
Minggu ke tiga di bulan Ramadhan.
Kembali Bilal mengambil jatah liburnya untuk mengajak sang istri jalan-jalan. Memang, dari semenjak menikah Beliau belum membawanya pergi berbulan madu. Beliau masih fokus pada ibadah dan pekerjaan, namun perhatian tetap di berikan walaupun hanya dari telfon atau pesan chat.
Hari ini mereka memijakkan kaki di sebuah pantai yang tak jauh dari kota Jakarta. Pantai Anyer, Banten. Pantai yang masih lumayan cantik untuk menghabiskan waktu sore.
Di pukul dua siang, mentari memang masih terasa menyengat. Namun hembusan angin sudah lebih mendominasi menyejukkan tubuh.
"A'a sebenarnya pengen ajak kamu umroh di Ramadhan ini," ucap sang Habib di sela-sela langkah kaki mereka yang tersapu ombak sesekali.
"Umroh?" Merr ingat terakhir kali ia umroh itu bersama Akhri. Pada saat itu di bulan Ramadhan, beberapa bulan sebelum Beliau menikah lagi dengan Kania.
"Iya, kalau bulan Ramadhan itu pahalanya lebih banyak jadi bisa khusyuk. Sayangnya, tahun ini aku nggak mengosongkan jadwal. Tapi mudah-mudahan tahun berikutnya bisa." Bilal mengusap kepala Merr, lembut. Wanita itu tersenyum, di tengah hempasan angin yang membuat kerudung besarnya berkibar.
"Aku dulu pernah umroh... tapi baru sekali yang merasakan di bulan Ramadhan. Rasanya lebih tenang, kadang banyak warga lokal yang membagikan kurma gratis di saat sudah mendekati waktu berbuka. Nah... pada saat itu hawanya panas sekali, jadi kaya nggak kuat gitu. Untunglah Beliau?" Merr menghentikan ucapannya, ia nyaris bercerita pengalaman Akhri yang membawa Merr ke dekat area kran zam-zam. Beliau pada saat itu mengambil satu gelas air lantas berjongkok untuk menyirami kakinya yang terasa panas. Hal itu di lakukan berulang hingga Maryam merasakan tubuh yang sedikit segar.
Biar nggak terlalu panas, sebelum lanjut tawaf-nya. –Ucapan lembut Akhri terdengar dalam benaknya.
Merr memandangi wajah Habib yang tengah menyipitkan matanya karena melawan matahari.
"Kok nggak di lanjutkan?" Bilal tersenyum.
"Nggak papa, A'. Maaf... sebaiknya nggak usah di lanjutkan."
"A'a tahu, pasti pada saat itu sedang sama Beliau, ya? Kamu mengingat satu kenangan?" Bilal merengkuh pundak sang istri, sedangkan bibirnya masih mengulas senyum. Ini tak hanya sekali dua kali istrinya keceplosan satu momentum yang mungkin ia ingat saat sedang bersama mantan suaminya dulu.
"Emmmm?" Merr memalingkan wajahnya. "Kesana, yuk! aku pengen ambil foto di sebelah sana."
Merr mencoba mengalihkan, ia menoleh lagi ke arah Bilal yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
Terkadang, mencintai mu yang memiliki masalalu memang kerap kali mencubit sanubari. Namun, aku tidak boleh kesal karena itu. A'a cemburu? sudah pasti! tapi aku tak ingin memaksa keinginan ku yang hanya membolehkanmu meletakan nama A'a di hati dan pikiran mu setelah Allah SWT dan Rasulullah Saw. Tapi A'a juga harus bersabar dan menerima satu kekurangan itu, sebagai konsekuensi menikah dengan mu. Ya... hatimu yang mungkin masih terpatri dengan Dia di masa lalu. (Bilal)
Pria itu lantas membalas dengan anggukan kepala. Tangannya masih erat memegangi pundaknya. Berjalan pelan menyusuri pantai hingga ke tempat yang di tunjuk istrinya tadi.
A'a jadi diam, aku kayanya menyinggung Dia deh. Maryam sesekali melirik ke samping, namun beberapa kali juga kepergok Bilal yang juga melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Ayo, mau foto di mana?" Tanya Bilal setelah sampai di tempat yang di tunjuk tadi. Beliau sudah sigap membuka tas, mengambil kamera DSLR dari dalam tasnya.
"Di sini bagus?" Bersemangat. Bilal pun tersenyum mengangguk. Mulai membuka penutup lensa setelah itu mengotak-atik sejenak.
"A'a mau foto kamu sendirian dulu."
"Aku nggak bisa ambil pose yang bagus." Maryam tertawa malu-malu.
"Nggak papa, nanti kita foto berdua pakai tripod-nya... gaya yang cantik, ya." Bilal sudah mengambil posisi.
Namun Maryam memang paling tidak pede untuk di foto ia hanya berdiri saja. Bingung ingin bergaya seperti apa.
Klik...
"A'a, aku belum siap!" Protes Maryam. Bilal pun tertawa ia melihat hasil potretnya.
"Nggak papa, bagus... lagi yuk." Sudah mengangkat kameranya lagi.
"Gimana?"
Klik...
"Lihat nih, istri habib Bilal lagi cemberut."
"Rese! Sumpah!" Maryam mendorong sedikit kameranya, karena kesal.
"Tapi cantik sayang, liat dulu hasilnya."
"Cantik apa? pasti blur, itu..."
"Nggak, liat dulu makanya nih..." Bilal menunjukkan hasil jepretannya. Memang nggak blur tapi tetap saja bagi Maryam hasil gambar dirinya itu jelek.
Maryam melirik sebal, setelah itu berjalan menjauh sembari membuang muka.
"Dih... kalau ngambek gitu. Suka tahu A'a liat ekspresinya."
__ADS_1
Maryam tak menanggapi, ia masih berjalan beberapa langkah sembari merogoh tasnya mengambil ponselnya sendiri.
"Aku mau foto sendiri aja, A'a iseng orangnya," gerutunya. Membuat Bilal tertawa. Maryam pun mengangkat ponselnya mengarahkan kamera depan ke arahnya sendiri.
Tangan Bilal merebutnya pelan. "Lebih bagus itu ambil foto berdua." Bilal nyengir sembari merengkuh bahu Maryam yang masih sedikit cemberut mengarahkan pandangannya.
"Siap-siap, senyum sini... liat kamera, jangan ke A'a." Sindirnya membuat Maryam menghela nafas lalu menatap kamera, setelah itu tersenyum tipis.
Klik...
Bilal menurunkan ponselnya lalu melihat hasilnya.
"MashaAllah, cantik banget..." Maryam tersipu. "Kameranya," sambung Bilal kemudian sambil tertawa karena senyum Maryam kembali meredup.
"Siniin Hpnya..." Kesal, hendaknya meraih ponsel di tangan Bilal tapi justru malah di jauhkan.
"Nanti dulu, A'a kan lagi pinjam," kata Beliau, sementara Maryam menghela nafas. Bilal pun mengotak-atik sedikit. Lalu menunjukkan pada Merr. "Wallpapernya bagus, kan? Ada foto kita."
Maryam memandangi layar tersebut lalu tersenyum. Karena Bilal berpose dengan sedikit mengangkat dagu, lalu nyengir. Baginya tak mengurangi kadar tampan di wajah suaminya malah sebaliknya, terlihat lucu.
"Dasar tukang iseng!" Merr menarik pipi suaminya. Setelah berhasil mengambil ponselnya kembali.
"Loh emang A'a iseng?'
"Iseng lah, pantes si Hafiz suka kesel sama A'a. Kamu tuh kalau udah iseng harus bener bikin mangsamu marah dulu baru berhenti."
Bilal tertawa. Ia mengusap lembut kepala Maryam. Setelah itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hembusan angin terasah semakin kuat berhembus, beliau pun mengangkat kameranya lalu mencari engle yang pas. Setelah itu mengeluarkan tripod dari dalam tasnya, mempersiapkan posisi, mengatur timer di kamera setelahnya menarik pelan tangan Maryam.
"Yuk kita foto berdua di sini..." Bilal menekuk salah satu sikunya. Di mana Merr yang paham langsung memegangi lengan itu. Suara timer terdengar. "Yang– senyum..."
Merr menuruti, ia pun tersenyum. Klik... Bilal merubah posisinya, memegangi kedua tangan Merr. Mereka saling memandang dengan senyum yang natural. Klik...
Beberapa foto pun di ambil dengan pose yang beragam. Terlihat sangat natural karena Bilal hanya mengarahkan sedikit. Terakhir mereka mengambil dalam posisi duduk. Bilal menggenggam tangan Merr, sementara kepala Maryam menyandar di bahu sisi kanan suaminya. Pandangannya menatap lurus kedepan, sedangkan pandangan Bilal sendiri mengarah kepada sang istri.
"Aku mencintaimu, bidadari ku," bisiknya, lima detik sebelum kamera itu menangkap gambar mereka berdua.
__ADS_1
Maryam menoleh kemudian. Lalu tersenyum. "Aku juga, mencintaimu."
Bilal semakin mengembangkan senyumnya, mempererat genggaman di tangannya, sementara tangan satunya mengusap pipi sang istri yang masih menyandarkan kepalanya di bahu. setelah itu kembali menatap lurus ke depan. Memandangi beberapa pohon kelapa yang bergoyang disapuh angin.