
Bilal baru keluar dari kamar mandi, sang istri sudah duduk manis di atas kasur.
"Mandi dulu, Yank. Biar seger–" titahnya, sembari melangkah mendekati lemari pakaian. Maryam sendiri tak merespon, ia masih berdiam diri, memandangi Bilal memakai atasannya. "Yank–"
"A'... aku mau tanya. Kamu kok bisa setampan itu, si?" Maryam mendadak betah memandangi suaminya. Bilal terkekeh geli.
"Baru sadar, ya?"
"Enggak sih udah lama. Tapi aku heran loh..."
"Heran apa?" Bilal sudah selesai memakai pakaiannya, lantas mendekati Merr sembari menyerahkan handuknya ke tangan sang istri.
"Ya, heran. A'a tuh tampan, dan pada saat itu masih bujangan juga. Kenapa mau dengan aku yang seorang j*nda ini. Nggak mungkin kamu nggak laku, kan? Karena aku tau fans kamu kaya apa?"
"Gimana, ya? Kamu mau tahu, saat itu banyak guru-guru A'a yang menawarkan anaknya untuk A'a nikahi. Saking!! banyaknya sampai bingung milihnya." Bilal menjawab dengan gaya pamernya yang tengil. Di mana Maryam langsung merespon sinis padanya.
"Nyesel aku tanya. Ngomong sakingnya aja sampai di tekan banget."
"Hahaha, bercanda sayang." Bilal mencium keningnya gemas. "Gimana ya? Sebelum bertemu kamu, aku sudah punya pemikiran untuk menikahi seorang wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya."
"Kenapa? Mereka pastinya masih segar, dan cantik-cantik, kan?"
"Iya, tentu mereka yang di tawarkan ke A'a masih gadis. Ada yang masih kuliah, ada pula yang lulusan Tarim, atau Mesir dengan pemahaman hadist dan juga Al Qur'an yang luar biasa. Dan nggak hanya itu bahkan yang belum lulus SMA juga ada yang di tawari ke A'a." Bilal tersenyum sok kalem tapi justru itu membuat Maryam malas melihatnya.
"Ngeri banget..." Maryam mendadak ciut. "Terus kenapa A'a tolak? kenapa malah pengenya j*nda?"
"Alasan A'a tolak selain belum ada keinginan menikah, A'a juga mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya Tabarruj, A'a kurang suka wanita bersolek lalu di posting ke sosial media dengan gaya yang berlebihan. Kebanyakan dari yang di kenalkan ke A'a, akunya penuh dengan foto-foto mereka. Walaupun nggak semua– Kalaupun ada yang cocok, pasti ada hal lain yang bikin akhirnya nggak sreg."
"Dih... berarti langsung di keppoin, ya?" Maryam penasaran walaupun kesel juga. Ya, begitulah wanita. Gemar bermain pemantik api yang sedang tenang. Nggak sadar dia bisa membakar hatinya sendiri. Heeemmm...
"Setiap wanita yang di kenalin ke A'a itu udah pasti A'a cari akun sosial medianya," jawab Bilal jujur. Membuat Maryam mendengus. "Jangan salah sangka, itu cara laki-laki mencari tahu seperti apa wanita yang akan ia nikahi. Karena karakter seorang wanita akan terlihat lebih banyak di akun sosial medianya. Entah dari postingan kata-katanya, atau bahkan dari pose foto-fotonya. Kamu nggak inget, dulu A'a juga keppoin kamu. Ajak ngobrol di DM? Tapi di cuekin... baru di bales gara-gara nawarin asinan."
"Aiiihhh..." Merr terkekeh mengingat masa-masa perkenalannya dengan Bilal.
"Ketawa, 'kan? Ngerasa bersalah, ya? Maaf udah telat!"
"Hahaha... maaf, pada saat itu aku kan nggak yakin sama kamu. Kirain kamu tukang DM wanita..."
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim, pikirannya?"
"Loh, aku nggak cuma satu loh yang DM kaya kamu gitu ngajak nikah dan sebagainya–"
"Pamer apa gimana?" Bilal menggapit kedua pipi sang istri, membuat Maryam meringis namun kemudian tertawa.
"Nggak pamer... faktanya begitu, emang kamu doang yang bisa sombong punya banyak fans?"
Bilal menghela nafas. Lalu membuang muka.
"Eh... dosa loh membuang muka begitu ke istri," ledeknya. Bilal sendiri langsung kembali memutar menoleh kearahnya dan memeluk Maryam erat. "Ya ampun, jangan kuat-kuat. Akunya engap!" Maryam tertawa karena sang suami langsung menghadiahi kecupan di kening secara bertubi-tubi.
"Ampun nggak?"
"Ampun A'a... udah sih, kan lagi bahas yang lain."
Bilal melonggarkan pelukannya, setelah itu tertawa bersama.
"Lanjutin," pinta Maryam sembari memeluk lengan suaminya.
"Sampai mana tadi, ya?"
"Nggak mood nih jadinya."
"Jangan gitu–" Merr merayu sembari mencium pipinya. "Intinya sampai kamu bilang nggak suka wanita yang ber-tabarruj."
"Lagi, yang kanan belum!" Pintanya dengan nada ketus. Namun membuat Maryam tertawa. Ia memberikan lagi kecupan di pipi sebelahnya.
"Udah kan?" tanya Maryam. Yang di balas dengan dehaman.
"Intinya salah satu itu, namun yang paling utama adalah. Pengalaman..."
"Pengalaman apa? Kaya lamaran kerja aja harus ada pengalaman."
"Maksudnya, wanita yang sudah pernah menikah pasti lebih matang dalam segala hal. Termasuk pemikiran, dan sikap yang akan ia ambil ketika terjadi masalah. Karena yang A'a mau itu, istri yang dewasa, bisa memahami kondisi ku. Aku itu anak sulung, punya dua adik dan seorang ibu yang single parent. Dia juga harus memahami pekerjaan ku, yang seperti ini. Jadi nggak gampang marah hanya karena aku pergi-pergian terus untuk dakwah."
"Jujur, aku ya kesel sih kadang karena kamu jarang banget di rumah. Tapi, ya aku paham... karena tugasmu mulia, inshaAllah." Merr tersenyum. Bilal sendiri lantas mengecup keningnya.
__ADS_1
"Itu yang aku bilang mengerti. Kamu kesal? Nggak papa itu manusiawi. Karena rindu kadang bikin suasana hati nggak baik. Tapi kamu berusaha untuk menahan itu, A'a senang dan justru makin mencintai kamu. Bisa jadi nilai plus sekaligus penyemangat untuk meyakinkan aku, bahwa satu Merr sudah cukup untuk A'a."
"Masa?" Ledeknya bernada manja. Di samping itu hatinya merasa berbunga-bunga.
"Iya lah... wanita Solehah itu bikin adem dan bikin nyaman hati."
"MashaAllah, emang aku udah se-sholehah itu?"
"Belum sih..." jawabnya langsung.
"Iiiiihh... habis di buat melayang setelahnya di jatuhkan tiba-tiba. nyebelin!" Maryam memukul lengan suaminya.
"Hahaha..."
"Tapi A'a juga dewasa. A'a bisa mengimbangi aku. Padahal aku sempat khawatir kamu akan lebih kekanak-kanakan."
Bilal tersenyum tipis, "kamu tahu pernikahan paling utamanya itu bukan sekedar saling cinta dan saling suka. Bukan mapan atupun kekayaannya yang melimpah tujuh turunan. Bukan juga perkara tampang masing-masing. Tapi bagaimana persiapan kita ketika di timpa masalah pelik dalam rumah tangga, lebih-lebih di lima tahun pertama. Masa adaptasi dari lajang ke masa-masa sudah memiliki pasangan. Semua tidak akan sama. Lagi, jujur selama ini aku itu belajar perihal rumah tangga lewat Al Qur'an dan hadist loh. Sebelum benar-benar memutuskan untuk menikah dulu. Belum lagi banyak bertanya pada teman-teman yang sudah menikah. Walaupun dalam hukum pernikahan tidak ada istilah senior dan junior. Semua sama dengan porsi ujiannya masing-masing."
"MashaAllah–"
"Iya, dulu A'a pikirkan banget itu, masalah tanggung jawab sebagai seorang suami, dan ayah. Karena pertanggungjawaban ku besar Merr. Jadi aku harus benar-benar belajar sebelum menjadi pemimpin untuk keluarga ku. Nih, walaupun seberapa kuat imanku dan ibadah ku selama di dunia. Namun aku gagal mendidik anak dan istri. Lantas mereka menuntut di akhirat aku juga bisa terseret ke neraka loh."
"MashaAllah–" gumamnya lagi. Pantas dia dewasa sekali dalam menyikapi masalah kami selama menikah. Walaupun sisi egoisnya kadang masih ada tapi itu nggak parah.
"Makanya, perlunya seorang laki-laki belajar sebelum menikah. Bukan hanya sekedar untuk menyalurkan hasrat. Menikah itu untuk ibadah yang panjang sampai akhir hayat. Lagi, pemilihan pasangan hidup juga penting untuk kedepannya. Selain tampang, ahlaklah yang paling menentukan. Karena rumah tangga tidak akan harmonis kalau istrinya tidak qanaah."
"MashaAllah, aku sampai bengong mendengar penjelasanmu. Aku justru tak sejauh itu mikirnya. Jadi, apakah aku?"
Bilal tersenyum. Ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Maryam.
"Dan saat itu, kamulah yang paling masuk dalam kriteriaku. Setelah menikah aku semakin percaya kalau kamu itu beneran baik, selalu memahami kesibukanku, tak pernah sungkan meminta maaf lebih dulu, jarang bertingkah egois, amat jarang pula dan bahkan hampir nggak pernah posting foto di akun sosial media kamu. Terakhir, inshaAllah kamu termasuk istri qanaah. Sudah jelas kan? Alasanku milih kamu?"
Merr tersipu. Ia hanya tersenyum tipis dengan pandangan mengarah pada netra kecoklatan milik Bilal
"Jadi bengong lagi?" Bilal tertawa.
"Aku pengen peluk tapi aku belum mandi."
__ADS_1
"Ya Allah– peluk aja, Yank." Bilal menarik tangan Merr. Membawa sang istri kedalam pelukannya.