Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
lihatlah dulu kebahagiaan ini


__ADS_3

Di rumah sakit...


Beben nampak mondar-mandir, berusaha menghubungi ketua panitia acara tabligh Akbar yang akan di gelar di kota Magelang. Sementara pikirnya kalut, memikirkan kondisi Bilal yang sedang berada di ruang UGD.


"Ya Allah... semoga nggak terjadi apa-apa. Semoga Habib Bilal bisa sembuh," gumamnya dengan tangan menempelkan ponsel ke telinga, sementara matanya mengarah pada pintu kaca ruang UGD.


Langit sudah mulai terang, Beliau tadi juga sudah menunaikan sholat subuhnya dengan cara bergantian.


"Duh, mungkin masih terlalu pagi. Tapi kalau nggak di kabarin sekarang bisa gawat," Kang Beben kembali menghubungi sang ketua panitia, syukurlah tak menunggu lama panggil itu di jawab. Beben segera menjelaskan kondisi Bilal yang pingsan sehingga harus di larikan kerumah sakit. Padahal seharusnya ia sudah mulai jalan menuju kota Magelang, namun rupanya sebuah musibah sakitnya Bilal membatalkan jadwal tersebut.


––


Berjalan siang, Maryam merasa heran. Kenapa suaminya tak menghubungi dia sejak pagi tadi. Padahal seharusnya Beliau sudah lebih dari dua kali menelfonnya.


Perasaan tak tenang seolah membuatnya kepikiran, Merr pun menelfon suaminya. Berkali-kali tidak di angkat. Jelas saja, karena ponsel Bilal masih tertinggal di kamar hotel. Dan tidak ada yang ngeh dengan ponsel Beliau. Semua panik, berusaha untuk menolong habib Bilal lebih dulu.


Merr terus menunggu, hingga waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Masih saja tak ada jawaban. Bahkan pesan chatnya juga masih abu-abu.


"Duh, kemana sih dia? Perasaan ku nggak tenang begini." Merr masih menunggu deru panggilan itu berubah menjadi suara sang suami. "Oh, iya! Kang Beben."


Maryam keluar, ia segera menghuni pria yang bisa di bilang asisten Beliau.


"Assalamualaikum, Teh?"


"Walaikumsalam, Kang. Kang Beben? di sana A'a lagi sibuk banget, kah?"


"Anu? Enggak, Teh. Disini nggak lagi sibuk."


"Kalau begitu A'a mana? Kenapa nggak ngejawab Telfon ku?"


"anu– ini, Teh." Beben garuk-garuk kepala.


"Kenapa, jawab aja."


"Sebenarnya kami belum jalan ke Magelang, masih di solo. Karena Habib sakit, Teh."


"Sakit? Sakit apa?" Maryam panik.


"Itu... aduh!"

__ADS_1


"Jawab aja, Kang!"


"Maaf teh, Habibnya sampai masuk rumah sakit."


"Allah..." Merr terhenyak, tubuhnya mengerucut lemas. "Habib sakit apa? Kenapa sampai masuk rumah sakit?"


"Asam lambung Beliau kambuh, jadi kami larikan ke rumah sakit. Karena kondisi Habib yang sudah tak sadarkan diri."


"Ya Allah, kenapa baru ngomong?! Kenapa nggak kasih kabar dari pagi tadi, Kang?" Merr menangis, takut kondisi suaminya parah.


"Saya cuma kasih kabar ke A' Hafizh... nggak berani ngomong ke Teteh."


"Tapi kang Beben malah justru membuatku kecewa!! A' Bilal itu suami saya, saya juga berhak tahu kondisinya." Merr sedikit bernada tinggi gusar.


"Maafkan saya, Teh. Tapi A' Hafizh juga bilang, untuk nggak ngasih tahu Teh Maryam dulu."


"Astagfirullah al'azim... ya udah aku tutup telfonnya. Sekarang Kang Beben tolong kasih tahu alamat rumah sakitnya. Aku akan ke Solo sekarang."


"I–iya, Teh." jawabnya sebelum Telfon itu di matikan.


Maryam lantas bergegas keluar kamar lalu menuruni anak tangga. Ia mengetuk kamar Hafizh dengan sopan. Dan saat keluar, pemuda itu sudah berpakaian rapi hendak pergi.


"Teteh tau dari mana? Apa Kang Beben sudah ngasih kabar?"


Maryam mengangguk cepat, air matanya mengalir ke pipi. "Aku ikut, tolong ajak aku Fiz. Atau sebaiknya aku aja yang berangkat, kamu temenin Ummi."


"Teh, Teteh tenang. A'a pasti baik-baik aja... lebih baik Teteh yang di rumah, biar Hafiz yang ke Solo."


Merr menggeleng cepat. "Nggak, pokoknya Teteh harus ke sana. Harus nemuin A'a. Tolong Fiz... aku mohon." Merr mengiba, agar di izinkan adik iparnya itu ke Solo.


Hafiz sendiri kebingungan. Ia menggaruk kepalanya.


"Fiz, aku akan siap-siap. Pokoknya aku harus pergi ke Solo. Bagaimanapun caranya!" Bersikeras. Merr tak mau menunggu jawaban dari adik iparnya itu, selain melangkah cepat kembali ke kamarnya. Hafiz pun masih berdiam diri, merasa bingung.


Setelah membujuk sang adik ipar. Kini yang berangkat hanyalah Maryam, menggunakan kereta. Hafiz sendiri hanya mengantar Maryam sampai ke stasiun. Memberikan ucapan peringatan agar Tetehnya berhati-hati saat dalam perjalanan.


Jujur saja ia berat, jika Bilal tahu pasti akan marah. Namun, dirinya juga harus stay di rumah sembari menemani Ummi yang sesungguhnya juga berat membiarkan Maryam menyusul Bilal sendirian.


Sebelumnya Hafiz membatu memberi alasan, jika A' Bilal sendiri yang ingin istrinya menyusul ke Solo. Tanpa di beri tahu kondisi sang kakak yang sesungguhnya. Walaupun Ummi menunjukkan ekspresi percaya, tetap saja kontak batin seorang ibu terhadap anaknya tak bisa di bohongi. Isti merasakan adanya sesuatu yang terjadi pada anaknya.

__ADS_1


***


Di sini ia sekarang.


Duduk termenung di kursi kabin kereta. Memeluk erat kado berisi kejutan indah untuk sang suami.


Padahal ia sudah membayangkan duduk berdua di atas ranjang saat A'a sudah hilang lelahnya. Ia akan memberikan kado itu untuk sang suami lantas melihat ekspresinya dengan perasaan tak sabar. Namun, ia malah justru mendapatkan kabar tak mengenakan perihal kondisi sang suami yang kolaps akibat penyakit asam lambungnya.


Suara roda kereta terdengar, nampak seisi kereta tenang menikmati perjalanan. sementara Maryam tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk sang suami. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


Ya Allah, sembuhkan suamiku. Beliau harus tahu kalau aku tengah mengandung anaknya. Bukankah itu adalah harapan Beliau selama ini? izinkan Dia merasakan kebahagiaan itu. ku mohon...


Sesekali ia menyeka air matanya, ketika kesedihan kembali mendesis. Membuat pikiran liarnya menerawang ke hal yang buruk.


––


Setelah perjalanan panjang sekitar sembilan jam. Maryam langsung menemui pria yang sudah menunggunya. Dialah Kang Beben... dan tanpa menunggu lama, mereka terus melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Bilal dirawat.


Sesampainya di rumah sakit. Merr berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong ruang rawat inap. Ya, Bilal sudah tidak di UGD Beliau di pindahkan ke salah satu ruangan rawat inap. Kondisinya sudah membaik. Bahkan sejak sore tadi Ustadz Irsyad dan juga Ustadz Akhri rupanya ada di sana menengok kondisi Habib Bilal.


Pria itu sudah bisa tersenyum tipis, walaupun tubuhnya masih nampak lemas. Beruntungnya, dirinya bisa selamat. Berkat rekan-rekan rebananya membawa Beliau dengan segera ke rumah sakit. Namun, di samping itu. Tentu takdir yang masih memberinya kesempatan untuk hidup.


Tok... tok...


Mereka menoleh, sama halnya dengan Bilal yang turut melirik pelan ke arah pintu.


"Assalamualaikum," ucap Maryam sembari masuk.


"Walaikumsalam warahmatullah..." jawab mereka yang di sana.


"Sudah ada istri Antum, kami permisi keluar dulu." Ustadz Irsyad mengusap bagian dada Bilal, sementara Akhri turut tersenyum menyentuh tangan Habib Bilal sembari mengikuti langkahnya keluar.


Di ruangan itu hanya tersisa Bilal dan Maryam. sang suami tersenyum manis, tangannya melambai meminta sang istri untuk mendekat. Pelan, langkahnya maju mendekati Bilal lantas berdiri di sisi sang suami tanpa berucap apapun.


"Yank?" Panggil Bilal lembut, dengan suaranya yang terdengar lemah, meraih tangan istrinya. "Kamu kok bisa disini? Sama siapa?"


Merr tak menjawab, air matanya sudah mendesak-desak ingin keluar. Bersamaan dengan suara Isak tangisnya, Maryam memeluk tubuh sang suami dengan rasa takut berlebihan.


"Jangan nangis. Aku nggak papa–" Bilal tersenyum, membalas pelukannya. Salah satu tangannya mengusap punggung sang istri pelan. Sementara yang di peluk masih tak mampu berbicara selain menangis sesenggukan. Karena ia benar-benar takut, tidak bisa lagi melihat senyum suaminya yang meneduhkan seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2