
Perjalanan berlanjut, sementara waktu masih menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit.
Sesekali Bilal menoleh ke sisi samping. Wanita yang tidak pernah merubah warna pakaiannya selain serba hitam jika bepergian. Serta cadar yang setia beliau kenakan. Membuat Bilal tercenung.
Sudah berpuluh-puluh tahun sendiri tanpa pasangan hidup. Mengemban segala beban hidupnya tanpa sedikitpun memudarkan senyum yang hangat, khas seorang ibu. Bekerja tanpa kenal lelah, bahkan dari malam sampai pagi pun sering, apabila sang pemesan meminta nasinya di kirim pagi sebelum jam tujuh. Maka sebelum subuh semuanya harus sudah siap.
Isti atau orang lain akrab menyebutnya Anisa bukanya tidak laku. Pasalnya hingga saat ini saja sudah tak terhitung banyaknya pria salih yang ingin memperistrinya.
Ya, jika di tanya; Ummi hanya akan tergelak sembari menjawab. Ummi sudah ada yang menjaga serta mencukupi. Yaitu Allah SWT. Jadi Ummi tidak butuh siapapun lagi.
Benar ... keputusan untuk mendedikasikan sisa hidupnya demi ketiga anaknya tidaklah main-main. Dengan keringat dan air matanya di setiap sepertiga malam, Isti selalu berharap hidupnya akan baik-baik saja walaupun tanpa sosok yang di sebut suami.
Bahkan ia yakin, atas izin Allah akan mampu menggiring anak-anaknya selamat melewati berbagai macam perhiasan serta fitnahnya dunia.
Ya... beliau bukan wanita tak berilmu, beliau paham di masa terdahulu banyak wanita-wanita salihah yang tinggal sendirian tanpa suami. Bisa menghidupi anak mereka. Bahkan ada yang menjadi imam besar dan orang-orang hebat lainnya. Intinya yakin untuk menyerahkan sang anak di jalan Allah. Apapun yang terjadi.
Yang pasti, Isti tidak ingin. Misinya meneruskan perjuangan suami untuk mendidik anaknya terganggu hanya untuk melayani suami keduanya.
Ya, mungkin benar. Bisa saja Dia terbantu apabila suaminya juga sama-sama salih dan adil dengan anak beliau ataupun anak-anak yang di bawa Isti. Namun, tidak sedikit 'kan? Anak bawaan justru tak terurus lantaran banyaknya hal. Cekcok antara ayah tiri dan anak bawaan istri pun kerap ia dengar. Yang mirisnya sampai sang ibu tega mengusir anak kandungnya demi pernikahan kedua itu tetap berjalan semestinya. Nauzubillah...
Isti senantiasa berpikir panjang dalam urusan itu. Baginya, sudah cukup hidup berempat. Dengan menggenggam keyakinan kuat akan sifat-sifat Agung Allah di sembilan puluh sembilan namaNya, sebagai petunjuk dan tempatnya meminta pertolongan.
Toh hingga saat ini, mereka tidak pernah kekurangan. Walaupun pernah, itu tidak terlalu. Keimanan membuatnya senantiasa merasakan bersyukur. Itulah kunci kebahagiaannya selama ini.
–––
Mobil menepi ke salah satu tempat yang tak terlalu ramai, namun sejuk juga indah. Membuat Ummi terkekeh sendiri.
"Ummi ketawa, kenapa?"
"Enggak papa, hanya saja. Kamu jadi nggak laku nanti."
"Maksudnya, Mi?"
"Ya, sering jalan sama Ummi begini. Orang akan melihatmu sudah punya istri." Terkekeh lagi. Bilal pun membalas dengan senyuman.
__ADS_1
"Nggak papa ... memang Ummi kekasih pertama dalam hidup Bilal, kok." Bilal langsung menggandeng tangan Ummi Isti ke salah satu bangku yang kosong. Isti pun tak menjawab, sang anak benar-benar lembut dan perhatian. Sama persis seperti A' Utsman. Hatinya mendesis, kala mengingat kebaikan beliau. Momen kebersamaan yang singkat namun berkesan baik.
"Tempat ini lama nggak Ummi datangi. Kalau di pikir-pikir, kayanya dulu pernah kesini sama Almarhum," tuturnya sembari duduk.
"Oh, ya? Kapan, Mi?"
"Kalau nggak salah ... waktu hamil kamu, deh. Apa sebelum hamil, ya? Ummi lupa, soalnya udah lama... intinya berdua sama Abi."
"Wah... Bilal jadi bikin Ummi mengenang Abi."
"Nggak papa, Ummi seneng. Dulu tuh, waktu pertama menikah Ummi canggungnya bukan main, ya mau gimana lagi. Abi kamu juga kaku tapi senyumnya indah." Ummi Isti mengatup kedua pipinya sendiri. Pandangannya menatap lurus kedepan. "Dia pernah mau noleh ke Ummi tapi kaya ragu pas baru ijab qobul. Begitu Ummi noleh juga Abi kaya salah tingkah, senyumnya aja kaku dan singkat banget. Cuma separuh bibir yang tersungging. Setelah itu langsung nunduk, tapi Ummi tahu ... Abi kamu senyum lagi."
Bilal mendengarkan cerita Ummi-nya sembari tersenyum. Ia bisa membayangkan betapa bahagianya mereka berdua, dulu. Hanya dengan melihat ekspresi wajah ibunya.
"Ummi berusaha sekali, untuk menjadi wanita Solehah. Biar pantas di sandingkan sama Abi lagi di akhirat. Soalnya Ummi takut, Abi masuk surga tapi Ummi enggak."
"Ummi pasti masuk surga, inshaAllah..."
"Aamiin..." Isti mengusap salah satu sudut matanya yang menggenang. "Sudahlah jangan bahas lagi, Ummi jadi kangen Abi nih..."
"Nggak usah, mending kita pulang aja. Takutnya, Maghrib belum sampai rumah." Pinta Isti, Bilal pun mengangguk.
***
Sebab makam habib Utsman agak jauh dari rumah mereka hingga memakan waktu hampir satu jam. Di tambah saat ini mereka terjebak macet di salah satu kawasan. Membuat keduanya sedikit telat melaksanakan sholat Maghrib.
Keluar dari zona macet, Bilal segera menepikan mobilnya ke salah satu masjid.
"Yuk, Ummi." Ajaknya sembari menunggu Ummi-nya menutup pintu mobil. Baru beberapa langkah mereka berjalan, Bilal melihat Ustadz Irsyad dan istrinya. "Ummi ... itu pak ustadz Irsyad, bukan, ya?"
"Iya, benar. Itu Pak Irsyad." Keduanya masih melangkah, hingga semakin dekat Isti mengangguk sekali. "Assalamualaikum Pak Irsyad." Panggil wanita itu, yang lantas menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"walaikumsalam warahmatullah. Maaf... Isti bukan, ya?" Tanya Irsyad, Rahma pun menoleh. Dari tatapannya, ia seperti sedang bergumam dalam hati: Isti? Wanita itu kayanya aku kenal...
"Iya benar, Ustadz," jawab wanita di hadapannya, tubuhnya yang masih langsing dengan sorot mata sendu, membuat Rahma merasa minder sendiri. "Ibu," sapanya kemudian, sembari mengulurkan tangan pada Rahma yang lantas menerima jabat tangan itu.
__ADS_1
"Dari mana Isti? Ini Bilal ya?"
"Iya pak Irsyad, ini Bilal. Kami habis jalan-jalan..." jawab Isti, sementara Bilal langsung meraih tangan Irsyad dan mengecup punggung tangannya.
"MashaAllah... sudah dewasa. Masih kuliah atau sudah lulus?"
"Alhamdulillah sudah lulus kuliah, pak." jawab Bilal.
"Owh, sudah kerja?"
"Belum, tapi sudah mulai melamar Di salah satu perusahaan motor dari Jepang."
"MashaAllah, hebatnya. Semoga di terima, ya..."
"Aamiin, terimakasih doanya pak Ustadz," ucap Bilal, sementara Ustadz Irsyad kembali mengangguk.
Rahma yang di sebelah, masih mengamati wanita di hadapannya. Entahlah, apa yang sedang di pikirkan ibu dua anak itu.
"Maaf Ustadz, kami mau ke masjid dulu, belum sholat soalnya," ucap Isti menyelesaikan perbincangan mereka.
"Oh, iya silahkan." Irsyad memberi jalan, dengan tangan yang langsung melingkar di bahu Rahma.
"Mas, kok Rahma kaya nggak asing sama wanita itu?" tanya Rahma, setelah berjalan cukup jauh menuju motor mereka terparkir.
"Itu Isti, yang memperbaiki tasbihnya, Mas." Hanya sebatas itu Rahma pun mengingat kejadian dulu.
"Owh ... mantan rupanya." Gumamnya, dengan nada sedikit di pertegas pas bagian mantan.
"Astagfirullah ... kok mantan sih?"
"Iya, mantan cinta pertamamu..." Rahma langsung melepaskan tangan Irsyad yang mendadak bengong, lalu berjalan lebih dulu.
"Haduh, iya... ku pikir sudah lupa, rupanya masih cemburu, to? Walah... Tenane Iki? Wes... angel urusane." geleng-geleng kepala lalu berjalan menyusul sang istri, yang terlihat kesal padanya.
Kalian sudah tahu endingnya, karena Rahma ngambek sepanjang perjalanan. Bahkan sampai posisi duduknya mentok ujung belakang bodi motor, dan tidak mau memegangi lingkar pinggangnya.
__ADS_1
Ustadz Irsyad jadi berinisiatif mematikan mesin motornya di jalan yang sepi dan gelap. Penuh dengan pohon-pohon tinggi dan besar di sisi kanan dan kiri. Belum lagi tingkah jail Ustadz Irsyad yang bercerita hantu wanita, sampai-sampai kesalnya Rahma membuat sebuah tutup panci menjadi sasaran. Sebab tak sengaja kesenggol hijab Umma di dapur. Hehehe.