
Malam sudah semakin larut. Merr dan Bilal masih terjaga di atas ranjang mereka. Melihat foto-foto tadi saat di pantai yang tengah di pindahkan dari memori kamera ke laptop milik Habib. Sesekali keduanya tertawa, karena ada pose mereka yang lucu dan sedikit membuat Maryam geli sendiri. Hingga sampailah pada foto-foto Maryam sendirian yang di ambil asal oleh sang suami.
"Ya ampun, A'a banyak banget foto aku yang di ambil asal. Hapus iiih..." Merr sedikit kesal.
"Jangan lah, jangan di hapus. Aku suka tau, kelihatan Natural." Bilal memandangi foto Maryam sembari senyum-senyum. Ada yang sedang membungkuk mengambil cangkang kerang. Ada pula foto tertawa sembari menunjuk ke suatu arah. Serta foto-foto kesalnya Maryam yang menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Tapi kan aku keliatan jelek... ini lagi, ketawanya. Hapus pokoknya, jelek itu A'..."
"Sayang, jangan. Menurut kamu mungkin jelek, tapi menurut A'a ini bagus. Kamu harus tahu, sebagian dari laki-laki suka asal ambil potret pasangannya karena bagi kami itu lucu dan bagus."
"Ya, tapi sebagian wanita suka nggak pede, menurut kami itu aib."
"Hahaha, masa aib sih? Cantik gini, kok." Puji Bilal sembari mengusap pipi istrinya yang masih berusaha untuk menghapus. Bilal pun menahan tangannya. "Jangan di hapus sayang, nanti malah A'a marah, loh."
"Ya tapi kan jelek, A'..."
"Nggak jelek. A'a suka... kamu cantik. Beneran!" Bilal memberikan kecupan kilat di bibirnya. Maryam pun menghela nafas, memilih untuk mengalah. "Pokoknya jangan di hapus, kalau laki-laki ambil foto asal begini tuh tandanya emang beneran suka. Jadi jangan di hapus, ya."
"Iya, iya..." Merr menuruti, ia pun menyandar di bahu suaminya. Matanya masih terarah pada layar laptop, sementara tangan Bilal masih menekan-nekan. Menggeser foto. Sampailah pada foto berikutnya, membuat Bilal menoleh ke samping.
"Inget nggak, A'a bilang apa waktu di sini."
Merr tersenyum. Tangannya melingkar di lengan Habib. "Bilang apa? Aku nggak inget."
"Tuh, masa nggak inget? Udah romantis gitu juga."
"Ya, beneran nggak inget. Ulangi aja lagi..." Maryam tersenyum jail.
"Di ulang?"
"Iya, ulangi yang kaya tadi." Kerlingan matanya bergeser cantik ke arah suaminya. Bilal terdiam, sejenak memandang penuh hasrat.
"Kalau tadi pakai ucapan, di sini bisa lebih dari itu," tuturnya, membuat Maryam tertawa. Namun tak menggeser pandangannya. Ia hanya menutup matanya kemudian saat Bilal mendekati wajahnya dengan gerakan pelan lalu mendaratkan ciuman dengan mulus di bibir istrinya.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga berselang satu bulan setelah IdulFitri.
Dan hari ini Merr menghadiri sebuah acara seminar. Karena ia akan menjadi pembicara di sana.
Sekaligus, bedah buku. Di novel seri terbarunya. Yang berjudul imam sampai ke Jannah.
"Kak, Maryam terlihat semakin berseri ya semenjak menikah dengan Habib?" Tanya sang moderator wanita dengan nada menggoda.
__ADS_1
"MashaAllah..." Maryam tertawa malu-malu.
"Nggak nyangka loh. Kalau boleh tahu, dulu pertemuan pertama kali di mana? Kalau nggak salah pernah satu acara, ya?"
Maryam mengangguk. "Memang pernah bertemu langsung saat di seminar, cuman pertemuan pertama kami justru bukan di sana. Tapi di salah satu masjid, kami bertabrakan pada saat itu."
"Haduh, kaya sinetron nggak nih?" Tertawa sama halnya dengan Maryam.
"Mungkin..." jawabnya kemudian.
"Tapi, mungkin nggak buku ini terinspirasi dari pertemuan kakak dan Habib."
"Enggak juga, karena saat nulis buku ini aku belum begitu mengenal Habib. Ini juga cetakan ke sekian. Yang inshaAllah akan di filmkan juga."
"MashaAllah... tapi nih Kak? Aku penasaran, Habib Bilal itu seromantis karakter pria di novel ini nggak?"
Merr tersenyum. Membayangkan sosok sang suami. "Bisa di bilang, lebih dari karakter yang ada di novel ini."
"MashaAllah... irinya." Mereka semua kembali tertawa sebab jawaban Merr tadi.
.
.
Selesai seminar, Maryam menerima panggilan telepon dari suaminya. Beliau mengabarkan jika dirinya sudah dekat dari plaza tempat di adakanya seminar.
"Nggak sampai lima detik," jawab Beliau sambil tersenyum. Karena dirinya sudah berdiri di belakang istrinya.
Kening Maryam berkerut. "Nggak sampai lima detik?"
"Iya," Bilal mematikan ponselnya tanpa salam membuat Maryam bingung sendiri. "Assalamualaikum Ukhti, boleh kenalan?"
Maryam menoleh. "Ya Allah, A'a..."
"Hehehe." Bilal menghindari pukulan gemas istrinya di bahu sembari tertawa.
"Kok udah di sini aja?" Maryam meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu.
"Kan kejutan." Bilal mengusap kepala Maryam dengan satu tangannya yang lain.
"A'a langsung kesini, berarti sama Kang Beben juga?"
"Iya, tapi Dia diluar."
__ADS_1
Maryam tersenyum senang, karena suaminya habis bekerja di luar pulau Jawa selama beberapa hari. Sehingga wajar jika rasa rindu tengah menyelimuti jiwanya saat ini.
"A'a lapar, pengen makan deh." Bilal mengusap perutnya sendiri.
"Ya udah kita makan, yuk."
"Tapi jangan di sini, cari tempat lain aja. Biar sekalian ajak Kang Beben makan."
"Iya, A'..."
"Kamu mau beli apa dulu, nggak? Mumpung masih di Mall?"
Merr berpikir sejenak. "Enggak sih kayanya. Lagian suami ku ini udah lapar. Jadi kita langsung makan aja."
"Ya udah kalau begitu, yuk." Bilal meraih tangan Maryam, berjalan bersama dengan jari-jari yang saling bertaut. Sesekali Bilal terkekeh mendengar cerita istrinya di sela-sela langkah kaki mereka.
Beberapa pasang mata di sekitar sesekali memandang ke arah mereka. Karena Bilal masih menggunakan pakaian gamisnya dengan peci kesukaan beliau. Dari bandara tadi Habib Bilal tidak sempat ganti baju, takutnya sang istri menunggu lama jadi ya sudah pakai saja yang masih ia gunakan. Sementara itu Maryam sendiri menggunakan gamis dan juga hijabnya yang syar'i. Jadi mungkin sedikit mendapatkan perhatian dari para pengunjung di sana dengan pemikiran masing-masing.
–––
Sampai di salah satu restoran dua lantai. Kang Beben malah meminta meja sendiri saja. Katanya sih, biar tidak menggangu pasangan itu berdua. Jadilah, mereka makan di lantai dua, sementara kang Beben di lantai satunya.
"Enak?" Tanya Maryam sehabis menyuapi Bilal dengan makanan yang berada di piringnya.
"Iya... tapi kurang pedes bagi A'a."
"Iya aku kalau makan itu level pedesnya nggak seperti A'a yang kadang kebangetan," jawab Maryam membuat Bilal terkekeh. "A'a aku boleh ngomong sesuatu?"
"Boleh, sayang." Bilal masih mengunyah, lalu menyedot minumnya.
"A'a kan punya riwayat asam lambung. Tolong ya, jangan terlalu makan pedesnya. Apalagi pola makan A'a akhir-akhir ini agak serampangan."
Bilal tersenyum, "A'a juga ngurangin pedes kok."
"Apaan? A'a tuh nggak makan pedesnya kalau lagi kambuh. Saat sehat? ngeyel! Makan Mie instan aja cabai dombanya sampai dua, udah gitu mintanya di ulek di piring, lagi."
Bilal menanggapi dengan tawa kecil sebelum memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"A'a, dengerin aku nggak? Aku itu khawatir..."
"Iya sayang, A'a dengerin."
"Di inget-inget... makanya jangan serampangan kalau lagi jauh. Sebisa mungkin istirahat cukup. Aku pengen A'a sehat."
__ADS_1
"Iya, bawel ku." Bilal menarik pipi sang istri, merasa gemas. Hal wajar jika sang istri khawatir. Itu tanda jika Merr benar-benar mencintainya. "Habisin makanya."
Merr menghela nafas, setelahnya mengangguk lalu mulai melanjutkan makannya.