Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
saling berusaha melupakan


__ADS_3

Rasa lelah menggelayuti tubuhnya. Maryam baru saja tiba setelah mengantarkan Debby kerumah Ustadz Irsyad lebih dulu.


Tubuhnya terhempas begitu saja di atas ranjang. Dengan tas yang masih menggantung di tubuhnya. Maryam menatap langit-langit kamar.


Bang Akhri sudah baik-baik saja. Aku senang melihatnya. Dia pula sudah bisa melupakan aku, sepertinya.


Maryam tercenung, mengingat-ingat suara lembut mantan suaminya. Hatinya tak lagi perih. Namun rasa sedikit tak rela kembali muncul, mengusik jiwanya.


Aku bersyukur, walaupun masih ada sedikit rasa tak rela. Namun, batin ini sudah kebal. Entah jika aku masih bersama mereka... apa cinta Abang akan tetap sama? Aku rasa akan banyak berkurang.


Maryam tersenyum tipis, ia segera beranjak dari posisinya. Berpindah kemeja rias. Tangannya dengan pelan menarik pentul jarum yang tersemat di kain hijabnya. Lantas melepaskan hijab itu.


Menatap bayangannya sendiri di cermin, ia pun melepaskan ikat rambutnya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai.


Di ambilnya alat untuk menyisir rambutnya yang lurus, hitam, dan lebat.


Abang itu suka sekali sama rambut kamu... membuat kamu semakin terlihat cantik, kalau di gerai seperti ini.


Ucapan bang Akhri yang mendadak terdengar. Membawanya pada sebuah ilusi diri Beliau yang tengah memeluk dari belakang, lalu mencium kepalanya.


"Astagfirullah al'azim..." Maryam tersadar. Ia menggeleng cepat setelahnya menyibak rambut panjangnya kebelakang. "Aku ini kenapa? Hanya bertemu sebentar tanpa bertatap mata sudah seperti ini?"


Tante, kenapa tidak nikah lagi, sih? Nikah saja lagi... biar hati Tante tidak kosong. –Ucapan Debby saat perjalanan pulang tadi.

__ADS_1


"Hati ku nggak kosong, hanya penuh dengan hal yang ku senangi. Dan jika aku rindu, itu hal wajar..." Maryam bergumam sendiri, hal yang tak bisa ia jawab saat bersama dengan keponakannya baru bisa ia jawab sekarang. Lantas menoleh ke arah meja kerja di sudut kamarnya. Yang terdapat monitor lcd, sebagai sarananya bekerja.


Cara paling benar menyembuhkan luka hati, yaitu menemukan hati yang baru. Kalau seperti ini terus, Tante akan merasakan kesepian tiada ujung. Yang berakhir rasa rindu, tapi tak tersampaikan.


"Ya Allah..." Maryam memijat keningnya. Ia pun membuka laci meja, mengeluarkan salah satu bingkai kecil yang sengaja ia simpan hingga detik ini. Sebuah foto pernikahan dirinya dengan sang mantan suami. Ya, satu-satunya yang masih ia punya.


Maryam mengeluarkan itu pelan, lalu memandangi dengan tatapan sendu.


"Nggak seharusnya, aku masih menyimpan ini. Bang Akhri sudah bahagia dengan keluarganya yang sekarang." Perlahan Maryam membalik bingkai itu, lalu melepaskan tutup di bagian belakangnya. Dan mengeluarkan foto tersebut.


Senyum Akhri yang mengembang sempurna padanya setelah ijab qobul membuat hatinya kembali teriris. Agak sedikit di sayangkan jika foto ini harus di hilangkan. Sebab ia sudah tak memiliki yang lainnya lagi. Namun Maryam harus benar-benar menghapus Akhri dari pikirannya. Wanita itu pun merobek pelan, dan belum sampai setengahnya? Gerakan tangan itu terhenti.


"Aku nggak bisa menghapus semuanya. Tolong, izinkan Merr menyimpan satu ini saja ya, Bang." Maryam membatalkannya, ia hanya menumpuk asal foto di atas bingkai itu setelah kembali memasukkan kedalam laci di meja riasnya. Wanita itu menyeka air matanya, setelah itu beranjak menuju kamar mandi.


***


Seolah terlukis bayangan dirinya dan juga Maryam yang sedang makan di sana. Karena meja itu dulu tempat favorit mereka.


Area yang lebih dekat dengan kaca, sehingga membuat mereka bisa makan sembari melihat jalan di luar warung makan.


Sudah terlewat beberapa tahun... aku masih mengingat tatapan indahnya, juga tawanya.


Akhri menoleh kearah Nia yang sedang melahap makanannya. Di sisi samping ada Hussein yang juga sedang makan sendiri. Sementara Alma anak kedua mereka sedang berjalan-jalan di dalam restoran yang menjual berbagai macam menu makanan. Lokasi yang cukup luas itu bisa menampung banyak orang. sebab terdapat dua langkah. Bersama pengasuhnya anak itu terus saja berjalan kesana kemari, melihat-lihat apapun yang membuatnya tertarik.

__ADS_1


Seperti yang kamu inginkan, Abang berusaha mencintai Nia sepenuh hati. Walaupun sejatinya amat sulit untuk menerima dan memperbaiki hubungan Abang dengan Nia dulu. Tapi akhirnya Abang bisa, walaupun belum sepenuhnya, semua demi Hussein... itupun butuh waktu bertahun-tahun.


Akhri membenahi kacamata yang beliau pakai. Terlihat anak laki-lakinya amat bahagia menunjukkan ibu jari kepada Abinya.


"Enak, ya? Abang suka?" Tanya Akhri. Anak itu langsung tersenyum seraya manggut-manggut dengan mulut terisi penuh.


"Abang suka ini, ini, ini, semuanya Abang suka," jawabnya sembari menunjuk beberapa goreng-goreng di hadapannya. Membuat Akhri tersenyum. Sama halnya dengan Nia yang tertawa gemas.


"Kalau begitu habiskan makannya, Nak. Tapi tetap pelan-pelan, ya," kata Beliau sembari mengusap kepala yang tertutup pecinya. Lantas membuka bungkusan hitam di sebelah piringnya berisi asinan mangga yang beliau beli di jalan, tadi. Setelah itu membuka tutupnya, menusukkan garpu plastik ke salah satu potongan mangga.


"Bi–" panggil Nia. Membuat Akhri mengangkat kepalanya melirik sang istri, "asinanya di makan di rumah aja. Abisin dulu makanan Abi..."


"Iya, cuma mau makan satu, kok," jawab beliau. Yang langsung memasukkan potongan mangga kecil kedalam mulutnya. Setelah itu menutup lagi wadahnya.


"Abi suka banget sih beli asinan. Tapi cuma makan satu, habis itu udah. Kan mubasir..."


Akhri hanya tersenyum. Lalu kembali meraih sendoknya.


Sejujurnya Abang nggak begitu suka asinan, tapi sekarang Abang jadi sering makan ini. Di saat sedang ingat Dia. Abang tahu, Abang sudah tidak boleh merindukannya. Namun kadang hati yang terusik dengan sendirinya membuat Abang kalah. Hanya tetap berusaha keras untuk nggak mencari tahu tentang Dia. Demi bisa melupakannya.


Akhri mengunyah makanannya dengan sedikit rasa getir di dada. Mungkin benar, hadirnya dua anak bahkan akan hadir satu lagi yang masih berada di kandungan Nia membuat beliau bahagia.


Namun, hati tak bisa bohong. Cintanya pada Nia, tak sedalam dulu pada Maryam. Namun bukan berarti beliau jahat dan tak memiliki perasaan sama sekali. Tetap ada hati untuk Nia walaupun hanya sebatas lima puluh persen itupun terbagi karena adanya anak.

__ADS_1


Lagipula setiap manusia pasti memiliki kekurangannya. Serta ujian yang menjadikan itu sebagai titik kelemahannya; yaitu, ketika dirinya sudah menjatuhkan hati maka ia akan sulit untuk melupakan, dan butuh kekuatan ekstra demi bisa menguatkan imannya.


Sementara Maryam tak hanya pernah membuatnya jatuh hati. Lebih dari itu, hidup satu ruangan dan terpisah di saat hati masih sangat mencintainya. Membuat Dia seperti di tendang paksa agar keluar dari ruang kebahagiaannya. Itu amatlah sakit bagi Akhri, hingga membutuhkan waktu lama untuk benar-benar sembuh.


__ADS_2