
Sudah sebulan berjalan, Ummi kembali mendatangi Maryam.
"Sudah bilang, belum?"
Maryam paham, ia pun menggeleng pelan.
"Kenapa, belum?"
"Maryam hanya belum siap, Ummi. Bukankah tidak mudah menerima madu dalam rumah tangga."
"Itu hanya sesaat. Kamu harus lebih banyak mengaji, biar bisa menambah ilmu. Di luaran sana, ada banyak pernikahan penganut poligami yang bahkan lebih parah dari kita. Ummi saja sudah tidak masalah yang penting 'kan suami tetap berlaku adil dan bertanggung jawab."
Maryam tertunduk. Sebegitu besarkah keinginan beliau untuk memiliki cucu, sampai harus memaksa menantunya berkorban perasaan.
"Kamu sudah ketemu Nia, 'kan?"
"Sudah Ummi," jawabnya lirih.
"Sudah ngobrol? Gadis itu baik dan ramah, 'kan?"
Ummi berbicara seolah memperkenalkan teman padaku. Namun sayangnya gadis itu di perkenalkan bukan untuk di jadikan teman melainkan maduku, ini sangat menyakitiku Ummi. –Maryam tersenyum kecut.
"Jangan buang-buang waktu, Maryam. Nanti kalau Nia keburu di lamar orang bagaimana? Soalnya Ummi belum ada calon lain yang sreg untuk Akhri."
Maryam menggigit ujung bibirnya, menahan kesedihan yang hendak ia tumpahkan saat itu. Tangannya saling meremas kuat di atas pangkuan. Netranya pun bergeser naik, memandangi langit-langit.
Aku ingin menolak Ummi, sangat ingin menolaknya.
Tak lama suara mobil Akhri terdengar memasuki pagar rumah. Senyum sang ibu mengembang sempurna. Ia tak sabar untuk berbicara langsung, karena menunggu Maryam sepertinya akan terlalu lama.
"Assalamualaikum," sapa pria itu di bibir pintu. Wajah lelahnya nampak sumringah melihat senyum manis dari dua wanita yang ia cintai, tengah duduk bersanding di sofa yang sama. Tangan Ummi pun menggenggamnya kuat. "Ummi di sini?"
Akhri mencium punggung tangan Ummi Salma, lalu ke pipi dan keningnya. Bersambung ke Maryam.
"Ummi kesini karena sedang berdiskusi penting dengan istri kamu."
"Oh, ya? Tentang apa, nih?" Akhri penasaran, Beliau duduk di sebelah Maryam. Langsung meraih tangan sang istri. Membawanya kepangkuan beliau lantas menautkan erat.
"Tentang Kania."
"Kania? Siapa Kania, Ummi?"
"Itu loh, santri putri yang hafal sepuluh juz. Anaknya almarhum Ustadz Fatayat. 'Kan mondok di sini."
"Oh, Akhri kurang paham seperti apa orangnya." Terkekeh pelan. Karena beliau belum mengerti diskusi apa yang mereka bahas.
__ADS_1
"Nah, jadi niatnya Ummi mau memperkenalkan kamu sama Dia."
"Memperkenalkan, untuk apa? Akhri rasa tidak perlu Ummi."
"Justru itu perlu. Sebab Maryam, dan Ummi sepakat. Akan menjodohkan kamu dengan Kania," tuturnya sekonyong-konyong, tanpa basa-basi.
"A–apa?" Setengah mati Akhri terkejut. Secepat itu pula kepalanya menoleh. "Dik, maksudnya apa ini?"
Maryam tersenyum, tangan satunya menumpuk di atas tangan mereka berdua yang bertaut.
"Iya Bang. Abang menikah lagi saja ya, Merr nggak papa. Serius..." Senyum getir itu nampak di paksakan. Namun mampu di kemas tulus oleh Maryam.
"Kamu ini bicara apa, sih?"
"Aku hanya ingin, Abang bahagia."
"Abang sudah bahagia sama kamu, kurang apa lagi? Nggak usah aneh-aneh lah. Ummi?" Akhri beralih pandang pada Ummi-nya.
"Bang–" panggilnya lembut. membuat Akhri menoleh lagi. Jujur saja, suaranya sudah sedikit parau. Cuman, sekeras mungkin ia berusaha menahannya. Menormalkan agar tak terdengar jelas. "Mungkin memang benar, Abang sudah bahagia. Namun aku mau suami tersayangku lebih banyak mendapatkan kebahagiaan dari apa yang sudah Merr berikan selama ini sebagai istri Abang. Kalau Abang punya anak dari istri kedua Abang 'kan, akan lebih terasa sempurna. Tidak hanya Abang yang bahagia, tapi Maryam juga senang karena akhirnya ada yang manggil ku dengan sebutan ... Ummi."
Matanya sudah benar-benar berat, menampung air mata. Sungguh apa yang ia katakan tak sepenuhnya keluar dari hatinya. Kalaupun bisa Akhri membaca tatapannya, ia ingin Akhri menolak langsung di hadapan ibunya. Lantas membantu mempertahankan janji yang sudah mereka buat.
"Apa yang dikatakan istrimu benar. Kalian akan jauh lebih bahagia. Lagipula Kania anaknya baik, dan nurut. Pasti bisa berhubungan baik dengan istri pertamamu, mereka bisa seperti kakak beradik yang akur."
Allah ... bisakah aku terbangun. Berharap situasi seperti ini hanya mimpi belaka. Ummi benar-benar tidak menggunakan tabirnya saat berbicara agar tak terlalu menyakitiku. (Maryam)
Setelah Akhri masuk, Ummi lantas berpindah duduk di sebelah Maryam, meraih tangannya. "Terimakasih ya, kamu sudah bantu Ummi untuk berbicara seperti ini."
Maryam tak menjawab, selain senyuman getirnya.
"Setelah ini, Dia pasti akan mempertimbangkan. Ummi jadi tidak sabar, untuk menanyakan langsung pada Kania, apakah Dia sudah ada calon apa belum."
Ya Allah, Ummi. Bisakah untuk sedikit menolong perasaanku yang hancur saat ini. Agar tak semakin rata dengan tanah.
Maryam menghela nafas, ia tidak tahan lagi. Kedua matanya sudah menitikkan air ke pipi tanpa ia sadari. Sementara Ummi nampak bersemangat, hingga ia pun berpamitan pulang.
Maryam menutup pintu rumah itu dengan lemas, ia tidak berani naik ke kamarnya. Tidak bisa melihat wajah sang kekasih untuk sesaat.
Jangan sampai aku menangis di depan bang Akhri. Aku harus nampak biasa saja, agar tak membebaninya.
–––
Malam harinya...
Keduanya makan di meja yang sama, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing
__ADS_1
Sejak pembicaraan tadi, seolah Akhri tengah mendiami istrinya. Sama halnya dengan Maryam yang tak ada daya untuk bertanya apapun. Sehingga keduanya memilih saling diam.
Lewat pukul sembilan, Akhri yang tiduran lebih dulu terdiam. Posisi tidurnya miring memunggungi Maryam.
terdengar suara aktivitas Maryam yang berada di belakang beliau, sepertinya sang istri juga belum tidur. Akhri memutar tubuhnya, membuat sang istri terkejut, karena sepertinya ia juga hendak menyentuh punggung itu. nampak dari tangannya yang sedikit terangkat.
"kasih Abang penjelasan, kenapa tadi kamu bilang seperti itu? memang kamu serius mau jodohin Abang sama orang lain?"
Maryam membalas tatapan itu dengan sendu. lalu mengangguk. "iya, Bang."
"Kenapa?"
"Demi biar Abang bisa punya anak."
"Demi, kamu bilang, Dik? tahu nggak konsekwensinya kalau Abang sampai mengiyakan. Yakinkah kamu tidak akan terluka?"
Maryam mencoba untuk tersenyum. "kata Abang, wanita yang di rindukan surga itu harus berbakti sama suaminya. Maryam hanya ingin berbakti sama Abang, ingin Abang bahagia."
"Dengan cara menyuruh Abang poligami?"
"Bang, jangan marah. Maafkan aku, sebab aku tidak bisa apa-apa. Aku cacat sebagai seorang wanita. bukankah itu artinya Maryam tidak boleh egois? Maryam harus memberikan hak anak untuk Abang."
"Dik, kamu sadar bicara seperti ini? itu sama saja kamu putus asa. Dan keinginan besar mu menyuruh Abang nikah lagi, seolah menunjukkan bahwa Abang itu tidak berarti apa-apa untuk mu."
"Nggak gitu bang..." Maryam memegangi tangan suaminya. "Mengertilah, Merr hanya ingin Abang bahagia...."
Akhri tak menjawab lagi, beliau melepaskan pelan tangan Maryam sembari menghembuskan nafas kasar. Beranjak serta membawa bantalnya keluar dari kamar mereka. Maryam yang melihat itu tak bisa berkata apa-apa. Ia pun menunduk dan kembali merebahkan kepalanya di atas bantal.
Sementara Akhri yang masih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup nampak kesal sekaligus kecewa sekali dengan keputusan sepihak yang di berikan Maryam.
Tidak ada sekalipun ia berunding dengannya, tiba-tiba sudah mengatur rencana untuk menjodohkan dirinya.
Memangnya aku ini apa? Bisa-bisanya main menjodohkan tanpa berunding. Apa sebenarnya kamu tidak ingin Abang berjuang mempertahankan pernikahan kita tanpa adanya wanita kedua? Benar-benar nggak habis pikir.
Akhri melanjutkan langkahnya, memilih untuk mendekati Sofa di dekat ranjang. Di rumah itu memang ada kamar lain, namun ia lebih memilih tidur di sofa.
Beralih lagi pada Maryam yang di dalam. Ia kembali bangun, terdiam sejenak memikirkan bahwa jika Dia hanya diam saja di kamar, masalah tidak akan selesai. Ia harus bisa menjelaskan situasinya pada sang suami. Maryam lantas turun dari ranjang, dan berjalan keluar mencari suaminya.
Cklaaak...
Saat pintu itu terbuka, ia melihat Akhri sudah terlelap di atas sofa. Maryam pun menitikkan air matanya, yang segera di hapus. Kemudian berjalan pelan mendekatinya, setelah itu berjongkok di dekat wajah Akhri. Sebab beliau tidur dalam posisi miring ke kanan.
Aku sudah tersiksa dengan pikiran ini lebih dari lima bulan lamanya, Bang. Merr ingin menolak tapi tidak bisa. Merr tidak ingin di anggap wanita tak beriman dan egois.
Ia merengkuh kedua lututnya sendiri, bahunya berguncang. Tangisnya pecah namun segera ia bungkam agar tak mengeluarkan suara. Lalu berjalan jongkok ke sisi samping sofa, menghapus paksa air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
Ikhlas merelakan mu untuk berbagi hati itu bohong, aku tidak tahu akan kuat atau tidak nantinya. Tapi aku bisa apa, yang hidup dalam lingkungan idealisme sementara aku banyak kekurangan yang tak mampu di terima. Tolong aku, Bang? Merr harus apa, aku harus bagaimana? –tubuh itu semakin berguncang kuat, hingga harus memakai kedua telapak tangannya untuk membungkam mulutnya sendiri.