Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
penyesalan yang masih menjalar (Ummi Salma)


__ADS_3

Hari berganti dengan cepat hingga bertemu dengan akhir pekan berikutnya. Ummi Salma dengan ketiga cucunya sedang menyantap hidangan sarapan di atas meja.


Karena hari ini, Akhri masih berada di Pekalongan. Dan akan kembali sore nanti, jadilah mereka tinggal di rumah neneknya.


Ummi melamun sesaat setelah memasukkan suapan nasi ke dalam mulutnya. Bibirnya mengunyah pelan, sementara pikirannya berkelana.


Pagi tadi selepas shalat subuh, adik iparnya mengabarkan bahwa wanita yang pernah menjadi menantu di rumah ini telah melahirkan anak pertamanya dengan proses normal.


Ummi kala itu bergeming. Tak sepatah katapun keluar, yang ada hanya sebuah keheranan juga rasa turut senang ketika Maryam akhirnya bisa memiliki buah hati. Setelah ibunda Arshila selesai berbicara Ummi hanya tersenyum, mengucapkan kata syukurlah saya turut bahagia mendengarnya. Setelah itu melanjutkan langkahnya pulang kekediamannya.


Tangan Ummi kemudian mengambil gelas berisi air hangat di sebelah piringnya. Lalu meminumnya kemudian.


Flashback on


"Maryam tahu, Akhri itu anak Ummi satu-satunya?"


"Iya Ummi."


"Maryam juga tahu, kan? bahwa ini pondok pesantren besar," katanya penuh penegasan, membuat Maryam mengangguk. "Saat Ummi dengar kamu memiliki gangguan Tiroid yang menyebabkan ketidaksuburan pada rahim mu. Hal itu sungguh membuat Ummi sedih, dan prihatin kepada mu."


"Terima kasih, Ummi. Tapi Maryam tidak apa-apa kok. Bang Akhri pun tidak mempermasalahkan itu. Kita sudah berdiskusi." Merr masih tersenyum polos, sementara Ummi sendiri justru tidak menyukainya. Karena kala itu Ummi sedang merasakan kekecewaan terhadap Akhri yang menolak tegas keinginannya untuk mencari istri baru.


Ummi Salma terdiam sejenak sebelum menyampaikan keinginan kuatnya itu. Dia berpikir jika Akhri tidak bisa di bujuk mungkin istrinya bisa. Karena kekurangannya itu, akan menjadikan pertahanannya melemah.


"Tapi Ummi tidak setuju dengan hasil diskusi kalian," jawabnya kemudian tanpa basa-basi.


"Tidak setuju? Maksud Ummi?"


"Ummi tidak mau Akhri memiliki anak hasil adopsi. Yang Ummi mau itu keturunan kandung."


Kala itu Ummi sadar, wanita dihadapannya seketika tercekat. Sehingga membuatnya langsung mematung saat mendengar ucapannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ummi langsung melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu tahu kan, pondok pesantren ini butuh pemimpin baru, dari keturunan asli Abdul Aziz. Apabila ada anak yang hadir di sini, namun tidak memiliki darah dari putra ku, bagaimana bisa dia menggantikan Abinya?"


Mata Maryam mulai berkaca-kaca, ia merasakan kekhawatiran atas ucapan dari ibu mertuanya. Namun masih berdiam diri dalam kegamangannya, mencerna setiap ucapan sang ibu mertua. Walaupun sejatinya Merr sudah tahu, kearah mana pembicaraan ini.


"Janganlah egois! Karena kita tidak akan sempurna jika tidak bisa memberikan hak keturunan untuk suami."


Tangan Merr saling meremas. "Jadi Maryam harus apa, Ummi?"


Ummi Salma sedikit menyunggingkan senyumnya samar, yang sudah menunggu pertanyaan itu dikeluarkan dari bibir manis menantunya.


"Berikan lah, haknya untuk mendapatkan anak. Walaupun dia harus menikah lagi." Sebuah gong ditalunya langsung. Bahkan tanpa rasa simpati sedikitpun, sejak menyadari selaput bening itu sudah mulai menggenangi kedua mata perinya.


Flashback off


Ummi masih ingat betul ketika Maryam hanya terdiam tanpa membantah, bersamaan dengan itu setitik air yang tertampung di kantung matanya pun langsung terjatuh begitu saja.


Ya Rabbi..


***


Di depan rumah Ibunda Arshila. Bu Karimah tengah menyirami tanaman-tanamannya. Setelah memotong beberapa ranting yang mengering, serta daun-daun yang menguning.


Sesaat matanya beralih fokus pada seorang wanita yang tengah berjalan memasuki pagar rumahnya.


"Kak Salma?" gumamnya sembari meletakkan gembor air di tangannya.


"Assalamualaikum, Karimah. Bisa bicara sebentar?" ajaknya dengan tatapan sendu. Bu Karimah mengangguk setelah menjawab salam, selanjutnya mengajak masuk.


Di dalam, Bu Karimah meletakkan segelas air putih hangat. Karena Ummi Salma menolak minuman yang lain. Sejenak keheningan tercipta. Bu Karimah sendiri pun sedikit canggung. Karena walaupun mereka adalah ipar, tetap saja Bu Karimah tak begitu dekat selayaknya kakak beradik. Dirinya masih menyegani kakak iparnya itu.


"Menanggapi kabar darimu tadi pagi, jika saya berbicara tentang penyesalan? Sepertinya itu sudah terlambat," tuturnya lirih. Bu Karimah paham, kabar mana yang di maksud. Jadi dia hanya diam saja mendengarkan Ummi Salma melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Akhri tidak pernah bahagia, seperti saat menikah dengannya. Padahal, mendiang Nia sudah memberikan tiga buah hati. Dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah yang baik, namun tidak pernah membawa hatinya pada rumah tangga keduanya. Kamu pasti sering mendengar itu, kan?"


Bu Karimah mengangguk, karena ia lah tempat terbaik bagi Maryam ataupun Akhri untuk mencurahkan isi hati mereka.


"Saya harus bagaimana, Karimah? Saya sudah meminta maaf pada Maryam saat mendapati kesempatan untuk bertemu, dulu. Saya terlalu menyakitinya sebab keegoisan saya yang ingin mendapatkan perhatian dari Abang mu. Saya juga wanita, saya paham betul perasaannya. Tapi saya tidak peduli, saya juga manusia biasa yang punya rasa iri agar bisa menunjukkan kemampuan saya untuk menghadirkan cucu bagi Beliau."


Bu Karimah bingung untuk memulai pembicaraannya sebab jika memberi saran, dirinya takut tidak sopan. Sehingga hanya helaan nafaslah yang keluar dari bibirnya.


"Beberapa minggu yang lalu, saya terkejut ketika mendapatinya tengah hamil besar. Lalu hari ini saya mendengar dia sudah melahirkan bahkan sudah berusia satu Minggu. Jujur saja, saya merasa malu karena ketidak sabaran-ku menunggunya membuat semuanya berantakan."


"Maaf Kak, aku menyela. Mungkin inilah yang disebut hikmah baik. Saya bukan membela Maryam karena dia adalah sahabat baik anak saya. Namun wanita itu memang baik hatinya. Sehingga ia berhak mendapatkan apa yang ia harapkan setelah kesedihannya selama ini."


"Kamu benar, seolah semua menjadi balasan kontan atas diriku yang pernah menistakannya. Bukankah begitu?"


"Astagfirullah... tidak seperti itu, Kak. Maaf jika saya salah bicara."


"Nggak... itu kenyataan yang ku rasakan. Makanya saya merasa malu sekaligus menyesal saat-saat ini. Maryam bahagia, namun tidak demikian dengan anakku. Yang masih terkurung jiwanya di dalam ruang kehilangan..."


"Akhri hanya butuh hati baru yang bisa membuatnya lupa dengan Merr. Lagipula, Akhri bukan pria yang tak beriman. Dia pasti tengah berusaha untuk mengeluarkan Merr dari dalam hatinya. Hanya saja, ia belum bisa menghilangkan semuanya."


"Aku sudah berusaha untuk membujuknya menikah lagi, tapi anak itu masih belum mau."


"Bersabarlah, Kak. Dia hanya sedang merasa trauma dengan kedua pernikahan sebelumnya. Sehingga membuatnya tidak yakin untuk bisa membahagiakan istri ketiganya juga. Dia khawatir akan melukai hati istri ketiganya sebagaimana dirinya merasa telah mematahkan hati dua Istrinya."


Ummi menghela nafas sedih. "Semua salah saya."


"Nggak, Kak. Inilah jalan hidupnya. Bagaimanapun kehidupan tidak akan pernah semulus yang kita harapkan. Karena terkadang kita memang harus melewati titik kesakitan itu dulu sebelum menemukan kebaikan sesudahnya."


Ummi termenung meresapi kata demi kata yang di ucapkan adik iparnya itu.


"Sekarang lebih baik Kak Salma bersabar. Tidak usah lagi menyesali yang sudah terlewati. Saya yakin, seiring berjalannya waktu kehidupan Akhri akan membaik. Dia akan bertemu jodohnya, dan akan bahagia bersama. Seperti saat dirinya menemukan Maryam."

__ADS_1


"Aamiin, saya harap seperti itu." Ummi Salma sedikit tenang. Ia mengucapkan terima kasih karena Bu Karimah mau mendengarkan curahan hati yang sebelum ini membuat pengap dadanya.


__ADS_2