Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
malam penuh kasih


__ADS_3

Saat ini, Bilal jauh lebih merasakan kelegaan. Semenjak tahu kondisi Farah sudah semakin membaik. Bahkan jika hasil Lab-nya bagus, ia sudah di perbolehkan pulang.


Setelah lebih dari satu bulan di rawat, tentunya Farah sangat merindukan rumahnya. Dan sesuai kesepakatan, selama masa pemulihan Farah tinggal di rumah Isti. Sampai wanita itu benar-benar sehat kembali.


––


Pukul 02:49...


Maryam terjaga, ia menoleh ke arah kanan. Sisi samping jendela, nampak Bilal tengah menimang anak itu seraya bersholawat.


"A'a nggak ngebangunin aku lagi?" Merr merubah posisi. Duduk sejenak sembari mengusap matanya.


"Cuma minta, Susu. A'a bisa kok. Kamu tidur lagi saja..." jawab Bilal, sementara Maryam tak menjawab ia justru berjalan mendekat, menarik kursi, lalu duduk di sebelah Bilal berdiri. Pandangannya tertuju ke jalan. Suasana sunyi menghiasi jalanan di luar. Hanya terdengar tetesan air dari dedaunan yang terjatuh ke genting sebab basah terguyur hujan lebat semalam.


"Semalam hujannya deras sekali... membuatku lebih terlelap." Merr mengusap lembut, kepala Umar.


"Wajar, sayang. Apalagi kamu-nya capek."


"A'a juga capek, kan?"


"Nggak terlalu..." Bilal berjalan menuju ranjang, meletakkan Umar, setelah itu kembali mendekati Maryam. "Kamu tidur lagi, gih–"


"A'a sendiri?" Maryam mendongak. Usapan lembut di kepalanya membuat Merr merasa senang.


"A'a mau sholat," jawabnya.


"Aku ikut. Kita sholat di sini yuk." Merr menggenggam tangan sang suami.


"Boleh, memang kamu nggak ngantuk?" tanyanya sembari mengusap pipi Maryam.


"Udah nggak ngantuk lagi. Kan udah tidur," jawabnya membuat Bilal tersenyum lantas mendaratkan kecupan di kening. Setelah itu menatap wajah sang istri yang membuatnya merasakan hasrat lain. Pasalnya sudah hampir satu bulan ini, Bilal belum menggauli istrinya.


"Sayang, aku minta maaf, ya?"


Kening Maryam berkerut. "Maaf untuk apa?"


"Ya, saking sibuknya kesana-kemari, sama ngurus Umar. Aku jadi belum ngasih hak-mu."

__ADS_1


"Hak?" Maryam berpikir keras, otaknya tiba-tiba tidak sampai. Bilal lantas tertawa kecil, lalu menarik pipi sang istri dengan gemas.


"Nafkah batin sayang. Kita jadi jarang mesra-mesraan, saking sibuknya."


"Oh? Ya Allah, aku malah nggak kepikiran, A'..." Maryam turut tertawa. Bilal pun mencium pipi sang istri.


"Kita Sholat dan dzikir sebentar. Setelah ini aku mau manjain kamu."


Merr tersipu malu. "Sekarang?"


"Iya..." jawabnya lembut, setelah memberikan kecupan kilat di bibir.


"Kalau Umar bangun, bagaimana?"


"inshaAllah nggak, cuma sebentar kok."


Merr kembali menoleh kearah Umar, di mana Bilal kembali menempelkan bibirnya ke pipi sang istri, "tapi, di ranjang kita kan ada Umar."


"Kan ada kasur lain, kasur yang buat tidur A'a di bawah." Bilal menunjuk kasur busa di bawah ranjang.


"Ah... iya," gumamnya, ia pun menoleh kearah sang suami. "Tapi?"


"Ya Allah, A'a..." Maryam tertawa kecil sembari beranjak dari tempatnya duduk.


––


Setelah mengambil air wudhu, Bilal memasangkan mukena untuk sang kekasih, keduanya saling tatap lalu kemudian tertawa.


Bilal menghadap depan, mengangkat kedua tangannya, bertakbir. Di susul Maryam di belakang, mereka melakukan ibadah bersama hanya dua reka'at setelah itu berdzikir singkat.


Pria itu kembali menoleh, saat Maryam selesai mengusap wajahnya selepas berdoa.


"tumben cepet dzikirnya?" tanya Maryam.


"A'a sedikit nggak khusyuk, tadi..." tuturnya.


"Kok gitu?"

__ADS_1


"Ya, seperti yang aku pernah bilang. Kalau sudah ada hidangan di depan mata di saat sedang lapar-laparnya, lalu kita memilih untuk sholat lebih dulu pasti akan jadi celah setan menguasai pikiran. Mungkin, iman A'a masih lemah..." jawabnya.


"Itu wajar sih, karena tadi kita sempat bercumbu kecil. Tapi, kalau aku nggak begitu, A'..."


"Kamu kan wanita. Hasrat mu tidak sama seperti laki-laki."


"Iya, sih..." jawab Maryam sembari manggut-manggut. Hening sejenak, ketika Maryam menoleh kebelakang. Menengok Umar di sana. Sepertinya anak itu nyenyak sekali setelah di timang-timang oleh pamannya. Belum lagi kidung sholawat yang didendangkan dengan merdu, amat memenangkan jiwa.


"Istriku..." Di genggamannya tangan Maryam, membuat wanita itu membalas lekat tatapan sang suami. "Kamu ngantuk lagi, nggak?"


Maryam menggeleng. Bilal pun menoleh kearah ranjang, memastikan Umar masih pulas. Setelah itu kembali menatap sang istri.


"Sebentar, yuk. Bantu A'a menyalurkan hasrat ini sebelum subuh datang," ucapnya lembut, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Merr. Setelah itu melepaskan tali di bagian kepala sebelum menanggalkan mukena sang istri. Ia mendaratkan kecupan sejenak di kening, "yuk, ke sana."


Merr mengangguk lagi seraya tersenyum, setelah itu mengikuti langkah suami menuju kasur busa di bawah ranjang.


Entahlah, Merr merasakan ada yang lain malam ini. Seperti kembali merasakan getaran ketika mendapati cumbu mesra dari sang suami. Padahal ia sudah pernah merasakan berhubungan dengan sang suami. Namun untuk malam ini, entah mengapa getaran seperti malam pertama kembali terasa.


Tatapan cinta Bilal yang penuh hasrat itu seolah menambah kehangatan dalam hubungan mereka. Bahkan Umar pun tak terjaga, hingga hubungan mereka yang beberapa menit itu berakhir dengan aman tanpa gangguan.


Bilal memberikan kecupan sayang, di kening lalu mengucapkan terimakasih.


"A'a nengok ke atas terus..." ledek Maryam, setelah memakai lagi baju tidurnya.


"A'a tuh was-was. Takut Umar bangun." Bilal menjawab sembari tertawa lirih, begitu pula dengan Maryam. "Kita gantian, ya. A'a dulu yang ke kamar mandi."


"Iya."


"Lagi, sini..." Bilal menyentuh pipi Maryam dengan kedua tangannya, dan mencium bibir Maryam sebanyak tiga kali, setelah itu menatap sang istri dengan binar matanya. "Makasih, ya."


"Sama-sama, A'a."


"MashaAllah..." gumamnya merasakan tubuh serta suasana hati yang seolah lebih segar. Beliau pula lantas beranjak menuju kamar mandi.


Tertinggal Maryam sendiri dengan Umar, meraih ikat rambutnya sembari bangun. Ia duduk sejenak di pinggir ranjang sembari mengikat rambut panjangnya. Sesekali bibirnya tersenyum, bahkan jemarinya pelan mengusap bibirnya sendiri yang masih sedikit basah karena Bilal. Merr menurunkan sejenak kain di atas dadanya menunduk, lalu tersenyum malu lagi karena stempel cinta yang banyak di sana.


"Astagfirullah al'azim..." segera ia menutupinya, "mendadak kebayang-bayang gini, sih?" Merr malu sendiri. Ia lantas merebahkan kepalanya di atas bantal, memandangi tubuh mungil Umar.

__ADS_1


"Mendadak aku jadi semakin jatuh cinta dengan A'a." Seolah terbayang-bayang wajah Bilal, Merr kembali tersenyum.


__ADS_2