Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
cahaya yang mulai terbuka


__ADS_3

Berselang satu bulan...


Maryam mendatangi salah satu toko buku. Ia menyusuri rak dengan puluhan buku yang tertata rapi. Sampai pada akhirnya, menjumpai salah satu yang menjadikan ia ingat akan saran yang di berikan pemuda itu.


Kakinya berjinjit, meranggai buku di deretan paling atas. Nampak sedikit kesulitan, karena raknya cukup tinggi.


"Biar saya bantu, ambilkan." Seorang pria meranggai buku yang sama di sisi yang lain. Maryam menoleh, mendapati pemuda yang ia kenal. Dengan pakaian biasa, hanya kaos berlengan panjang dan celana panjangnya. "Ini, Ukh..."


"Ma– makasih." Menerima itu dengan hati-hati. "Anda sedang di sini?"


"Iya, kebetulan lewat terus mampir," jawab pria itu yang tak lain adalah Bilal. "Buku itu memang akan sedikit membosankan saat di baca, karena terjemahan dari bahasa Arab. Tapi makna dari tulisannya sangat bagus."


Maryam tersenyum. "Terima kasih, sudah menyarankan untuk baca buku ini."


"Sama-sama. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi."


Maryam mengangguk pelan.


"Ya sudah saya permisi dulu– Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah," gumam Maryam. Saat pria itu melenggang pergi dengan beberapa buku dalam pelukannya. Hatinya berdesir, ia bertanya-tanya. Pria itu sangat sopan, benar-benar tak memperlihatkan kalau Dia ada rasa tertarik dengannya. Padahal baru sebulan yang lalu mengajaknya ta'aruf.


Mungkinkah benar Dia itu orang yang sama dengan yang selalu mengirim kata-kata motivasi lewat DM setiap seminggu sekali?


Maryam menggeleng, ia merasa aneh dengan pemikirannya. Memang jika suka harus apa di tempat umum seperti ini? Tersenyum lebar sembari melontarkan kalimat gombal seperti Pak Raffi?


Merr mengutuk diri, segera pergi dengan mengambil arah yang berlawanan dari Bilal pergi tadi. Padahal Merr hanya tidak sadar saja, saat Bilal pergi ia menghembuskan nafasnya seraya menahan sesuatu yang mendesak di dada. Bahkan bibirnya tak berhenti mengucap kalimat Ta'awuz berkali-kali.


.


.


Setiap hari dilaluinya dengan perasaan lain. Ya... Maryam seolah jadi rajin membuka DM, kali-kali ada sebuah tulisan yang masuk. Seperti kata motivasi yang di cantumkan ayat Allah juga. Walaupun tak setiap hari, sekitar satu Minggu sekali atau paling lama sepuluh hari. Ia akan mendapatkan pesan berupa ucapan motivasi dari pemuda bernama Bilal.

__ADS_1


Seperti malam ini, Bilal mengetik sesuatu setelah itu meletakkan ponselnya. Dan berjalan menuju dapur.


Di sana hanya ada Ummi yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari pendingin.


"Jadi bikin Asinan, Mi?"


"Jadi... soalnya Farah minta juga, katanya kangen asinan buatan Ummi."


"Sini biar Bilal bantu kupas buahnya."


Isti tersenyum lalu menyerahkan bungkusan plastik berwarna putih. Berisi buah mangga, bengkuang, dan jambu air. Ummi Isti sendiri segera membuat larutan asam Jawa dan juga cabe yang hendak di ulek.


"Besok kamu berangkat jam berapa?"


"Pagi, Mi. Habis subuh," jawab Bilal matanya fokus sementara tangannya bekerja mengupas kulit buah mangga.


"Hafiz ikut juga?"


"MashaAllah, Ummi jadi terharu. Abi kalian kalau masih hidup pasti bangga sekali."


"inshaAllah, mudah-mudahan Abi di sana semakin terang jalannya."


"Aamiin..." Isti memasak larutan asam Jawa yang di campur gula merah. Setelah itu menoleh sejenak. "Bilal? Bagaimana dengan wanita itu?"


"Siapa?"


"Maryam–"


"Oh, nggak tahu, Mi. Belum ada kemajuan. Sepertinya Dia memang tidak suka Bilal. Nggak papa lah..." Tersenyum.


"Apa mau Ummi temui saja Dia? Supaya lebih sopan."


"Nggak enak, Ummi."

__ADS_1


"Nggak enak sama siapa? Kan niatnya baik... Besok kali, ya? Ummi bawakan asinan sekalian." Mendengar itu Bilal langsung tertawa. Membuat Ummi menoleh cepat. "Kok ketawa."


"Ummi ada-ada saja, masa bawa asinan segala."


"Loh nggak papa kali saja suka," jawabnya turut tertawa. Hingga sejenak Bilal terdiam. Beliau pun mematung, mengingat sesuatu.


Sraaaaggg... Suara dorongan kursi secara tiba-tiba ketika Bilal mendadak bangun dari posisi duduknya. Membuat Ummi terkesiap.


"Bilal, ngagetin Ummi. Ada apa?"


"Nggak papa, Mi. Bilal ke kamar dulu–" ia bergegas keluar dari area dapur, meninggalkan jejak kebingungan di wajah Isti. Lalu berjalan setengah berlari menaiki anak tangga. Bahkan dengan gerakan cepat membuka pintu kamar dan meraih ponselnya. "Duh, mudah-mudahan belum di baca."


Bilal membuka DM yang ia kirim tadi. Lalu duduk dengan lemas, karena ada tanda bahwa pesan itu sudah terbaca.


"Ya Kareem... kenapa bisa aku ngirim DM kaya gini?"


Bilal memandangi tulisannya. Yang berisi seperti ini kurang-lebihnya.


di luar terik sekali... hari ini Ummi lagi bikin asinan. Wanita cantik itu suka sekali bikin itu, bahkan hampir setiap hari. Sebenarnya aku nggak begitu suka. Tapi ya, karena buatan Ummi pasti aku makan.


Kamu mau asinan?


Bilal pun merebahkan kepalanya di atas meja. Mendadak malu sendiri. Pasti akan semakin terlihat dirinya agresif, karena tiba-tiba mengirim pesan santai kepadanya.


Ting....


Kepala Bilal terangkat, sebuah pesan masuk. Tepatnya balasan dari Maryam.


[Saya suka Asinan... ]


"Allahu Akbar! Dia balas?" Bilal tersenyum ceria. Tangannya mendadak kebas, desiran di dadanya pun seolah membuat ia ingin sujud syukur. Belum lagi emoticon senyum yang juga tercantum di sana. Sepertinya jalan untuk meminangnya sudah mulai terbuka.


Bilal tak membalas, selain beristighfar dan kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Menahan rasa bahagia yang sejatinya tak boleh ia tunjukkan secara berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2