Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kondisi Nia yang semakin memburuk.


__ADS_3

Malam ini A'a mengajak serta keluarganya ke satu tempat. Katanya, ingin makan di luar sembari membuang suntuk.


Tak hanya itu, mereka juga mengatur janji dengan Fara dan juga Aiman. Jadilah mereka bertemu di restoran tersebut.


Merr sendiri bersemangat langsung menggendong Umar yang sudah ia rindukan. Sebab lebih dari tiga Minggu tidak bertemu karena kesibukan masing-masingnya antara dia dan Farah.


"Ya ampun, kamu kok tambah gemesin sih?" Merr mencium pipi Umar yang semakin nampak gembil.


"Makanya doyan, minum susunya apalagi," Farah menimpali sembari mengusap bagian tengkuk sang anak yang berkeringat menggunakan tissue.


"MashaAllah, nggak papa yang penting sehat."


"Sehat sih Teh, tapi di suruh diet juga. Katanya sudah masuk angka obesitas."


"Begitu, ya...? Menurut aku enggak deh, gemesin malah." Merr mencium anak itu lagi, rasa sayangnya terhadap Umar masih sama seperti dulu. Hingga tak jarang dia dan ibu mertuanya sengaja mendatangi Farah atau mungkin menginap di saat Aiman dan juga Bilal sedang di luar kota. Demi bisa melepas rindu dengan anak itu.


"Sini suruh duduk sendiri aja, Teh. Berat loh sekarang Umar." Farah terkekeh.


"Sedikit sih, tapi nggak papa aku senang kok. Kangen soalnya," jawab Merr bersemangat, di mana tangan A'a langsung mengusap kepala istrinya sembari tersenyum.


"Kamu jangan loncat-loncat di pangkuan Ibu, ya?" Kata Farah sembari menekan pipi Umar, ketika anak itu sudah duduk di pangkuan ibu asuhnya. Merr pun tertawa.


Tak berselang lama, makanan yang di pesan telah tiba. Mereka mulai menyantap hidangan tersebut. Merr sendiri memilih untuk menyuapi Umar, karena itu bagian paling ia suka dari pada harus mengisi perutnya sendiri.


"Dia doyan sekali..."


"Makanya, susah ngurangin jatah makan anak ini. Karena Dia kaya Abinya makannya banyak."


"Emang aku makannya banyak?" Aiman menimpali sembari tertawa kecil.


"Banyak, nggak lihat perut kamu semakin buncit, itu tanda kamu suka makan," ledek Farah mengundang tawa semua yang di sana.


Di sela-sela obrolan asik mereka sembari menyantap makanan. Merr melihat seseorang yang ia kenal tengah mendorong kursi roda, melintas cukup jauh dari jaraknya duduk.


Bang Akhri?


Merr mengenali Akhri, namun wanita yang nampak kurus duduk di kursi roda itu siapa?


Ya Allah itu Nia?


Ia ingat kabar buruk dari Arshila tentang istri Akhri yang sedang sakit keras. Padahal ia sempat ingin membesuknya, namun karena tidak berani izin pada A'a ia pun lebih memilih mendoakan saja. Malam ini ia malah justru melihat Nia bersama suaminya dengan kondisi wanita itu yang lemah. Sepertinya mereka hanya berdua.


"Aaeeemmm... aeeemmm..." Umar menepuk-nepuk meja makannya membuat Merr terkesiap lalu menoleh kearah Umar, ia tersenyum.


"Ibu lupa kalau lagi menyuapi kamu," tuturnya sembari memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut bayi berusia lima belas bulan tersebut.

__ADS_1


–––


Di sisi lain ...


Akhri menghentikan laju kursi roda itu di depan pintu mobil.


"Aku mual–" kata Nia. Sigap Akhri pun berjongkok.


"Mau muntah dulu?" Tanyanya, dan di jawab dengan anggukan Nia. "Abang ambil kantong plastik dulu."


Pintu mobil di buka, bergegas Akhri mengeluarkan kantong plastik dari dalam dashboard mobil setelah itu menyerahkannya pada Nia yang sudah tidak bisa menahan rasa mualnya. Semua makanan yang baru ia santap seketika keluar.


Tangan Akhri pelan memijat bagian tengkuknya sembari beristighfar. Setelah selesai Beliau bergegas mengusap bibir sang istri dengan secarik tissue sebelum membuang kantong plastik di tangan istrinya ke tong sampah.


Langkahnya berjalan cepat kembali, "minum?"


"Enggak," Nia menyentuh perutnya lalu ke bagian satu dadanya yang sudah kempes karena operasi pengangkatan payudara.


"Sakit lagi?"


"Enggak, Bang. Cuma lemas. Kayanya aku udah nggak sanggup kemo lagi. Aku nggak mau..."


"Jangan gitu, Dik. Ini satu-satunya cara agar Kankernya bisa hilang."


Nia berusaha tersenyum. "Sudah operasi, sudah Kemoterapi. Nyatanya aku dengar kanker masih saja menyebar. Nia nggak mau menghabiskan uang Abang."


"Yaa..." Nia hanya menjawab itu dengan suaranya yang lirih. Karena ia tidak mau lagi berdebat masalah apapun. Walaupun ia tahu kebenarannya bahwa kangker yang ia derita tidak bisa lagi di sembuhkan. Tangannya menyentuh kursi cabin depan.


"Sebentar, biar Abang bantu." Akhri menggendongnya. Memindahkan tubuh sang istri ke dalam mobil. Setelah nyaman Nia menyandarkan kepalanya matanya menyipit sayu, menatap depan.


Cupp...


Sebuah kecupan mendarat di pipi. Nia lantas melirik pelan ke arah suaminya.


"Semangat untuk sembuh, ya. Abang tidak mau kehilanganmu."


Nia tersenyum getir kembali memalingkan wajahnya.


Kenapa baru sekarang Abang bilang seperti itu. Di saat aku sekarat. Rasanya tidak adil, karena aku merasakan cintamu hanya sebentar.


Air matanya menetes, namun sigap di hapus oleh Akhri sebelum kembali menutup pintu mobilnya. Tak lupa pula memasukkan kursi roda tersebut ke bagasi belang setelah itu berjalan memutar hingga sampai ke cabin kemudi.


Matanya melirik pelan ke arah Akhri, pria itu mengarahkan senyum lalu mengecup keningnya sembari mengusap pipi istrinya yang semakin kurus.


––

__ADS_1


Tujuh bulan berlalu, kondisi Nia kembali drop dan harus di larikan kerumah sakit.


Selama perawatan justru wanita itu semakin mengalami penurunan kondisi. Dokter pun menyarankan untuk melakukan pengangkatan payudara sebelahnya lagi. Karena sel kanker yang muncul lagi rupanya lebih ganas dari sebelumnya.


"Jika tidak, pak? Kanker akan menyerang hati. Dan jika sudah seperti itu, nyawa ibu Nia tidak akan bisa bertahan lebih dari satu bulan."


"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." Akhri merasa lemas.


Di samping tirai Nia membeku. Rasanya bagaikan tersambar petir. Ia sendiri melirik ke bawah, dirinya sudah sangat buruk dengan sebelah payudara sekarang harus lagi?


Kembali Nia menyandarkan kepalanya di bantal, sudah tidak bisa lagi memikirkan apapun sekarang. Membayangkan hidupnya yang sudah di bayang-bayangi kematian saja sudah membuatnya takut. Bagaimana anak-anak, bagaimana hidup mereka nanti?


Akhri kembali menyibak tirai tersebut lalu duduk di sisi istrinya.


"Lanjutin makanya," kata Beliau sembari mengusap pipi Nia.


"Bang?"


"Hemmm?"


"Sakitnya Nia nggak bisa di sembuhkan, ya?"


"Bisa... bisa sayang."


"Aku dengar loh tadi dokter bilang apa, walaupun samar. Payudara ku harus di buang lagi?" Nia bertanya dengan air mata yang menetes namun bibir yang bergetar itu tersenyum, "iya kan?"


Akhri memeluk istrinya. "Kamu kuat, ya. Abang akan tetap mencintaimu. Kamu harus sembuh untuk kita semua."


Mata Nia mengerjap. Membiarkan bulir-bulir bening dari kedua netranya berjatuhan.


"Bang, nggak usah lah. Percuma..." jawab Nia kemudian berusaha menghilangkan suara tangisnya.


"Nggak ada yang percuma. Karena kanker belum sampai ke hati. Kita usaha sekali lagi."


Nia menggeleng. "Ikhlaskan saja wanita tidak beradap seperti ku, Bang."


"Astagfirullah al'azim..." Akhri melepaskan pelukannya. "Nggak boleh bilang begitu, Dik."


"Tapi benarkan... kalau aku mati, Abang bisa mendapatkan istri yang lebih baik."


"Astagfirullah al'azim... astagfirullah al'azim..." Akhri geleng-geleng kepala.


"Abang, memaafkan seluruh kesalahan Nia, 'kan? Abang ridho sama Nia selama menjadi istri Abang?" Tanya Nia sembari mengusap wajah suaminya, namun Akhri malah justru turut menangis. "Maaf ya Bang... selama aku menjadi istri Abang. Aku hanya menghancurkan kebahagiaan Abang. Maaf... maafkan aku yang tidak bisa membuat Abang bahagia. Aku istri yang buruk, tapi tolong kasih aku ridhomu Bang... tolong"


Tak tahan dengan ucapan istrinya Akhri lantas mencium bibir Nia agar wanita itu berhenti berbicara. Setelah itu memeluknya erat sembari sesenggukan.

__ADS_1


Ya Allah... aku bersaksi bahwa Kania adalah istri ku yang baik. Aku ridho padanya. Ampunilah segala kesalahannya, dan berikanlah Dia kesembuhan. Aku ingin Dia sembuh. Aku mencintainya... sangat mencintainya, aku ingin Dia tetap bersamaku.


__ADS_2