Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
penyesalan Nia


__ADS_3

Esok paginya di bangsal rumah sakit...


Nia serius membaca salah satu artikel yang tak sengaja lewat di beranda akun sosial medianya. Sepasang suami-istri yang ia kenal saat ini tengah menjadi sorotan publik.


Bukan karena kabar miring melainkan kisah cinta romantis yang kerap ia tulis dalam buku-bukunya yang bahkan banyak di buru pembaca.


Belum lagi romantisme kehidupan nyata wanita bernama Maryam yang mendapatkan suami tampan bergelar habib yang lumayan terkenal di duniamaya. Rupanya sering kali menjadikan para fans menjerit iri kepada mereka.


Foto-foto kedekatan yang beredar pula justru tak datang dari postingan mereka masing-masing. Melainkan potret yang di ambil sembunyi-sembunyi oleh orang-orang yang tak sengaja melihat kebersamaan keduanya di suatu tempat. Itulah yang menjadikan kisah romantis antara Habib dan sang penulis itu menjadi viral.


Wajah berseri Merr membuat Nia mengingat senyum manisnya yang menyambut kedatangan Dia di rumahnya dan Akhri di masa lampau.


Wanita yang ia benci tanpa sebab, padahal tak pernah sekalipun Merr berlaku buruk terhadapnya. Malah sebaliknya, wanita itu tak segan memberikannya perhatian lebih yang tak selayaknya seorang istri pertama kepada istri kedua.


Flashback on...


Saat itu adalah acara keluarga di rumah Ummi Salma. Merr dan Nia bertemu, di meja yang sama. Nampak wanita bertubuh langsing dan tinggi itu langsung menyambut madu dan anak tirinya dengan binar kerinduan yang terarahkan pada Husein.


"Sini biar Ummi gendong..."


"Nggak usah, Ce. Aku bawa pengasuh kok," jawabnya sembari menyerahkan sang anak pada pengasuhnya. "Aku ke toilet sebentar." Nia melewati Merr yang saat itu tengah tersenyum miris. Namun segera ia melebarkan lagi senyumnya kearah sang anak tiri.


"Mbak, biar aku gendong ya..." pinta Maryam karena selama ini ia jarang sekali bertemu dengan anak Akhri dan Nia.


"Iya, Bu." Sang pengasuh menyerahkannya. Dengan perasaan senang Merr menciumi anak itu. Dia memang sangat menyukai anak kecil, mungkin karena ia anak terakhir dan lagi belum di beri kepercayaan untuk memiliki momongan sendiri. Jadilah ia sangat menyayangi anak dari madunya itu.

__ADS_1


Saat sedang asik bermain, ada salah satu keponakannya yang menghampiri sembari meminum susu UHT menunjukan itu pada balita di pangkuan Maryam. Tentu saja, tangan Hussein terjulur hendak meraih susu di tangan anak perempuan di hadapannya.


"Hussein mau?" Tanya Maryam lembut, hingga anak itu mulai merengek-rengek.


Merr pun beranjak dan berjalan ke salah satu meja berisi beberapa susu UHT yang tertata dengan merek cukup terkenal.


Ia pikir usia Hussein sudah menginjak satu tahu delapan bulan. Pasti sudah boleh mengkonsumsi susu tersebut, lagi pula kotaknya kecil jadi tidak masalah. Anak itu boleh mencicipi sedikit. Tanpa memikirkan, ia langsung menusukkan sedotan ke lubangnya lalu mengarahkannya pada Hussein.


Anak itu menyedotnya cepat. Mungkin karena rasa manis yang nikmat membuatnya tak mau berhenti meminumnya. Maryam tertawa gemas, melihat pipinya yang bergerak kembang kempis menyedot susu.


"Cece! Kok di kasih susu ini, sih?" Nia merebut paksa susu di tangan anaknya lalu mengambil alih Hussein dari tangan Maryam.


"Emang belum boleh, ya?" Tanya Merr terkejut.


"Aku nggak membiasakan dia minum susu kemasan. Sebelum lepas ASI Hussein nggak boleh minum susu sembarangan!" Nia menatap kesal, sembari menenangkan Hussein yang menangis.


"Mana ada anak segini minta susu kalau nggak Cece sendiri yang sengaja ngasinya?! Gimana sih?" Nia berjalan beberapa langkah, namun anak itu langsung muntah. "Kan, Ck!!"


"Astagfirullah al'azim..." Merr mendekati sembari membawakan beberapa lembar tissue. "Sini biar aku bersihkan..."


"Nggak usah lah, Cece lagian ngapain sih harus kasih susu begini. Liat anakku muntah, 'kan?"


"Aku beneran nggak sengaja, Nia. Maaf..."


"Hiiissssh!!"

__ADS_1


"Ada apa, Dik?" Akhri yang mendengar sedikit adanya keributan pun segera menghampiri kedua istrinya.


"Liat nih, Hussein muntah gara-gara di kasih susu UHT sama Ce Maryam!" Tudingnya bernada kesal.


"Aku nggak sengaja... tadi Hussein ngerengek karena ngeliat Mila minum susu itu. Jadi aku kasih, dan sepertinya belum banyak, Bang." Merr menjelaskan.


"Belum banyak gimana? Dia sampai muntah banyak sekali," bantahnya tak mau kalah dengan nada yang cukup keras membuat beberapa orang curi-curi pandang ke arah mereka.


"Nia, udah lah. Nggak papa, Hussein juga nggak papa cuma muntah ini." Akhri berusaha melerainya. Namun Nia sepertinya masih belum menerimanya.


"Bang Akhri, aku pulang aja, ya." Merr yang merasa malu pun memilih untuk izin pulang.


"Jangan, acara keluarganya juga belum di mulai."


Merr tersenyum. "Ada Nia, 'kan? Udah sama Nia dan Hussein aja."


"Tapi?"


"Nggak papa." Merr tersenyum getir setelah itu mendekati Nia. "Maaf ya, Nia. Nanti kalau ada apa-apa sama Hussein bilang aku. Aku pulang dulu."


"Dik, jangan pulang." Akhri berusaha mencegah namun Merr tetap memilih pulang sendirian dengan perasaan sedih dan malu.


Flashback off.


Nia mendesah. Ingatan masalah lalunya membuat dia merasa bersalah. Kenapa bisa dirinya sejahat itu pada wanita yang bahkan selalu menunjukkan rasa sayangnya terhadap dirinya dan juga Hussein kala itu.

__ADS_1


"Ce Maryam, aku ingin bertemu. Aku mau minta maaf sama Cece," ia menitikkan air matanya memandangi wajah cantik Maryam dalam balutan gamis berwarna hitam dengan pashmina sifon berwarna coklat.


__ADS_2