Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
ujian seseorang 2


__ADS_3

Beliau terdiam, teringat dua ayat di surat Hud yang dibacanya semalam. Hingga kedua matanya menganak sungai.


"Ji, kamu tahu antara kaya, miskin, berkecukupan, kekurangan, kemudahan, kesulitan bahkan segala musibah dari yang terkecil sampai yang paling besar. Semua tidak di ukur kerena ibadahnya seseorang?" ujar ustadz Irsyad, Aji sendiri manggut-manggut sembari menunduk sopan. "Itu hikmah, Ji. Nggak ada sangkut pautnya antara ibadah dengan dunia, apalagi musibah..."


"Astagfirullah... iya Kyai."


"Kamu boleh marah, boleh kecewa dengan ketentuan atau takdir hidupmu saat ini. Tapi jangan di jadikan kamu lantas berpikir bahwa Allah SWT itu nggak sayang sama kamu. Kita itu bodoh sejatinya. Tidak tahu apa-apa... yang kita pikir cintanya Allah terhadap hambaNya akan sama dengan cintanya mahluk terhadap sesama mahluk. Nggak gitu, Ji sebenarnya."


Aji menghela nafas, masih lebih banyak mendengarkan.


"Dunia itu sejatinya seperti sebelah sayap nyamuk. Nggak berharga sama sekali...! Jadi buat apa Allah SWT kasih pada hamba yang di cintaiNya sesuatu yang nggak ada nilainya? jadi kamu jangan berpikir ibadahmu akan membuat mu kaya di dunia. Rumusnya nggak gitu–"


"Astagfirullah al'azim... tapi hati saya kaya masih belum bisa menerima, Kyai. Lebih-lebih istri. Bagaimanapun juga kami sudah terbiasa hidup berkecukupan. Sekarang harus menengguk kesengsaraan dalam waktu sekejap mata seperti ini. Belum lagi sudah mendekati lebaran Kyai?"


"Iya saya paham perasaan mu yang sedang kalut ini, Ji. Namun kamu harus berusaha tenang, sabar, dan tawakal. Sedikit-sedikit turunkan levelmu. Mungkin akan berat di awal namun seiring berjalannya waktu kamu dan keluargamu akan terbiasa. Di sini peran pemimpin seperti kamu harus menjadi penguat bagi anggota keluargamu. Terutama seorang istri, karena ujian terbesar seorang istri itu adalah ketika pasangannya sedang dalam keadaan terpuruk. Sebisa mungkin beri Dia keyakinan dengan iman, Ji."


Aji tercenung lesu, seperti tengah memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan istrinya.


"Justru ya... kalau boleh jujur saya malah iri sama kamu."


"Iri dengan saya?" Kening Aji berkerut tak mengerti. Ustadz Irsyad segera mengangguk.


"Iya! Saya iri. Bisa jadi saking kuatnya kamu beribadah. Iman kamu jauh di atas saya sampai Allah SWT kasih ujian seperti ini, dan derajatnya naik di atas saya."


"Nggak mungkin lah, Kyai." Aji sedikit tersenyum lalu menggeleng.

__ADS_1


"Diaamiin kan saja, Ji."


"Aamiin, MashaAllah..." gumamnya lirih.


"Sejatinya Saya sendiri juga merasa khawatir dengan diri saya. Kamu bisa di beri musibah sebesar ini, sementara saya?" Ustadz Irsyad kembali terdiam menghela nafas panjang setelah itu menghembusnya. "Selama saya hidup sampai saat ini, belum pernah merasakan kehidupan pelik apalagi sampai kekurangan uang. Karena dari kecil walaupun bapak dan ibu saya mendidik dengan kesederhanaan? Namun saya tetap masih bisa merasakan kecupan pangan. Apalagi setelah saya kuliah lalu bekerja sebagai dosen. Saya nggak pernah kurang uang, Ji. Semua berasa lempeng aja... walaupun ujian tetap ada namun tidak parah. Saya takut, segela kebaikan yang saya kerjakan sudah di balas di dunia. Lalu di akhirat? Nauzubillah... saya malah menjadi orang yang merugi," tutur Ustadz Irsyad membuat Aji termenung bergumam istighfar.


"Seharusnya kamu merasa bersyukur ketika di timpa ujian besar seperti ini. Karena Allah SWT itu tahu kamu bisa menjalaninya dengan hati yang lapang. Semua akan berlalu, Ji. Tinggal hikmah baiknya...."


"Tapi, sampai kapan Kyai? Nasib rumah tangga saya malah jadi tidak baik-baik saja akibat saya yang tidak bisa memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak, belum lagi hutang yang semakin membengkak," Aji menghela nafas, menahan tangis yang sudah mendesak hendak keluar.


Ustadz Irsyad mengusap bahunya pelan, "sampai kapannya itu urusan Allah SWT... nggak bisa di prediksi akan cepat atau lambat pertolongan itu. Yang jelas sekarang yakinlah satu hal dan tanam dalam hati mu, bahwa pertolongan Allah itu dekat. Tahu arti ayat ini, Wa wa jadaka daal lan fahada?"


Aji terdiam sejenak mengingat-ingat, "dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk," jawabnya ragu-ragu.


"Wa wa jadaka 'aa-ilan fa aghnaa?" Sambung Ustadz Irsyad.


"Fa inna ma'al usri yusra, Inna ma'al 'usri yusra...?"


"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." Air mata pria di hadapan Ustadz Irsyad seketika mengalir di pipinya. "Ya Rabb... Ya Rabb... Allahu Akbar...!"


Ustadz Irsyad merengkuh tubuh pria dihadapannya. Bahunya berguncang, tangisnya pecah, bibirnya terus berseru menyebutkan kalimat Tauhid tanpa henti.


–––


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


Setelah meredam tangisnya, bersamaan hati yang mulai tenang Aji mulai bisa mengontrol emosinya.


"Saya lega sekarang, Kyai," ucapan sembari tersenyum tipis.


"Alhamdulillah, semua karena Allah SWT. Bukankah pertolongan pertama Allah SWT yaitu berupa hati yang lapang? Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan dadamu, Ji."


"Aamiin, Aamiin ya rabbal alamin."


Keduanya terdiam sejenak... "Ngomong-ngomong, ada air nggak, Ji?"


"Air?" Aji mengernyitkan dahi. "Air untuk apa, Kyai?"


"Kali aja ada rezeki untuk membasahi kerongkongan saya. Abis olahraga rada kering ini... udah gitu di ajak ngobrol lama jadi tambah kering." ustadz Irsyad berbicara sembari menyentuh lehernya memberi kode.


"Allahu Akbar..." Aji tertawa. "Afwan Kyai, maaf sekali. Saya ambil minum dulu."


"Ya sana..." Ustadz Irsyad turut tertawa melihat mantan santrinya kelabakan. "Ji, nggak nawarin dulu mau dingin atau panas, nih?"


Aji yang sudah hampir masuk kedalam kembali mendekati sembari terkekeh, lalu duduk dengan sopan di sebelah Ustadz Irsyad, "mau panas atau dingin, Kyai?"


"Saya tamu tapi nggak tahu diri, ya?" Ledek Ustadz Irsyad membuat Aji garuk-garuk kepala sembari tertawa. "Air putih aja lah..."


"Astagfirullah al'azim... beneran ini air putih aja, Kyai?"


"Iya, air putih aja. Walaupun kalau ceramah untuk puluhan bahkan ratusan jamaah suka di sediain empat jenis air minum," godanya membuat Aji semakin tak enak hati. "Bercanda, Ji."

__ADS_1


"Iya Kyai... ijin masuk dulu ambil air minum," Aji masih tertawa sembari geleng-geleng kepala, masuk kebagian dalam rumahnya.


__ADS_2