Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
menyambangi rumah Ustadz Akhri


__ADS_3

Pagi yang cerah di tempat yang berbeda Maryam kembali masuk ke dalam kamar setelah membantu ibu mertuanya mengemas pesanan nasi liwet hari ini.


Niatnya ingin langsung melaksanakan shalat Dhuha. Namun, matanya teralihkan oleh ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Ngecek WA dulu aja lah, takut A'a ngechat," katanya sembari duduk di atas ranjang. Tangan mulusnya menekan tombol samping, hingga layar itu menyala. Seketika keningnya berkerut saat mendapati sepuluh panggilan tak terjawab dari Arshila. "Shila nelfon ada apa, ya?"


Merr memutuskan untuk menghubungi balik nomor Arshila. Di dering ketiga panggil itu di terima.


"Halo, assalamualaikum..." jawab Shila di seberang dengan suara seraknya.


"Walaikumsalam, Shila. Kamu tadi nelfon aku, ada apa?" Merr penasaran. Karena di samping suara Arshila yang serak, ia juga mendengar suara tangis seorang anak laki-laki.


"Merr, aku ingin memberikan kabar duka tentang Kania."


"Kania? Ada apa dengan Kania?"


"Kania sudah tidak ada. Kania baru saja wafat di rumah sakit," ucapnya. Mata Merr tak urungnya berkaca, ketika mendengar kabar duka yang membuat waktu seolah berhenti berdetak.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Nia." Netra coklatnya mengalirkan bulir bening kesedihan. "Sekarang, apa jenazahnya masih di rumah sakit?"


"Masih Merr... yang sudah pulang baru ibu dan kakaknya Kania. Bang Akhri masih di sana menunggu jenazah di urus."


"Ya Allah... aku turut berdukacita. Lalu bagaimana dengan anak-anak?"


"Si bungsu masih belum begitu mengerti, saat ini sedang di urus Ummi ku. Sementara yang nomor dua dan si sulung sedang menangis. Tapi Husein jauh lebih terpukul sepertinya," jawab Shila. Merr sendiri memahami perasaan anak-anak itu saat tahu ibunya sudah berpulang. Pasti amat berat terlebih mereka masih kecil-kecil. Dirinya saja dulu berat ketika di tinggal pergi Mamih untuk selama-lamanya juga di susul papih empat tahun kemudian.


"Jujur Shil, aku sangat ingin kesana memeluk anak-anak Nia. Tapi suamiku sedang berada di luar Jawa. Aku tetap harus menghormati Beliau, dan mungkin akan mengunjungi keluarga Ustadz Akhri demi mengucapkan belasungkawa saat suamiku sudah kembali."


"Aku mengerti, Merr. Tapi sebelum itu, aku minta keridhoan mu untuk memaafkan segala kesalahannya pada mu dulu."


"inshaAllah, aku sudah memaafkannya. Dan aku bersaksi bahwa Kania sejatinya adalah orang yang baik. Ku harap Dia tenang di sana, karena sudah tidak sakit lagi."


"Aamiin, terima kasih Merr. Maaf aku tutup dulu ya, nanti aku hubungi lagi."


"Iya..." Maryam menjawab pelan, lalu menurunkan ponselnya hingga ke dada setelah membalas salam penutup dari Arshila.


Aku minta maaf, karena aku pernah serakah sama Cece, aku sudah merebut kebahagiaan Cece, aku juga yang sudah mendepak Cece dari sisi Bang Akhri. Semua ku lakukan karena aku mencintai Abang. Membuatku egois sampai tak memikirkan Cece juga punya hak sama atas kasih sayang Bang Akhri. Aku sudah dzolim pada Cece.

__ADS_1


"Kania–" gumamnya lirih.


Air mata Maryam menderas saat mengingat bibir pucat Kania meminta maaf dengan tulus. Bahkan dengan tubuh yang lemah itu ia hendak bersimpuh di kaki Maryam, jika saja tak di tahannya. Ingatannya bergeser pada suasana sejuk angin siang hari di dekat taman rumah sakit. Wanita itu menggenggam tangan Maryam, sembari berbicara dengan suaranya yang sedikit lemah.


Andai saja, aku dulu bersikap baik. Cece pasti masih menjadi istri pertama Bang Akhri. Jadi aku tenang, kalaupun aku mati? Anak-anak masih memiliki Ummi yang baik hati. Kalau sekarang, mustahil untuk meminta Cece kembali lagi dengan Abang. Karena Cece sudah menikah dengan seorang Sayyid.


Pada saat itu, Merr hanya diam saja. Dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan ke yang lainnya.


"Kania– kamu sebenarnya orang baik, aku percaya itu." Merr menyeka air matanya. Seolah hatinya mendesak untuk segera menyambangi rumah Ustadz Akhri demi bisa melihat wajah Kania untuk yang terakhir kalinya. Namun, mau bagaimana lagi, ia tidak ingin memaksa kehendak yang dikhawatirkan akan menjadi fitnah.


Dalam hatinya memang bertujuan untuk bertakziah. Namun, dirinya juga harus menghargai sang suami yang bisa jadi tidak suka jika dia kembali menyambangi rumah mantan suami tanpa beliau turut mendampinginya. Walaupun tujuannya baik...


Maryam meletakkan ponselnya, lalu beranjak mengambil air wudhu. Ia memilih untuk melaksanakan sholat Dhuha empat raka'at sembari mendoakan mantan madunya dulu.


–––


Cukup lama Maryam berdzikir, dering ponsel kembali terdengar. Ia pun beranjak untuk mengambil ponselnya.


Terlihat panggilan tersebut dari sang suami. Merr langsung menyeka air matanya, lalu menerima panggilan telepon tersebut.


"Walaikumsalam A'..." Merr meredam suaranya agar tak terdengar ia sehabis menangis.


"Kamu sudah dengar kabar?"


"Tentang istri ustadz Akhri?" tanya Maryam.


"Iya."


"Aku sudah mendengarnya dari Arshila, A'..."


"Begitu ya, lalu bagaimana? Kamu mau ke rumah Beliau?"


Merr terdiam sejenak. "Aku mau menunggu kamu saja."


"Kenapa menunggu aku, aku masih lama sayang."


"Nggak papa. Lebih enak bersilaturahmi dengan suamiku. Aku mau menghargai kamu juga A'... bagaimanapun juga, orang yang akan ku datangi adalah pria dari masa laluku. Aku tidak mau niat baik ini akan berujung pada sebuah fitnah."

__ADS_1


Bilal yang di sebrang tersenyum. "MashaAllah... ya sudah, nanti kita ke sana sama-sama."


"Iya, A'..." jawab Maryam. Selama beberapa saat mereka melakukan obrolan tersebut Bilal banyak menanyakan dirinya, seolah tengah menghibur sang istri agar sedikit melupakan kesedihannya.


***


Hari berganti hari...


Habib Bilal sudah kembali sejak pukul satu siang tadi, beristirahat sejenak sampai pukul setengah tiga setelah itu mengajak Maryam mengunjungi rumah Ustadz Akhri.


Mobil habib Bilal berhenti di pelataran yang cukup banyak mobil-mobil lain terparkir. Rupanya hingga sudah lewat empat hari para tamu masih berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa pada Ustadz Akhri atas kepergian sang istri tercinta.


Bilal menggenggam erat tangan Maryam yang menggunakan pakaian serba hitam dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam warahmatullah. Barakallah, Bib. MashaAllah..." Mereka menjabat dan memeluk tubuh Habib Bilal, sebagai besar mencium tangan Beliau sembari mempersilahkan masuk.


Akhri pula menyambut baik kedatangan beliau bersama dengan mantan istrinya.


"Saya turut berdukacita yang sedalam-dalamnya. Semoga ibadah almarhumah di terima oleh Allah SWT, serta dosa-dosanya di ampuni," ucapnya sembari memeluk erat tubuh Ustadz Akhri.


"Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih Sayyid atas doanya," jawab Akhri. Beliau pun menoleh kearah Maryam lalu menelungkupkan kedua tangannya di depan dada menyapanya. Setelah itu mempersilahkan mereka untuk masuk.


Habib mengangguk, Beliau langsung menggandeng tangan sang istri masuk dan duduk di salah satu sofa. Bergabung dengan beberapa tamu yang lain di bagian yang tak terlalu ramai.


Tak lama ia melihat si bungsu berlari menghampiri Abinya. Ustadz Akhri lantas menggendongnya, mencium pipi anak itu sembari berjalan mendekati para tamu.


"Agak kolokan dan jadi lengket sekali dengan saya sekarang," ucap Ustadz Akhri sembari terkekeh. Mengusap rambut anak kecil di atas pangkuannya.


"Maklumlah, masih butuh sekali perhatian," jawab seseorang yang berada di sebelah Ustadz Akhri. Pria itu pun tersenyum, lantas melepaskan sang anak yang langsung berlari kecil menghampiri salah satu tamu wanita satu-satunya yang bercadar.


"haiii... Assalamualaikum–" Merr menyapanya dengan lembut, sementara sudut matanya menggenang. Menatap anak kecil yang seperti penasaran, berdiam diri di depan Maryam. ragu-ragu untuk semakin mendekat. "sini sayang..." Merr menyentuh tangan kecil itu menariknya lebih dekat. ia pula menuruti berjalan malu-malu.


awalnya hanya diam namun lama-kelamaan tangan kecilnya menyentuh cadar Maryam yang mungkin baginya itu uneh.


Seperti sudah kenal anak itu pun duduk di pangkuan Maryam sembari menarik-narik pelan cadar tersebut, sementara Merr sendiri hanya tersenyum memasukkan tangan kecil anak bungsu Ustadz Akhri kedalam kain cadarnya. Menciumnya lalu menggigit dengan bibirnya, anak itu pun sontak langsung tertawa.

__ADS_1


__ADS_2