
Bulan demi bulan kembali berlalu. Merr sepertinya semakin kerasan tinggal di rumah mertuanya. Tak ada kesan buruk selama dia di sana. Walaupun terkadang Ummi suka mendadak seperti banyak diam. Tapi ia menganggap itu hal wajar. Sebab lelah dan pusingnya Ummi dengan pesanan kateringnya pasti akan membuat moodnya kadang tidak baik.
Hari ini pesanan sebanyak seratus lima puluh kotak, dikloter pertama sudah di kirim, sementara pesanan dua ratus dikloter kedua akan siap. Pegawai Ummi pun sudah di tambah, dulunya hanya dua orang sekarang sudah sekitar lima orang. Jadilah pekerjaannya sedikit lebih ringan.
Ummi mencicipi sambalnya sebelum kuali berukuran cukup besar itu di angkat.
Beberapa yang lain mulai menata nasi yang di cetak menggunakan mangkuk kecil ke atas daun pisang, karena nasi akan di bungkus sedikit mengkerucut dengan daun pisang sebelum di masukkan kedalam boks nasi.
Merr yang baru selesai dengan pekerjaannya berjalan memasuki dapur. Ia pula langsung mendekati ibu mertuanya yang sedang duduk di meja makan sembari mencatat sesuatu.
"Ummi maaf, ya. Merr baru keluar kamar. Habis revisi banyak sekali."
Isti tersenyum sembari melepaskan kacamatanya. "Nggak papa. Kamu sendiri udah makan belum? Kayanya baru makan sarapan pagi tadi, ya?"
Merr mengangguk pelan.
"Ya udah makan dulu. Seenggaknya kamu itu harus makan dengan teratur, ya. Jangan suka nunda-nunda."
"Iya Ummi..."
"Makan yang banyak, pokoknya. Ummi selesaikan nulis nota dulu."
Merr kembali mengangguk. Ia berjalan mendekati rak piring lalu mengambil gelas yang tergantung dicantelan. Suara mobil terdengar di luar, membuat senyum Ummi terpancar ceria.
"Merr, itu kayanya Farah deh."
"Sepertinya, iya Ummi. Soalnya barusan ngabarin, mau datang kemari."
"MashaAllah..." Ummi menutup bukunya lalu beranjak dari tempat beliau duduk melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
Di luar Isti menyambut anaknya yang tengah berjalan pelan mendekati. Tangannya memegangi perut yang sudah nampak besar karena hanya tinggal menghitung-hitung hari saja. Anak pertama Aiman dan juga Farah akan lahir.
"Assalamualaikum, Ummi."
"Walaikumsalam, MashaAllah. Seharusnya jangan kemana-mana lagi, perut kamu udah besar loh..." Isti mencium kedua pipi Farah setelahnya menyentuh perutnya sembari mendoakan.
"Nggak papa, kan kangen Ummi. Udah dua Minggu nggak kesini," jawab Farah.
"Ya... tapi kan bisa telfon Ummi. Nanti biar Ummi yang kesana di temani Hafiz."
Farah terkekeh, mengusap-usap tangan Isti. Bergantian pula dengan Aiman yang langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Kamu lagi libur, ya?"
"Iya Ummi, soalnya dua hari lagi masuk HPL. Jadi Aiman ambil cuti, takutnya Farah lahiran pas Aiman lagi nggak di rumah."
"MashaAllah..." Isti manggut-manggut.
"Ummi, nanti kalau aku lahiran Ummi temani aku, ya?"
"Pasti sayang, Ummi akan nemenin kamu. Khusus untuk satu Minggu ini aja, Ummi nggak nerima orderan. Hari ini terakhir," ucapannya membuat Farah senang. Mereka pun masuk bersamaan ke dalam rumah yang sekarang sudah lebih besar dari pada rumah mereka di lima tahun yang lalu.
Di dalam Merr langsung menyambutnya. Memeluk tubuh Farah lalu mengusap perutnya yang buncit.
"Ya ampun, gemes banget..."
"Hehehe, Kalau malam aktif banget tau, Teh."
"Oh, ya?" Merr bersemangat. "Terakhir di USG sudah keliatan belum jenis kelaminnya apa?"
"Udah! laki-laki," jawabnya semangat.
"MashaAllah..."
"Bang Aiman seneng banget pas tau anaknya laki-laki."
"Katanya udah nggak sabar pengen sholat Jum'at ajak anaknya." Farah tertawa sama halnya dengan Maryam.
"Mudah-mudahan sehat semuanya. Ya Allah, rasanya hamil itu seperti apa sih?"
Farah meredam tawanya. Ia menatap iba kearah Maryam yang malah justru terlihat berbinar menunggu jawaban.
"Yang pasti bahagia, walaupun terkadang ada rasa nggak nyamannya, dan juga takut. Terlebih saat udah masuk bulannya seperti sekarang."
"MashaAllah," gumam Merr yang masih menyentuh perut Farah. Sejenak ia seperti merasakan gerakan. "Far, bergerak."
"Iya." Farah menunduk melihat perutnya sendiri. "Dia gini kalau di ajak duduk, kadang kaya gerak terus. Mungkin jadi lebih sempit, ya? Tapi kalau di ajak jalan-jalan anteng, Teh."
"Suka di ajak jalan-jalan berarti."
"Iya, tapi kan engap juga kalau jalan-jalan terus." Tertawa. "Teh, katanya lagi garap novel baru, ya?"
Maryam tersenyum, lalu mengangguk. "Baru saja hari ini aku selesai revisi banyak sekali."
__ADS_1
"Penasaran pengen baca." Farah menggoyangkan tangan Maryam.
"Boleh, nanti deh kalau udah selesai ya."
Farah manggut-manggut. Mereka masih mengobrol kesana-kemari hingga terdengar adzan ashar. Mereka semua pun bersiap untuk turut jama'ah di masjid yang berada di depan rumah mereka.
–––
Langit masih namlak terang. Pukul empat sore ini Farah dan Aiman berpamitan untuk pulang. Sebenarnya Isti agak berat, entah mengapa perasaan mendadak tidak enak.
"Menginap saja, ya. Ummi kok gimana gitu."
"Ummi, berdoa saja. Mungkin perasaan tidak enaknya Ummi karena ada sesuatu yang mau keluar. Bisa jadi malam ini aku lahiran," Farah menanggapi dengan mata berbinar.
"Semoga saja, pokoknya Ummi nggak akan bisa tidur nih malam ini. Takut kamu atau Aiman telfon Ummi. Pokoknya langsung kasih kabar!"
"Iya, Ummi. Ya udah, Farah pulang dulu takut keburu magrib. Agak gerimis juga, nih." Farah meraih tangan ibunya, menciumnya cukup lama. Setelah itu Isti pula langsung mencium kedua pipinya. Bahkan sampai menitikkan air mata. "Ummi jangan nangis, Farah kan cuma pulang ke Rumah."
"Iya..." jawabnya sembari mengusap air matanya.
"Mi, kami pulang dulu."
"Aiman... hati-hati ya. Nyetirnya pelan aja, jangan ngebut."
"Iya, Ummi. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Isti melepas anak dan menantunya itu dengan perasaan sedikit berat. Bahkan semakin mobil itu menjauh, semakin kuat pula rasa khawatirnya. Hingga gumam istighfar terus ia ucapkan dengan bibirnya.
"Ummi, masuk yuk. Gerimis," ajak Maryam.
"Duh, perasaan Ummi beneran nggak enak, Merr."
"Berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa."
"Aamiin..." Keduanya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sama masih was-was.
––
Di sisi lain, hujan sepertinya mengguyur dengan derasnya setelah keluar dari kawasan tempat tinggal orang tua Farah membuat jarak pandangnya terbatas.
"Pelan-pelan, Bang." Farah mendadak ngeri. Berbicara sembari mengusap perutnya sendiri.
__ADS_1
"Iya," jawab Aiman yang sedang fokus membawa laju mobilnya. Baru beberapa kilometer mobil itu melaju, Aiman di kejutkan dengan sebuah Dump truk dari arah berlawanan yang nampak oleng meliak-liuk. "Astagfirullah al'azim..."
"Astagfirullah, Baaaang!" Farah memejamkan matanya, saat Aiman berusaha menghindari mobil Dump yang justru menabrak sisi samping mobilnya. Sehingga mobil yang di kendarainya sedikit terseret cukup jauh sebelum akhirnya terguling di pinggir jalan.