Habib... MashaAllah."
Bilal pun menarik cepat sebelum sempat di cium oleh beliau. Setelah itu tersenyum.
"Bib, mohon maaf. Antum di minta untuk mengimami."
"Saya ma'mum saja..."
"Ini permintaan imamnya langsung, Bib." Bisik beliau.
Bilal pun menoleh ke arah beberapa jama'ah. Beberapa di antaranya langsung mengerumuninya, mengajak beliau bersalaman.
"Silahkan, Bib. Antum saja," kata si imam masjid. Bilal pun menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, mengiyakan. Setelah itu beranjak lalu Berjalan menuju mihrab. Sementara Mu'azin sudah sigap mengumandangkan Iqamah.
.
.
__ADS_1
.
Selesai sholat Merr menunggu cukup lama di depan masjid. Seperti biasa, jikalau mendatangi tempat umum dan di daerah itu banyak yang mengenali suaminya, pasti akan memakan waktu cukup lama untuk berbincang dengan suaminya.
Suasana masjid amatlah sejuk dan nyaman. Membuatnya tidak bosan menunggu sang suami di dalam. Ia memilih untuk membuka ponselnya, melihat-lihat foto-foto tadi bersama Bilal di pantai. Bibirnya sesekali tersenyum.
Ia pun memperbesar gambar suaminya lalu mengusap wajah dalam gambar itu.
"Ganteng, ya?" Seseorang mengejutkannya di belakang. Merr segera menoleh, dan mendapati pria yang sedang menaik-turunkan alisnya sekali. Berjongkok di belakangnya.
"Ya Allah, A'a ngagetin."
Bilal tertawa. "Lama nungguin, ya?"
"Lumayan, tapi nggak papa." Maryam meraih tangan suaminya menggenggam telapak tangan itu dengan kedua tangannya.
"Waktu sih masih lama, tapi A'a mau reservasi tempat dulu. Soalnya takut penuh nanti pas menjelang buka."
"Iya–"
"Nanti setelah reservasi, kita jalan-jalan ke taman atau kemana gitu yang penting dekat dari resto, ya."
Selesai melakukan reservasi mereka pun berjalan-jalan lagi di salah satu taman kota yang lumayan luas dan ramai orang melakukan aktivitas ngabuburit.
Bilal belum sempat mengganti pakaian lagi, dan masih merasa nyaman dengan Koko gamisnya. Karena baginya tadi ribet jika harus ganti baju santainya lebih dulu.
Merapikan rambut sejenak, sebelum memasang kembali peci berwarna hitam di kepalanya.
"A? Aku mau nanya, dulu Abi meninggal itu saat A'a usia berapa?"
"Berapa, ya? Pokoknya A'a dulu masih kecil lah. Kayanya sekitar tiga tahun."
"Ya ampun, A'a tiga tahun sudah ada Farah dan Hafiz?"
"Farah masih usia satu tahun setengah, terus Ummi masih hamil Hafiz."
"Ya Allah... pasti Ummi dulu sedih banget, ya? Jadi inget cerita A'a yang pas seminar dulu. Ummi menangis setiap malam saat sedang sholat."
Bilal tersenyum, ia mengusap kepala Maryam. "Itu ujian keluarga kami, dulu. Ummi bekerja sambil nitip jualannya di koperasi tempatnya mengajar. Sementara itu kami semuanys di titipkan di rumah Uwa Huda kalau Ummi lagi ngajar."
Maryam manggut-manggut, ia mendengarkan cerita Bilal yang benar-benar membuatnya tersentuh.
__ADS_1
"Dulu di rumah Uwa Huda, tuh? A'a sering sedih. Karena, kalau mau pinjam mainannya A' Musa nggak di bolehin sama yang punya. Jadi kadang cuma bisa liat doang gitu sambil duduk sama jagain Farah. Karena Uwa Siti fokus jagain Hafiz."
"Ya Allah, suamiku."
Bilal tak melanjutkan, menurutnya banyak kisah getir yang ia rasakan saat masih kecil. Di mana ia suka sedih ketika acara keluarga, atau lebaran hanya Dia sendiri yang tak memiliki ayah. Di tambah, saat teman-teman sebayanya memiliki banyak mainan baru, ia harus menahan keinginannya itu agar Ummi tidak sedih dan bingung. Karena kebutuhan untuk si bungsu lumayan banyak.
Sejujurnya, ada beberapa bidang tanah milik almarhum sebagai peninggalan. Namun pada saat itu, Isti tidak berniat menjual barang satu meterpun. Baginya, itu milik anak-anak. Dan untuk saat itu, mau sesulit apapun kondisi keuangannya, ia tidak akan menjualnya dengan alasan memenuhi kebutuhan.
Namun sekarang, seiring berjalannya waktu semua tanah itu sudah berkembang menjadi beberapa kontrakan yang seluruh pintunya berpenghuni, dan beberapa toko yang di sewakan. Berderet di pinggir jalan dengan lokasi yang strategis. Yang tentunya menghasilkan uang tak sedikit, belum lagi usaha katering Ummi Isti yang semakin ramai peminatnya.
Bilal kembali mengenang masa lalunya, saat kaki kecil itu berjingkrakkan senang. Sembari membawa bungkusan besar di tangannya.
"A'a dulu inget, pernah girang banget waktu pulang dari TPQ. Sembari bawa pulang bingkisan anak yatim. Sampai rumah Ummi malah nangis..." Bilal terkekeh. Namun pandangan Maryam merespon lain, matanya berkaca-kaca. "Ummi itu paling nggak mau dikasihani. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga di kasih. Nah, semenjak saat itu Ummi jadi berpesan ke pengurus TPQ dan juga sekolah. Kalau ada acara besar anak yatim. Semua anak-anaknya di minta untuk tidak masuk data sebagai penerima bingkisan."
"Iya sih, pastinya agak merasa miris gimana gitu," gumam Maryam. Bilal mengangguk, untuk dulu Dia mungkin tidak paham. Tapi sekarang Dia sudah paham.
"Sekarang makannya. A'a tuh sayang banget sama anak-anak yatim. Apalagi yang masih kecil-kecil di bawah usia sepuluh tahun. Karena tahu lah, seperti apa sakitnya dulu. Itulah kenapa A'a senang di panggil Abi oleh mereka, supaya mereka bisa merasakan punya Abi walaupun, bukan Abi yang sesungguhnya."
"MashaAllah–"
"A'a punya cita-cita. Pengen bangun rumah panti sendiri. Tapi benar-benar A'a dan istri A'a yang urus. Gimana, kamu setuju?"
Maryam tersenyum, ia mengangguk cepat.
"Tapi nggak tahu kapan sih. Tunggu A'a udah nggak begitu sibuk. Seenggaknya, jadi kamu nggak begitu memikirkan tentang anak. Karena bagi Islam, anak yatim-piatu itu, adalah anak kita semua. Kita wajib menjaga dan menyayangi mereka. Tahu kan? Barang siapa yang mencintai anak yatim, maka ia paling dekat dengan Rasulullah Saw di surga."
Merr mengangguk. Menggenggam kuat tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu.
"MashaAllah... Merr beruntung punya A'a. Sikapnya dewasa..."
Bilal tertawa. "Mungkin karena keadaan, membuat A'a harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Tapi A'a juga bersyukur karena pernah merasakan masa-masa sulit itu. Setidaknya, A'a tidak tumbuh menjadi anak yang keras dan tinggi hati. Sehingga mudah memandang sesuatu dengan sebelah mata."
"Iya, A'a... MashaAllah." Merr bergumam. Memandangi wajah sang suami.
Makin kesini, letak perbedaan antara Akhri dan Bilal semakin terlihat jelas. Dengan Akhri dulu, Dia masih seperti saat hidup dengan keluarganya di Bandung. Berkecukupan harta dan sebagainya. Namun dengan Bilal, ia banyak belajar tentang kesederhanaan.
Dua orang yang sama-sama baik, dan Soleh. Namun, sepertinya rasa kagumnya justru lebih condong pada Bilal yang bisa di bilang, memiliki sifat lebih dewasa dari Akhri. Sikap tak mudah marahnya Bilal berbanding terbalik dengan Akhri yang sedikit pencemburu. Pasalnya, sering kali mantan suaminya itu tiba-tiba mendiaminya hanya karena cemburu. Namun berbeda dengan Bilal.
Ngomong-ngomong A'a pernah cemburu nggak sih sama aku?
Mendadak Maryam jadi ingat satu hal, padahal beberapa kali Dia tidak sengaja menyebutkan satu momen dengan Akhri. Seperti saat jajan lontong sayur di satu hari sebelum ramadhan. Ia keceplosan sering makan ini saat masih bersama Akhri. Namun Bilal hanya menggodanya sedikit setelah itu biasa lagi. Jika itu Akhri, mungkin akan membuatnya berusaha keras membujuknya yang tengah merajuk.
__ADS_1