
Beberapa hari berikutnya sudah mulai masuk bulan Ramadhan. Akhri yang saat itu baru saja menerima panggilan telepon dari manajernya seketika tersenyum kecut.
Ini sudah yang ke sekian kalinya, jadwal tausyiah beliau di batalkan oleh panitia acara dengan alasan yang beragam. Walaupun tak semua, tetap masih ada yang berjalan sesuai kesepakatan. Namun ia menyadari dari rumor buruknya yang menyebar itu membuat pekerjaannya turut terkena dampaknya.
Nyatanya sampai detik ini masih banyak DM yang masuk, isinya cibiran serta hinaan. Karena semakin kesini, opini publik tentang Akhri suami yang tak baik semakin bermunculan.
Sampai-sampai Akhri sendiri sempat beberapa kali memberikan klarifikasi, mengenai kebenarannya jika Maryam Chwa memanglah mantan istri pertamanya dulu. Namun apa yang terjadi tak seperti apa yang di opinikan masyarakat. Tak lupa pula ucapan maaf pun di tulisnya dengan hati-hati, memberi penjelasan yang malah berujung tudingan untuknya yang sedang membelaan diri.
Ya Allah, kapan gelombang ini surut?
Akhri menghela nafas, rasanya lelah menahan gempuran hujatan. Walaupun sudah berusaha untuk tidak menanggapi, namun makin kesini malah justru semakin mengarah ke fitnah-fitnah yang tak berkesudahan. Menuding Akhri sebagai Ustadz yang gemar menikahi santrinya sendiri dan lain sebagainya. Beberapa orang bahkan sudah Beliau laporkan kepada aparat kepolisian karena baginya itu sudah masuk pencemaran nama baik.
Sejenak ia ingat DM Maryam di satu hari sebelum pernikahannya. Sebuah kekuatan yang membuatnya semakin menyesali diri karena telah melepaskannya dulu.
[Assalamualaikum Ustadz..
Maaf, Saya mengirim DM ini bukan maksud apa-apa. Hanya ingin meminta pada Ustadz Akhri agar tidak lagi memberi klarifikasi macam-macam.
Hal itu tidak akan langsung memadamkan panasnya pemberitaan. Ku harap Ustadz selalu ingat, bahwa kita di hadapan orang yang tidak menyukai walaupun perbuatan kita seperti malaikat maka mereka akan tetap menghujat, namun berbeda dengan yang benar-benar tulus menyayangi Antum, maka mereka tidak akan terpengaruh dengan ribuan berita buruk tentang Antum.
Fokuslah untuk menjadi lebih baik, orang hanya akan menyoroti keburukan kita. Namun Allah SWT adalah sebaik-baik penilai mahluknya. Semoga Ustadz dan keluarga selalu di beri kekuatan di tengah goncangan masalah ini.]
Pada saat itu Beliau hanya bisa membalas ucapannya dengan kata terimakasih, sedikit permintaan maaf, dan tak lupa pula, menyematkan ucapan selamat juga doa terbaik untuknya yang hendak menikah di esok hari.
Ummi Salma mengetuk kamarnya lalu masuk dan menghampiri Akhri yang sudah beberapa Minggu ini tak pulang ke rumahnya sendiri.
"Akhri, kamu mau sampai kapan marah dengan Nia? Ummi sadar Nia memang salah, namun mau bagaimanapun juga kamu nggak bisa seperti ini. Jatuhnya dosa loh..."
__ADS_1
Pria itu mendesah, tatapannya tak berubah. Masih kosong mengarah ke luar jendela.
"Ummi, Akhir mau tanya? Dulu, apa Abah nuntut Ummi untuk punya anak?" Tanyanya tiba-tiba. Ummi pun terdiam seraya menunduk. "Apa nenek juga sama, menuntut Ummi?"
"Mereka tidak pernah menutup Ummi. Namun poligaminya Abah, juga terjadi sebelum kamu lahir."
"Apa penyebabnya karena Ummi belum punya anak?" Mata Akhri mengembun, bicaranya terdengar lirih dan parau.
Rasa di hati ingin turut menyalahkan, serta menyayangkan sikap Ummi dulu pada Maryam. Namun keimanannya menahan nafsu amarahnya. Bagaimanapun juga, Ummi adalah ibunya yang perlu Beliau hormati, dan Beliau takuti.
"Enggak... bukan itu." Ummi mengusap air matanya.
"Lalu apa, alasan Abah poligami?" Masih mengarahkan pandangannya ke arah dinding kaca.
"Wanita itu di jodohkan sama guru besarnya Abah. Karena yatim-piatu, sudah gitu janda dari temannya Abah yang anaknya ada empat. Itu yang ummi tahu... sebab lainnya karena tidak ada yang menopang hidupnya. Jadilah Abah menikahi Dia, di saat pernikahan Ummi dan Abah memasuki usia pernikahan yang ke sembilan tahun."
"Yang kedua, kurang tahu pastinya. Karena setahu Ummi wanita itu dulu masih gadis. Yang dinikahi Abah tiga tahun setelah yang kedua. Adalah anak dari seorang kenalan Abah."
Akhri menoleh kearah Ummi-nya. "Lalu perasaan Ummi bagaimana, ketika itu?"
Ummi sempat terdiam, memandangi wajah yang tengah menatapnya dengan kekecewaan padanya.
"Sakit, tidak terima, dan kecewa sekali sama Abah kamu. Namun Ummi bisa apa? Ummi tidak mungkin sanggup menentang keputusan Abah."
"Itu juga yang mungkin di rasakan Maryam. Dia sakit, setiap malam menangis karena Aku, Mi–" Akhri kembali menampar dinding dengan sorot mata sedihnya.
"Ummi menyesali itu..." gumam Ummi Salma.
__ADS_1
"Waktu tidak bisa di putar, hanya dengan penyesalan kita, Mi." Akhri meremas pakaian di bagian dadanya sendiri. Sementara Ummi langsung mengusap lengan anaknya seraya menitikkan air mata. "Akhri menikahi Nia untuk apa? Bukan untuk kehilangan wanita yang sejatinya Akhri cintai. Anak? Memang Akhri menginginkan itu, tapi sejatinya hati ini inginkan anak yang terlahir dari rahim Maryam, bukan wanita lain. Sementara Maryam ingin Ummi bahagia. Dia merengek setiap malam Mi, meminta aku untuk menikah lagi. Tapi aku bodoh karena akhirnya kalah dengan bujukannya, yang justru membuat aku jadi seperti ini."
Sejenak Ummi mengingat semuanya, apa yang Ia lakukan memang sedikit memaksa, hanya karena rasa ingin sama-sama bisa memberikan cucu pada suaminya. Ia jadi menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri.
"Dan Merr sekarang sudah menjadi milik orang lain, Mi..." Akhri menangis, ia menepuk dadanya sendiri. "Bidadari ku sudah menjadi bidadari orang lain..."
"Ummi minta maaf, Akhri. Semua salah Ummi... Ummi mengakuinya." Ummi Salma memeluk tubuh anaknya itu. Seolah pernikahan Maryam kembali membuatnya terpukul. Bahkan mungkin hantaman kali ini lebih berat dari pada perpisahannya dulu.
"Selama ini Akhri menahan hasrat perasaan ini. Karena takut dosa, dia sudah bukan halal ku lagi. Bukan, Mi. Tapi Akhri belum ikhlas sampai detik ini kehilangan Dia. Wallahi... Wallahi Ummi."
"Istighfar, Akhri... puasa mu akan rusak jika kamu seperti ini." Ummi menepuk pelan punggungnya yang berguncang itu. Beliau pun turut menangis sesenggukan melihat perasaan hancur Akhri yang tak berkesudahan. "Maaf... Ummi minta maaf, semuanya sebab Ummi sempat berpikir pendek. Hanya memandang pada diri Ummi dan berharap Maryam akan mampu seperti Ummi. Yang seiring berjalannya waktu hati Ummi sembuh karena akhirnya memiliki kamu, di tahun pertama setelah pernikahan yang ketiga Abahmu."
Akhri menggeleng. "Tapi masalah besarnya Nia nggak seperti kedua Ummi tiri ku yang lain, Mi. Mereka menghormati Ummi, bahkan tidak berani mengajak Ummi bicara. Nia turut andil dalam perpisahan ku dengannya. Itu pun aku baru tahu kenyataannya setelah Maryam menggugat cerai Akhri."
Ummi Salma mengusap air matanya sendiri, beliau benar-benar menyesal.
"Akhri mau tanya? Selama ini kesan Maryam di benak Ummi bagaimana? Dia wanita penyayang yang lembut, kan?" Tanya Akhri lagi, membuat Ummi Salma mengangguk. Karena memang, sikap Maryam jauh lebih sopan ketimbang Nia yang terkadang menunjukkan sikap buruknya. "Akhri sudah tidak bisa bertahan sama Dia..."
Mata Ummi Salma membulat. "Akhri, kamu beneran?"
"Hari ini aku akan menemui, Nia. Aku akan mengajaknya ke rumah Ustadz Hamid, lantas menjatuhkan talak untuknya di hadapan kakaknya."
"Akhri...! Pikirkan lagi, anak-anakmu masih kecil-kecil. Dan lagi, masalah ini aja belum selesai. Kalau Nia nulis macem-macem lagi di postingannya bagaimana? Ini juga bulan ramadhan Akhri, haram menjatuhkan talak pada istri!"
Akhri menghela nafas, beliau tak menjawab hanya memilih untuk bangkit dari ranjangnya, meraih handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ummi Salma semakin di buat bingung dengan persoalan ini, ia pun juga sempat geram pada Nia bahkan sempat memarahinya juga.
Namun memang wanita itu memiliki hati yang keras, tak seperti Maryam yang jika tengah di tegur akan diam saja. Nia lebih banyak membela diri, bahkan seolah-olah apa yang ia lakukan tak sepenuhnya salah. Karena apa yang ia tulis, benar adanya. Akhri senantiasa menyakitinya dengan sikapnya yang belum bisa move on dari sang mantan.
__ADS_1