Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
menggenggam kebahagiaan


__ADS_3

Selama perjalanan dari Solo ke Jakarta. A'a benar-benar memperhatikan istrinya. Entah posisi duduknya, pakaian yang ia kenakan, juga camilan. Seperti saat ini, saat mereka beristirahat di salah satu rest area.


"Pegel nggak? Mau nambah bantal lagi? AC-nya kurang dingin, ya? Kamu kaya keringetan."


"A', ya ampun. Aku cuma hamil– pertanyaan berderet banget?"


"Wajar namanya juga khawatir. Pokoknya A'a mau kamu nyaman, perjalanan jauh soalnya..."


"Justru aku yang khawatir sama kamu yang baru keluar dari rumah sakit. Mending kamu yang di tengah deh, bisa tiduran."


"Udah kamu aja, Yank. A'a mah santai...! kamu nggak mau jajan apa, gitu?"


"Jajan apa? Sajen buat ku udah banyak banget ini– hadeeehhh," jawabnya membuat Bilal tertawa.


"Aku suka kalau Bumil ku jadi gemuk."


"Heeemmm, penyakit nih."


"Kok penyakit."


"Iya bikin aku jadi gemuk, biar punya alasan untuk liat yang langsing."


"Loh, aku justru suka kalau ama yang gemukan, sayang."


"Ooh... sukanya ama yang gemukan? Berarti selama ini nggak bisa jaga pandangan sama yang berisi dong, ya?"


"Astagfirullah, salah lagi–"


"Habis kamu ngomongnya gitu."


"Nih maksudnya, kalau kamu gemuk aku suka, kamu kurus pun aku suka. Gitu aja sensi banget sih Bumil satu ini–"


"Huuuuu!"


"Udah yuk ke masjid. Kita sholat dulu..."


"Iya–"

__ADS_1


Keduanya menghentikan perdebatan tak penting itu. Lalu berjalan bersama menuju tempat beribadah di rest area tersebut. Setelahnya makan siang karena mereka berangkat tadi pagi setelah sholat subuh.


Perjalanan selanjutnya di tempuh dengan lancar. Berkat sudah adanya jalan tol. Waktu tempuhnya jadi lebih singkat.


Saat ini mobil telah tiba di depan rumah. Bilal mengucap syukur sembari berdoa sejenak, lantas mengusap wajahnya. Ia menoleh ke belakang, setelah kang Beben keluar. Di lihat Maryam masih tertidur pulas di cabin tengah mungkin karena saking nyamannya, membuatnya tak terasa jika mobil sudah berhenti.


Tak lama tubuhnya bergerak, matanya mengerjap. Menoleh kearah sang suami yang sedang memeluk sandaran kursi kemudi, di bagian samping. Bibirnya tersenyum menyapa sang permaisuri yang baru saja terjaga.


"Bagaimana, Nyonya? Tidurnya nyenyak? Saat ini kita sudah tiba di tempat tujuan–" Bilal berlagak seperti seorang pelayan cabin.


Merr mengusap ke-dua matanya lalu beranjak. "Nggak kerasa udah sampai–"


"Gimana mau kerasa? tidur beralaskan kasur mobil, pakai selimut, meluk bantal, telinga di sumpel headset pula. Hemmmz... surga banget tuh–"


Maryam terkekeh. "Kan ini berdasarkan protokol perjalanan dari kamu. Yang sengaja membuatku nyaman."


"Iya, deh–" Bilal mengalah. Lalu menoleh kearah wanita paruh baya yang tengah berjalan tergopoh-gopoh mendekati mobil. Merr sendiri tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.


"Allahu Akbar...! Allahu Akbar...!" gumamnya seraya memeluk tubuh Maryam. "Kenapa nggak bilang kalau kamu lagi hamil, Merr? Ummi sampai nggak bisa tidur mikirin kondisi kamu."


"Tuh– marahin aja, Mi," ucap Bilal memprovokasi. Merr sendiri hanya terkekeh.


"Ya Allah, biar kata nggak papa tetep Ummi khawatir," ucapnya sembari mengusap perut Maryam. Setelah itu menoleh kearah Bilal yang baru saja turun. "Kamu sendiri gimana? kenapa bisa sampai pingsan? Emang kamu makan apa?"


Ummi mencium pipi putranya dengan perasaan khawatir.


"Sebenarnya makan ku teratur, hanya saja kelelahan. Sama siangnya tuh nggak makan nasi hanya ngemil aja. Habis itu obatku ketinggalan, jadi ya gitu lah. Ummi tahu sendiri kalau lagi kambuh."


"Ya Allah– jaga pola makan mu dengan baik, jangan serampangan! Suka ngeyel sih kalau di bilangin–"


"Bener tuh, Mi– marahin aja." Maryam membalasnya dengan nada memprovokasi juga tak mau kalah dengan Bilal tadi. Sementara yang di balas hanya menekan ujung hidungnya sendiri mengejek Maryam, tidak peduli. Ummi sontak tertawa, tangannya mengusap lembut ke-dua matanya yang mengembun. Ia senang karena mereka berdua baik-baik saja.


"Udah pada masuk sana, bebersih terus istirahat. Nanti Farah dan Aiman juga mau kesini katanya."


"Oh, ya... nginep, nggak?" tanya Bilal antusias.


"Nginep sih, kayanya sampai tiga malam. Soalnya Aiman mau ke Bali."

__ADS_1


"MashaAllah, senangnya Farah bisa tidur di sini lama," ucap Maryam. Merr memang senang jika adik iparnya itu menginap. Karena mereka jadi bisa melakukan banyak hal di malam hari dan siang harinya.


Ummi tersenyum. Beliau mengusap perut Maryam lagi. "Merr, Ummi tadi bikin asinan mangga, loh."


"Iya kah?" Maryam berbinar.


"Iya, Ummi taruh di kulkas. Mau di bawakan ke kamar?"


"Ya ampun, nggak perlu Ummi. Nanti biar Merr makan di luar. Tapi mau cicip sekarang sih, dikit."


"Boleh– yuk, kita makan asinan. Dulu–" Ummi merangkul punggung bagian belakang Maryam melangkah lebih dulu meninggalkan Bilal yang masih berdiri di sana dengan senyum tersungging senang.


MashaAllah, senang melihat dua bidadariku amatlah dekat. Padahal di luar sana aku sering menerima curhatan teman-teman yang mengeluhkan hubungan istri dan ibu mereka.


Tapi aku bersyukur itu tak berlaku pada istri dan ibuku. Walaupun aku tidak pernah tahu isi hati mereka seperti apa. Yang pastinya pernah memendam kekecewaan antar satu sama lain.


Bilal menghela nafas senang. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Sementara kang Beben mulai bekerja mengeluarkan beberapa yang masih tertinggal di dalam mobil tersebut.


Langkah Bilal terhenti saat tiba di ujung paling bawah anak tangganya. Menoleh sejenak ke arah dapur saat mendengar tawa Maryam serta ocehan ceria yang tak seperti biasanya.


Bilal yang penasaran langsung mengurungkan niatnya untuk ke kamar, dan memilih mengintip mereka berdua di dapur.


"Enaaaaak..." Maryam berbinar. Memakan Asian itu dengan lahapnya.


"Enak, ya?"


"Enak banget. Asinan buatan Ummi mah... top!" Merr mengacungkan kedua ibu jarinya. Membuat Ummi tertawa menanggapi. Bilal sendiri sama, ia tersenyum sembari menyentuh dadanya.


Allah... aku baru tahu, kalau Maryam rupanya bisa semanis itu? Selama ini Dia nampak kaku...


Bilal masih betah berdiam diri di dekat pintu. Mengingat, bahwa sebentar lagi genap empat tahun usia pernikahannya dengan Maryam.


Selama ini ia mengenal Maryam sebagai wanita yang introvert namun tetap berusaha berbaur dengan baik, tertutup sifat humble-nya. Dan, saat ini seolah nampak sirna semua pagar yang membuat hati Maryam serasa di batasi.


Sang istri mulai menunjukkan sisi manisnya selayaknya wanita biasa. Dia yang biasanya lebih sering diam sebagai pendengar jadi lebih lepas mengekspresikan kebahagiaannya.


Bilal nampak senang. Terpancar dari senyumnya yang terus tersungging.

__ADS_1


Akan ku rengkuh kebahagiaan ini. Ku jaga agar senyum indah-mu tetap ada. Ku usahakan untuk menghalangi awan hitam itu agar tak datang lagi. Menyembunyikan sinar permatamu. Aku tidak akan membiarkan, cintamu kembali berselindung dalam kerisauan.


Bilal melanjutkan langkahnya, kembali menuju kamar. Tubuhnya hari ini amat lelah, namun ia tetap akan menunggu Maryam di kamar tak ingin langsung tidur.


__ADS_2