
Langit kembali gelap.
Bilal sepertinya nampak sedikit kelelahan. Nampak dari dirinya yang hanya bertadarus satu juz saja.
Merr menyerahkan air minum untuk suaminya, yang sedang duduk di kursi meja kerja.
"Makasih ya, kesayangan." Bilal meraihnya, mengucap basmalah lalu meminum air itu hingga habis. "Yang! Lagi–"
Merr tersenyum, menuangkan air dari dalam botol ke dalam gelas yang berada di tangan Bilal.
"Udah cukup, Yang..." ucapnya setelah air baru terisi separuhnya. Beliau mengucap basmalah lalu meminumnya lagi hingga habis. "Alhamdulillah..."
"A'a cape, ya?" Tanya Maryam pada suaminya yang kini sedang melepaskan pecinya.
"Iya, lumayan. Kalau dari panti itu agak lebih cape. Apalagi kalau ada yang ngamuk kaya tadi."
"Jujur aku kagum, A'a bisa sabar kaya tadi," pujinya. Membuat Bilal tersenyum lalu beranjak mengajak istrinya ke ranjang mereka. Maryam duduk lebih dulu setelah itu Bilal, yang langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan.
"Bukan sabar sih, tapi lebih ke kasian. Mereka bisa seperti itu juga bukan kemauan mereka sendiri."
"Iya sih, takdir Allah... tapi kasian, ya? Jujur, kadang aku suka heran. Di dunia ini, kenapa semua orang nggak di buat sempurna seperti kita. Ada aja yang gagal entah mentalnya, atau mungkin fisik."
"Nggak ada satupun ciptaanNya yang bisa di sebut gagal, Sayang. Semua itu lebih ke hikmah."
"Hikmah?"
"Ya, bagi yang menyadari... Allah SWT, menciptakan sesuatu itu bukan tanpa alasan. Bahkan sejenis virus pun di ciptakan pasti memiliki fungsi untuk memutar kehidupan dunia ini. Cuman kita saja yang tidak mampu menandingi serta memahami pengetahuan Allah SWT. Seperti halnya mahluk hidup, manusia di ciptakan pun memiliki tujuannya. Dan orang-orang penderita autis, sindrom dan lain sebagainya mereka itu punya keistimewaan. Terutama untuk orang tua yang merawatnya dengan sabar."
"Keistimewaan? Keistimewaan seperti apa?"
"Begini, syarat beribadah itu adalah yang berakal. Misal dari lahir sudah tak memiliki akal, hingga dewasa Dia wafat? Maka hisabnya amat ringan. Allah SWT cuma bertanya kepadanya; 'Kamu kenal Saya?' lalu manusia itu menjawab. 'ya, bagaimana mungkin saya tidak kenal Tuhan saya.' setelah itu ya sudah, mereka di persilahkan masuk ke surga."
"MashaAllah... apa ini shahih A'..?"
"Sahih..."* jawabnya. *(Author dapat ini dari kajian ustadz Oemar Mita Lc. di salah satu sesi tanya jawab. Entah apa temanya... lupa. Intinya kajian itu mencangkup tentang wanita-wanita yang di rindukan surga. Lalu ada seorang ibu yang bertanya nasib anak penderita down syndrome di akhirat.)
"Makanya kita di minta untuk sabar ketika di berikan anugrah anak yang memiliki keterbelakangan mental. Karena nanti, ketika Dia sudah di surga ia akan mencari orang-orang yang sabar merawat dan menjaganya dulu semasa di dunia. Lebih-lebih orang tuanya, untuk di ajaknya masuk ke surga sama-sama."
"MashaAllah..." gumam Maryam, ia baru tahu tentang itu. "Tapi, A'a juga sampai bisa loh bahasa isyarat seperti tadi."
"Itu A'a belajar dari kerabat dari keluarga Abi. karena ia memiliki kekurangan seperti itu. Akhirnya bisa bahasa isyarat."
"lagi Al Qur'an khusus tunanetra A'a bisa juga tuh bacanya."
"Kalau itu nggak juga, sebenarnya tadi tuh A'a hanya nyimak bacaannya saja. Sebelumnya yang mengajarkan mereka dulu ada teman A'a, seorang aktivis khusus pengajar Qur'an bagi para tunanetra. Dan karena mereka udah bisa A'a jadi tinggal nyimak aja."
"Ooh... tapi biar begitu Aa sukses membuat ku kagum, tadi."
"Oh ya?"
__ADS_1
"Iya, banget malah."
"Kagum doang, masa?"
"Ya terus apa lagi?"
"Ya kasih apa gitu?"
Merr tersenyum. "Kasih apa? Coklat sereal," ledeknya.
"Ada yang lebih manis dari itu..."
"Apa?" Merr udah curiga, lebih-lebih saat Bilal beranjak.
"Masa tanya sih, tadi lupa ya kalau A'a cemburu."
"Masa cemburu, bilang-bilang…?" Maryam menutup mulutnya seraya terkekeh.
"Tadi katanya suruh jangan di pendam. Ya A'a bilang, kalau A'a cemburu." Bilal memegangi kedua tangan Maryam.
"ini mau apa? bulan Ramadhan loh, A..."
"Kan udah buka? Tadi udah melepas dahaga yang utama, nah sekarang dahaga selanjutnya."
"Tadi katanya capek?"
"Capeknya mendadak hilang, nih... gara-gara ingat tadi aku cemburu."
Bilal meluncurkan kecupan kilat di bibir Maryam. Membuat wanita itu terkesiap.
"MashaAllah... kalau kaget gitu kok jadi bikin candu."
"A'a– curang masa tangan Merr di pegangin begini." Merr tertawa setelah mendapatkan kecupan kilat selanjutnya.
"Mau gimana, kamu kan tawanan A'a."
"Apa?"
"Loh, istri memang tawanan suaminya tuh. Baru tahu, ya?"
"Kok gitu?" Maryam tidak bisa menahan tawa karena Habib berkali-kali meluncurkan kecupan di bibirnya.
"Kalau nggak, mana mungkin seorang istri harus apa-apa izin suaminya ketika hendak melakukan sesuatu? Dan kalau kamu menentang itu, kamu dapat dosa."
"Iya juga sih..."
"Makanya. Yuk tawananku kita maraton ke surga pulau kapuk. Nggak lama kok perjalanannya..."
"Hahaha, astagfirullah... maraton?" Maryam pasrah, ketika sang suami meminta haknya agar di penuhi demi menyalurkan kebutuhan biologisnya sebagai seorang laki-laki.
__ADS_1
Karena apa yang pernah ia dengar dari sebuah pengajian, bahkan tercantum juga di Al Qur'an. Jika wanita adalah lahan untuk bercocok tanam bagi kaum laki-laki halalnya. Dan kapanpun sang suami ingin mendatanginya, maka ia harus rela melayani dengan sepenuh hati. Seperti malam ini, tubuhnya mungkin lelah. Namun demi suami tercinta, ia ikhlas menunda waktu tidurnya demi sebuah nafkah batin yang sejatinya mampu membuat hubungan pernikahan mereka semakin terjaga keharmonisannya.
***
Beberapa Minggu berselang, keluarga Isti mendapatkan kabar bahagia dari Farah. Pasalnya selama hampir dua tahun menikah ia akhirnya di beri keturunan. Farah hamil...
Rasa bahagia juga di tunjukkan Maryam yang memberikan ucapan selamat pada wanita yang tengah berpegangan tangan dengannya.
"Ku Do'akan, yang terbaik untuk Teteh. Walaupun aku tahu seperti apa kondisinya. Tapi Teteh harus ingat, rahmat Allah itu lebih luas dari apapun bahkan mungkin bisa mengalahkan takdir manusia."
Maryam mengangguk, "aku berharap demikian."
"Semangat ya, Teh. Kita tetap akan sayang sama Teteh kok.... iya kan Ummi?"
Isti tersenyum, ia merangkul keduanya yang sedang berdiri berhadapan lalu mengangguk.
"Iya, benar. Pokoknya jangan sampai itu menjadi beban untuk kamu, ya."
Maryam tersenyum haru. "Terimakasih Ummi, inshaAllah aku jauh lebih tenang saat ini. Karena kalian semua menerima kekurangan ku yang mandul ini."
"Merr, Ummi udah bilang, kan? Jangan sebut dirimu seperti itu. Nggak boleh menyakinkan sesuatu hanya karena vonis dokter."
"Iya Ummi... maaf."
Isti menepuk-nepuk pelan bahu menantunya. "Dengar nih, ada kisah seorang wanita yang mendatangi nabi Musa as. Karena pada saat itu, Nabi Musa as memiliki keistimewaan mampu berdialog langsung dengan Allah SWT. Jadi wanita itu meminta Nabi Musa untuk menanyakan pada Allah SWT, apakah Dia bisa hamil? Lalu Nabi Musa as berdoa, dan bertanya langsung. Jawaban Allah SWT pada saat itu adalah, wanita itu sudah di takdirkan tidak memiliki anak seumur hidupnya. Dan saat Nabi Musa menyampaikannya, wanita itu pun pulang dengan perasaan sedih namun tetap memiliki keyakinan. Sepanjang malam ia berdoa 'Ya Rahman... Ya Rahman...' dan beberapa hari setelah datang lagi bertanya pada Nabi Musa as. Pada saat itu jawabnya masih sama, wanita itu memiliki takdir tak bisa memiliki anak."
"Ya Allah..." Maryam merasa sedih.
"Tapi, apa wanita itu lantas menyerah? Jawabnya; nggak! Dia datang terus sampai beberapa kali dan mendapati jawaban yang sama. Hingga sampai yang terakhir, ia tak datang selama berbulan-bulan. Sekalinya datang, wanita itu malah membawa bayi dalam gendongannya."
Mata Maryam berbinar, menanti kelanjutannya.
"Nabi Musa as, terheran-heran. Lalu bertanya, bayi siapa yang ia bawa? Dan yang perlu kamu tahu wanita itu usianya sudah uzur. wanita itu pula menjawab bahwa itu adalah anaknya. Ia terlihat bahagia sekali. Setelah wanita itu pulang, Nabi Musa as kembali berdialog dengan Allah SWT. Mau tahu jawabnya?"
Maryam mengangguk-angguk semangat.
"Allah SWT menjawab 'rahmatKu telah mendahului takdirku untuknya...' jadi Dia punya anak karena keyakinan bahwa Rahmat Allah lebih luas dari apapun. Ia tidak percaya vonis, hanya percaya keyakinan tentang kebesaran Allah SWT."
"Allahu Akbar..." Maryam bergumam. "Apa aku bisa seperti itu."
"Tentu, ikhtiar itu jangan hanya dalam bentuk visik tapi verbal juga. Ketika dunia memvonismu buruk? Maka kamu harus lebih kuat lagi melambungkan doa. Karena Allah itu Ar Rahman... jadi jangan menyerah hanya karena vonis Manusia."
"Ummi?" Maryam meleleh, ia pun memeluk Isti. "Makasih, Mi. Merr jadi semangat sekarang."
"Harus lah, namun jangan berambisi juga. Harus sabar, serta sematkan prasangka baik, akan Hikmah Allah untuk kamu dan suami kamu."
"Iya, Ummi. Terimakasih..."
"Sama-sama–" tangan Isti melambai ke Farah memberi isyarat agar dirinya turut masuk ke pelukannya. Farah pun turut memeluk keduanya. "Senangnya kalau punya anak perempuan dua. Tinggal nunggu dari Hafiz ini."
__ADS_1
Mendengar itu semuanya tertawa di dalam pelukan Ummi Isti. Wanita itu memang selalu menyejukkan hati siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Sama halnya dengan Maryam, yang merasakan kembali. Nyamannya memiliki seorang ibu, walaupun statusnya adalah ibu mertua. Namun kebaikan Isti benar-benar mematahkan stigma ibu mertua pada umumnya. Senantiasa ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Isti juga seolah menunjukkan, bahwa masih banyak para menantu beruntung yang memiliki mertua berhati malaikat seperti dirinya.