
Hari-hari sebelum keberangkatan mereka ke tanah suci. Keduanya di bikin sibuk menata pakaian dan keperluan lainnya. Ada berapa aturan yang di berikan Bilal untuk Merr selama di sana.
Yaitu sang istri wajib memakai niqab walaupun sejatinya disunnahkan. Lalu hanya ada dua warna yang di bawa yaitu putih dan hitam.
"A' di sana kan panas. Masa aku nggak boleh lepas niqab?"
"Kan di kamar bisa, sayang." Bilal menutup resleting kopernya. "Kamar kita sejuk, karena ada fasilitas ACnya."
"Huuuh... kalau pengap saat tawaf?"
"Nggak akan pengap dan panas sayang kan sebentar. Nanti A'a cari waktu pas untuk tawaf."
"Iya deh..." Merr menuruti.
"Okay, udah siap. Kita olahraga yuk..."
"Olahraga lagi? Tadi pagi udah jogging jauh loh."
"Kita harus jaga stamina. Di sana nanti akan banyak kegiatan ibadah yang akan kita jalani."
"Tapi aku capek. Pengen makan mie instan dulu."
"Kok makan mie instan, sih? Kan A'a larang kamu untuk makan serampangan."
"Ini udah ada sebulanan nggak makan Mie. Merr pengen banget, A." Rengeknya.
"Ntar bisa makan mie lagi, setelah pulang umroh. Untuk saat-saat ini perbanyak makan makanan yang seimbang, ya."
"Tapi... mie, telor, sama sawinya? Nanti mubasir?" Merr mundur selangkah saat sang suami semakin mendekatinya, lalu merengkuh pinggangnya sembari tersenyum.
"Buat Hafiz aja... nggak akan mubasir. Anak itu kan suka mie instan. Sekarang kita jalan-jalan sore sambil naik sepeda."
"Hiks... tapi aku yang beli karena saking kepenginnya."
"Jangan rewel, kaya anak kecil."
"A'a rese!"
"Loh, kan tanda cinta. Jadi harus rese. Yuk... yuk... simpen aja jengkelnya buat nanti. Soalnya kalau di keluarin sekarang malah jadi nggak asik... mending nanti aja."
"Buat nanti? Maksudnya?"
"Udah ikut aja–"
"A'a jangan yang aneh-aneh, ya? Aku lebih tua loh dari kamu!"
Bilal tertawa. "Apa hubungannya, coba?"
__ADS_1
"Jelas ada lah, nanti kualat loh!" Merr merasa ngeri.
"Kualat mana? A'a, atau kamu yang nolak suami, nih?"
"Ancamannya nggak asik!" Bersungut.
"Di bikin asik aja?" Bilal tertawa saat Merr melotot kearahnya.
"A'a jangan aneh-aneh, sih!"
"Nggak aneh-aneh kok, seaneh aja..." Bilal menarik sedikit tubuh Merr mengajaknya keluar kamar.
"Tunggu...! Masa aku mau keluar pakai daster begini?"
"Eh, iya... Astagfirullah al'azim."
"Udah nggak sabar pengen ngerjain nih, pasti?" Tebak Merr.
Bilal tertawa. "Su'udzon itu dosa... Merr."
"Nggak bisa aku husnuzon kalau kamu mencurigakan begini?"
"Hahaha... udah buruan yuk. Keburu semakin sore nih."
"Haaah..." Merr menghela nafas. Lebih baik mengalah dan nurut dari pada kualat.
.
.
Kakinya sudah lelah mengayuh sepeda, keringatnya pun sudah bercucuran. Sempat juga ia beberapa kali berhenti hanya untuk minum tidak peduli jika harus di tinggal suaminya karena dia bisa putar balik dan pulang, lalu menyantap mienya.
Namun sayangnya, laki-laki itu cepat menyadari. Beliau menoleh dan kembali lagi menyusul sang istri yang raut wajahnya sudah kesal.
"Udah minumnya? Kita lanjut lagi," ujar Bilal, yang sama sudah banyak mengeluarkan keringat.
"Aku mau pulang, ini udah jauh banget A'..."
"Jauh apanya? Di depan sana tuh, taman kota yang biasa kita kunjungi."
"Taman kota itu?" Merr baru ngeh. "Ya Allah, harusnya dekat. Tapi Kenapa jadi jauh banget?"
"Perasaan mu saja, karena nggak ikhlas pasti itu?"
"Bisa aja nih ngelesnya. Sengaja banget muter-muter gang sampai aku pusing sendiri." Suara Merr terdengar serak. Antara mau marah namun sudah teramat lelah.
"Anggap aja latihan tawaf..." Bilal tertawa melihat tampang kesal istrinya yang sesekali menyeka keringatnya sendiri.
__ADS_1
Dasar A'a! kadang-kadang bikin meleleh, kadang-kadang bikin darah tinggi –Merr menghunuskan pandangannya kearah Bilal yang sedang tertawa puas sembari berkacak pinggang di atas sepedanya.
Angin kembali berhembus, memberi hawa sejuk di tengah panasnya tubuh mereka setelah bersepeda. Merr pun kembali putar haluan, tanpa menjawab lagi.
"Loh, mau kemana?"
"Pulang!" jawabnya kesal sembari lanjut mengayuh sepeda.
"Eh... kita belum sampai tujuan loh–" seru Bilal.
"Biarin, pokoknya aku mau pulang!"
"Merr! Kalau lewat sana nanti tambah jauh!"
Merr menarik remnya, setelah itu memutuskan memutar. Ia kembali mengayuh sepedanya semakin mendekati sang suami yang masih tertawa. Saat hendak melewatinya Merr membuang muka.
"Idih... jajan yuk, cantik," goda Bilal namun Merr tak menghiraukan. Ia terus mengayuh sepedanya menjauh dari sang suami. Bilal pula lantas menyusul, mengejarnya kemudian berjalan bersisian. "Cari makan, yuk. Di sana–"
"Nggak ah... udah males."
"Makan mie ayam deh, gantinya mie instan."
Merr menoleh, "nggak mau, A'..." Ia kembali menghadap depan lalu mempercepat laju sepedanya, dimana Bilal berusaha menyusul lagi.
"Terus apa?" Bilal berpikir. "Ohooo... Asian mangga. Hemmmz, yang di ujung sana kan enak."
Merr tak bergeming, sementara tenggorokannya bergerak menelan ludah.
"Enak kayanya sore-sore makan asinan. Kamu ngambek aja terus, ya. A'a mau beli ah..." Bilal mempercepat laju sepedanya meninggalkan Merr yang malah jadi melongo melihat kelakuan suaminya.
"Dih, bukannya di bujuk malah di tinggalin..." gumamnya. "A'a!" Seru Merr, namun tangan Bilal malah melambai dadah kearahnya, tanpa menghentikan laju sepedanya.
"Ngeselin sumpah!" Merr pun menyusul turut ngebut. Dan yang di depan juga rupanya tak mau kalah, ikut-ikutan ngebut seolah tak ingin di susul oleh istrinya.
jangan di tanya, apakah mereka sampai ke tempat tujuan?
rupanya belum karena Bilal justru berhenti didekat rerumputan hanya untuk merebahkan tubuhnya yang kelelahan sembari mengatur nafas di atas rerumputan.
Maryam yang juga sudah tidak tahan pun hanya merubuhkan sepedanya asal lalu berjalan mendekati sang suami sembari membuka tutup botolnya.
"Kebangetan!" Runtuknya, Merr duduk sembari meluruskan kedua kakinya lalu meminum airnya setelah mengucapkan bismillah.
"Kebangetan lagi kamu yang mau-maunya ngikutin A'a. Hahaha..." Bilal tergelak saat Merr memukul kakinya.
"Tau lah..." Ngos-ngosan Ia kembali meminum airnya. Dan memilih diam sebab sudah tidak bisa meladeni ucapan suaminya saking lelahnya.
Ya, mereka hanya istirahat sebentar. Setelah lelahnya berkurang mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk membeli asinan yang di bawa pulang sebab waktu sudah semakin senja mendekati waktu Magrib.
__ADS_1