
Seolah waktu berjalan amat lambat. Merr merebahkan tubuhnya di atas ranjang sejak selepas Dzuhur tadi.
Hanya menghabiskan waktu dengan menonton Vidio singkat di salah satu aplikasi sosial medianya. Isi dari Vidio yang ia tonton rata-rata tentang makanan. Lebih-lebih, konten makan mie yang biasa di sajikan oleh kreator asal negeri ginseng.
"Enak banget kayanya makan Mie." Merr menggigit ujung jari telunjuknya. Tenggorokannya bergerak menelan liurnya sendiri. Suara sedotan mie yang panjang dengan kuah bumbu berwarna merah, ditambah suara renyah kimci sawi yang menggugah selera. Membuatnya ingin makan dengan cara yang sama. Namun, ia tak berniat untuk mewujudkan keinginannya itu.
Hanya sebatas menonton saja sudah membuatnya geleng-geleng kepala, tidak bisa membayangkan reaksi Bilal kalau tahu istrinya makan dengan cara seperti itu.
Gimana kesalnya A'a kalau tahu aku makan kaya gitu, ya? Pasti ceramahnya nggak cuma satu, dua juz. –Merr terkekeh sendiri setelah membatin.
Namun, nggak hanya A'a sih. Semenjak dirinya mengenal orang-orang alim jadi lebih banyak belajar etika makan. Padahal saat masih masa remajanya dulu, makan segala macam Mie sembari menimbulkan suara amatlah lezat.
Merr kembali ke berandanya. Namun, langsung di suguhkan sebuah postingan salah satu keponakannya yang ada di Bandung. Anak dari Ce Margaretha.
"Bakmie Koh Afung... ya ampun, mendadak pengen makan mie itu lagi. Sayangnya Non-halal." Maryam mengingat rasa lezat Mie panjang dengan lemak yang mengandung bahan non halal itu. Lagi, ia menggeser ke Vidio setelahnya. "Kuotie... ya Allah, godaan sekali. Makanan di tempat Koh Afung emang enak-enak. Tapi aku udah nggak boleh memakannya."
Merr membayangkan garing di bagian kulitnya serta lembut di dalam. Makanan yang hampir mirip dengan gyoza asal Jepang atau dumpling itu memiliki dua jenis goreng ataupun yang hanya di kukus, semuanya enak. Isian daging ayam yang di campur daging non halal, serta bihun, terlur dan juga daun bawang yang di bungkus kulit berbahan dasar tepung dan telur.
"Di sini ada Kuotie halal nggak ya? Yang enak?" Merr keluar dari aplikasinya lalu masuk ke aplikasi yang lain. Ia mencari nama Debby di tumpukan chatnya, setelah itu menghubungi Dia.
"Assalamualaikum, Tante."
"Walaikumsalam. Deb, tadi Tante lihat postingannya Lusiana. Lagi makan Bakmie Koh Afung, sama Kuotie. Tante kok mendadak pengen makan itu, ya?"
"Eh... kita kan nggak boleh makan itu Tante. Nggak halal."
"Iya Tante paham Deb. Tapi rasanya kaya pengen banget. Tante itu mau tanya, kamu tahu nggak yang jualan bakmie enak kaya punya Koh Afung tapi yang halal itu di mana? Yang rasanya mirip."
"Duh, susah kalau cari yang sama. Tapi kalau Kuotie isi ayam campur udang di dekat rumah ku ada nih. Enak kok rasanya, walaupun nggak mirip-mirip banget dengan yang di Bandung..."
"Tante langsung kesana, deh."
"Eh... sekarang?"
"Iya, pengen makan Kuotie, nih. Nanti temenin, ya."
"Emmm, iya deh. Lagian Tante mendadak banget pengen makan Bakmie sama Kuotie."
Merr terkekeh. "Gara-gara Lusiana nih makannya kaya enak banget."
"Maklumlah, dia kan food blogger." Debby yang di seberang turut tertawa.
__ADS_1
"Iya sih. Ya udah, Tante siap-siap ke rumah kamu, ya. Nanti kita makan di sana, sekalian ngajak Alzah main ke fun world."
"Okay! Debby tunggu." Debby membalas dengan semangat, mengiyakan ajakan tantenya. Merr pun tak kalah senang, ia mengucap salam sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
***
Di tempat lain, A'a mampir di salah satu tempat makan untuk makan siang. Belum sempat masuk, langkahnya terhenti. Ia menoleh ke salah satu kedai kecil yang terbuat dari besi baja ringan. Sebuah gerobak kekinian yang kerap di jumpai, mangkal di pinggir jalan.
"Kok diam, Bib?"
"Kang Beben masuk duluan aja sama yang lain, aku mau jajan itu dulu," jawab Bilal sembari menunjuk gerobak berwarna merah. Kang Beben pun menoleh.
"Apaan sih itu?" Matanya menyipit.
"Dimsum ayam."
"Apaan itu dimsum?" Kang Beben kurang paham makanan seperti itu.
"Kaya somay, tapi terbuat dari daging ayam dan udang."
"Ooh..."
"Ya udah, aku kesana dulu."
Di sana A'a berdiri sejenak, menunggu si penjual melayani dua gadis remaja yang sedang duduk di atas motornya dengan pandangan fokus ke ponselnya masing-masing. Sejenak salah satu dari mereka menoleh sekilas sebelum kembali kearah ponselnya, namun tak berapa lama dia kembali menoleh kearah Bilal.
"Ya Allah... Habib Bilal, ya?" Ia menepuk bahu teman di depannya, sontak gadis satunya menoleh. "Iya bukan, sih?" Bisiknya kemudian.
"Eh, iya... Habib?"
Bilal tersenyum tipis, lalu mengangguk sekali.
"Ya ampun! Habib, lagi di sini?" Sedikit histeris sebelum akhirnya menutup mulut mereka sembari cekikikan. Sebab Bilal langsung mengisyaratkan dengan jari telunjuk untuk tak mengeluarkan suara yang akan mengundang banyak orang. "Maaf, Bib. Ya Allah, nggak percaya bisa ketemu disini... boleh minta foto nggak?"
"Boleh... tapi jaga jaraknya, ya? Saya masih bersuci soalnya," jawab Bilal sopan. Yang diiyakan keduanya. Mereka pun mengambil posisi Bilal di tengah sementara mereka di sisi kiri dan kanan. Foto pun di ambil dengan cara meminta bantuan pada penjual dimsum. Setelah selesai mereka membayar pesanan mereka namun seketika di tahan Bilal yang menggeratiskan-nya. Mereka langsung berterimakasih dan berpamitan dengan perasaan bahagia.
"MashaAllah..." Bilal terkekeh. Ia pun kembali fokus pada si penjual dimsum.
"Maaf, Bib. Nanti saya boleh juga kan, ikut foto."
"Boleh mas," jawab Bilal.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih," ucapnya. Bilal sendiri mengangguk. "oh iya, Habib mau pesan yang mana, dimsum basah apa goreng?"
"Dimsum goreng, Mas. Satu porsi berapa?"
"Lima belas ribu isi enam, tapi buat Habib gampang nanti saya tambahin."
"MashaAllah... kalau begitu saya beli tiga porsi deh."
"Iya... di tunggu sebelah sini, Bib. Biar nggak kepanasan kena matahari." Sang penjual menggeser kursinya ke titik yang lebih teduh, Bilal pun mengiyakan sembari mengucapkan terima kasih. Sebelum duduk ia mengeluarkan ponselnya, lalu memotret gerobak tersebut. Niatnya akan beliau posting di akunnya, syukur-syukur dagangan pemuda yang nampak bersemangat dan ramah itu bisa lebih laris.
"Masnya masih sekolah atau memang sudah lulus?"
"Sambil kuliah, jadi bukannya siang. Ini aja baru buka."
"Oh, kuliahnya dimana?"
"Di kampus yang nggak jauh dari sini, Bib. Ya hitung-hitung buat menambah uang kuliah."
"MashaAllah, semoga berkah dan laris manis terus dagangnya, ya."
"Aamiin, makasih Bib," jawabnya senang sembari mengangkat gorengannya. "Habib mau kemana, atau dari mana?"
"dari Jogja mau ke Solo, Mas. Ada acara di sana."
"Oh... semoga acaranya berjalan lancar ya, Bib."
"Aamiin..." Keduanya masih mengobrol singkat, sembari menunggu si penjual mengemas pesanan habib Bilal. Setelah itu menyerahkannya. Bilal pun merogoh tas, lalu mengeluarkan dompet miliknya. Tanpa menimbang-nimbang Bilal langsung mengeluarkan uang senilai dua ratus ribu pada si penjual.
"Maaf, Bib. Ini kebanyakan. Selembar aja masih ada kembaliannya walau sama yang dua tadi."
"Nggak papa, ambil aja semuanya. Hitung-hitung buat nambah uang jajan kamu, mudah-mudahan setelah ini lebih laris manis dan berkah."
"MashaAllah, aamiin... makasih banyak, Bib." Laki-laki itu segera meraih tangan habib Bilal lalu menciumnya. Bilal pun tertawa
"Ngomong-ngomong jadi foto nggak, nih?"
"Jadi, dong," jawabnya tergesa-gesa mengambil ponselnya lantas kembali mendekati Bilal mereka mengambil foto berdua. Setelah itu bergantian Habib Bilal yang mengambil foto dengan ponselnya.
"Boleh saya posting, nggak?"
"Boleh banget, Bib. Ya Allah... malah seneng saya."
__ADS_1
"Terima kasih, saya jalan dulu ya. Assalamualaikum..."
"Iya Bib. Hati-hati, walaikumsalam." Pria itu masih menyunggingkan senyumnya mengarah pada pria dengan gamis berwarna putih itu semakin menjauh. "Mimpi apa ketemu Beliau? Mendadak nge-fans jadinya. MashaAllah..." gumamnya sembari duduk di kursi plastik yang bekas di duduki Bilal tadi, tentunya dengan perasaan yang bahagia.