
Di rumah, mereka semua sibuk membuat makanan untuk persiapan acara yang akan di gelar di rumah.
Ummi Isti dan ibu-ibu yang biasa membantunya masak jika ada pesanan ketering hanya menyiapkan nasi kotak saja lengkap bersama sayur dan lauknya. Sementara Snack jajanan basah mereka pesan dari orang lain.
Di sela-sela pekerjaannya, Ummi Melihat menantunya hendak memindahkan bungkusan plastik besar berisi gula merah yang baru saja di antar oleh seseorang. Seperti panik, Ummi langsung berseru. Tentunya dengan intonasi suara yang biasa. Karena Isti tak pernah bernada tinggi saat berbicara.
"Eh... Merr! kamu jangan angkat-angkat itu." Isti menahannya.
"Kenapa Ummi?" Tangan Maryam masih memegangi bagian ujung plastiknya yang belum sempat di angkat. Sedikit terkejut saat Ummi tiba-tiba berseru.
"Berat, itu ada sepuluh kilo. Jangan-jangan!"
"Cuma narik aja. Menggesernya sedikit. Soalnya Merr mau bantu Bu Muning mengupas kentang di sudut itu."
"Haduh, jangan. Walaupun di seret tetep membawa tekanan ke perut kamu. Mending istirahat aja. Nanti kecapean–"
"Enggak cape kok Ummi. Lagian dari tadi Maryam nggak ngapa-ngapain."
"Nggak usah memikirkan pekerjaan ini. Huuuh, ngerinya... untung belum di angkat," Ummi berbicara sembari mengelus dada. Lega. Merr tertawa kecil. "Takutnya seperti kemarin, kamu 'kan sempat ngeflek. Jangan, ya... mending istirahat aja. Ini sudah jam sebelas. Mungkin sebentar lagi Bilal juga pulang."
"Emmm, iya deh..." Merr berjalan ke arah wastafel, guna mencuci tangannya. Menurut saja. Jika Ummi ataupun A' Bilal jadi lebih posesif. Tak lama ia mendengar suara klakson mobil di depan.
"Tuh, pasti Bilal," kata Ummi. Merr sendiri tersenyum ia langsung melangkah keluar sembari mengusap perutnya yang kini mulai terlihat sedikit membuncit.
Perlahan Merr membuka pintunya, melihat dua orang tak terduga. Datang ke tempat tinggalnya.
"MashaAllah–" gumam Maryam tanpa suara. Perasaan bahagia langsung saja menyeruak. Seperti sebuah kejutan yang tak disangka-sangka.
"Assalamualaikum..." sapa seorang pria bermata sipit yang tertutup kaca mata, bersama dengan seorang wanita berambut pendek sebawah telinga.
"Alaikum–" Merr tersenyum sumringah, saat mendapati kakaknya yang di Bandung datang. "Ko Yohan? Ce Gita, ya ampun."
__ADS_1
"Gimana kabar kamu, Maryam?" Ko Yohan merengkuh tubuh adiknya dengan satu tangan berbalut perasaan rindu dan senang. Terlebih saat tahu adik bungsunya itu akhirnya mengandung. Maryam sendiri tersenyum, ketika kakaknya itu semakin fasih memanggilnya Maryam bukan Merry lagi.
"Baik Alhamdulillah. Koko, dan Cece sendiri bagaimana? aku sampai speechless." Maryam terkekeh sebelum beralih memeluk kakak iparnya. "Cece ya ampun? Cece sudah sembuh?"
"Sudah Merr..."
(Ce Brigitta mengucap syukur dengan ucapan sesuai agama yang ia anut. Namun author nggak menuliskan, takut kalian nggak nyaman apabila terucap saat membacanya 😊)
"Syukurlah– aku sempat khawatir waktu Debby pulang ke Bandung selama hampir satu bulan buat ngerawat Cece yang nggak bisa jalan. Aku sendiri belum sempat kesana, Cece malah udah kesini..."
Brigitta terkekeh. "Nggak papa, Cece maklum karena kamu lagi hamil muda. Riskan juga kalau perjalanan jauh. Yang penting sekarang sudah baik-baik saja."
Merr manggut-manggut setelah bergumam MashaAllah. "Masuk yuk Ce, ko."
"Terima kasih. Ini kami nggak bawa apa-apa loh datangnya," ucap Ce Brigitta mengambil alih parsel cantik berisi puluhan pcs pie susu dari tangan suaminya lantas menyerahkannya pada Maryam.
"Kok repot-repot sih, Ce." Maryam menerimanya. "Kalian mau datang kesini aja udah seneng banget, aku-nya."
"Nggak papa, kamu kan harus ngemil yang banyak, biar janin di dalam rahim kamu senang..." jawab Brigitta sembari tertawa lirih. Merr juga sama, menanggapi dengan tawa.
"Eh, ada tamu–" Isti keluar dengan wajah sudah tertutup kain cadar. Karena ia mendengar suara Maryam berbicara dengan nada sumringah. Di tambah suara dua orang yang sepertinya asing.
"Ibu– apa kabar?" Nyonya Brigitta mendekati sembari mengulurkan tangannya. Sementara Isti langsung menjabat lantas menarik pelan memberikan pelukan.
"Saya baik, ibu sendiri bagaimana? Saya dengar sempat sakit kemarin?"
"Iya, asam urat saya sempat tinggi. Sampai kaki kiri saya membengkak hingga ke betis. Makanya nggak bisa jalan."
"Ya Allah– sekarang bagaimana?" Isti bersimpati.
"Udah agak enakan sih. Lumayan bisa jalan walau harus hati-hati."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Mari Bu duduk dulu." Isti dan Brigitta masih saling merangkul pinggang masing-masing. Berjalan bersama dan duduk di sofa.
"Habib Bilal, mana?" Tanya Yohanes.
"A'a lagi menghadiri undangan ta'lim. Karena mereka sudah pesan jauh-jauh hari untuk menghadirkan Beliau di acara mereka. Makanya nggak bisa di batalkan," jawab Merr.
"Begitu ya? Nggak papa lah, pekerjaan mulia... rezeki untuk calon anaknya juga. Bukan begitu, Bu Anisa?"
"inshaAllah–" jawabnya sembari menyipitkan matanya, tersenyum.
"Koko kesini sengaja atau sekalian kerumah Debby dan Rumi?" tanya Maryam penasaran.
"Iya... sengaja mau nengok kalian yang di sini. Di samping ingin tahu kabar adikku yang lagi hamil. Ini juga sebab Alzah yang sudah dua bulan nggak ke Bandung. Saat di telfon jawabnya minta Opah dan Omahnya yang gantian datang. Eh... dia nggak tahu kalau Opah-nya udah kangen berat, Jadilah kami yang datang beneran ke Jakarta, sekalian jalan-jalan." Tubuh gempal itu sedikit berguncang akibat tertawa.
"MashaAllah–" Maryam tertawa gemas membayangkan suara menggemaskan Alzah menelepon kakeknya untuk datang kemari.
"Waktu di Bandung. Anak itu mengajari saya ngaji, masa... dia bilang opah harus bisa ngaji seperti kakeknya yang di Magelang. Pakai sarung sama Koko juga." Tuan Yohanes tertawa lagi. Ya, mau bagaimanapun juga anak itu belum paham jika kakeknya yang di Bandung berbeda keyakinan.
"Lalu bagaimana?" tanya Maryam gemas.
"Saya ikutin aja, anak itu ngajarin apa itu? Huruf-huruf Arab. Iqro, ya?"
"Iya–" Maryam menjawab sembari tertawa.
"Nah itu... di bilang; opah nggak pinter-pinter di ajarin Azah, katanya. Hahaha."
"MashaAllah, Alzah emang, ya."
"Tapi senang sih, dia itu banyak ngomong. walau kadang kalah juga sama anaknya Gallen. Rada cengeng tapi gemesin."
"Hahaha–" mereka tertawa menanggapi ocehan Tuan Yohanes yang memang gemar sekali berbicara. Tak lama salah seorang wanita paruh baya yang biasa membantu di rumah Ummi Isti keluar. Menyuguhkan minuman serta camilan.
__ADS_1
Selanjutnya obrolan semakin hangat saat A'a baru saja tiba. Tepat sebelum adzan Dzuhur berkumandang. Ketika waktu sholat tiba mereka izin untuk meninggalkan suami istri itu sejenak demi beribadah. Berselang beberapa menit setelahnya. Obrolan itu kembali di sambung walaupun tidak lama. Keduanya langsung berpamitan untuk kerumah Debora.
Sebenarnya Isti menahan mereka untuk tidak pergi, dan makan lebih dulu. Akan tetapi keduanya bersikukuh untuk tetap pulang ke rumah Debora.