
Semakin berganti bulan. Kondisi fisik Farah semakin membaik. Wanita itu sudah bisa berjalan tanpa alat bantu. Karena sejatinya seluruh bagian tubuhnya masih normal.
Sekarang, genap lima bulan dia tinggal bersama ibu, adik dan juga kakaknya. Bersama Aiman yang juga turut menemani. Walau sesekali harus keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya yang seorang kontraktor syariah.
Malam ini, diskusi panjang keduanya membuat Farah terpekur cukup lama. Sebab selama ini, kakak iparnya sangat senang sekali dengan Umar. Kemanapun Dia pergi, walaupun hanya ke warung selalu membawa anak mereka. Lantas, apakah dia tega memisahkan Maryam dengan Umar?
Tapi, jika tidak di turuti keinginan Aiman yang ingin kembali tinggal di rumah mereka tidak baik juga. Sama saja ia menolak perintah suami. Lagi pula, sudah terlalu lama juga dirinya tinggal bersama sang ibu. Hal yang mungkin sedikit membuat Aiman kurang nyaman juga walaupun tak pernah sekalipun sang suami menunjukkannya.
––
Esok paginya, keluarga itu beraktivitas seperti biasa. Isti mengambil alih urusan dapur, sementara Merr biasanya akan mencuci pakaian dirinya dan suami sembari membenahi rumah seperti menyapu dan mengepel.
Kalau A'a, Beliau rutin mengadakan kuliah subuh dan juga dzikir pagi bersama dengan para warga di sana hingga langit sudah nampak terang. Baru setelah itu membantu menyapu halaman atau pekerjaan apapun yang masih belum di pegang para bidadarinya di rumah itu.
Farah keluar dari kamarnya, sembari menggendong Umar. Anak itu hendak mandi, jadi saat ini Farah akan memasak airnya.
Setelah semua selesai, tiba saatnya berkumpul. Mereka menyantap hidangan pagi dengan hikmat. Terdengar dencingan sendok dan garpu, beradu dengan lauk di masing-masing piring mereka.
"Ummi, Farah mau bicara sebentar." Farah membuka obrolan setelah menghabiskan makanannya.
"Bicara apa?"
"Iya, kemarin aku dan Bang Aiman sempat berdiskusi. Karena aku sudah pulih, jadi niatnya kita akan kembali ke rumah kami," tuturnya hati-hati.
Merr yang mendengar itu merasa sedikit tercekat. Tangannya semakin memeluk erat tubuh mungil Umar. Dia sendiri belum makan, karena lebih memilih menggendong Umar dan meminta Farah lah yang makan lebih dulu.
"Euuummmm... Ummi sih, nggak papa. Karena nggak ada wewenang juga untuk melarang kamu. Walaupun sejatinya, Ummi sedikit sedih karena rumah ini pasti akan jadi sepi. Setelah ramai karena tangis Umar."
Farah terdiam, ia menoleh kearah Bilal lalu Maryam.
"Teh?" Panggilnya, membuat Maryam menoleh. "Teteh nggak papa 'kan?"
"A– aku?" Mata Maryam nampak mengembun.
"Teteh masih bisa dekat dengan Umar, kok. Aku dan Bang Aiman juga sempat berunding. Nanti nih, kapan saja Teteh mau Umar tidur di sini, kami pasti membolehkan. Bukan begitu, Bang?"
"Iya, bener Teh. Teteh masih bisa dekat dengan anak kami," jawab Aiman kemudian.
Maryam pun tersenyum, ia mengecup pipi anak itu. Lalu mengangguk. Lidahnya beku, tidak bisa menjawab apapun. Hanya mampu menahan kesedihan ketika tahu dirinya akan jauh dari Umar. Namun ia bisa apa?
__ADS_1
ketika sekeras apapun dirinya ingin dekat dengan anak itu, tetap saja Merr tidak ada hak untuk melarang Farah dan Aiman membawa anak mereka pergi.
Ya, selama ini Umar lebih banyak di rawat olehnya, itu salah satu alasan terberat bagi Maryam melepaskan anak itu. Sebab hatinya sudah sangat condong kepadanya. Bahkan menganggap Umar bukanlah keponakan, melainkan anak kandungnya sendiri.
Rencana kepindahan Farah masih tiga hari lagi, tentunya menunggu Aiman menyelesaikan proyek kerjanya di luar kota. Katanya agar Farah tidak langsung sendirian di rumah, jadi Beliau ingin istrinya pulang setelah dirinya di rumah. Aiman pun sempatkan untuk mencari asisten rumah tangga tambahan lebih dulu, guna membantu istrinya merawat anak.
Selama beberapa hari terakhir, Merr meminta izin Farah, agar anak itu tidur bersamanya sebelum pergi. Farah pun mengizinkan, walaupun sesekali mengetuk pintu kamar kakaknya apabila terdengar tangis Umar yang tak berhenti.
Jadilah selama tiga malam ini, Maryam benar-benar memeluk tubuh gempal Umar yang sedang tidur di sisinya.
Kini tiba di malam terakhir sebelum besok Merr benar-benar jauh dari anak asuhnya. Sesekali air matanya mengalir membasahi pipi. Namun segera di hapus saat Bilal masuk ke dalam kamar.
Pria itu mendekati, lalu mencium pipi Maryam. Karena mendapati istrinya masih terjaga di pukul sebelas malam ini.
"Belum tidur?" tanya Beliau.
"Belum mau tidur, A'. Ini kan malam terakhir Umar tidur sama aku," jawabnya.
"Ya Allah... tapi kamu harus tidur. Farah kan pulangnya siang."
Merr tak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya.
"Merr, sayang sama Umar, A'..." gumamnya, serak.
Tetap saja aku tidak bisa memeluknya setiap saat. Kalaupun datang setiap hari, nggak enak juga. Aku mau Umar tidur di sisiku setiap malam.
Maryam diam saja, ia berusaha keras untuk tak mengeluarkan air mata yang sudah amat mendesaknya untuk keluar.
Bilal yang seperti peka turut merebahkan tubuhnya di belakang Maryam. Lantas memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"A'a tidur di sini, muat kan?" Gumam Bilal. Membuat Merr menoleh sedikit.
"A'a mau tidur di sini?"
"Iya, Umar taruh di tengah, dong... biar bisa peluk sama-sama."
Merr tersenyum kecut. Aku mendadak sesak. Andai Dia anak kita A', betapa senangnya kita.
Bilal menyentuh bahu Merr. Membawa sang istri agar menghadapnya. Setelah itu Beliau menopang kepalanya, mengusap pipi sang istri.
__ADS_1
"Kamu jadi diam begini? A'a paham kamu pasti sedih, kan?"
"Wajar kalau aku sedih, A'... Umar udah seperti anak kandungku."
Air mata Maryam lolos membasahi sisi samping matanya.
"Ya Allah..." Bilal pun mencium ke-dua mata yang reflek terpejam. "Ikhlas ya sayang... lagian Umar kan nggak jauh-jauh amat dari kita."
Merr mengangguk, ia masih bisa menahan kesedihannya. Namun entah besoknya saat anak itu pergi. Kamar mereka saja sudah penuh dengan aroma bayi, pasti akan lama merasakan kehilangan.
"A'a ada sesuatu, yang mudah-mudahan bisa membuat mu bahagia."
"Apa?"
"Rahasia, nanti kalau sudah dapat A'a bakal kasih tahu."
"Kenapa nggak sekarang saja, kan Merr jadi penasaran."
Bilal tersenyum. "Biarin kamu penasaran," jawabnya sembari menarik hidung Merr.
"A'a gitu, sukanya."
"Nggak papa lah... yang penting kan ujungnya selalu membuat kamu terkesan. Iya, nggak?" Bilal mengetuk-ketuk pipinya sendiri, minta di cium.
Maryam pun tersenyum dan segera memberikannya, satu kecupan cinta di pipi sang suami. "Iya–" jawabnya kemudian.
"Sekarang Umar pindahin ke tengah, kita peluk sama-sama," pintanya pada sang istri yang langsung mengiyakan. Merr beranjak sementara Bilal segera mengangkat tubuh Umar sedikit menggesernya lebih ketengah.
Maryam kembali membaringkan tubuhnya, menghadap ke A'a yang sedang menciumi Umar.
"Kamu jangan iri, A'a bakal lebih banyak cium Umar malam ini."
"Aku bukan iri karena nggak di cium kamu, tapi aku iri karena kamu nggak kasih kesempatan aku cium Umar juga," jawab Merr bernada sedikit galak. Namun membuat Bilal tertawa.
"Kalau nggak kebagian ya kamu ciumnya A'a aja. Kosong nih, bisa sepuasnya."
"Itu sih enak di kamu..." Merr menyingkirkan tangan Bilal yang kembali tertawa, setelah itu menggantinya dengan tangannya sendiri. Melingkari di tubuh Umar setelah itu mencium pipi itu dengan gemas. "Kesayangan– mau jauh dari ibu."
"Ibu?" Bilal bergumam.
__ADS_1
"Itu panggilan rahasia ku dengan Umar. Ya sayang? Ibu Maryam..." jawab Merr yang semakin erat memeluk tubuhnya.
"MashaAllah..." Bilal tak mau kalah, ia melingkari pinggang Merr lalu memejamkan matanya. Hanya sesaat tidur dengan posisi sama-sama memeluk tubuh sedikit gempal Umar, dan melepaskannya lagi ketika anak itu merasa kurang nyaman.