Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
berkunjung


__ADS_3

Cuaca yang mulai terik tak menghilangkan keceriaan anak-anak kecil yang sedang berlarian di tepi kolam dekat gazebo.


Berkejaran dengan riangnya, membuat rumah itu seperti taman kanak-kanak. Momentum yang tak di rencanakan, namun rupanya menjadi kesempatan untuk berkumpul.


Saat tahu Abinya telah tiba di Jakarta Nuha langsung meminta izin untuk diantar kerumah Rumi. Faqih pula mengizinkan. Beliau juga bilang akan pulang saat sehabis Dzuhur nanti ke rumah Rumi lantas menginap satu malam khawatir Abi lelah jika harus ke Asemka. Sebab, esok pagi Beliau akan kembali ke Magelang.


"A' Fawwaz, jangan jail ke Alzah, ya!" Seru Nuha saat melihat Anak itu hendak membuang sebelah sendal jepit milik sepupunya yang sudah merengek minta di kembalikan. Debby sendiri yang melihat itu hanya tertawa, karena memang anaknya juga lumayan cengeng, mudah menangis.


Tak berselang lama, mobil habib Bilal berhenti di dekat pagar rumah. Senyum manis Debby seketika mengembang saat tantenya datang.


"MashaAllah, Tante Maryam," gumamannya senang. Menanti mobil tersebut terparkir sempurna, lantas keluar pula seorang wanita sembari menebar senyum.


"Assalamualaikum–" Maryam berjalan dan berdiri di depan pagar menyapa mereka yang sedang berkumpul.


"Walaikumsalam warahmatullah..." Debby bergegas memeluk tubuh langsing Maryam. "Senangnya Tante datang, kirain jadi besok?"


"Iya, niatnya besok. Tapi, suaminya Tante pengen ketemu Ustadz Irsyad, tuh. Mumpung di sini katanya," jawab Maryam.


Debby tersenyum, ia menjabat tangan Habib Bilal sembari menjawab salam Bilal kepadanya.


"Assalamualaikum Kak Merr, Habib..." sapa Nuha juga pada mereka.


"MashaAllah, lagi disini?" Tanya Maryam sembari memeluk Nuha.


"Iya, Kak." Nuha menjawab dengan hangat.


"Masuk dulu, yuk. Om, Tante..." Sebenarnya Debby agak gimana memanggil pria yang mungkin usianya tak jauh dari Faqih itu dengan sapaan Om. Namun, justru itu kemauan Bilal sendiri untuk di panggil Om. Katanya biar samaan dengan Tantenya.


"Iya Deb. Emmm... Pak Kyai ada, 'kan?" Tanya Bilal.


"Lagi keluar, Om. Katanya sih jalan-jalan sambil ziarah ke makam Umma. Tapi di dalam ada Kak Rumi kok. Lagi mandi habis bersihin kolam ikan."


"Oh..."


"Yuk masuk aja," ajaknya lagi.


"Iya," jawab Bilal sembari menggandeng tangan Maryam, mereka masuk ke dalam. Menyusul langkah Debby dan Nuha.

__ADS_1


Di dalam, Debby mempersilahkan keduanya untuk duduk sementara itu ia melangkahkan kaki, masuk lebih ke dalam rumah tersebut untuk membuatkan minum.


"Dek Nuha katanya abis dari Kairo, ya?" tanya Maryam.


"Iya Kak. Sebenarnya, rencana ke Kairo itu udah lama. Saat Umma masih hidup. Tapi ketunda, dan baru dua bulan yang lalu terlaksana. Alhamdulillah..."


"MashaAllah, bagaimana di sana?"


"Menyenangkan, karena Aku dan suami mendatangi universitas Al-Azhar. Kampus yang sangat ingin aku kunjungi. Di sana kami menemukan banyak hal, yang membuatku kagum dan kaya betah... kalau nggak ingat punya toko di rumah, pengen banget tuh menetap."


"Haha... beruntungnya bisa mengunjungi Mesir." Maryam tersenyum turut antusias.


"Alhamdulillah sekali bisa sampai ke sana. Kaya mimpi, Kak," jawab Nuha menggebu-gebu sembari terkekeh Maryam pun sama. Tak lama Rumi keluar, menghampiri Bilal yang sigap langsung berdiri menyambut salamnya.


"Sudah dari tadi, Bib? Maaf ya, abis mandi ini."


"Enggak papa. Saya juga baru aja sampai."


"MashaAllah, duduk Bib. Abi lagi keluar..."


Debby sendiri keluar membawa minuman serta dua kaleng kue kering. Lantas menyuguhkannya, bersamaan dengan itu terdengar suara motor memasuki pelataran rumah. Di tambah riuh anak-anak yang girang saat melihat kakek mereka kembali.


Tentunya, anak-anak itu berebut ingin dulu-duluan mencium tangan kakeknya, belum lagi bising suara mereka yang meminta di gendong oleh Beliau. Membuat Ustadz Irsyad kewalahan sendiri, dan memilih untuk menggiring cucuk-cucuknya masuk kedalam sembari mengucap salam.


"Weleh-weleh... ada tamu, rupanya?" kata Beliau saat melihat Habib Bilal dan juga Maryam.


"Pak Kyai, apa kabar?" Bilal mencium punggung tangan Ustadz Irsyad sebanyak tiga kali habis itu memeluk Beliau.


"Alhamdulillah, sehat. Kalian sendiri bagaimana?" tanya Ustadz Irsyad.


"Alhamdulillah kami baik."


"Alhamdulillah... sekarang lagi libur, ya?"


"Iya, Kyai. Besok pagi saya berangkat ke pangkal pinang. Ada kerjaan di sana."


"Barakallah... liburnya berapa hari dalam sebulan, tuh? Kayanya jarang di rumah ya Ce, suaminya," ledek Ustadz Irsyad.

__ADS_1


"Lumayan jarang, Ustadz. Sebulan bisa di hitung jari," jawab Maryam langsung, yang di sambut tawa semua yang ada di sana.


"Yah, begitulah resiko punya suami seorang Da'i kondang."


"MashaAllah..." gumam Bilal menanggapi sembari terkekeh.


"Monggo Habib, Ce Maryam. Silahkan di nikmati suguhan nikmat dari anak perempuan saya," kata Ustadz Irsyad menawarkan. Mereka pun mengangguk lantas meraih cangkir masing-masing untuk di minum isinya.


***


Waktu sudah memasuki Dzuhur. Mereka para pria bergegas menuju masjid yang letaknya tak jauh dari rumah Ustadz Irsyad. Sementara para perempuan melakukan Sholat Dzuhur di rumah.


Dalam perjalanan selepas dari masjid, mereka bertiga berjalan pelan menyusuri jalan. Obrolan hangat seperti tercipta antara Ustadz Irsyad dan Bilal, sementara Rumi lebih banyak menjadi pendengar.


"Pak Kyai tahu, sebagai manusia biasa kadang saya punya keinginan untuk memiliki keturunan. Terlebih saat melihat istri saya sering murung. Mungkin, Dia sendiri merasa tidak tenang."


"Coba lebih banyak ikhtiar lagi."


"Sejauh ini, tidak banyak. Di samping kasihan sama istri, saya juga khawatir Dia mikir saya mulai tidak menerima dia. Karena semakin berjalan tahun, kepercayaan dirinya semakin berkurang."


"Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga Cece punya masalalu."


Bilal menghela nafas pelan, pandangannya lurus mengarah ke aspal tempatnya memijakkan kaki.


"Coba ikhtiar doa Nabi Zakaria as, Bib. Apa sudah di amalkan?"


"Yang mana, Kyai."


"Yang di surat Ali Imran ayat 38..." tuturnya.


Bilal pun mengingat arti dalam ayat tersebut. Ketika Nabi Zakaria as berada di dalam mihrabnya. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa" [Ali Imran ayat 38]


"Allah..." gumam Bilal.


"Segera amalkan, Bib. Dan cobalah untuk bernazar. Semoga Allah SWT mendengar doa, Antum."


Bilal tersenyum, Beliau mengangguk semangat. Dalam hatinya ada banyak hal yang tiba-tiba memenuhi isi kepalanya. Berharap hal yang mustahil menjadi mudah ia raih.

__ADS_1


__ADS_2