Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
Jangan pergi-pergian dulu, A'....!


__ADS_3

Yahya kini sudah berusia tiga Minggu. Namun rumah mereka masih ramai di datangi orang-orang saleh kenalan habib Bilal ataupun para kerabat dari Ummi dan juga mendiang Abi Ustman.


Belum lagi kerabat di Bandung, yang mulai mendekat lagi. Kembali menganggap Maryam sebagai bagian dari keluarga mereka. Tentunya hal itu membuat Maryam lebih bahagia dan bersyukur. Karena, bisa kembali merasakan keutuhan keluarganya setelah bertahun-tahun merasa sebatang kara.


–––


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah berbincang cukup lama diluar, Bilal memasuki kamarnya. Menengok istri dan buah hatinya.


Dilihat sang istri tertidur dengan dada bagian kanan masih terbuka mengarah pada sang anak yang baru selesai menyusu.


"Astagfirullah, Yank...Yank..." gumamnya sembari mendekati. Beliau pun duduk dekat anaknya. Lalu membenahi bagian yang terbuka, membuat Maryam terkesiap kaget karena sentuhan itu.


"A'a?" ucapnya serak. Bilal tersenyum dengan tangan berkutat menutup resleting di dada sang istri.


"Maaf, A'a membangunkan-mu."


"Nggak papa, aku cuma sedikit kaget tadi. Beneran aku nggak kerasa kalau sampai ketiduran begini." Merr menengok anaknya sudah tertidur pulas.


"Nggak papa. A'a maklum, kamu pasti lelah sekali. Tapi kalau bisa, lain kali hati-hati saat menyusui, takutnya bagian dada kamu menutupi hidung dan mulut Yahya, kan berbahaya." Bilal menyentuh pipi istrinya dengan tatapan penuh kasih.


"Maaf... setelah ini aku bakal lebih perhatikan lagi. Sebisa mungkin untuk nggak sampai ketiduran."


Bilal tersenyum. "Maaf ya, aku banyak menemui tamu di luar. Kamu jadi cape sendirian."


"Nggak juga kok. Kamu kan tetep sesekali masuk buat nengokin aku dan Yahya," jawabnya sembari tersenyum polos. Nampak wajah kelelahan dan mengantuknya Maryam membuat Bilal nampak tidak tega.


"MashaAllah– kamu benar-benar kelihatan lelah sekali, Yank."


"Wajar... namanya juga punya bayi. Lagian aku sudah pernah merasakan saat merawat Umar. Cuman ya itu, bedanya sekarang... kayanya emosiku jadi sedikit naik turun," Maryam beranjak duduk.


"A'a memahami, kok. yang terpenting kalau kamu punya keluhan apa jangan diem aja ya," katanya yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Maryam. Sejenak Bilal menoleh kearah meja, dimana makanan Maryam masih utuh.


"Itu makanannya belum tersentuh, kamu belum makan?"


"Tadi mau makan, tapi Yahya buang air habis itu menyusu lama sekali sampai akhirnya ketiduran."


"Ya ampun... ya udah kamu makan. Biar Yahya ku pindahkan ke ranjangnya."


"Iya–" Merr melepaskan ikat rambutnya yang berantakan, setelah itu mengikatnya ulang agar lebih rapi sebelum mengambil makanannya.


"Pasti sudah dingin tuh nasinya," ujarnya mengangkat sang anak untuk di pindahkan. Beliau juga menempelkan pipi mungil Yahya di bibirnya dengan perasaan sayang, sembari melangkah mendekati ranjang bayi.


"Nggak papa, malah seger kok," jawabnya. Merr mencicipi kuah sayur daun katuknya dengan sedikit ogah-ogahan. Efek mengantuk membuatnya tak berselera. "A'... aku makan sayur sama lauknya aja, ya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nggak pengen makan nasi, udah malam. Jadi kaya nggak nafsu."


"Yank... justru malam hari itu Yahya lagi kuat-kuatnya menyusu. Makan aja nasinya."


Merr tak menjawab ia masih memakan kuah sayur beningnya. Lalu tahu yang di masak semur bersamaan dengan telur juga rolade ayam.


Bilal mendekati, meraih nasinya lalu meminta sendok yang berada di tangan Maryam. Menyendokkan nasinya terlebih dahulu sebelum mencelupkan kedalam kuah sayur beningnya.


"Yuk, buka mulutnya."


"Seriusan. Aku nggak nafsu. Pengennya makan kuahnya aja sama lauk."


"Nggak akan kenyang kalau hanya makan ini, kamu harus nurut Merr. Sekarang nggak cuma kamu, tapi buat Yahya juga."


Merr mengalah, ia lantas membuka mulutnya dimana Bilal langsung memasukkan sesuap nasi tadi ke dalam mulut Istrinya.


"Bosan makan ini terus," keluhnya sembari mengunyah.


"Memangnya mau makan apa?"


"Pengen yang rada pedes dikit."


"Nggak sayang... tolong ngerti, ya."


"Iya, A'..." jawabnya mengalah. "Apakah makan seperti ini sampai dua tahun?"


"A'... liburnya masih lama 'kan?"


"Seminggu lagi. Setelah ini A'a mulai aktif lagi."


"Aku dan Yahya bagaimana?" Cemberut.


"Kan ada Ummi, dan juga aku akan cari pengasuh bayi untuk membantu kamu."


Merr menghela nafas lantas menghembuskannya sedikit kasar.


"Jangan gitu, Yank. Aku kerja buat kita semua."


"Tapi kerjamu jauh-jauh. Apa nggak bisa, setelah ada Yahya kamu ambil panggilan dakwahnya cukup di dekat-dekat sini. Area Jakarta, dan Jawa barat aja. Biar bisa langsung pulang."


"Yank... menyampaikan syi'ar itu harus bisa seluas mungkin. Lagi pula jaman sekarang enak, ada HP. Kita bisa saling melepas rindu via telpon seluler."


"Tetap beda rasanya. Kamu nggak ngerti, sih. Ibu menyusui itu sensitif. Kadang ada rasa pengen marah, kadang pengen nangis nggak jelas. Kalau ada kamu, aku tenang... saat sedih kamu bisa nenangin aku dengan pelukanmu."


Bilal diam saja memandangi wajah wanita yang sedang meracau itu, hingga berhenti berbicara. Setelah itu mengarahkan sesuap nasi berikutnya ke arah Maryam.

__ADS_1


"A'..." rengeknya jengkel ketika merasa Bilal tak meresponnya. Nasi itu bahkan belum masuk kedalam mulutnya.


"Apa sih, Yank? Habisin makanya."


"A'a gitu, sih?"


Bilal menghela nafas. "Banyakin istighfar, ya. Lelahnya kamu itu kadang membuat jiwa mudah terusik."


Merr tak menjawab selain mengambil air mineral di dalam gelasnya. Menolak nasi yang terarah kepadanya dan memilih untuk meminumnya.


"Yank, habisin."


"Aku kenyang," jawabnya lirih, masih menolaknya.


"Sedikit lagi, ya."


"Enggak, udah!" Merr menggeleng. Bilal pun meletakkan piringnya setelah itu merengkuh tubuh istrinya.


"Maaf ya..."


"Emmm!" jawabnya singkat. Membuat Bilal memberikan kecupan di pipi.


"Sayang."


"Apa?"


"Nggak usah ngambek."


"Nggak ngambek, hanya kesel!"


"Aku tahu kamu capek. Sekarang istirahat. Seperti biasa, waktu malam akan aku yang banyak terjaga. Kamu aku bangunin kalau Yahya mau menyusu saja."


Merr tak menjawab selain membalas pelukan suaminya. Membuat Bilal mencium kepalanya.


"Kesayangan–" gumamnya.


"Jangan pergi-pergian jauh dulu sih– aku nggak mau jauh lama kaya waktu belum ada Yahya."


"Untuk dua bulan kedepan cuma area Jabodetabek kok."


"Janji?"


"Janji sayang– makanya kalau aku lagi ngomong dengerin dulu." Bilal mencubit hidung istrinya membuat Maryam tertawa.


"Maaf, namanya juga sayang. Nggak mau jauh dari suami. Wajar, kan?"

__ADS_1


"Iya... iya." Bilal mencium kepala sang istri lagi sembari mengusap lembut area punggungnya. Memberikan kenyamanan bagi sang istri melalui dekapan cintanya.


__ADS_2