Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
kabar dari A'a


__ADS_3

Ketika hari sudah berganti mereka kembali pada rutinitas di pagi hari. Walaupun sedikit terkendala sebab sang anak yang mendadak rewel sejak sebelum subuh tadi, membuat Merr ekstra memberikan perhatiannya. Anak itu bahkan tak lepasnya dari gendongan sang ibu, hanya sesekali tenang namun tak lama akan kembali merengek.


Krieeet...


"Assalamualaikum. Yahya masih rewel, Yank?" Tanya Bilal seraya kembali menutup pintu kamar, selepas pulang dari masjid.


"Walaikumsalam, masih A' ... nggak jelas mintanya apa?"


"Ya Allah, coba sini A'a gendong." Kedua tangannya sigap meraih bagian ketiak sang anak. Pelan-pelan menggendongnya, "Yahya kenapa, Nak?" Mencium lembut bagian pipi gembilnya.


"Mungkin nggak sih dia sakit badan? Soalnya dia sampai nggak mau menyusu dari tengah malam tadi."


"Bisa jadi sih. Ya ampun, nak ... padahal Abi mau ajak jalan-jalan loh hari ini, kamunya malah rewel," gumamnya dengan bibir masih menempel di pipi.


"Kita tunda aja jalan-jalannya, A'..."


"Iya, Yank. Tapi udah coba cek suhunya, belum?" A'a menyentuh kening, sedikit ia merasakan suhu yang hangat saat menyentuh kulitnya.


"Udah, emang agak demam sedikit A'... tumben banget, biasanya nggak serewel ini."


"Udah kasih obat?"


"Udah aku kasih obat, tadi. Tapi kaya nolak, yang ada nangisnya semakin kencang, terus muntah."


"Ya Allah anak Abi kasian..." Bilal berjalan mendekati pintu yang mengarah ke balkon kamar mereka, sembari bersholawat menenangkan Yahya yang semakin menangis kencang, menunjuk kearah pintu kaca tersebut.


Di luar, Beliau berdiri di depan pagar pembatas balkon. Memandangi apapun yang ada di hadapannya. Langit yang sedikit demi sedikit mulai terang. Menimbulkan cahaya kebiruan, menyambut sang mentari yang akan segera menduduki singgasananya.


Selama Bilal menggendong dan menenangkan Yahya, Merr keluar kamar untuk bergegas menyiapkan sarapan bagi putranya. Setelah beberapa menit berlalu, Merr kembali. Ia mencoba menyuapi sedikit bubur untuk Yahya kali saja dia mau makan.


Biasanya, Yahya akan sangat antusias melahap bubur-nya. Namun, untuk saat ini anak itu menolak. Dengan cara menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu menepis sendok makan yang terarah kepadanya sembari merengek.


"Makan dulu, sayang." Merr berusaha membujuk.


"Beneran nggak mau sepertinya, Yank."


"Duh, kenapa ya, A'? Kemarin aja masih mau makan."


"Kita bawa aja ke poli anak. Kasian Yahya, A'a nggak tega ngeliat dia rewel begini."


"Iya deh. Aku siap-siap dulu, ya."


"Iya ... oh, sama siapkan baju untuk Yahya sekalian. Nanti A'a yang pakaikan."


"Iya–" jawabnya sembari melangkah masuk.


Bilal yang masih berdiri di sisi pagar pembatas balkon saat ini tengah mengayunkan tubuhnya. Berusaha membuat sang anak kembali tenang. Menunggu beberapa saat, barulah beliau masuk.

__ADS_1


Di atas ranjang sudah ada baju dan perlengkapan sang anak. Pelan-pelan meletakkan Yahya pada posisi terlentang. Tentunya Yahya kembali menangis menjulurkan kedua tangan kearahnya. Meminta kembali di gendong.


"Sebentar sayang, Abi gantiin baju kamu dulu, ya." Berusaha mempercepat gerakan tangannya melepaskan pakaian sang anak untuk di ganti dengan pakaian baru. Sementara nyaring suara Yahya terus terdengar, membuat Merr bergegas keluar dari dalam kamar mandinya.


"Nangisnya kenceng sekali si, Nak. Ya ampun..."


"Nggak mau di turunin ... mintanya di gendong, Yank," jawab Bilal yang sudah mulai memakaikan bajunya.


"Ya ampun, Yahya... sini sama Ummi saja," pintanya.


"Nggak papa, aku bisa kok. mending kamu siap-siap aja," perintahnya. Merr sendiri langsung menuruti. Buru-buru ia memakai gamis sekenanya, bergo syar'i instan yang bisa langsung di pakai tanpa perlu menyematkan peniti dan lain sebagainya, terakhir lipstick agar wajahnya sedikit lebih segar. Beberapa keperluan Yahya pula ia masukan kedalam tas, tanpa riasan apapun lagi Ia bergegas keluar, menyusul sang suami yang sudah membawa Yahya keluar kamar mereka.


***


Di poli anak...


Dokter memeriksanya, fokusnya saat ini adalah di bagian rongga mulut. Dengan menggunakan senter, sang dokter anak tersebut nampak manggut-manggut.


"Oh, adeknya sariawan ini."


"Sariawan?" Tanya Bilal.


"Iya, Pak. Ini ada beberapa yang sedang meradang, lebih dari tiga. Cuman yang besar itu ada dua di lidah bagian dalam sama yang hampir mendekati kerongkongan."


"Astagfirullah al'azim, pantas dia nggak mau makan, nggak mau menyusu sama sekali." Maryam menanggapi.


"Tapi bayi bisa sariawan begini, ya? Penyebabnya apa?" Tanya Bilal penasaran.


"Bisa Pak. Luka pada mulut bayi biasanya diakibatkan karena tidak sengaja menggigit lidah atau bagian dalam bibirnya saat menyusu. Alergi makanan. Sensitif terhadap buah yang rasanya asam, seperti jeruk dan stroberi. Kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti asam folat, zat besi, dan vitamin B12 juga menjadi penyebabnya."


"Oh... berapa hari sembuhnya?"


"Nggak lama kok, hanya beberapa hari saja."


"Begitu ya?"


Sang dokter tersenyum menanggapi dengan anggukan kepala sekali. Setelah itu mencatatkan sesuatu dalam kertas resepnya.


––


Selepas keluar dari poli, mereka kembali menunggu di area administrasi. Yahya kini tengah tertidur dalam pangkuan Maryam di salah satu kursi panjang menanti Bilal yang sedang mengambil obat. Tak lama A'a kembali dengan bungkusan berisi obat serta struk pembayaran.


"Sudah?" tanya Merr.


"Sudah. Sini, Yahya biar aku yang gendong," pintanya pada sang istri yang menjawab dengan anggukan kepala.


Sepanjang irama langkah kaki mereka, menapaki lantai ubin di lorong rumah sakit, A'a terdiam. Memandang lurus kedepan, menatap keramaian orang-orang yang berlalu lalang. Ia tengah berpikir, apa sebaiknya memberitahu kabar bawa Ustadz Akhri akan segera menikah. Atau lebih baik diam? Bilal melirik sekilas lalu menghembuskan nafasnya pelan.

__ADS_1


"Yank, kamu sudah dapat kabar dari teman mu?"


"Teman yang mana?"


"Yang paling dekat denganmu."


"Oh, Arshila..."


"Emmm..."


"Aku nggak dengar kabar apapun. Memang A'a dengar suatu kabar?" Tanyanya, Bilal sendiri mengangguk.


"Tentang apa?"


"Ustadz Akhri–" jawabnya. Mendengar nama itu di sebut, Merr bergeming. "Beliau akan menikah, kurang lebihnya pekan depan."


"Barakallah..." gumam Maryam.


"kamu ikut senang?"


"tentunya, bukankah kita harus merasakan turut bahagia ketika mendengar kabar saudara atau saudari kita akan menikah?


Bilal tersenyum samar benar juga, sih. lantas menghentikan langkahnya. "Kamu mau datang sama A'a, nggak?"


Merr tak menjawab, selain turut menghentikan langkahnya mengikuti Bilal yang lebih dulu berhenti melangkah.


"Sepertinya enggak. A'a saja."


"Kenapa?"


"Aku rasa, hanya dengan mendoakan dari jauh itu sudah cukup. Jadi lebih baik A'a saja yang datang."


Bilal tersenyum tipis, "kamu yakin?"


"Iya, aku tidak bisa menghadiri sebuah acara yang mungkin akan menghadirkan rasa lain untuk suamiku."


"Aku slow kok."


"Oh, ya? Bilangnya slow, tapi kadang suka uring-uringan."


Bilal terkekeh, "untuk sekarang enggak, yank. Janji...! Lagipula aku yang menawarkan apakah kamu mau datang mendampingi aku, demi memenuhi undangan Beliau?"


Merr berpikir sejenak, dengan tatapan lekat terarah pada sang suami.


"Beneran tidak apa-apa?" hati-hati bertanya kemudian.


"Nggak papa, sayang..." jawabnya lembut, Merr pula tersenyum lalu mengangguk pelan. "MashaAllah– nanti kita datang sama-sama. Karena kebetulan di hari-H Beliau A'a free."

__ADS_1


"Iya, A'..." menjawab dengan perasaan lega. Pasalnya Bilal memang benar-benar mulai slow dengan semuanya yang berkaitan tentang sang mantan suami dari istrinya itu.


__ADS_2