
Mengobrol dengan Nia membuat Maryam sedikit lupa bahwa niatnya datang hanya sebentar.
Sekarang sudah masuk waktu shalat Ashar. Merr sedikit panik, segera ia mengeluarkan ponsel dalam tasnya.
Ya Allah, ponselku mati.
Kembali dia memasukkan ponselnya dan menutup rapat resleting tasnya. "Shilla, Nia. Aku harus kembali."
Nia mengangguk. "Terima kasih sudah mau membesukku ya, Ce."
"Iya, aku berharap kamu cepat pulih dan bisa kembali berkumpul dengan anak-anak mu." Merr memeluk tubuh Nia, wanita itupun tersenyum tipis.
"Aamiin..." Nia membalas pelukannya. Hatinya sedikit lega, walaupun tak sepenuhnya. Rasa canggung jelas masih ada, dan lebih mendominasi rasa malu karena ulahnya di masalalu pada Maryam.
"Aku antar Maryam dulu ya..." kata Shila yang di jawab anggukan kepala. Keduanya keluar, dimana sudah ada Dayat dan juga Akhri tengah duduk di kursi yang tersedia di depan bangsal rawat inap tersebut.
Merr sedikit terkejut, sebenarnya dia tak berharap bisa bertemu Akhri lagi. Namun, mau bagaimana lagi? Mengunjungi Nia yang sedang sakit sudah pasti akan membawanya pada pertemuan ini. Wanita itu berusaha tersenyum, namun tak hanya terarah pada Akhri melainkan pada suami Arshila juga, sekedar menyapa.
"Bang," sapanya pada mereka berdua dengan tangan yang tertelungkup di depan dada.
"Merr, terima kasih ya..." ucapnya pada Maryam. "Terima kasih karena kamu sudah bersedia datang kemari, menjenguk istri ku," tutur Akhri kemudian dengan sopan. Kali ini seolah jarak semakin ia berikan pada wanita di hadapannya. Ia sendiri pula tak bisa menatap langsung kearah mantan istrinya.
"Hanya sekalian mengantar Arshila, Ustadz," jawab Maryam. Akhri pun tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi. Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam warahmatullah..." jawab semuanya yang ada di sana. Setelah Merr memutar tubuhnya dan berjalan menjauh dari mereka Akhri memandangi sebentar lalu menghela nafas setelah itu masuk ke dalam kamar Nia.
Pintu kembali di tutup, beliau lantas mengalihkan pandangannya pada Nia. Wanita yang tengah tidur telentang sembari menatap langit-langit ruangan kamar rawatnya. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Assalamualaikum–" Akhri menyapa sembari berjalan mendekati. Nia sendiri langsung menoleh pelan.
"Abang sudah kembali? Abang ketemu Cece?" Tanyanya.
Akhri mengangguk. "Iya Dik... diluar tadi, tapi sebentar kok."
"Bagaimana? Habis lihat Cece terus lihat aku?" Tanyanya sembari tersenyum tipis. "Pasti langsung sepah, ya?"
"Astagfirullah... ya nggak lah. Kamu kok ngomongnya begitu?" Akhri mengusap pipinya. Sementara Nia sendiri tak lagi menjawab. Tak bisa di pungkiri kecemburuannya terhadap Merr bercampur hilangnya rasa percaya diri masih saja ada walau sedikit. Wanita yang tadi menjenguknya adalah mantan istri sang suami yang mungkin sampai saat ini masih ada di hati Beliau. Lantas bertemu lagi dengan penampilan yang masih segar dan cantik bak tak termakan usia, berbeda dengan dirinya. Ya, semenjak rambut di kepalanya ia pangkas habis dan juga kedua p*yud*ra yang sudah tidak ada, Nia jadi merasa sudah menjadi buruk rupa.
"kenapa?" Akhri membuat Nia kembali tersadar. "Kamu nggak berpikir macam-macam lagi, kan?"
Nia menghela nafas pelan. "Aku iri padanya."
"Istighfar, jangan seperti ini lagi."
"Bukan iri yang sama seperti dulu, Bang. Melainkan iri pada ahlaknya..." jawab Nia, membuat Akhri terdiam. "Tadi aku sempat bertanya? Kenapa Cece bersedia memaafkan ku yang dulu sempat zholim terhadapnya. Padahal jika aku sendiri berada di posisi Cece mungkin akan lebih banyak melontarkan sumpah serapahnya."
"Abang harus tahu jawaban Cece yang membuatku membisu."
"Apa?" tanyanya lembut.
"Cece bilang Habib Bilal pernah menjelaskan maksud dari Tawaadha'atil ardhu kepadanya yaitu adalah nama lain dari tawadhu..." jawab Nia, ia mengingat ucapan wanita dalam balutan kerudung peach di hadapannya. Bertutur kata lembut tanpa sedikitpun terkesan sok pintar apalagi menggurui.
"Suamiku bilang maknanya seperti; tanah itu lebih rendah daripada tanah di sekitarnya. Beliau menangkap itu sebagai sifat wajib manusia dalam menjalin ukhuwah. Yaitu untuk memaklumi satu kesalahan dengan bercermin pada diri sendiri kalau kita juga pasti punya sifat zholim terhadap diri sendiri atau bahkan pada orang lain. Sifat tawadhu wajib kita perkuat agar kita lebih berbesar hati mau memaafkan. Ya, manusia memang memiliki sifat fitrahnya untuk marah, begitu pula aku yang tak bisa memungkiri kalau aku sempat marah padamu saat itu. Namun kita di beri pilihan antara tetap marah atau menundukkan amarahnya karena Allah SWT. Karena Mizan di pengadilan akhirat tidak akan mampu menimbang pahala baik bagi orang-orang yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain serta melupakannya. Itu Kenapa Allah SWT lebih mencintai dan langsung menyerahkan pahala itu kepadanya. Bukankah itu luar biasa Nia?"
Akhri mengulum senyum, dalam hati ia mengucap MashaAllah. Merasa takjub dengan Merr yang sekarang lebih banyak mempelajari ilmu dari habib Bilal dan berusaha mengamalkannya.
__ADS_1
"Aku malu loh, Bang. Serius! Dia mualaf namun ahlaknya sangat baik, sementara aku? Itu sebabnya aku iri padanya..."
"Abang juga malu, karena Abang lebih banyak mendakwahi orang lain. Namun, pada wanita yang sejatinya menjadi tanggung jawab utama untuk ku dakwahi, malah justru ku kesampingkan."
"Sepertinya bukan karena Abang yang kurang mengajarkan ku. Tapi aku yang lebih banyak menampik ilmu yang Abang kasih buat aku."
Akhri mengusap lembut kepalanya yang tertutup kain hijab. Lalu mengecup keningnya.
"Bang?"
"Heeemmm...?"
"Aku boleh jujur, nggak?"
"Boleh, Dik."
"Sejujurnya aku takut mati," ucapnya lirih.
"Semua orang akan mati, Nia." Akhri menenangkan.
"Tapi aku belum siap, aku takut."
"Siap tidak siap, benci ataupun tidak. Kita tetap harus melewati lubang sempit dan menyakitkannya sakaratul maut. Karena itu satu-satunya jalan untuk bertemu dengan Allah SWT."
"Hiks, tapi aku takut tidak selamat."
"Mintalah Rahmat Allah banyak-banyak. Karena kita semuanya tidak akan selamat hanya karena ibadah mutlak kita. Melainkan dari Rahmat Allah SWT."
__ADS_1
"Iya Bang..."
"Sekarang, Abang hanya mau kamu lebih banyak bertaubat dan merubah niat hati kamu menjadi lebih baik. Ikhlas dan ridho menerima hadiah indah ini. Kamu harus bersyukur, Dik. Kamu termasuk istimewa karena Allah SWT masih memberikan kesempatan. Sementara Abang yang sehat? Tidak tahu kapan akan berpulang. Bisa jadi nanti? Sementara Abang tidak punya persiapan sebab menganggap sehat ini adalah tanda bahwa hidup Abang masih panjang," jelasnya membuat Nia mengangguk hingga merasakan perasaannya sedikit tenang dalam pelukan Ustadz Akhri.