Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
bertemu keluarga Ustadz Akhri


__ADS_3

Di tempat lain...


[Assalamualaikum Ce, apa kabar? Nia minta maaf ya. Selama ini udah sering buat salah sama Cece. Dan, selamat atas pernikahan Cece. Semoga bahagia selalu.]


Maryam tersenyum setelah membaca DM dari Nia. Walaupun dengan kata-kata yang tak begitu panjang namun ia tetap menghargai dan menerima permintaan maafnya. Pesan itu di kirim setelah hampir satu pekan dari perintah Akhri pada Nia. Mungkin memang, Nia butuh hati yang luas sebelum meminta maaf pada mantan istri pertama suaminya.


[Sama-sama Nia, semoga setelah ini kita bisa menjaga hubungan kita jadi lebih baik, ya. Salam untuk anak-anak. Mereka sehat, kan? Jujur saja aku kangen Hussein.]


Maryam mengirim pesan balasan, lalu menunggu balasannya lagi dari seberapa. Cukup lama menanti, Nia sepertinya tak langsung membacanya lagi. Maryam menghela nafas, ia segera meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaan lega sekarang sudah mulai terasa. Dan dengan harapannya: semoga keluarga mereka bisa menahan dan bersabar dengan ujian yang tengah di hadapi.


Ting...


Sebuah pesan chat masuk. Bilal mengabarkan bahwa Dia sudah dalam perjalanan pulang, bahkan sudah hampir sampai rumah.


Ini adalah Minggu awal bulan Ramadhan, namun suaminya sudah mulai sibuk saja menghadiri beberapa acara-acara tabligh. Ia juga sudah menempati rumah ibu mertuanya. Selama tinggal di sini, seperti memiliki teman baru. Ummi kemana-mana selalu mengajaknya pergi. Entah belanja dan sebagainya.


Belum lagi wanita paruh baya itu gemar sekali mengobrol. Hingga di pukul sebelas malam ini, Merr baru saja masuk ke dalam kamarnya. Setelah berbincang basa-basi dengan ibu mertuanya selepas tarawih tadi.


Tiga puluh menit kemudian, Maryam mendengar suara mobil di luar. Ia pun terjaga dari posisi berbaring-nya. Segera ia kenakan hijab yang berada dekat dengan ranjang lalu berjalan keluar.


"Assalamualaikum–" wajah lelah itu masih bisa memancarkan senyum ketika pintu di buka oleh sang istri.


"Walaikumsalam, kok sampai malam A'?" Maryam meraih tangan kanannya lalu mencium.


"Iya, macet tadi." Beliau menoleh sejenak kebelakang meminta kang Beben untuk mengeluarkan yang berat-berat besok pagi saja. Lantas membolehkan pria berusia empat puluh tahun itu pulang lebih dulu karena malam juga sudah larut.


–––


Di kamar, setelah bebersih Bilal mendekati sang istri yang nampak sudah sangat mengantuk.


"Tadi udah tidur?"


Maryam menggeleng. "Pas tau A'a udah Deket, aku-nya nggak jadi tidur."


"MashaAllah, kasian. Ya udah sekarang tidur aja." Bilal mengecup keningnya lalu merebahkan tubuhnya di sisi Maryam. Mereka tidur dengan posisi miring saling berhadapan. "Merr?"


Mata Maryam kembali terbuka, "iya, A?"


"Kamu betah, 'kan?"


"Iya... aku betah, kok." Tersenyum, matanya benar-benar sudah berat.

__ADS_1


"Seharian ini ngapain aja?" Bilal gemas, mendengar suara seraknya juga tatapan mata yang sudah sangat sayu itu memaksa untuk terbuka.


"Nggak ngapa-ngapain, tapi sore tadi jalan-jalan sama Ummi beli takjil."


"Oh, ya?" Di usapnya pipi sang istri dengan ibu jarinya. "Terus?"


"Terusnya?" Maryam membungkam mulutnya sendiri seketika itu menguap. Matanya yang sempat terpejam kembali terbuka. Keduanya tertawa sejenak... "Terusnya beli surabi kuah."


"Sama apa?" Sebuah kecupan mendarat di kening Merr, ketika matanya kembali terkatup.


"Banyak, A... beneran deh, aku ngantuk."


Bilal tertawa, karena ia sedikit sengaja mengganggu Maryam. Sejujurnya ia belum ingin sang istri tidur duluan, namun melihatnya mengantuk seperti ini, beliau jadi kasian sendiri.


"Ya udah, tidur yuk. Kamu miring kanan, biar A'a peluk dari belakang." Pintanya, Merr pun mengangguk ia memutar posisi tubuhnya, bergeser lebih mendekat. Sementara Bilal segera memeluknya. Memberikan kecupan sesekali di bagian lehernya.


"Jangan ganggu aku tidur..." rengek Maryam.


"Ngemil sedikit. Lagian kamu tinggal tidur aja, A'a yang kerja."


Maryam tertawa "Kerja apa, sih... jangan aneh-aneh."


"Nggak aneh-aneh. Udah tidur..." cium lagi, membuat Merr kembali menggeliat geli.


"Iya-iya... udah tidur, yuk." Bilal mempererat pelukannya setelah itu menekan mata berusaha untuk tidur.


"A'a, aku lupa kalau aku belum belanja keperluan bulanan aku."


"Ya besok, A'a anterin. Kita belanja sama-sama, ya," jawabnya masih dengan mata terpejam, Merr pun menjawab dengan anggukan kepala.


***


Esok harinya...


Siang ini keduanya mendatangi salah satu pusat perbelanjaan. Bilal yang mendorong troli, sementara Merr memilih beberapa barang yang di perlukan.


"Yang– aku mau itu dong." Bilal menunjuk salah satu kotak sereal gandum rasa coklat.


"Memang yang di rumah sudah habis?"


"Kemarin tinggal dikit, A'a makan pas sahur tadi."

__ADS_1


"Ya ampun, suami aku suka banget makan begituan... kaya anak-anak aja." Maryam geleng-geleng kepala, sementara sang suami hanya tertawa kembali mendorong troli mengikuti langkah Maryam yang sedang mendekati rak berisi deretan sereal gandum rasa cokelat tersebut. Ketika Maryam tengah menyentuh salah satunya, terdengar langkah kaki anak-anak yang mendekati, juga teriakan seorang wanita yang tak asing.


Merr menoleh, dan sedikit terkejut. Sama halnya dengan wanita yang berdiri tak jauh darinya. Juga, laki-laki yang lantas menyusul.


"Barakallah... Ustadz Akhri?" Bilal berseru, bibirnya tersenyum menyapa ramah pria yang juga turut mendekati. Lalu berpelukan. "Kok bisa di sini?"


"Iya, saya habis dari rumah orang tua istri saya. Terus mampir kesini..." Akhri menoleh ke arah Maryam, menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Assalamualaikum Ukhti..." Sapa-nya dengan canggung.


"Walaikumsalam, Ustadz..." Merr membalasnya lirih. Ia pun kembali menoleh kearah Nia. Mengarahkan tangannya pada wanita itu. "Apa kabar?"


"Baik, Ce..." Tersenyum sekenanya. Dalam hati ia meruntuk. Kenapa harus ketemu Merr di sini, apalagi saat sedang bersama Akhri. Ia khawatir Akhri akan galau lagi.


"Ini Hussein? Sudah besar ya?" Maryam mengalihkan. Lantas mengulurkan tangannya pada anak laki-laki yang masih memanggilnya Ummi Merr. "Ini siapa naman?"


"Alma..." jawab anak kedua Ustadz Akhri dengan malu-malu.


"MashaAllah, pintarnya. Kalau ini?" Merr menyentuh pipi anak bungsu Ustadz Akhri yang seperti malu di dekati oleh Maryam.


"Habib, maaf ya. Saya tidak bisa memenuhi undangan Antum waktu itu," tutur Akhri.


"Nggak papa, Ustadz. Saya memaklumi kesibukan Antum," pada saat itu Bilal memang belum tahu, namun sekarang ia paham lewat pengakuan Merr yang membenarkan kalau Ustadz Akhri adalah mantan suaminya.


Akhri tersenyum, "hanya doa terbaik yang bisa saya berikan. Semoga kebahagiaan menyertai kalian."


"Aamiin... terima kasih banyak, Ustadz."


"Iya, kalau begitu kami duluan. Mari, Bib... assalamualaikum." Akhri bersalaman lalu memeluk tubuh habib Bilal.


"Walaikumsalam warahmatullah..." membalas pelukan itu. Dan setelah mereka pergi, ia melirik kearah sang istri yang sedang meletakkan kotak sereal gandum dalam pelukannya. Tangannya langsung menarik pipi Maryam dengan gemas. "Assalamualaikum ukhti–" ledek Bilal mengikuti ucapan Akhri tadi.


"Dih, apa-apaan itu?"


"Nggak papa, Ukhti. Kangen aja panggil itu," jawabnya sebelum berdeham sejenak. "Cieee–"


Maryam terkekeh. "Kalau cemburu bilang, nggak usah di Pendem."


"Emang boleh cemburu?"


"Boleh–"


"Beneran, boleh? Aku itu kalau cemburu bisa minta tambahan jatah loh. Liat aja nanti..." Bisiknya membuat Maryam tertawa sembari memukul bahu suaminya.

__ADS_1


Akhri yang masih bisa mendengar tawa Maryam menoleh kebelakang sejenak, lalu menghela nafas sembari istighfar. Melanjutkan langkahnya dan belok ke sisi kiri.


__ADS_2